Home Berita Menjelang Imlek dan Perkuliahan Tatap Muka, Begini Keadaan di Stasiun Bandung

Menjelang Imlek dan Perkuliahan Tatap Muka, Begini Keadaan di Stasiun Bandung

465
0
SHARE

Sumber: Dokumentasi Pribadi


ManifesT, Bandung, (Jumat, 28/01/2022) – Stasiun Bandung pada akhir Januari ini terpantau mulai dipadati penumpang. Mayoritas penumpang bepergian untuk berlibur dalam rangka merayakan Tahun Baru Imlek yang jatuh tepat pada tanggal 1 Februari mendatang. Tidak hanya itu, dimulainya perkuliahan tatap muka juga turut menambah kepadatan di stasiun ini. Menurut salah satu porter di Stasiun Bandung, Bapak Dinar, mayoritas tujuan keberangkatan penumpang kereta api di Stasiun Bandung adalah ke daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sejumlah daerah lain di sekitarnya.

Meningkatnya kasus Omicron di awal tahun ini disertai dengan padatnya penumpang, menjadi PR tersendiri bagi pihak stasiun untuk terus menerapkan dan memperketat protokol kesehatan yang ada. Upaya ini diwujudkan dengan terus memberlakukan syarat vaksinasi sebanyak minimal 2 kali dengan menyertakan hasil rapid antigen bagi setiap penumpang yang akan bepergian menggunakan transportasi kereta api. Pihak Stasiun Bandung pun telah menyediakan tempat tes antigen untuk para penumpang sehingga penumpang yang belum melakukan tes antigen bisa langsung melakukan tes di stasiun. Penerapan protokol kesehatan dan pemberlakuan syarat vaksin dan antigen bagi penumpang kereta api ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan penumpang kereta api di Stasiun Bandung sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan ancaman virus Covid-19 saat memilih opsi menggunakan kereta api untuk bepergian.

Lebih lanjut, menurut keterangan Bapak Dinar selaku Porter di Stasiun Bandung, upaya yang dilakukan oleh pihak Stasiun dalam mencegah terjadinya lonjakan datangnya penumpang pada saat perayaan Tahun Baru Imlek dan saat dimulainya perkuliahan tatap muka juga sudah diterapkan dengan melakukan pembatasan jumlah penumpang pada setiap kursi kereta api. Kursi yang semula dapat ditempati oleh dua orang, kini menjadi satu orang. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kepadatan di dalam kereta yang dikhawatirkan akan meningkatkan risiko terjadinya penularan virus Covid-19, mengingat penularan virus tersebut akan lebih mudah jika berada di ruangan tertutup.

Menurut beliau, penumpang yang biasanya melakukan mobilitas dari Stasiun Bandung kebanyakan adalah masyarakat yang ingin bepergian jauh seperti pemudik atau hanya sekadar berlibur saja. Selain itu, tidak sedikit pula mahasiswa yang memilih untuk menggunakan kereta api dalam melakukan mobilitas dalam rangka perkuliahan tatap muka.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini kereta api masih menjadi salah satu transportasi umum andalan bagi banyak masyarakat. Biaya kereta api yang tergolong murah dengan fasilitas yang tergolong lengkap, menjadi salah satu alasan mengapa banyak masyarakat memilih kereta api sebagai alat transportasi jarak jauh. Kereta api juga sangat cocok menjadi pilihan, khususnya untuk perjalanan jarak jauh karena dilengkapi dengan fasilitas yang aman, nyaman, dan mumpuni dibandingkan dengan transportasi umum lainnya, sehingga para penumpang dapat menikmati perjalanan dengan tenang tanpa rasa was-was. Meskipun begitu, apa pun jenis transportasinya, protokol kesehatan harus tetap dijalankan demi mencegah penularan virus Covid-19.

Penulis: Azzahra Nuriza, Ardelia Salma, Aystita Wahyu, Farhah Kamilatun, Robertha Abigail, Jibril Lanang.
Editor: Tazkiya Lidya Alamri
Pimpinan Redaksi: Trian Marfiansyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here