{"id":3436,"date":"2022-11-04T07:21:23","date_gmt":"2022-11-04T07:21:23","guid":{"rendered":"http:\/\/manifestpers.id\/?p=3436"},"modified":"2022-11-04T07:21:52","modified_gmt":"2022-11-04T07:21:52","slug":"hunt-the-stalker","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manifestpers.id\/?p=3436","title":{"rendered":"HUNT THE STALKER"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\">Oleh: Olivia Falla Rosalina&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Semburat ungu bercampur oranye sore itu menemani tubuh perempuan kecil nan&nbsp; berkulit putih yang sedang kelelahan karena dilanda rapat hingga sore hari. Berkali kali&nbsp; ia menepuk-nepuk kecil bahunya yang terselimuti almamater warna biru gelap&nbsp; kebanggaannya. Jihan Zhafira adalah seorang salah satu staff dari Kementrian Dalam&nbsp; Negeri BEM FK di kampusnya yang sekarang sedang bertengger duduk dengan manis&nbsp; di ruangan BEM. Jihan memijit pelipis di sekitar matanya karena merasa pusing dengan&nbsp; beberapa tumpukan berkas pengajuan reward prestasi mahasiswa yang harus segera&nbsp; dilaporkan ke akademik. Ia bergegas memasukkan beberapa berkas yg belum selesai ia&nbsp; cross check hari ini ke dalam tasnya dan memilih melanjutkan di kosnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Sudah selesai Ji? &#8221; tanya laki laki yang sedikit lebih tinggi darinya &#8221; Belum. Gue cross check di kos saja. &#8221; jawab Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Mau gue antar pulang? &#8221; tanyanya kembali.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Tidak. Tidak usah. Terimakasih atas tawarannya Zidane &#8221; jawab Jihan kepada Zidane&nbsp; Ramadhan teman laki-laki seperjuangannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan dan Zidane mulai berteman saat keduanya masuk Kementrian Dalam Negeri di&nbsp; BEM FK. Namun, diantara mereka berdua benar benar tidak ada rasa. Bagi Jihan, Zidane&nbsp; merupakan laki-laki bertanggungjawab yang baik hati. Namun, Zidane sangat ramah&nbsp; bintang lima kepada semua perempuan. Itu sebabnya, Jihan tak akan menaruh hati&nbsp; pada Zidane. Itulah yang membuat pertemanan mereka awet hingga saat ini, tentu saja&nbsp; karena tidak ada rasa diantara keduanya. Zidane laki laki yang famous dan gampang&nbsp; berbaur. Sedangkan Jihan, ia lebih memilih berada di lingkup kecil asalkan nyaman.&nbsp; Bagusnya, mereka berdua memiliki selera musik yang sama yaitu KPop.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kamar tidur dengan dominan cat putih dengan beberapa pajangan lukisan senja serta&nbsp; Mimow, kucing peliharaan Jihan yang sedang tertidur pulas di kasurnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan kembali sibuk berkutat dengan berkas pengajuan reward yang belum sempat ia&nbsp; cross check tadi sore. Satu per satu ia selesaikan agar besok bisa diajukan ke akademik&nbsp; dan dana reward akan segera cair ke mahasiswa. Jihan terkadang merasa lelah dengan&nbsp; drama program kerja di Kementriannya yang berawal dari satu atau lebih mahasiswa&nbsp; yang salah dalam memasukkan data pengajuan reward dan laporan laporan serta&nbsp; kritikan masuk jika pencairan dana sangat lambat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menyeruput minuman boba dengan perpaduan rasa red velvet kesukaannya.&nbsp; Pikirannya jauh menerawang tentang masa depannya yang bisa dibilang overthinking&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>seperti; bagaimana ia skripsi kelak? Apakah sidangnya lancar? Siapa saja yang datang&nbsp; ke wisudanya? Bagaimana ia bisa lolos melamar kerja? Siapa yang akan menikah&nbsp; dengannya?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Duk\u2026&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ia memukul kepalanya sendiri. Mengapa ia belakangan ini sangat gampang&nbsp; overthinking. Ahhh, mungkin karena terlalu lelah akan kuliah dan organisasinya.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Segera setelah ia menyelesaikan berkas berkas pengajuan reward, ia mengecek jadwal&nbsp; kuliah untuk besok. Jihan tipe mahasiswa yang menerapkan &#8221; Semakin cepat selesai&nbsp; mengerjakan tugas. Semakin ada waktu untuk rebahan &#8221; ya begitulah ia. Tugas untuk&nbsp; kuliah besok sudah selesai ia kerjakan jauh-jauh hari. Ia menyiapkan beberapa buku&nbsp; dan catatan untuk ia masukkan ke tas.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Cnting!!!! Cntingggg!!!!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan segera mengecek notifikasi apa yang berbunyi di laptopnya. Ia mengecek email&nbsp; kementrian dalam negeri dan benar saja ada beberapa notifikasi bertengger disana&nbsp; membuat kepala Jihan sedikit pening.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mata Jihan membulat ketika mendapat notifikasi pengisian google form dari program&nbsp; kerjanya yang bertajuk <strong>rumahpendengar.fk<\/strong>. Pasalnya program kerja tersebut sudah&nbsp; sekitar 2 tahun dipublikasikan namun tidak ada satu mahasiswa pun yang mengisi&nbsp; formulir pengaduan. Program kerja <strong>rumahpendegar.fk <\/strong>ini memiliki tujuan konsultasi&nbsp; transparan apabila mahasiswa mempunyai masalah yang tidak dapat diceritakan dan&nbsp; ingin mendapat bantuan kampus dengan cara ditangani oleh beberapa staff kementrian&nbsp; dalam negeri BEM serta dosen. Namun, apabila masalahnya mengenai kesehatan mental&nbsp; maka akan langsung diarahkan ke psikolog.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan mengerjapkan matanya meyakinkan email tersebut benar benar respon formulir&nbsp; dari program kerjanya. Jantungnya berdegup kencang karena tentu saja formulir&nbsp; tersebut berisi pengaduan masalah seorang mahasiswa yang akan ditangani. Jihan dan&nbsp; Clara merupakan penanggung jawab dari program kerja tersebut. Segera Jihan&nbsp; mengabari Clara apabila ada notifikasi berupa respon formulir dari <strong>rumahpendegar.fk<\/strong>.&nbsp; Jihan belum berani membukanya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja belajar putih nan&nbsp; dingin itu. Segera ia mengambil ponselnya untuk menenangkan diri dengan update story&nbsp; WhatsApp dengan gambar seberapa banyak notifikasi email yang ia dapatkan dalam&nbsp; program kerjanya yang membuat ia suntuk.