Site icon LPM MANIFEST

Perempuan di Titik Nol

Jalanan serasa tak bertuju dalam kegelapan

Sinar rembulan satu-satunya kehangatan

Namun tak ada rasa takut dalam dirinya untuk melangkah

Walaupun kaumnya tak sepantasnya seorang diri—katanya

Mungkin suatu keinginan

Mungkin suatu keterpaksaan

Pada akhirnya juga tidak bisa dikekang

Yang pasti sudah hilang perasaan

Tersakiti, tertindas, dijatuhkan, diremehkan

Mimpi sirna tanpa terpikirkan hanya berdasar pada keadaan yang tak dipilihnya

Dilemparkan bagai minuman kosong yang telah mengisi dahaga

Terpantaskan untuk mati sia-sia demi kaum oposisinya

Tubuhnya terkulai di tikar majikannya dengan harapan kebebasan

Berbayar tubuh dan kehormatan, berbalas dengan penjara

Sukmanya pun menggemakan kecaman, “Jika aku menengok ke belakang, aku tersesat”

Maka berlari suatu kebutuhan yang tak terelakan

Sampai pada titik melawan atau terkekang

Sembari kaum itu menyelubungi kebobrokanya

Tersadar bahwa kekuasaan mereka hanya tipu muslihat belaka

Mereka tak lebih dari serangga kecil yang merasa dirinya singa hutan

Menguak kebenaran pun dicaci penjahat

Makhluk gila nan hina—katanya

Hidup tiada makna ketika terbelenggu dalam kurungan

Untuk itu, mati adalah pembebasan

Ditulis oleh Anindya Yustika,

Terinspirasi dari novel karya Nawal el-Saadawi dengan judul yang sama.

Exit mobile version