{"id":4195,"date":"2024-04-25T04:05:31","date_gmt":"2024-04-25T04:05:31","guid":{"rendered":"http:\/\/manifestpers.id\/?p=4195"},"modified":"2024-04-27T04:25:27","modified_gmt":"2024-04-27T04:25:27","slug":"demokreasi-kebebasan-semu-demo-tandingan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manifestpers.id\/?p=4195","title":{"rendered":"DEMOKR(E)ASI: KEBEBASAN SEMU DEMO TANDINGAN"},"content":{"rendered":"\n<p>Sejak era kemerdekaan hingga reformasi, demonstrasi telah menjadi alat rakyat &nbsp;untuk menyampaikan aspirasi dan menekan penguasa. Unjuk rasa ini terbukti efektif &nbsp;dalam menyuarakan suara rakyat dan mendorong perubahan. Indonesia memiliki rekam jejak&nbsp;historis panjang yang melekat dengan demonstrasi.&nbsp;Seakan telah menjadi salah satu bagian penting sejarah republik ini bahwa aksi massa yang dilakukan secara&nbsp;masif dan besar-besaran menjadi salah satu langkah perbaikan atas permasalahan yang &nbsp;muncul. Aksi unjuk rasa merupakan bentuk partisipasi dalam demokrasi dan juga sebagai &nbsp;simbol kebebasan berpendapat dan&nbsp;berekspresi&nbsp;yang disampaikan di muka umum.&nbsp;Demonstrasi sepatutnya menjadi sebuah panggung rakyat untuk menyampaikan suaranya&nbsp;tentang keresahan&nbsp;yang terjadi atas kebijakan atau tindakan penguasa yang &nbsp;merugikan masyarakat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Firdaus (2014) demonstrasi merupakan bentuk aksi protes atau &nbsp;menyuarakan penolakan atas kebijakan pemerintahan yang mereka anggap tidak berpihak kepada kepentingan rakyat atau merugikan masyarakat. Demonstrasi menjadi bentuk&nbsp;kebebasan berpendapat dalam berdemokrasi yang telah diatur&nbsp;konstitusi. Bahwa &nbsp;setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. &nbsp;Namun, sebagaimana halnya ketika kebebasan yang disampaikan itu hanyalah suatu hal &nbsp;yang semu. Sikap yang ditampilkan&nbsp;dalam aksi demonstrasi telah dirancang dan &nbsp;dimanipulasi hanya untuk meyakinkan publik. Belakangan ini, kita sering disuguhkan &nbsp;suatu fenomena menarik sekaligus membingungkan yang mewarnai lanskap demokrasi &nbsp;Indonesia. Munculnya gerakan aksi massa yang terkesan terorganisir dan terstruktur&nbsp;dengan tuntutan yang seolah-olah mewakili suara rakyat menimbulkan pertanyaan &nbsp;tentang keaslian dan ketulusan para demonstran.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di tahun demokrasi ini, sepanjang kontestasi pemilu, unjuk rasa bak sandiwara &nbsp;kerap mewarnai jalanan. Salah satu contohnya adalah demonstrasi mahasiswa Medan &nbsp;pada 25 Januari lalu. Mengatasnamakan dukungan kepada salah satu pasangan calon &nbsp;presiden yang ikut&nbsp;berkontestasi, mereka menuntut agar sang calon, jika terpilih&nbsp;menjalankan amanah rakyat dengan jujur dan adil. Meskipun unjuk rasa ini sah-sah saja, &nbsp;respons masyarakat menunjukkan keraguan. Banyak yang mempertanyakan ketulusan&nbsp;&nbsp;dan kemauan mahasiswa dalam mewakili suara rakyat Sumatera Utara. Masyarakat &nbsp;menilai bahwa aksi yang dilakukan tidak terjadi secara organik, melainkan rekayasa &nbsp;untuk membangun narasi dukungan dan keinginan masyarakat agar pasangan calon yang &nbsp;tersebut terpilih sebagai pemimpin. Contoh lainnya ialah aksi demo dukung KPU yang &nbsp;digelar ratusan pelajar dan mahasiswa, mereka menyuarakan untuk mendukung putusan &nbsp;perhitungan suara pemilu 2024 yang banyak dinilai para ahli tidak memuaskan karena &nbsp;dipenuhi oleh banyak tindakan-tindakan kecurangan yang terstruktur, masif, dan &nbsp;terorganisir. Demonstrasi pada umumnya digambarkan sebagai reaksi penolakan. Namun,&nbsp;alih-alih sebagai bentuk penolakan&nbsp;justru&nbsp;muncul sebagai bentuk dukungan. &nbsp;Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang makna demokrasi di Indonesia.&nbsp;Apakah demokrasi hanya tentang menunjukkan dukungan buta kepada pemimpin tanpa &nbsp;ruang untuk kritik dan evaluasi?&nbsp;atau&nbsp;demokrasi dimaknai sebagai alat untuk &nbsp;memanipulasi opini publik dan membangun citra semu?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam teori demokrasi modern, partisipasi masyarakat dalam pemerintahan &nbsp;merupakan esensi dari pemikiran demokratis (Hamka, 2019:83). Pemikiran ini melandasi&nbsp;gagasan bahwa partisipasi rakyat menjadi kunci untuk menemukan solusi dan langkah&nbsp;baru dalam mengatasi permasalahan yang timbul dari kebijakan pemerintah. Merujuk&nbsp;pada teori&nbsp;demokrasi modern, demonstrasi dapat dilihat sebagai bentuk partisipasi demokratis untuk&nbsp;mencapai kebebasan. Demonstrasi menjadi wadah bagi rakyat untuk menyuarakan&nbsp;aspirasi, kritik, dan penolakan terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat atau merugikan masyarakat.