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Cntingggg!!! Notif pesan masuk dari seseorang yang Jihan harap adalah respon dari&nbsp; Clara agar ia segera dapat menyelesaikan permasalahannya. Jihan segera meraih&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>handphone miliknya dan membuka room chat. Disana bertengger nama seorang laki laki yang belakangan ini merepotkan hatinya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gentala&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Banyak banget. Ga pening lo?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jihan&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pening lah. Gila ya lo bilang gue gak pening. Udah mau meledak ni kepala gue&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gentala&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Wkwkwk. Semangat ya Ji.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan hanya membaca pesan dari Genta dan tidak meresponnya lagi. Semakin ia&nbsp; merespon maka hatinya akan semakin dipenuhi Genta. Jihan tidak suka seperti itu.&nbsp; Biarlah hanya ia yang mengetahui rasanya pada Genta. Bersikap sewajarnya layaknya&nbsp; teman agar tidak mengganggu Genta. Terkadang bagi Jihan, Genta mengirimkan sinyal&nbsp; sinyal perhatian yang sulit dimengerti. Jihan pernah ingin membalas perhatian itu.&nbsp; Namun, ketika Jihan membalasnya justru Genta seperti acuh padanya. Entahlah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>1 jam lamanya Jihan menunggu balasan dari Clara. Namun, Clara tak kunjung menjawab&nbsp; pesan pentingnya padahal Jihan sudah spam chat ke Clara. Jihan memberanikan diri&nbsp; untuk membaca respon formulir pengaduan dari <strong>rumahpendegar.fk<\/strong>. Jihan menelan&nbsp; ludah dan membaca respon formulir itu perlahan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku seperti ingin gila. Ada beberapa orang memfotoku dengan sudut pandang tidak baik&nbsp; yang menampilkan beberapa bagian tubuhku dan di post di beberapa website. Beberapa&nbsp; orang juga melempari rumahku dengan batu dan juga surat berdarah. Ada juga yang&nbsp; berusa mengambil alih akun sosial mediaku. Mereka juga tau privasi privasi ku. Aku&nbsp; takut. Aku gemetar. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku sudah menutup semua&nbsp; akun sosial media ku. Aku malu dan merasa ingin mati apabila banyak orang tau fotoku&nbsp; disebar seperti itu. Tolong bantu aku. Aku mohon!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>P.A&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>2020&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jurusan kebidanan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>FK&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Suhu tangan Jihan langsung berada pada angka rendah karena tangannya menjadi&nbsp; terasa dingin setelah membaca email tersebut. Jihan berusaha bersikap tenang.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>P.A? Siapa P.A?<\/p>\n\n\n\n<p>Jika dia berada di jurusan kebidanan Jihan tidak terlalu mengenal karena ia berada di&nbsp; jurusan Keperawatan. Sedangkan Zidane berada di jurusan Kedokteran. Clara! Iya, dia&nbsp; berada di jurusan Kebidanan. Pasti ia tahu siapa P.A.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia berusaha istirahat dari hiruk pikuk dunia.&nbsp; Angin malam itu menusuk tulang Jihan. Tubuhnya yang lelah membawanya ke alam&nbsp; mimpi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BEM FK&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indra penglihatan Jihan sudah tak asing lagi melihat tulisan bertengger di atas sebuah&nbsp; ruang bercat putih itu. Ia segera membuka pintu ruangan tersebut setelah mengajukan&nbsp; beberapa berkas pengajuan reward ke akademik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ada Clara dan Zidane yang tak pernah absen di ruangan tersebut. Jihan segera menjitak&nbsp; dahi Clara.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kemana saja? Apa gak lihat gue ngirimin lo pesan?&#8221; Kata Jihan pada Clara &#8220;Oh ya? Hehehe maaf Jihan, gue kemarin sedang dimabuk tugas&#8221; jawab Clara polos &#8220;Hhhh baiklah. Ayo berdiskusi sebentar&#8221; kata Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Gue gapapa nih disini?&#8221; tanya Zidane&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Gapapa. Tumben Lo nanya segala. Biasanya juga langsung nimbrung&#8221; semprot Jihan &#8220;Hahahaha yaelah galak amat lo Ji.&#8221; Kata Zidane&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan membuka laptopnya dengan segera ia membuka email respon tadi malam yang&nbsp; membuatnya pusing. Mata Clara dan Zidane membulat bersamaan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Gila. Setelah sekian lama. Ada juga mahasiswa yang curhat ke <strong>rumahpendengar.fk<\/strong>&#8221;&nbsp; kata Zidane&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;P.A?&#8221; gumam Clara dengan menjentikkan jari jarinya di meja&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;P.A is Prisilia Aprhodite?! Mahasiswi jurusan kebidanan angkatan 2020 yang terkenal&nbsp; karena kecantikannya dan ia juga merupakan selebgram yang di endorse beberapa&nbsp; merk. &#8221; Kata Clara&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Prisil?! &#8221; Jawab Zidane dan Jihan kompak&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Menurut gue dia sih. Secara apa apa sama dia di post &#8221; kata Clara &#8221; Yeee kan dia seleb Clar. Jelas aja kalo apa apa di post &#8221; jawab Jihan enteng &#8221; Ga gitu Ji. Memposting sesuatu yang berlebihan seperti kita sedang dimana, keadaan&nbsp; kita sakit atau bukan, kita ngapain aja, apa rencana kita itu bisa berdampak besar loh&nbsp; bagi seseorang. Bisa saja orang lain berniat jahat ke kita &#8221; jawab Zidane rasional<\/p>\n\n\n\n<p>Ini dia, sosok dari diri Zidane yang Jihan suka sebagai teman. Zidane sangat rasional&nbsp; dan mampu memimpin dengan baik.