{"id":2691,"date":"2021-05-03T03:49:23","date_gmt":"2021-05-03T03:49:23","guid":{"rendered":"http:\/\/manifestpers.id\/?p=2691"},"modified":"2021-05-06T01:13:37","modified_gmt":"2021-05-06T01:13:37","slug":"resensi-film-jojo-rabbit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manifestpers.id\/?p=2691","title":{"rendered":"Resensi Film Jojo Rabbit"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Oleh: Laks Soeroso<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Judul : Jojo Rabbit<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun : 2019<\/p>\n\n\n\n<p>Genre : Comedy, Drama<\/p>\n\n\n\n<p>Durasi : 108 Menit<\/p>\n\n\n\n<p>Sutradara : Taika Waititi<\/p>\n\n\n\n<p>Pemain : Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Taika Waititi, Rebel Wilson, Stephen Merchant, Alfie Allen, Sam Rockwell, Scarlett Johansson<\/p>\n\n\n\n<p>Negara : Amerika Serikat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Hitler dan Nazi. Kedua kata itu bukanlah sesuatu yang biasanya muncul dalam kepala orang-orang ketika memikirkan tentang&nbsp; komedi dan humor. Namun faktanya, dalam dunia hiburan genre komedi selalu diposisikan mengarah kepada subjek yang lebih tabu. Jojo Rabbit merupakan salah satu contohnya. Film Jojo Rabbit menggambarkan kepolosan dan rasa humor di tengah-tengah salah satu masa paling mengerikan dalam sejarah umat manusia, menggambarkan suramnya suasana pada masa tersebut dengan sentuhan kemanusiaan dan sesekali menyajikan gurauan yang &#8216;mengena&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Jojo Rabbit merupakan salah satu film yang bersinar di Academy Awards 2020 lalu. Film yang disutradarai oleh Taika Waititi ini berhasil membawa pulang piala Oscar Best Adapted Screenplay. Film ini juga masuk dalam salah satu nominasi Best Picture di ajang tersebut. Diiadaptasi dari sebuah novel berjudul \u2018Caging Skies\u2019 karya Christine Leunens, kisah ini bercerita tentang seorang bocah Jerman bernama Johannes Betzler atau lebih akrab dipanggil Jojo melalui sudut pandangnya sendiri. Ia bergabung dalam Hitler Youth dan memiliki teman imajinasi dalam persona Adolf Hitler. Namun, keyakinannya pada rezim Nazi mengalami gejolak besar ketika Jojo menemukan seorang gadis Yahudi bernama Elsa bersembunyi di rumahnya atas bantuan ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Sang sutradara, Taika Waiti, telah memantapkan namanya sebagai salah satu sutradara yang paling dicintai dalam generasi ini. Melalui karya-karyanya sebelumnya, Waiti dikenal sebagai komedian yang luar biasa dan seorang filmmaker dengan gaya humor yang khas. Pada projeknya kali ini Taika Waiti dengan berani mengambil peran Hitler versi satir, yakni versi karangan Jojo sendiri dan berperan sebagai dewa palsu bagi sang tokoh utama. Waiti mengeksekusi Jojo Rabbit dengan sentuhan komedi satir yang akan membuat penonton merasa tidak nyaman sekaligus tertawa. Pada awal film, kita akan merasa merinding melihat seorang anak berteriak \u201cheil, Hitler\u201d dengan ceria dan penuh semangat, hingga belajar memegang senjata dan dipersiapkan untuk berperang bahkan sebelum remaja. Hitler Youth memang dulu benar-benar ada, dan hal tersebut bukanlah lelucon belaka. Sebuah kemah dimana anak-anak dicuci otaknya untuk memuja Adolf Hitler dan diperkenalkan oleh orang Yahudi yang digambarkan sebagai monster maupun iblis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Mungkin kita akan tertawa ketika melihat Jojo mendeskripsikan orang Yahudi sebagai makhluk bertanduk yang bisa membaca pikiran orang. Melihat dialog tersebut sebagai materi lucu yang tidak serius. Namun, jika kita mau memahami lebih dalam lagi, bagaimana seorang bocah 10 tahun paham jika kaum Yahudi cuma manusia biasa? Ketika otak mereka telah dicuci dengan doktrin Nazi dari usia yang sangat muda. Mengutip salah satu dialog Rosie, ibu Jojo, \u201c<em>You\u2019re growing up too fast. Ten year-olds shouldn<\/em><em>\u2019t be celebrating war, talking politics\u201d<\/em>, merupakan salah satu dialog paling realistis yang menyedihkan dalam film ini. Namun, Jojo tidak menyadari betapa menyedihkan kenyataan