{"id":3041,"date":"2022-02-08T06:09:24","date_gmt":"2022-02-08T06:09:24","guid":{"rendered":"http:\/\/manifestpers.id\/?p=3041"},"modified":"2022-02-08T06:09:34","modified_gmt":"2022-02-08T06:09:34","slug":"aliran-dimensi-ruang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manifestpers.id\/?p=3041","title":{"rendered":"Aliran Dimensi Ruang"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\">Penulis : Elisya Karina Apriyanti<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Awan mulai gelap, aku segera beranjak dari kebun untuk pulang. Sesampainya di<br>rumah, aku mendengar abah dan emak membicarakan tentang desa sebelah, dan aku tidak<br>tertarik dengan masalah itu. Biasanya desa sebelah berulah dengan menyebarkan isu bahwa<br>tanah desa yang kami tinggali terdapat banyak emas. Semenjak perbincangan itulah, banyak<br>warga desaku yang mencoba untuk menggali tanah. Namun, hasilnya nihil yang ada nyawa<br>merekalah yang hilang, entah kemana mereka semua yang mencoba mencari emas itu, hilang<br>seakan-akan di telan bumi begitu saja. Antara percaya dan tidak, aku sebenarnya penasaran<br>dengan hal yang terjadi di desaku saat ini. Ah yasudahlah, itu bukan urusanku saat ini, aku<br>memilih untuk memejamkan mata karena sudah terdengar suara burung hantu bertengkar.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya, lagi dan lagi, emak dan abah menanyakan pendapatku tentang hal<br>yang sedang terjadi belakangan ini. Aku bingung, diri sendiri pun belum mengerti mengapa<br>banyak warga desa yang hilang. Akhirnya aku memilih diam dan pamit untuk pergi ke kebun.<br>Sampai di kebun aku kaget karena melihat adanya pohon beringin yang tumbuh di dekat<br>tumbuhan yang aku tanam. Aku ingat sekali, jika sebelumnya tidak ada pohon beringin di sini,<br>dan aku mulai berpikir apa aku salah kebun, ternyata tidak. Aku pun mencoba mendekati<br>pohon itu dan memastikan apakah benar itu pohon beringin. Ternyata memang benar, sejenak<br>aku terdiam dan mulai takut akan hal ini. Rasa takut tidak menghalangi rasa penasaranku dan<br>aku mulai berniat untuk menyelidiki masalah ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Sepulang berkebun pun aku langsung mengambil cangkul punya abah di teras rumah.<br>Tanpa pamitan ke emak dan abah, aku langsung menggali tanah di dekat kebun. Dengan<br>semangat aku menggali tanah sampai seketika aku merasakan ada yang seperti menarik<br>tubuhku ke dalam. Aku pun tak sadarkan diri. Membuka mata dengan melihat sekeliling<br>tempat, aku sangat terkejut karena menyadari bahwa tempat ini bukanlah tempat di mana aku<br>menggali tanah. Kebingungan entah kemana aku akan pergi, malam itu semakin gelap, hanya<br>sedikit api yang menjadi penerangan di sini. Rasanya aku pernah melihat keadaan seperti ini<br>sebelumnya, dan aku sadar ketika melihat rumah-rumah yang menjadikan obor api sebagai<br>penerangan, seperti latar suasana kerajaan yang ada di layar tancap yang sempat aku tonton di<br>desa.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba suara hentakan kaki<br>mendekat, aku pun langsung bersembunyi, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku<br>melihat Pak Parman tetanggaku yang hilang. Aku semakin yakin bahwa ini ada hubungannya<br>dengan masalah yang terjadi di desa saat ini. Setelah keadaan sepi, aku mulai melanjutkan<br>perjalanan, pelan-pelan agar langkahku tidak terdengar. Sambil melihat sekeliling, aku juga<br>melihat tetanggaku yang lain ada di sini, mereka yang hilang seminggu lalu, tetapi wajah<br>mereka sangat pucat.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku semakin bingung, sebenarnya ada di mana aku dan sedang apa mereka semua di<br>sini. Sesampainya di suatu tempat yang aku yakini itu adalah pusat dari tempat ini, aku<br>langsung mencari cara untuk masuk. Tetapi sangat sulit bagiku, karena tempat ini dijaga oleh<br>beberapa orang yang memiliki perawakan seperti prajurit kerajaan. Di sini aku juga tidak<br>melihat adanya TV dan alat elektronik lainnya. Hal ini membuatku semakin yakin bahwa<br>tempat ini bukanlah tempat yang ada di zamanku, melainkan sebuah kerajaan yang mungkin<br>dahulu ada di dekat desaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, aku mengintip dari jendela dan tercengang dengan apa yang aku lihat. Ada<br>banyak sekali batang emas yang terdapat di dalam tempat itu. Aku juga melihat ada dua orang<br>yang sedang membicarakan sesuatu, suara mereka terdengar olehku karena dinding ini tidak<br>setebal yang ada di desaku. Mereka membicarakan tentang waktu eksekusi orang-orang yang<br>mereka sebutkan, aku mulai khawatir dengan pembicaraan yang aku dengar itu. Firasatku pun<br>mengarah pada para tetanggaku yang ada di sini, aku bertanya sendiri apakah mereka yang<br>dimaksud orang itu, apakah mereka yang akan dieksekusi.