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Baik, kalau memang benar Prisil kita akan ajak ketemu dia. Seperti biasa basecamp&nbsp; kita adalah kontrakan Zidane yang jauh dari jangkauan orang dekat. Gue akan&nbsp; memproses pengajuan bantuan ke kampus. Clara, lo andil dalam mendekati Prisil karena&nbsp; secara dia teman jurusan Lo&#8221; kata Jihan tegas&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Oke&#8221; jawab Zidane dan Clara dengan manggut-manggut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Prisilia sedang siaran langsung di gedung kuliahnya karena konsep hari&nbsp; ini adalah bercerita mengenai kehidupan kuliahnya. Ia sudah berganti outfit dari kemeja&nbsp; dan celana kain menjadi dress mini namun anggun.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Haii guyss\u2026jadi sekarang gue lagi di gedung kuliah FK jurusan kebidanan. Nih bisa&nbsp; kalian lihat disini ada lab anatomi. Disini ada ruang BEM. Disini ada kantin. Disini ada&nbsp; library. Jadi kita juga ada kantin disini guys. Disini kita bakal dapat potongan kalo gunain&nbsp; KTM. Nih bentar ya gue ambil dari dompet gue dulu. Makanan disini enak enak loh guys.&nbsp; Yuk mari cicipin. Nahh karena sudah dicicipin jangan lupa beli dan mampir ya. Sekian&nbsp; dulu ya guys, tetap semangat dengan hari ini, bye sem\u2026. &#8221; Ucapan Prisil berhenti ketika&nbsp; ia mendengar suara&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ckrikk\u2026ckrikkk\u2026 seperti tangkapan foto dari sebuah kamera ataupun ponsel. Prisil&nbsp; segera mematikan live nya dan juga mengambil jaket untuk menutupi badannya.&nbsp; Badannya gemetar mengingat bahwa banyak sekali foto tidak baik yang menyangkut&nbsp; dirinya tersebar ke website dengan pelanggan yang banyak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak para fansnya justru membuat ia takut karena ingin dekat dengannya dengan&nbsp; cara tak wajar.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Perusahaan keluarganya juga sering didatangi oleh orang asing dan mencuri beberapa&nbsp; barang. Rumah Prisil juga sudah tak aman karena dua hari yang lalu jendela rumahnya&nbsp; dilempar batu oleh seseorang tak dikenal.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Yah, itu risiko dari public figure. Banyak yang mencintai, banyak juga yang membenci.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n\n\n\n<p>Secangkir teh panas disuguhkan oleh Zidane di ruang tamu kontrakannya. Malam itu,&nbsp; Zidane, Jihan, Clara, dan Prisil mengadakan rapat dan konsultasi mengenai&nbsp; permasalahan Prisil.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan sudah mendapat persetujuan oleh Mentri dan Wamentri Kementrian Dalam Negeri&nbsp; BEM FK serta akademik untuk membantu Prisil. Bahkan, akademik memfasilitasi Jihan,&nbsp; Zidane serta Clara untuk masuk ke ruang apapun dengan acara pemeriksaan penting&nbsp; apabila diperlukan. Namun, hanya satu ruang kesenian yang sudah lama tak terpakai&nbsp; karena konon ada satu anak laki laki bunuh diri disana. Ruangan itu benar benar dikunci&nbsp; dan tidak ada seorangpun yang berani kesana.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah berkenalan, Prisil menceritakan semuanya dan beberapa dicatat oleh Jihan dan&nbsp; Clara.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Jadi gimana Sil? Kita punya free akses ke ruang manapun kalo lo mau kita melakukan&nbsp; pemeriksaan. Gabakal ada yang tau kalo ini kasus Lo. Kita akan berdalih mengadakan&nbsp; pemeriksaan dengan tujuan pemeriksaan rutin anti narkoba dan rokok disekitar FK.&nbsp; Tenang aja, ini sudah disetujui akademik&#8221; jelas Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Apa gamasalah? Gue takut banget asli. Gue nginep disini ya. Takut pulang ke rumah &#8221;&nbsp; kata Prisil&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Zidane melirik Jihan menandakan ia tak setuju. Karena Zidane tinggal sendirian di&nbsp; kontrakan ini.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Zidane please &#8221; kata Prisil memohon&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Oke. Asal Jihan juga nginep sini &#8221; kata Zidane&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; What?! &#8221; Jawab Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Iyain aja deh Ji. Zidane tinggal sendiri. Prisil juga cewek mana cantik. Takutnya ntar&nbsp; yang nggak nggak gimana &#8221; jawab Clara&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Gila Lo pada. Gue terus tumbalnya &#8221; jawab Jihan yang dibalas kekehan Zidane dan&nbsp; Clara&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Prisilia Aprhodite dengan nama panggil Sisil atau Prisil sangat cantik, pantas saja Zidane&nbsp; menumbalkan Jihan untuk tinggal bersama karena takut terjadi yang tidak-tidak. Jihan&nbsp; paham betul bahwa mereka sudah dewasa. Setidaknya Jihan percaya Zidane tak akan&nbsp; melewati batas seperti itu walaupun ia punya pacar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hari semakin malam. Clara sudah mengantarkan baju-baju Jihan yang akan dipakai Prisil&nbsp; dan Jihan sendiri. Setelah itu Clara bergegas pamit pulang.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>22.00 WIB<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Mata Jihan benar benar tidak bisa bekerja sama. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya berkutat&nbsp; pada kasus Prisil yang belum pernah ia tangani. Prisil menyetujui adanya pemeriksaan&nbsp; di asrama. Itu berarti tugasnya semakin berat juga. Jihan menggosok mukanya hingga&nbsp; ujung rambut lurusnya perlahan. Ia meraih handphone dan scroll website dimana privasi&nbsp; Prisil telah dilanggar. Tidak ada update hari ini dari website tersebut karena Prisil&nbsp; disembunyikan di kontrakan Zidane bersama Jihan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Cntingggg!!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah notifikasi masuk&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gentala&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ji, masih online aja Lo&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jihan&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Emang masalah buat lo kalo gue masih online jam segini?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gentala&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Chat sama siapa lo sampe malem gini?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jihan&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ya jelas gue lagi chat sama lo Gentala.