{"id":4701,"date":"2025-08-05T11:07:24","date_gmt":"2025-08-05T11:07:24","guid":{"rendered":"http:\/\/manifestpers.id\/?p=4701"},"modified":"2025-08-12T00:50:40","modified_gmt":"2025-08-12T00:50:40","slug":"sendiri-sama-siapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manifestpers.id\/?p=4701","title":{"rendered":"Sendiri, Sama Siapa?"},"content":{"rendered":"\n<p>Kathrine Ardya Binar Sapphira &#8211; Manifestor 2024<\/p>\n\n\n\n<p> <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPermisi mbak\u201d ucap seorang perempuan dengan halus.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHalo mbak? Permisi, pesanan saya belum datang udah 30 menit nih mbak\u201d perkataan perempuan itu menyadarkanku dari lamunanku sedari tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cO-oh iya kak, sebentar ya tadi mesinnya agak <em>error<\/em> kak, mohon ditunggu ya kak,\u201d kataku menjawab perempuan itu seramah mungkin.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku langsung mengantar segelas <em>americano<\/em> dingin dengan <em>matcha latte <\/em>yang dingin beserta roti bakarnya yang masih hangat. Di tempat yang dingin begini dia memesan minuman dingin juga, tapi bukannya orang-orang sekarang banyak melakukan kegiatan seperti ini. Hal seperti itulah yang kadang terlintas di benakku sembari melakukan berbagai kegiatan, hingga\u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Pyarr!<\/p>\n\n\n\n<p>Lagi-lagi hal seperti ini terjadi untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi aku harus meminta maaf. Lagi-lagi perasaan yang memuakkan itu muncul. Lagi-lagi aku harus membereskan kekacauan seperti ini. Memang terkadang aku memecahkan gelas begini, tapi kali ini bukan salahku, tapi aku yang harus membereskannya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDuh, maaf banget kak. Maaf sekali kak\u201d ucap seorang perempuan yang kelihatannya cuma berbeda lima tahun dari umurku. Hanya kubalas dengan senyuman dan anggukan sembari membereskan pecahan gelas itu meski tanganku masih gemetar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaaf sekali lagi ya kak\u201d perempuan itu mengucapkannya lagi saat aku menjauh dengan anggukan sebagai balasanku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJari <em>lo<\/em>\u2026 berdarah Be. Sini ah!\u201d salah satu rekan kerjaku yang bisa dibilang dekat. Dia langsung memasang plester di jari manisku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemangnya tidak perih ya?\u201d tanyanya sembari memasang plester itu yang hanya kujawab dengan senyuman tipis. Memangnya mau dijawab dengan ekspresi apalagi kalau bukan seperti itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pun mengucapkan terima kasih sembari mengelus pundaknya sebagai tanda terima kasihku dan melanjutkan kegiatanku. Tanpa kusadari jam sudah menunjukkan pukul 22.56 yang akhirnya paruh waktuku akan usai sebentar lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Beginilah kegiatan yang aku lakukan hampir setiap hari dan pulang malam memang sudah menjadi keseharianku. Terdengar membosankan, terutama dengan perasaan dan pikiran-pikiran yang terus menggangguku.<\/p>\n\n\n\n<p>Kubuka pintu kost dengan energi yang tersisa dan langsung membersihkan diri karena kalau tidak sekarang pasti tidurku akan terganggu, begitu pula dengan kuliahku.