tersebut, ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi bocah yang menghabiskan waktu dengan bermain tanpa beban negara di pundak mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Jojo Rabbit menjadi penampilan debut bagi aktor muda Roman Griffin sebagai Jojo dan Archie Yates sebagai Yorki. Keduanya selalu tampil menggemaskan dan lucu dalam setiap frame bersama. Menunjukan sisi anak-anak dari kedua karakter utama yang dilain sisi juga seorang patriot rezim Nazi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Meski hanya muncul dalam beberapa adegan, Jojo dan Yorki menampilkan chemistry yang lugu dan dan seolah tanpa usaha. Tokoh Yorki yang luar biasa lucu dan menggemaskan sukses menjadi pencuri perhatian dalam setiap adegan dimana ja muncul sebagai anak yang tampaknya melihat Perang Dunia II sebagai <em>playground<\/em> besar yang melelahkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Sederet aktor lainnya juga berhasil membaur dengan konsep komedi satire yang diangkat dalam film ini. Mulai Taika Waititi sebagai versi jenaka dari Adolf Hitler, sang pemandu sorak kekejaman yang masih memiliki sisi ambisius dan keras hati. Hingga Scarlett Johansson sebagai Rosie, warga Jerman yang secara rahasia tidak mendukung perang sekalipun anaknya seorang radikal. Johanssen, khususnya, memainkan perannya dengan total. Aura keibuan bersinar dari tokohnya, posisinya sebagai pusat moral film ini dimainkan dengan mudah tanpa menjadi terlalu kaku atau dibuat-buat.&nbsp; Secara keseluruhan, Jojo Rabbit merupakan film komedi satire yang dieksekusi dengan baik. Tidak berusaha keras menjadi lucu, Taika Waititi berhasil mengambil berbagai referensi sejarah dan novel yang ia baca untuk menjadi materi komedi yang menunjukan sisi lain dari Perang Dunia II melalui kacamata seorang bocah 10 tahun yang polos. Adolf Hitler sebagai teman imajinasi digambarkan sebagai doktrin yang singgah di dalam otak Jojo. Kita juga akan melihat bagaimana perang dapat menjadi medan yang menakutkan dan traumatis bagi seorang bocah Jerman yang sebetulnya juga menjadi korban dari rezim Nazi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Walau menyenangkan, film Jojo Rabbit tidak lepas dari pro dan kontra. Tak sedikit kritikus dan penonton yang menyayangkan keputusan Taika untuk menampilkan Nazi yang lucu di film ini. Mulai dari tentara Nazi hingga Gestapo yang di film-film Holocaust selalu memberikan kesan berbahaya dan kejam dibuat nyeleneh di film ini. Nazi memang digambarkan dengan lucu, tapi seperti yang saya sebutkan tadi, ketika adegan dramatis, Jojo Rabbit bisa menyampaikan bahaya paham Nazi dengan serius. Seperti adegan kedatangan Gestapo (Stephen Merchant) ke rumah Jojo yang sukses menjadi roller coaster emosi, lucu sekaligus menegangkan. Penggambaran Nazi yang agak ramah ini tidak lepas dari sudut pandang tokoh utamanya. Jojo sebagai anak 10 tahun fanatik Nazi yang mengidolakan Adolf Hitler tentu melihat Nazi bukan sebagai sesuatu yang sangat berbahaya, tidak sampai ia sadar. Film Jojo Rabbit juga tetap mampu memberikan kesadaran pentingnya mengetahui tentang Holocaust agar sejarah kelam itu tak terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Elsa yang merupakan gadis Yahudi digambarkan sangat takut untuk keluar rumah dan terpaksa mengunci dirinya di dalam dinding karena takut dengan perburuan yang dilakukan Nazi dan pengikutnya. Walau sukses menyampaikan pesan anti kebencian, yang jadi masalah dari film Jojo Rabbit sepertinya adalah masih ada orang-orang yang tidak tahu tentang Perang Dunia Kedua atau Nazi, contohnya saja anak-anak. Tanpa pengawasan orang tua, seteleh menonton ini anak-anak bisa saja menganggap Nazi tidak terlalu menyeramkan dan mengucapkan salam Heil Hitler ke semua orang yang mereka temui.