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gentala&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Wkwkwkkw. Lo di kontrakan kak Zidane?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jihan&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gausah pake kak. Zidane sama Lo sebenernya satu angkatan. Kok Lo tau? Zidane&nbsp; bocor ya?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gentala&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Wkwkwk bukan. Gue tadi liat lo Ji, kan kontrakan gue juga deket sama kontrakan&nbsp; Zidane.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jihan&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Oh gitu&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gentala&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Iya gitu. Tidur Ji. Udah malam. Sorry ganggu lo terus.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan menghempaskan ponselnya. Kupu-kupu sedang terbang di perutnya. Gila. Gentala&nbsp; Hafuza teman seangkatan SMAnya yang sekarang menjadi adik tingkat Jihan karena&nbsp; Genta merupakan seorang gap year. Genta berada di jurusan Kedokteran sama seperti&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Zidane. Genta yang cuek tapi perhatian, Genta yang selalu bersemangat organisasi,&nbsp; Genta yang tak pernah bermain main dengan kuliahnya, Genta yang bersikap dewasa&nbsp; padanya. Itu semua mampu membuat hati Jihan porak poranda setelah sekian lama&nbsp; membeku.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan melirik Prisil yang tertidur lelap disampingnya. Ia memutuskan melangkah ke&nbsp; ruang tamu. Ia dapati Zidane disana juga belum bisa tidur.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ji, lo yakin? Lo tau kan risikonya. &#8221; Kata Zidane&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ya gimana dan. Gue juga berusaha profesional. &#8221; Kata Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan dan Zidane merencanakan pemeriksaan besok hingga Jihan tertidur dengan posisi&nbsp; duduk disamping Zidane. Zidane yang tahu itu tersenyum simpul. Segera Zidane&nbsp; berpindah ke teras kontrakannya. Ia tidak mau melakukan hal yang tidak-tidak pada&nbsp; Jihan. Zidane sangat menghargai Jihan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Zidane, Clara dan Jihan sudah siap memakai pakaian lengkap serba hitam agar tidak&nbsp; dikenali oleh yang lain ketika pemeriksaan. Jika mereka tahu identitas Zidane, Clara dan&nbsp; Jihan maka mereka bertiga yang akan menjadi target berikutnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Prisil masih disembunyikan di kontrakan Zidane. Jihan meminta bantuan Genta karena&nbsp; Genta tergabung dalam Kementrian Aksi dan Propaganda jadi minimal dia tahu apa yang&nbsp; harus dilakukan jika situasi genting terjadi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Asrama putri Jurusan Kebidanan pun diperiksa dengan alasan anti narkoba dan rokok.&nbsp; Karena Kebidanan adalah asrama khusus putri maka Zidane berhak menunggu diluar&nbsp; ruangan. Clara sempat menemukan suatu chip yang dicurigai namun nihil isinya&nbsp; hanyalah foto foto kertas skripsi. Jihan juga tidak menemukan apapun. Jihan sempat&nbsp; curiga karena ada satu anak yang membuntutinya ketika ia melakukan pemeriksaan. Ia&nbsp; berdalih jika handphonenya ketinggalan. Namun, Jihan masih curiga karena dia&nbsp; merupakan anak geng yang berlawanan dengan geng Prisil atas informasi Clara.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Berlanjut ke asrama Keperawatan dimana beberapa mahasiswa ada yang berjenis&nbsp; kelamin laki-laki dengan dominan mahasiswa perempuan. Zidane bertugas memeriksa&nbsp; asrama laki-laki dan Clara bertugas memeriksa asrama perempuan. Sedangkan, Jihan ia&nbsp; mengobrak-abrik ruangan lain seperti ruangan himpunan keperawatan, ruangan dosen,&nbsp; lab dan lain lain.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lagi-lagi nihil. Tidak ada yang dicurigai. Terakhir adalah asrama jurusan kedokteran.&nbsp; Clara, Zidane, dan Jihan segera memasuki asrama kedokteran. Satu persatu dengan&nbsp; teliti mereka periksa apakah ada hal aneh dan mengganjal.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kamar 403&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Arthur Andreswara&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jihan dan Clara memeriksa kamar tersebut. Ya, Arthur adalah ketua geng dari geng&nbsp; yang berselisih dengan geng Zidane. Terpampang jelas bahwa banyak barang bagus&nbsp; bertengger di kamarnya. Wajar saja, ia anak dari konglomerat di sekitar kampus.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Manik mata Jihan menangkap sebuah lemari tua yang antik. Ia banyak sekali&nbsp; menemukan buku-buku seperti novel bergenre psycho.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Drttttt\u2026.drtttt\u2026.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Handphone Jihan bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya. Ia&nbsp; menggunakan mode getar ataupun senyap saat bertugas seperti ini. Layar tersebut&nbsp; bertuliskan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gentala is Calling\u2026.&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jihan mengisyaratkan pada Clara untuk berjaga agar tidak ada seorangpun yang&nbsp; mengetahui pembicaraannya dengan Genta. Jihan segera mengangkat telfon itu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Halo Ta, ada apa? &#8221; Tanya Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ji, lo sama yang lain ntar jangan pada balik ke kontrakan Zidane. Gawat banget. Tadi&nbsp; ada yang kesini mecahin kaca kontrakan Zidane. Ada beberapa anak geng motor juga.&nbsp; Keknya mereka ngincer si Prisil deh. Kayaknya gerakan Lo sama yang lain bener bener&nbsp; udah kecium pelaku &#8221; jelas Gentala&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Lo sekarang dimana? Lo aman kan? Prisil juga kan? &#8221; Tanya Jihan panik &#8221; Gue aman. Lo juga hati hati disana. Nanti gue shareloc lokasi kita. &#8221; Jelas Gentala &#8221; Kok bisa Lo sama Prisil ketahuan kalo lagi di kontrakan Zidane? &#8221; Tanya Jihan &#8221; Nanti gue ceritain Ji. Lo hati hati ya. Sampe ketemu nanti &#8221; Ucap Genta yang langsung&nbsp; mematikan sambungan teleponnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan, jantung Jihan berdegup kencang. Bagaimana jika Gentala ikut terseret bersama?