{"id":2951,"date":"2021-11-26T02:42:17","date_gmt":"2021-11-26T02:42:17","guid":{"rendered":"http:\/\/manifestpers.id\/?p=2951"},"modified":"2021-11-26T02:42:22","modified_gmt":"2021-11-26T02:42:22","slug":"pahlawan-kemanusiaan-di-masa-pandemi-siapakah-mereka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manifestpers.id\/?p=2951","title":{"rendered":"Pahlawan Kemanusiaan di Masa Pandemi, Siapakah Mereka?"},"content":{"rendered":"\n<p>Ariela Ruth Chrissanda (2021)<\/p>\n\n\n\n<p>Akhir tahun 2019, dunia digemparkan oleh penemuan virus menular yang berbahaya yakni COVID-19. Infeksi virus ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China. Penularannya yang sangat cepat membuat virus ini menyebar hingga ke seluruh penjuru bumi dalam waktu singkat dan mendatangkan apa yang kita sebut dengan pandemi COVID-19. Akibat yang ditimbulkan pun bukan main. Hampir segala aspek kehidupan terdampak karenanya, mulai dari kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, gaya hidup, dan masih banyak lagi. Dapat dikatakan bahwa virus dan pandemi ini seperti merombak habis-habisan tatanan hidup umat manusia. Belum lagi jika kita meninjau tingginya angka kasus positif dan berapa banyak korban yang berjatuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak awal virus ini memasuki wilayah Indonesia, terlihat bahwa pemerintah segera mengantisipasi penyebaran dengan mengimbau masyarakat untuk tetap tinggal di rumah masing-masing. Tempat-tempat umum yang memungkinkan terjadinya kerumunan mulai dibatasi jam operasional dan jumlah pengunjungnya, atau bahkan ditutup untuk sementara waktu sampai ada kebijakan lebih lanjut. Penerapan 3M, PSBB, PPKM, dan lain sebagainya juga diberlakukan. Semua upaya ini dilakukan pemerintah untuk menekan angka kasus positif sembari menunggu ditemukannya vaksin yang ampuh untuk mencegah penularan.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, di saat masyarakat seharusnya melakukan isolasi dan beraktivitas dari rumah, ada raga-raga yang tidak henti-hentinya berperang di garda terdepan melawan COVID-19. Mereka yang memilih untuk mengesampingkan ego, mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran, serta memberikan upaya terbaiknya untuk pemulihan Indonesia. Mereka yang tentunya punya kerinduan besar untuk pulang dan berkumpul bersama dengan keluarga di rumah, ditambah lagi menangani para pasien bukanlah hal yang mudah, justru melelahkan<\/p>\n\n\n\n<p>fisik dan psikis. Ada banyak risiko dan tantangan yang harus dihadapi dengan berani, mengingat bahwa selain menjaga pasien, mereka juga harus menjaga diri mereka sendiri supaya tidak tertular dan malah menularkannya ke orang lain. Gugur dalam bertugas pun bukannya tidak mungkin, karena sama halnya dengan kita, mereka juga manusia biasa. Mereka ini adalah para tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan relawan. Para pahlawan kemanusiaan yang dengan dedikasi tinggi dan mulia terjun langsung berhadapan dengan virus ini demi menyelamatkan dan mendukung sesama kita yang terpapar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAh, itu \u2018kan memang sudah pekerjaannya,\u201d. Mungkin beberapa kali kita pernah mendengar komentar-komentar picik yang kurang lebihnya seperti itu. Akan tetapi, apabila kita pikirkan lebih lagi, benarkah perjuangan mereka hanya sebatas karena memang pekerjaan dan tanggung jawab belaka? Padahal menjadi tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan relawan, terutama di era pandemi ini bukanlah paksaan, melainkan pilihan yang didasari rasa kemanusiaan dan kerinduan untuk mengabdi pada masyarakat dan negara. Ada nurani yang tergerak ketika melihat sesamanya merasa sakit dan membutuhkan pertolongan. Ada harapan yang diupayakan semaksimal mungkin untuk memulihkan negara kita yang sedang kritis. Jadi, alangkah baiknya jika yang kita berikan sebagai balas jasa mereka adalah apresiasi dan dukungan, bukan malah komentar yang menyepelekan semacam itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi pahlawan kemanusiaan seperti mereka ternyata bukan hal yang mustahil bagi kita. Siapapun bisa menjadi pahlawan kemanusiaan. Dengan kita berjuang dimulai dari diri sendiri dulu, seperti menjaga kesehatan dan selalu menerapkan protokol kesehatan, itu sudah merupakan tindakan pahlawan kemanusiaan. Karena selain melindungi diri kita sendiri, kita pun turut melindungi orang-orang di sekitar kita dan mengoptimalkan upaya penanganan COVID-19. Di samping itu, kita juga bisa melakukan penggalangan dana atau donasi untuk menungjang biaya pengobatan pasien positif COVID-19. Maka dari itu, mari menjadi salah satu pahlawan kemanusiaan yang rela berkorban, mau bergotong royong, dan memberikan kontribusi kita agar kehidupan Indonesia dapat kembali pulih seperti sedia kala.<\/p>\n<div class=\"2c253786f3917100e032eb5504642955\" data-index=\"1\" style=\"float: none; margin:10px 0 10px 0; text-align:center;\">\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script>\r\n<!-- Adsense Berkah -->\r\n<ins class=\"adsbygoogle\"\r\n     style=\"display:block\"\r\n     data-ad-client=\"ca-pub-9385134775663468\"\r\n     data-ad-slot=\"7150604192\"\r\n     data-ad-format=\"auto\"\r\n     data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins>\r\n<script>\r\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\r\n<\/script>\n<\/div>\n\n<div style=\"font-size: 0px; height: 0px; line-height: 0px; margin: 0; padding: 0; clear: both;\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ariela Ruth Chrissanda (2021) Akhir tahun 2019, dunia digemparkan oleh penemuan virus menular yang berbahaya yakni COVID-19. Infeksi virus ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China. Penularannya yang sangat cepat membuat virus ini menyebar hingga ke seluruh penjuru bumi dalam waktu singkat dan mendatangkan apa yang kita sebut dengan pandemi COVID-19. Akibat yang ditimbulkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2951"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2951"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2951\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2952,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2951\/revisions\/2952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2951"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2951"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2951"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}