<\/p>\n\n\n\n<p>Benar saja, aku melihat para prajurit dan dua orang itu mulai mengambil panah dan<br>gong. Aku tidak bisa diam saja di sini, aku pun memberanikan diri untuk menghentikan<br>mereka, tetapi aku terkejut ketika mereka tidak menyadari keberadaanku. Aku baru sadar<br>bahwa diriku tidak terlihat oleh mereka yang ada di tempat ini. Aku mulai panik dan berpikir<br>bagaimana cara mengeluarkan warga desaku yang ada di sini dan tentunya menyelamatkan<br>mereka. Namun, aku pun bingung karena diriku saja tidak bisa dilihat oleh mereka. Aku<br>melihat ada Pak Parman di sana, ternyata Pak Parman bisa menyadari kehadiranku di tempat<br>ini. Pak Parman pun memberi kode berupa gerakan mata yang artinya aku diharuskan keluar<br>dari tempat ini. Aku tidak bisa pergi tanpa menyelamatkan semuanya, aku pun langsung<br>mendekati Pak Parman dan bertanya bagaimana cara keluar dari tempat ini. Beliau<br>menceritakan bahwa hanya ada satu cara, yaitu mengikuti aliran yang bisa membawa kita ke<br>pohon beringin.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika aku bertanya pohon beringin yang mana yang beliau maksud, Pak Parman<br>hanya diam. Lalu aku langsung ingat dengan pohon beringin yang ada di kebunku. Saat itu<br>juga aku langsung merencanakan cara keluar dari tempat ini. Aku juga langsung meminta<br>kepada Pak Parman untuk mengumpulkan semua warga desa yang terjebak disini. Pak parman<br>pun setuju dan langsung mengumpulkan semuanya. Benar saja, mereka semua adalah warga<br>desaku yang hilang. Dikarenakan mereka semua tidak bisa melihatku, kecuali Pak Parman,<br>aku meminta Pak Parman untuk mengikutiku dan meminta agar mereka semua dapat<br>mengikuti langkah Pak Parman dengan cepat. Aku dan mereka semua langsung bergegas ke<br>tempat awal aku muncul, yaitu tempat penggalian yang menghubungkan tempat itu dengan<br>kebun.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, ternyata tidak semudah itu, pasukan prajurit mulai mengejar kita semua, dan<br>kita pun mulai mempercepat langkah. Sampai ditempat berlubang itu, aku meminta Pak<br>Parman untuk membantuku menggali tanah tersebut dan memang benar inilah cara yang<br>dimaksud oleh Pak Parman. Akhirnya lubang itu selesai tepat dengan datangnya pasukan itu.<br>Tiba- tiba prajurit itu dapat melihatku, dan seketika panah itu tepat menusuk jantungku.<br>Seketika semua gelap dan aku tak sadarkan diri. Ketika membuka mata dan terbangun, aku<br>pun tersadar bahwa semua itu hanyalah mimpi burukku.<\/p>\n<div class=\"2c253786f3917100e032eb5504642955\" data-index=\"1\" style=\"float: none; margin:10px 0 10px 0; text-align:center;\">\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script>\r\n<!-- Adsense Berkah -->\r\n<ins class=\"adsbygoogle\"\r\n     style=\"display:block\"\r\n     data-ad-client=\"ca-pub-9385134775663468\"\r\n     data-ad-slot=\"7150604192\"\r\n     data-ad-format=\"auto\"\r\n     data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins>\r\n<script>\r\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\r\n<\/script>\n<\/div>\n\n<div style=\"font-size: 0px; height: 0px; line-height: 0px; margin: 0; padding: 0; clear: both;\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Elisya Karina Apriyanti<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[159,158],"tags":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3041"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3041"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3041\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3042,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3041\/revisions\/3042"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}