&nbsp; Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Gentala? Memang sedari awal harusnya jangan&nbsp; melibatkan orang lain di luar Clara dan Zidane. Tapi Genta, Jihan sangat percaya&nbsp; padanya. Gentala Hafuza, ia yakin sekali pada lelaki itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Clara menanyakan keadaan pada Jihan. Jihan membalasnya dengan kode ada yang tidak&nbsp; beres disini. Clara dan Jihan bergegas keluar. Tangan Jihan tidak sengaja menjatuhkan&nbsp; satu buku di lemari tua. Spontan lemari itu berbalik mengungkap suatu ruang rahasia.&nbsp; Jihan dan Clara melongo. Jihan segera memanggil Zidane untuk memimpin mereka.&nbsp; Mereka mengacak-acak ruangan tersebut. Melihat sekeliling, banyak sekali cctv&nbsp; terpasang. Papan hitam dengan beberapa gambar bangunan pun menempel. Tapi Jihan&nbsp; menemukan satu foto tubuh perempuan yang mirip dengan yang di-posting di website&nbsp; yang disampaikan oleh Prisil.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Dan, Clar sini deh. Ini bukannya\u2026.&#8221; Kata Jihan terpotong&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Emang biadab ni orang. Selalu aja cari gara gara &#8221; kata Zidane&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Gila sih. Parah. Tapi kita belum Nemu bukti kuat selain ini. Zidane, Lo tau markas&nbsp; mereka? &#8221; Tanya Clara&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Nope. Markas mereka tersembunyi. Entah dimana. &#8221; Jelas Zidane&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Clara, Jihan dan Zidane bergegas keluar asrama Kedokteran. Clara sempat menangkap&nbsp; siluet seorang perempuan berparas cantik masuk ke kamar Arthur. Entah, mungkin&nbsp; pacar Arthur batin Clara. Tapi biarkan saja.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan segera bergegas menuju tempat dimana Gentala dan Prisil berada. Ia berdoa&nbsp; semoga mereka berdua baik baik saja. Jihan sampai di rumah elite dengan penjagaan&nbsp; ketat milik Hafuza Group. Iya, disana Gentala sudah menunggunya. Langkah Jihan&nbsp; berhenti, ah syukurlah. Gentanya baik baik saja.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Zidane dan Clara menyusul. Mereka segera memeriksa Prisil yang gemetar dan masih&nbsp; sesegukan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ji, Lo gapapa? &#8221; Tanya Gentala pada Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Lo sendiri? Gimana sih bisa kek tadi? Kenapa bocor? &#8221; Tanya Jihan balik &#8221; Kalo ditanya itu dijawab Ji. Bukan nanya balik. &#8221; Jawab Genta&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Gue gapapa Ta. Lo bisa liat gue disini berdiri di depan Lo. &#8221; Jelas Jihan &#8221; Wkwkwk. Iya iya. Hhh tadi Prisil upload story di sosial medianya. Dia ngevideo kalo&nbsp; dia lagi masak dan dia keceplosan bilang kalo dia lagi dikontrakkan kak Zidane. Para&nbsp; pengikut di sosmednya langsung pada gempar. Alhasil kayak tadi &#8221; jelas Gentala &#8221; Lo bilang udh ngegembok akun Lo? Sil, kan kita udah bilang jangan main sosmed dulu.&nbsp; Kita tau Lo selebgram. Tapi Lo ngebahayain nyawa Lo sama nyawa kita tau gak?! &#8221; Clara&nbsp; memanas. Jihan bisa melihat dada Clara naik turun menahan amarah &#8221; Clar udah ngapa. &#8221; Tarik Zidane agar Clara tidak emosi&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Sorry gue kayak mau gila kalau tanpa sosmed. Jadi gue tadi niat live sebentar tapi&nbsp; keceplosan karena ada yang komen &#8221; jelas Prisil<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Yaudah yaudah. Penting disini aman. Thank&#8217;s Ta. Sorry ngrepotin &#8221; jelas Zidane &#8221; Santai. Aman aman &#8221; jawab Genta&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Malam semakin larut, Prisil yang mentalnya kembali terguncang sekarang sudah tertidur.&nbsp; Tapi Jihan, Genta, Zidane dan Clara masih menyusun rencana untuk besok.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan menyodorkan hasil rekamannya mengenai kamar Arthur yang ia curigai.&nbsp; Terpampang foto foto Prisil yang tidak pantas disebarluaskan ke sosmed. Clara&nbsp; menyodorkan rekaman cctv dimana saat mereka bertiga keluar dr asrama ada seorang&nbsp; perempuan memasuki kamar Arthur dengan gerak gerik aneh. Sedangkan Zidane, ia&nbsp; berhasil membongkar sesuatu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di papan ruang rahasia milik Arthur ada foto Prisil, kode map yang setelah Zidane cari&nbsp; tahu merupakan kode perusahaan keluarga Prisil dan juga rumah Prisil, Zidane juga&nbsp; menemukan berkas berkas dimana KTP dan Paspor serta cerita masa lalu Prisil tersusun&nbsp; rapi di kamar Arthur. Kebanyakan berkasnya merupakan tangkapan layar dari story&nbsp; sosial media Prisil. Banyak dari story Prisil di simpan olehnya lalu dia mengulik informasi&nbsp; pribadi dari Prisil.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Gentala bertugas menyusun rencana aksi untuk melanjutkan penyelidikan. Genta sangat&nbsp; mahir karena ia berada di bidang ini. Ada satu tempat yang dicurigai Genta karena&nbsp; tempat tersebut tak terendus oleh siapapun. Ya, ruang kesenian yang terkenal angker.&nbsp; Bisa saja itu adalah markas dari Arthur dan gengnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan dan Clara mengecek website yang mengunggah foto foto dan informasi pribadi&nbsp; Prisil untuk konsumsi publik. Mengapa ada orang gila seperti mereka? Kebanyakan&nbsp; adalah fans Prisil yang berusaha mendekati Prisil dengan cara yang salah. Ya begitulah&nbsp; nasib public figure. Keliatannya bergelimang harta tapi ternyata kehidupan pribadinya&nbsp; tidak aman.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kontrakan Zidane yang menjadi tempat Prisilia Aprhodite di sembunyikan <\/strong>Di update 7 jam yang lalu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Mampus dan. Kontrakan Lo terkenal nih &#8221; tegas Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Palalu Ji. Gue mau out aja lah dari situ &#8221; jawab Zidane enteng.