Jalanan serasa tak bertuju dalam kegelapan
Sinar rembulan satu-satunya kehangatan
Namun tak ada rasa takut dalam dirinya untuk melangkah
Walaupun kaumnya tak sepantasnya seorang diri—katanya
Mungkin suatu keinginan
Mungkin suatu keterpaksaan
Pada akhirnya juga tidak bisa dikekang
Yang pasti sudah hilang perasaan
Tersakiti, tertindas, dijatuhkan, diremehkan
Mimpi sirna tanpa terpikirkan hanya berdasar pada keadaan yang tak dipilihnya
Dilemparkan bagai minuman kosong yang telah mengisi dahaga
Terpantaskan untuk mati sia-sia demi kaum oposisinya
Tubuhnya terkulai di tikar majikannya dengan harapan kebebasan
Berbayar tubuh dan kehormatan, berbalas dengan penjara
Sukmanya pun menggemakan kecaman, “Jika aku menengok ke belakang, aku tersesat”
Maka berlari suatu kebutuhan yang tak terelakan
Sampai pada titik melawan atau terkekang
Sembari kaum itu menyelubungi kebobrokanya
Tersadar bahwa kekuasaan mereka hanya tipu muslihat belaka
Mereka tak lebih dari serangga kecil yang merasa dirinya singa hutan
Menguak kebenaran pun dicaci penjahat
Makhluk gila nan hina—katanya
Hidup tiada makna ketika terbelenggu dalam kurungan
Untuk itu, mati adalah pembebasan
Ditulis oleh Anindya Yustika,
Terinspirasi dari novel karya Nawal el-Saadawi dengan judul yang sama.















