Home Berita Polemik Penugasan Raja Brawijaya 2026: 17.300 Mahasiswa Baru untuk 4 Stempel

Polemik Penugasan Raja Brawijaya 2026: 17.300 Mahasiswa Baru untuk 4 Stempel

60
0
SHARE
Mahasiswa baru mengantri untuk mendapatkan stempel penugasan Raja Brawijaya. Foto: Yusticia

Malang, ManifesT – Penugasan pengumpulan stempel dalam Open House RAJA BRAWIJAYA 2026 dikeluhkan sejumlah mahasiswa baru karena menimbulkan antrean panjang, kehabisan tinta, hingga mengurangi waktu mahasiswa untuk mengunjungi berbagai booth yang tersedia. Kondisi tersebut terutama dirasakan mahasiswa yang mengikuti sesi awal Open House pada Sabtu (29/8).

Salah seorang mahasiswa baru berinisial Q mengatakan antrean pengumpulan stempel pada sesi pagi berlangsung cukup panjang. Menurutnya, terdapat mahasiswa yang telah lama mengantre, tetapi tidak memperoleh stempel ketika tiba gilirannya karena tinta stempel telah habis.

“Karena pas antrean dia, dia udah antre lama, dia nggak dapat gitu. Dan ditambah mungkin karena padat itu, ada yang serobot antrean jadi makin chaos tuh waktu itu di situ,” ujarnya.

Ia juga menyebut situasi sempat memanas akibat kepadatan antrean dan persoalan stempel yang habis. Menurut keterangannya, terjadi keributan dengan aksi mulut antara mahasiswa baru dengan panitia Raja Brawijaya yang berada di lokasi antrean. Meski demikian, kondisi tersebut disebut tidak berlangsung lama dan kembali kondusif.

Keluhan serupa disampaikan N, mahasiswa baru yang mengikuti Open House pada sesi pertama. Ia mengatakan harus mengantre lebih dari 30 menit untuk mendapatkan satu stempel. Bahkan, antrean yang diikutinya berlangsung sekitar 40 menit dan mengular di salah satu titik pengumpulan.

“30 menit lebih. Itu pertama ya, yang di FK. Stempel yang di FK itu kita udah antri, tiba-tiba kayak ‘Stempel ini lagi enggak bisa, habis’ gitu,” ujar N.

N juga menyoroti perubahan pengaturan antrean pada salah satu titik pengumpulan stempel. Setelah dirinya mengantre cukup lama, dua jalur tambahan baru dibuka sehingga jumlah antrean bertambah dari dua menjadi empat banjar.

Potret Penugasan Stempel  Raja Brawijaya. Foto: Yusticia

“Iya, kenapa enggak langsung aja,” kata N.

Pada pelaksanaan Open House tersebut, N mengaku baru memperoleh satu stempel setelah mengikuti beberapa antrean. Ia menilai jumlah titik pengumpulan stempel yang terbatas turut menyebabkan penumpukan mahasiswa.

“Menurutku sih ya Kak, mending enggak usah yang stempel itu. Mungkin kalau iya, itu bisa dibuat (pos-pos) stempelnya lebih banyak lagi,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga disampaikan mahasiswa baru berinisial O dan P yang mengikuti sesi pagi. Keduanya mengatakan harus mengantre sekitar 30 hingga 45 menit untuk mendapatkan stempel, tetapi tinta pada stempel habis ketika giliran mereka tiba. Kondisi tersebut membuat mereka harus mencari titik pengumpulan lainnya.

Berbeda dengan mahasiswa yang mengikuti sesi pagi, A dan E yang mengikuti sesi ketiga mengaku tidak terlalu mengalami antrean panjang. Keduanya mengatakan kondisi antrean sudah lebih lengang ketika mereka datang sehingga dapat menggunakan waktu untuk berkeliling dan bertanya mengenai UKM yang diminati.

“Kalau kami enggak terlalu ngantri sih, soalnya udah di akhir-akhir,” ujar A.

Menurut A dan E, terdapat beberapa titik pengumpulan stempel yang tidak dipadati antrean ketika mereka datang. Keduanya juga mengaku dapat mengunjungi sejumlah UKM dan bertanya mengenai kegiatan yang ditawarkan masing-masing unit.

Open House merupakan bagian dari rangkaian RAJA BRAWIJAYA 2026 yang menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mengenal berbagai unsur di lingkungan Universitas Brawijaya. Pelaksanaannya dijadwalkan pada 29–30 Agustus 2026 sebagaimana tercantum dalam Surat Edaran Universitas Brawijaya Nomor 03112/DST/UN10/B/TU/2026.

Dalam surat edaran tersebut, panitia PKKMB dilarang memberikan penugasan yang berpotensi membebani mahasiswa baru, tidak relevan dengan kegiatan akademik, atau berisiko terhadap keselamatan dan kesehatan. Surat edaran juga mengarahkan penugasan agar bermanfaat bagi penguatan literasi, jejaring global, pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, serta penguatan Karakter Brawijaya.

Di tengah pelaksanaan Open House, panitia kemudian mengubah ketentuan pengumpulan stempel. Berdasarkan keterangan mahasiswa yang diwawancarai ManifesT, jumlah stempel yang semula harus dikumpulkan sebanyak empat dikurangi menjadi satu stempel.

Kendati demikian, hingga berita ini ditulis, Koordinator dan Wakil Koordinator Divisi Penugasan RAJA BRAWIJAYA belum memberikan keterangan mengenai alasan pemberlakuan penugasan tersebut maupun evaluasi terhadap pelaksanaannya.

Penulis:Yusticia Ayuning Kateguhan dan Andi Imam Rafi
Reporter:Yusticia Ayuning Kateguhan dan Balqis Dinda Cantik Rahmawati
Editor:Andi Imam Rafi
Pimpinan Redaksi:Husein Kurnia Hoetomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here