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah itu semua sibuk berkutat dengan masing-masing pikiran mereka. Sampai petang&nbsp; berganti fajar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n\n\n\n<p>Mentari pagi itu bisa digambarkan sedang tersenyum hangat kepada para penduduk&nbsp; bumi. Ia tak tahu bahwa hiruk pikuk di bumi sangat mematikan, kebisingan suara diotak&nbsp; yang berdentum melawan kesadaran mental pun bisa menjadi masalah. Prisil dan Clara&nbsp; bersama menuju gedung kebidanan. Sedangkan Jihan diantar Genta untuk sampai ke&nbsp; gedung Keperawatan. Zidane juga mengikuti Genta untuk mengantar Jihan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saat Clara berjalan di koridor ia harus berpisah dengan Prisil karena berbeda kelas.&nbsp; Namun belum ada setengah jam, Prisil kembali membuat ulah dengan sosmednya. Prisil&nbsp; yang sangat menyukai tantangan akhirnya memfoto bermacam macam kartu debit dan&nbsp; ATM nya ke sosial media karena tak mau kalah pamer kekayaan dengan Freya Angelina&nbsp; teman sekelasnya yang selalu bersinggungan dengannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak lupa Prisil juga sudah melakukan live lagi dengan teman temannya. Jihan pun&nbsp; menonton livenya tidak ada gerak gerik aneh sekalipun. Namun, saat Jihan mengecek&nbsp; website yang melanggar privasi Prisil disana sudah tertera saldo ATM Prisil yang telah&nbsp; diambil. Bahkan Prisil belum menyadarinya jika ATM dan Kartu Debitnya terkena&nbsp; scammer. Bodoh memang. Tapi itulah Prisil. Tak pikir panjang hanya saja dia tak mau&nbsp; kalah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Clara pasti sudah bersungut-sungut jika mengetahui kejadian ini. Jihan cepat cepat&nbsp; berlari ke gedung Kebidanan disusul Genta dan Zidane. Benar saja, Clara sudah marah&nbsp; tak tertahankan disana. Jihan, Zidane dan Genta hanya bisa diam memperhatikan dari&nbsp; kejauhan karena identitas mereka tak boleh terbongkar. Clara pasti tahu batasan pikir&nbsp; Jihan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelahnya Prisil menyadari bahwa kartu ATM dan kartu Debitnya ludes. Tak sepeserpun&nbsp; saldo terpampang disana. Ia lemas, jatuh, terpuruk dan menangis. Hingga titik&nbsp; tertingginya adalah dia pingsan dan tidak sadarkan diri. Genta membawanya ke UKS&nbsp; bersama Jihan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hingga Prisil siuman, ia meminta maaf karena tak pikir panjang akibat ulahnya. Ia&nbsp; meminta maaf telah merepotkan Clara dan yang lain. Prisil berjanji ini yang terakhir&nbsp; kalinya ia ceroboh dalam menggunakan sosmed. Tapi dia tetap memohon untuk&nbsp; menemukan pelaku yang mengoperasikan website tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Proses pemeriksaan terus berlanjut. Malam nanti kita akan bongkar apa saja yang ada&nbsp; di ruang kesenian angker tersebut. Clara dan Zidane bertugas masuk ke ruang kesenian.&nbsp; Sedangkan Jihan dan Genta memantau dari cctv apabila terdapat bahaya mendekat&nbsp; kearah dua teman mereka. Clara dan Zidane ada di balik tangga koridor. Sedangkan&nbsp; Jihan dan Genta ada di ruang siaran FK memantau cctv.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu, Arthur benar benar datang ke FK. Padahal jam sudah menunjukkan pukul&nbsp; 21.00 WIB dimana seharusnya FK sudah kondisi steril tak ada satu mahasiswa pun yang&nbsp; datang karena FK mempunyai jam malam yaitu jam 20.00 WIB. Tak ada gerak-gerik&nbsp; mencurigakan dari Arthur hingga ia sampai di lantai ke 7 gedung FK dimana Clara dan&nbsp; Zidane menunggu dibalik tangga dan ruang kesenian yang angker juga berada disana.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan segera mengetikkan pesan ke ponselnya yang ditujukan ke Zidane agar waspada&nbsp; karena Arthur dekat dengan posisinya sekarang. Clara yang mengetahui hal itu&nbsp; mendadak bergidik ngeri. Namun, Zidane langsung meyakinkan Clara bahwa semuanya&nbsp; akan baik-baik saja.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Arthur sampai di depan ruang kesenian. Ia menengok ke kanan dan ke kiri memastikan&nbsp; bahwa tidak ada orang selain dirinya. Jihan dan Gentala yang ada di ruang siaran&nbsp; memantau cctv pun menangkap gelagat aneh dari Arthur. Begitupun Zidane dan Clara&nbsp; yang berada di balik tangga. Arthur segera mengeluarkan kunci gembok dari sakunya&nbsp; dan membuka pintu ruang kesenian. Jihan, Zidane, Clara dan Gentala membelalak.&nbsp; Pasalnya meskipun mereka mendapat free akses masuk kemanapun karena kasus ini,&nbsp; dosen tetap tidak mengizinkan mereka untuk memasuki ruang kesenian angker itu.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Gentala dan Jihan sempat memasang cctv kecil di pintu ruang kesenian. Begitu pintu&nbsp; terbuka semuanya begitu jelas. Tidak ada ruang kesenian angker, tidak ada hantu&nbsp; disana, tidak ada yang selama ini ditakuti oleh mahasiswa dan dosen. Ruang kesenian&nbsp; itu benar benar disulap seperti bar kecil dengan segudang lampu pernak perniknya.&nbsp; Gentala benar, ruang kesenian itu basecamp dari geng Arthur. Jihan melihat sesuatu&nbsp; dari matanya, beberapa laptop versi terbaru dan juga ada banyak cctv dimanapun yang&nbsp; memantau ruang gerak Prisil seperti rumah, perusahaan papa Prisil, gedung Kebidanan,&nbsp; dan terakhir adalah Kontrakan Zidane yang telah dikosongkan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Gila. Mereka stalk Prisil sejauh itu. Ini Prisil ngapain aja mereka tau dong?!&#8221; Tutur Jihan &#8220;Kayaknya ada sesuatu antara Prisil dan Arthur yang tidak semua orang tau Ji &#8221; jawab&nbsp; Genta&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan segera menelfon keamanan, beberapa dosen penanggung jawab yang sudah siaga&nbsp; sedaritadi, beberapa anak kementrian dalam negeri yang turut serta membantu&nbsp; pergerakannya, beberapa anak kementrian aksi dan propaganda untuk melancarkan&nbsp; aksi mereka serta korban Arthur yaitu Prisil.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Segera mereka semua masuk ke ruang kesenian yang sudah disulap menjadi bar kecil.&nbsp; Arthur tampak gelagapan karena tempat tongkrongannya telah diendus oleh beberapa&nbsp; pihak. Prisilia datang dan maju satu langkah di depan semua orang sembari menatap&nbsp; Arthur.