<\/p>\n\n\n\n<p>Drrrrt\u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Ponselku bergetar yang menunjukkan pukul 03.00 pagi, tanpa kusadari pikiran-pikiran ini terus menggangguku sampai mengganggu tidurku. Padahal aku masih harus berangkat untuk kelas pagi di kampus. Perasaan yang terus menghantuiku semenjak hidup sendiri ini yang kemudian menjadi pengantar tidurku. Dibangunkan pula dengan mimpi-mimpi yang terasa begitu nyata dan harus melanjutkan aktivitas. Kalau dipikir memang tidak menyenangkan karena memang siapa yang mau merasakan perasaan yang terus menghantui kegiatanku ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini begitu cerah sampai aku melupakan perasaan semalam, aku bahkan menjalani kuliah dengan perasaan yang lebih cerah. Rasanya seperti perasaanku diatur berdasarkan cuaca hari ini. Seperti hari lainnya, begitu kelas selesai aku langsung menuju ke tempat \u201citu\u201d menyantap semangkuk es pisang ijo sembari membaca buku yang baru kemarin kudapat, sebelum benar-benar ke tempat paruh waktuku. Bisa dibilang aku termasuk golongan \u201cmahasiswa kupu-kupu\u201d alias kuliah-pulang. Aku memang punya rekan kuliah tapi sebatas rekan kuliah saja, tidak lebih. Perasaan lebih itu membuat semakin mengharapkan ekspektasi lain yang ternyata tidak menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selesai menikmati es pisang ijo itu, aku langsung mengendarai motorku menuju ke tempat paruh waktuku. Sesampainya di sana ternyata aku lebih awal dua jam, ku gunakan waktu itu untuk memeriksa ponselku. Tak kusangka, begitu banyak panggilan tak terjawab dari Ciko. Begitu kulihat pesannya, perasaanku begitu campur aduk sesingkat \u201cKak, abang di rumah sakit.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku langsung berpamitan dengan rekan kerjaku dan mengunjungi rumah sakit itu. Aku menyusuri ruangan-ruangan di rumah sakit sampai bertemu dengan Ciko yang sedang menenangkan ibunya di kursi tunggu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kejadian itu mengingatkanku tentang kejadian yang sama sekitar dua tahun lalu, aku menenangkan ibuku di kursi tunggu dengan kedua adikku. Perasaan sesak yang sudah terpendam lama dan baru meledak pada hari itu, mungkin perasaan itu menjadi alasan aku memilih untuk merantau, aku berpikir semua akan terselesaikan jika aku menjauh.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu gara-gara kamu memang lemah aja! Hal seperti itu saja kamu pikir! Kamu pikir itu sudah cukup?\u201d perkataan-perkataan yang membayang-bayangi aku terus. Sayangnya, penyesalan yang harusnya aku sampaikan ini belum mencapai targetnya, justru aku yang ditinggalkan. Trauma mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan perasaan terpendam ini. Sebagai anak sulung aku mesti tau bagaimana keluargaku, hal-hal yang terjadi pun pasti diceritakan. Namun, hal itu malah membebaniku dan membuatku harus mencapai ekspektasiku sendiri yang terlalu tinggi. Berkali-kali aku menyarankan untuk memutuskan hubungan ibuku dengannya, tapi ibuku tetap bersikeras kalau ia akan berubah. Lelah terhadap semuanya dan aku memilih untuk kabur dari kejadian itu agar aku tidak terbayang-bayang hal itu lagi. Hingga aku bertemu lelaki itu di kedai kopi yang lumayan sepi karena hujan yang deras.<\/p>\n\n\n\n<p>Lelaki itu memiliki pandangan yang lebih visioner dan terlihat lebih dewasa dalam menyampaikan pendapatnya. Kami memang dekat, aku butuh seseorang untuk mendengar keluh-kesahku dan dia mendengar sambil memberi masukkan kepadaku, bisa dibilang dia lah satu-satunya orang yang aku anggap temanku. Sampai aku mengetahui kalau ternyata aku hanya bahan bercandaannya dengan teman-temannya. Tanpa basa-basi aku langsung memutus hubungan komunikasi kami dan membuatku merasa memang tidak ada lelaki bahkan orang yang baik untukku.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sudah tidak memiliki siapapun, orang yang aku anggap keluarga hanya menggunakanku sebagai tempat melampiaskan emosi. Lalu orang yang menjadi satu-satunya sandaranku untuk menyampaikan cerita-ceritaku ternyata tidak dapat dipercaya lagi. Perasaan kesendirian ini selalu menghantuiku dan membuatku menjaga jarak dengan siapa saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai tiba-tiba lelaki itu kembali karena rekanku di kampus dengan kepribadiannya yang lebih supel yang membuatku berpikir siapa yang mengubah kepribadiannya itu. Entah apa yang terjadi, tapi kami menjadi dekat lagi bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Sampai kejadian dua tahun lalu datang, aku memutus hubungan dengannya dan keluarganya. Aku mencari-cari kesibukan supaya tidak memikirkan kejadian itu lagi, salah satunya paruh waktu yang aku lakukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukannya aku harusnya bahagia dengan hal ini ya, aku memang sedari dulu ingin dia tiada, tapi mengapa rasanya begitu perih, padahal akulah yang ingin menghilangkannya. Aku bahkan tidak meneteskan air mata di pemakaman itu. Ibu yang menangis begitu dalam, tapi ia langsung menyesuaikan keadaannya. Memang apa ada yang salah dengan aku sendiri. Aku terus melewati hari-hari sampai dengan hari ini, di rumah sakit yang berbeda dengan perasaan yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAbang masih cari kakak loh\u201d ucapkan Ciko yang saat ini menduduki bangku SMP.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemangnya kakak bertengkar ya sama abang?\u201d tanyanya sambil mengerutkan alisnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Enggak<\/em> kok, kenapa abang bisa masuk rumah sakit?\u201d tanyaku mengalihkan pertanyaannya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKatanya tabrakan tadi, abang ditabrak bapak-bapak\u201d jawabnya singkat dengan anggukan sebagai tandaku mengerti sambil aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengapa hal ini bisa terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Waktu berlalu, lelaki itu sudah sadar kembali meski dengan alat bantu bernapasnya. Mendengar hal itu terjadi aku sangat lega. Hal ini membuatku berpikir, kalau waktu itu berhasil sadar kembali apa yang akan terjadi. Apa ibu akan lebih baik dari sekarang ini atau lebih sedih lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menyusuri keluar rumah sakit sembari memikirkan kalimat Ciko diawal membuatku berpikir pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa&#8230; dilihat. Dikenang. Dicari. Mungkin aku tidak sepenuhnya sendirian, mungkin masih ada orang-orang yang memikirkan keberadaanku, sekecil apapun. Pemikiran ini memang tidak sepenuhnya merubah hidupku, tapi aku merasa dalam diriku ada yang bergeser sedikit. Aku juga tidak tahu bagaimana besok akan berjalan, apakah perasaan sesak ini akan kembali menyerang atau justru perlahan menghilang. Tapi, aku tetap akan menyelesaikannya, sendiri.<\/p>\n<div class=\"2c253786f3917100e032eb5504642955\" data-index=\"1\" style=\"float: none; margin:10px 0 10px 0; text-align:center;\">\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script>\r\n<!-- Adsense Berkah -->\r\n<ins class=\"adsbygoogle\"\r\n     style=\"display:block\"\r\n     data-ad-client=\"ca-pub-9385134775663468\"\r\n     data-ad-slot=\"7150604192\"\r\n     data-ad-format=\"auto\"\r\n     data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins>\r\n<script>\r\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\r\n<\/script>\n<\/div>\n\n<div style=\"font-size: 0px; height: 0px; line-height: 0px; margin: 0; padding: 0; clear: both;\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kathrine Ardya Binar Sapphira &#8211; Manifestor 2024 \u201cPermisi mbak\u201d ucap seorang perempuan dengan halus. \u201cHalo mbak? Permisi, pesanan saya belum datang udah 30 menit nih mbak\u201d perkataan perempuan itu menyadarkanku dari lamunanku sedari tadi. \u201cO-oh iya kak, sebentar ya tadi mesinnya agak error kak, mohon ditunggu ya kak,\u201d kataku menjawab perempuan itu seramah mungkin. Aku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":4702,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[159,158],"tags":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4701"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4701"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4703,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4701\/revisions\/4703"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}