&nbsp;Demokrasi hanya dapat berjalan dengan baik jika&nbsp;dilandasi oleh kebebasan berekspresi yang tulus dan bertanggung jawab. Kebebasan sejati tercipta apabila didasari atas kehendak diri bukan atas kehendak orang lain. Demokrasi&nbsp;yang berarti&nbsp;dari&nbsp;\u201crakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat\u201d&nbsp;tidak dapat diubah menjadi bentuk demo yang dikreasikan untuk kepentingan tertentu. Unjuk rasa semu yang tidak&nbsp;dilandasi atas ingin terjadinya suatu perubahan melainkan hanya untuk melakukan&nbsp;manipulasi opini akan mengantarkan kepada suatu kemunduran.&nbsp;Gerakan-gerakan&nbsp;seperti&nbsp;ini tidak mencerminkan partisipasi demokratis yang sesungguhnya&nbsp;justru mencederai nilai-nilai demokrasi itu sendiri.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Solusi untuk menciptakan nilai demokrasi yang ideal&nbsp;yaitu&nbsp;ruang publik untuk &nbsp;berdialog harus diberikan seluas-luasnya. Jangan berikan intervensi atas segala aksi &nbsp;massa yang muncul di muka umum. Biarkan aksi massa itu timbul secara alami untuk&nbsp;memberikan kritik dan evaluasi. Penting untuk menciptakan ruang dialog yang terbuka &nbsp;dan konstruktif antara masyarakat dengan pemerintah&nbsp;sehingga segala aspirasi &nbsp;mendapatkan respon yang cepat. Jangan menjadikan aksi unjuk rasa tersebut sebagai &nbsp;boneka hanya untuk menampilkan citra semu yang kelak akan mendegradasi nilai &nbsp;demokrasi. Manipulasi opini sebenarnya merupakan simbol ketakutan yang dimiliki oleh &nbsp;penguasa atas&nbsp;karut-marut&nbsp;kebijakan yang ditetapkan. Perlu ada suatu gerakan yang &nbsp;membangun narasi publik&nbsp;untuk&nbsp;melindungi dan membenarkan kepentingan-kepentingan &nbsp;tertentu. Tidak sulit sebenarnya untuk membedakan mana aksi yang timbul atas &nbsp;keresahan dan mana aksi yang timbul atas permintaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Mewujudkan sistem demokrasi yang dinamis diperlukan adanya partisipasi &nbsp;masyarakat secara komprehensif, rakyat perlu berperan&nbsp;aktif&nbsp;untuk mengawal jalannya &nbsp;demokrasi untuk memperoleh&nbsp;kebebasan&nbsp;nyata yang telah diidamkan. Demonstrasi &nbsp;sebagai wadah konstruktif menyuarakan aspirasi perlu didorong dan diapresiasi. Namun, &nbsp;perlu diingat bahwa demonstrasi yang sehat dan konstruktif harus dilandasi oleh &nbsp;ketulusan, tanggung jawab, dan keteraturan. Demokrasi yang ideal adalah dimana suara &nbsp;rakyatlah yang menentukan masa depan bangsa. Marwah demonstrasi sebagai panggung &nbsp;rakyat&nbsp;berekspresi&nbsp;tetap harus dipertahankan. Marilah kita bersama-sama memperkuat &nbsp;sistem demokrasi yang lebih baik, bebas dari kebebasan semu untuk Indonesia yang lebih &nbsp;baik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Oleh : Anugrah Rifqi Faadihilah Wafi (Manifestor 2023)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Referensi:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Firdaus, A, (2014, November 17).&nbsp;<em>Koran.&nbsp;<\/em>Diambil kembali dari Republika.co.id:&nbsp;https:\/\/republika.co.id\/beritakoran\/opini-koran\/14\/11\/17\/nf6agc42-demonstrasi dan-demokrasi&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Noer, H. (2019).&nbsp;<em>Studi Teoritik Pemikiran Demokrasi Modern.&nbsp;<\/em>Jurnal Kajian Stratejik &nbsp;Ketahanan Nasional, 2(1), 83.<\/p>\n<div class=\"2c253786f3917100e032eb5504642955\" data-index=\"1\" style=\"float: none; margin:10px 0 10px 0; text-align:center;\">\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script>\r\n<!-- Adsense Berkah -->\r\n<ins class=\"adsbygoogle\"\r\n     style=\"display:block\"\r\n     data-ad-client=\"ca-pub-9385134775663468\"\r\n     data-ad-slot=\"7150604192\"\r\n     data-ad-format=\"auto\"\r\n     data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins>\r\n<script>\r\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\r\n<\/script>\n<\/div>\n\n<div style=\"font-size: 0px; height: 0px; line-height: 0px; margin: 0; padding: 0; clear: both;\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak era kemerdekaan hingga reformasi, demonstrasi telah menjadi alat rakyat &nbsp;untuk menyampaikan aspirasi dan menekan penguasa. Unjuk rasa ini terbukti efektif &nbsp;dalam menyuarakan suara rakyat dan mendorong perubahan. Indonesia memiliki rekam jejak&nbsp;historis panjang yang melekat dengan demonstrasi.&nbsp;Seakan telah menjadi salah satu bagian penting sejarah republik ini bahwa aksi massa yang dilakukan secara&nbsp;masif dan besar-besaran menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":4199,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[92],"tags":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4195"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4195"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4195\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4202,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4195\/revisions\/4202"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4199"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4195"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4195"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4195"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}