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ada masalah apa Lo sama gue? Kenapa Lo bersikap layaknya stalker di hidup gue? &#8221;&nbsp; Tanya Prisil&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; HAHAHAHAHHAA &#8221; gelak tawa Arthur menggelegar membuat semua orang bingung &#8221; Prisilia Aprhodite, nona kecil sekaligus pewaris tunggal Aprhodite Group. Apa Lo gak&nbsp; ingat siapa gue? &#8221; Tanya Arthur&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Prisilia mengernyit. Ia merasa tak pernah mengganggu Arthur selama ini. Bahkan ia&nbsp; tidak tau siapa Arthur itu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; 10 tahun yang lalu. Aprhodite Group ngehancurin Andrenata Group. Perusahaan papa&nbsp; Lo nipu perusahaan bokap gue dengan mempublikasikan data data perusahaan dan&nbsp; keluarga gue setelah itu mereka jual untuk menghancurkan perusahaan papa gue.&nbsp; Karena identitas keluarga gue semuanya terungkap, mau gak mau gue sama keluarga&nbsp; gue ganti nama jadi Andreswara. Hidup gue kelimpungan gara gara perusahaan Lo nipu&nbsp; dan nyebarin data pribadi keluarga gue buat dijual. Perusahaan papa Lo menuliskan&nbsp; artikel yang merendahkan martabat keluarga gue. Sekarang gantian, gue yang ngejual&nbsp; data pribadi Lo ke fans fans Lo yang terobsesi sama Lo. Tiap jam upload dimana Lo&nbsp; berada, Lo ngapain aja, pas lagi buka dompet semua kartu kartu penting Lo keliatan di&nbsp; video live Lo. Itu justru memudahkan gue buat buka privasi Lo. Impas kan? &#8221; Jelas&nbsp; Arthur&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Lo tega ya. Gue gatau apa apa dulu. Gue masih kecil bego! &#8221; Kata Prisil &#8221; Gue gamau tau. Gue cuma mau balas dendam. Nikmati kehidupan privasi Lo yang&nbsp; udah gaada harganya. Fans fans yang terobsesi sama Lo bahkan mereka juga sama&nbsp; gilanya sama Lo. &#8221; Jelas Arthur&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Lo yang gila! &#8221; Jelas Prisil&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah kejadian tersebut Arthur dan gengnya benar benar di skorsing. Arthur pun&nbsp; pindah ke kampus luar negeri agar dapat melanjutkan kuliahnya. Prisil sekarang&nbsp; mengerti risiko yang ia punya jika menjadi famous dan selebriti. Pengalamannya&nbsp; mengenai sosial media memanglah buruk. Namun, sekarang ia mengerti bagaimana&nbsp; etika privasi ketika kita mempunyai sosial media. Keluarganya yang melemparkan harsh&nbsp; word ke keluarga Arthur, menuliskan artikel yang merendahkan keluarga Arthur, bahkan&nbsp; menyebarkan data pribadi keluarga Arthur untuk dijual sekarang karmanya sudah benar&nbsp; benar terbayar.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu, Prisil, Jihan, Zidane, Gentala dan Clara kembali ke perumahan elite milik&nbsp; Gentala. Bulan purnama itu jahat. Mengapa ia menunjukkan sinarnya saat hiruk pikuk&nbsp; dan ketidakadilan dunia sangat kelimpungan?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Clara sudah tertidur di kamar atas. Sedangkan Zidane juga sudah tertidur di kamar&nbsp; bawah. Tersisa Jihan yang hanya memelototi laptopnya mengerjakan laporan kasus hari&nbsp; ini yang terselesaikan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ji, bisa gak dilanjut besok? Udah malam &#8221; tutur Gentala&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ta, kenapa ya banyak orang jahat? &#8221; Tanya balik Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Kebiasaan deh kalo ditanya pasti nanya balik. Ji, dunia ini perlu keseimbangan. Ada&nbsp; yang namanya kebaikan dan kejahatan. Ada yang namanya kekurangan dan kelebihan.&nbsp; Itu sudah keseimbangan alam. Kita gak bisa maksa orang berbuat baik jika bukan&nbsp; kemauan dari diri orang itu sendiri. Tugas kita hanya mengingatkan orang lain. &#8221; Jelas&nbsp; Gentala pada Jihan yang dibalas anggukan olehnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ini dia Gentala yang ia suka. Gentala yang ia kagumi. Dewasa nan tegas. Bahkan&nbsp; kebahagiaan Gentala adalah prioritas utama seorang Jihan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan mengerjakan laporan kasus yang terselesaikan hari ini hingga pagi dini hari pukul&nbsp; 3.00 WIB. Jihan tak menyadari bahwa Gentala tertidur disampingnya. Manik matanya&nbsp; menangkap Gentala yang sedang tertidur dan Jihan tersenyum simpul.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ta, bahagia terus ya. Gaboleh ada satupun yang ngelukain lo &#8221; tutur Jihan pelan lalu&nbsp; Jihan mengambil selimut dari kamar atas untuk dipakaikan ke Genta. Jihan kembali ke&nbsp; kamar atas untuk tidur bersama Clara.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Semoga bahagia juga Ji. &#8221; Tutur Gentala samar-samar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Webinar Etika Ruang Privasi ketika Bersosial Media&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Narasumber: Prisilia Aprhodite&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Spanduk besar itu mengapa semua peserta webinar yang datang di ruang serbaguna&nbsp; FK. Ramai sekali peserta yang datang untuk menyimak penjelasan dan materi yang&nbsp; diberikan Prisil.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan datang bersama Clara serta Genta dan Zidane tentunya. Tak disangka, korban&nbsp; ternyata bisa menjadi narasumber sebuah webinar berdasarkan pengalamannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Prisil benar-benar sudah berubah lebih baik. Kini tak semuanya ia posting di sosial&nbsp; medianya. Hanya urusan kerja saja yang ia pamerkan ke publik. Ia pindah rumah dan&nbsp; hanya beberapa orang yang tahu. Dia menjadi pribadi yang ramah dan baik bukan lagi&nbsp; Prisilia yang tak mau mengalah seperti dulu, bukan lagi Prisilia yang tak memikirkan&nbsp; konsekuensi untuk kedepannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Gentala, Jihan, Zidane dan Clara berada di backstage atas undangan Prisil. Prisil&nbsp; mengapa mereka dan menghadiahkan mereka sebuah jam tangan untuk masing&nbsp; masing.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan memilih yang warna coklat begitu juga Gentala. Sedangkan Clara dan Zidane&nbsp; memilih yang warna hitam.