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Film Jojo Rabbit adalah sebuah hiburan yang sangat lucu, menyenangkan, menyentuh, dan juga membuka mata. Film ini ingin menyampaikan bahwa kita tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain dan membenci yang berbeda dari kita karena semua manusia sama. Jojo Bletzer yang awalnya fanatik Nazi perlahan belajar mencintai dan menerima perbedaan dari Elsa, orang yang sangat ia benci, karena Jojo mau membuka mata dan hatinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Media :<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-a-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2692\" srcset=\"https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-a-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-a-300x169.jpg 300w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-a-768x432.jpg 768w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-a-746x420.jpg 746w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-a-640x360.jpg 640w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-a-681x383.jpg 681w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-a.jpg 1379w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Jojo yang sedang berlari dengan teman imajinasinya, yaitu Adlof Hitler<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-b-1024x576.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2693\" srcset=\"https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-b-1024x576.png 1024w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-b-300x169.png 300w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-b-768x432.png 768w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-b-746x420.png 746w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-b-640x360.png 640w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-b-681x383.png 681w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-b.png 1379w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Para Gestapo yang sedang datang ke rumah Jojo untuk melakukan inspeksi<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" width=\"800\" height=\"500\" src=\"https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-c.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2694\" srcset=\"https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-c.jpg 800w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-c-300x188.jpg 300w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-c-768x480.jpg 768w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-c-672x420.jpg 672w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-c-640x400.jpg 640w, https:\/\/manifestpers.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/resensi-c-681x426.jpg 681w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Jojo dan Hitler<\/p>\n<div class=\"2c253786f3917100e032eb5504642955\" data-index=\"1\" style=\"float: none; margin:10px 0 10px 0; text-align:center;\">\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script>\r\n<!-- Adsense Berkah -->\r\n<ins class=\"adsbygoogle\"\r\n     style=\"display:block\"\r\n     data-ad-client=\"ca-pub-9385134775663468\"\r\n     data-ad-slot=\"7150604192\"\r\n     data-ad-format=\"auto\"\r\n     data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins>\r\n<script>\r\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\r\n<\/script>\n<\/div>\n\n<div style=\"font-size: 0px; height: 0px; line-height: 0px; margin: 0; padding: 0; clear: both;\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Laks Soeroso Judul : Jojo Rabbit Tahun : 2019 Genre : Comedy, Drama Durasi : 108 Menit Sutradara : Taika Waititi Pemain : Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Taika Waititi, Rebel Wilson, Stephen Merchant, Alfie Allen, Sam Rockwell, Scarlett Johansson Negara : Amerika Serikat Hitler dan Nazi. Kedua kata itu bukanlah sesuatu yang biasanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[167,91],"tags":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2691"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2691"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2691\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2695,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2691\/revisions\/2695"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2691"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2691"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2691"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}