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Guys, thank you ya. Tanpa kalian, gue gabakal sadar apa yang salah dari diri gue.&nbsp; Sukses terus buat kalian &#8221; seru Prisil&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Sukses juga sil &#8221; jawab Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ntar kalo bisa undangan kita ke webinar Lo free pass semua ya &#8221; jawab Zidane konyol Sedangkan Clara dan Genta sama sama tersenyum simpul.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ta, Prisil cantik ya? &#8221; Tanya Jihan pada Genta&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Semua cewe kan cantik Ji. Lo juga. &#8221; Jawab Gentala enteng&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Semburat merah muncul dari pipi Jihan. Ia memalingkan mukanya agar Genta tak&nbsp; mengetahuinya. Tapi terlambat, Genta tahu semua itu dan dia tersenyum.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Gentala, untuk saat ini mari kita berteman saja. Sewajarnya saja meskipun aku sangat&nbsp; menyukaimu. Namun, aku belum bisa menjanjikan apapun sebagai perempuan yang&nbsp; masih berbenah diri.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan, saat ini kita begini saja. Aku sudah cukup senang. Maaf belum bisa mengikatmu&nbsp; dalam suatu hubungan. Karena aku belum bisa menjanjikan kebahagian. Aku tidak mau&nbsp; hanya sekedar menjanjikanmu kebahagiaan semu yang berakhir mendung di pelupuk&nbsp; matamu. Jihan Zhafira, aku mencintaimu selalu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka berdua bergumam dalam hati seperti itu. Namun tak sanggup mengungkapkan&nbsp; satu sama lain.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Ta, ke kontrakan Zidane yang baru yuk. Clara juga ada disana. &#8221; Usul Jihan &#8221; Oke. Ntar pulang bareng gue ya Ji &#8221; jawab Genta&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Oke kapten &#8221; jawab Jihan sumringah&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pesta dirumah Zidane dengan dihadiri dosen, petugas keamanan FK dan juga beberapa&nbsp; anak BEM FK digelar dengan cukup sederhana.<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan melihat Clara yang tersenyum manis pada Zidane. Yah, dia harap Clara&nbsp; menemukan seseorang sebagai penyemangat. Zidane pun begitu, Jihan harap ia tidak&nbsp; hanya bermain main dengan perempuan. Semoga ia segera mendapatkan bidadarinya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lamunan Jihan terbuyarkan ketika Genta menyodorkan es krim coklat ke arah Jihan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Nih Ji &#8221; kata Genta&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8221; Thank&#8217;s Ta &#8221; jawab Jihan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Zaman memang sudah berubah menjadi modern dan serba canggih. Namun, benar kata&nbsp; seorang ahli yang Jihan lupa namanya &#8221; Kalau kita tidak pintar dalam memainkan sosial&nbsp; media. Maka, sosial media akan mempermainkan kita. &#8221;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Privasi di zaman sekarang seperti tak ada harganya. Orang orang berlomba dalam&nbsp; menunjukkan ini dan itu ke khalayak umum yang bisa saja menjadi bumerang bagi&nbsp; mereka. Itulah pentingnya menanamkan etika privasi dalam bersosial media. Jangan&nbsp; menggunakan kata kata kasar yang ditujukan pada seseorang. Jangan terlalu&nbsp; mengungkap privasi ke khalayak umum. Jangan menggunakan sosial media untuk&nbsp; keperluan merugikan ataupun berbuat jahat kepada orang lain.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>***&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>11 September 2021&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jihan&#8217;s diary&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Prisilia semoga kau mengerti sekarang. Hiduplah dengan baik. Jaga privasimu walaupun&nbsp; kau selebriti.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Zidane terimakasih, kau teman yang baik. Semoga sukses untuk kedepannya. Aku yakin&nbsp; kau akan menjadi kepala keluarga yang baik kelak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Clara, semoga hidupmu dipenuhi keberkahan. Kau baik, periang, lucu dan selalu&nbsp; menemaniku disaat suka dan duka. Terimakasih.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Terakhir Gentala, bahagialah selalu! Apapun itu aku sangat yakin padamu. Terimakasih&nbsp; Genta.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah menulis buku diary miliknya, Jihan memutuskan untuk menghempaskan&nbsp; tubuhnya ke kasur yang sangat ia cintai. Purnama sedang menunjukkan eksistensinya&nbsp; kala itu. Jihanpun terlelap menuju pulau mimpinya yang bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n<div class=\"2c253786f3917100e032eb5504642955\" data-index=\"1\" style=\"float: none; margin:10px 0 10px 0; text-align:center;\">\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script>\r\n<!-- Adsense Berkah -->\r\n<ins class=\"adsbygoogle\"\r\n     style=\"display:block\"\r\n     data-ad-client=\"ca-pub-9385134775663468\"\r\n     data-ad-slot=\"7150604192\"\r\n     data-ad-format=\"auto\"\r\n     data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins>\r\n<script>\r\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\r\n<\/script>\n<\/div>\n\n<div style=\"font-size: 0px; height: 0px; line-height: 0px; margin: 0; padding: 0; clear: both;\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Olivia Falla Rosalina&nbsp; Semburat ungu bercampur oranye sore itu menemani tubuh perempuan kecil nan&nbsp; berkulit putih yang sedang kelelahan karena dilanda rapat hingga sore hari. Berkali kali&nbsp; ia menepuk-nepuk kecil bahunya yang terselimuti almamater warna biru gelap&nbsp; kebanggaannya. Jihan Zhafira adalah seorang salah satu staff dari Kementrian Dalam&nbsp; Negeri BEM FK di kampusnya yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[159,158],"tags":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3436"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3436"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3436\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3438,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3436\/revisions\/3438"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}