Malang, ManifesT – Pelaksanaan Open House RAJA BRAWIJAYA 2026 Hari Kedua menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengunjungi berbagai tenant dan mengenal kegiatan yang ditawarkan. Dalam pelaksanaannya, sejumlah mahasiswa yang terlibat sebagai penjaga tenant menyampaikan pandangan mengenai penerapan Green Campus serta penggunaan media cetak pada stand.
Alya dari Appate 62 Brawijaya mengatakan penerapan Green Campus di lingkungan Universitas Brawijaya telah terlihat dari pemilahan sampah dan kegiatan recycle terhadap barang-barang yang sudah tidak terpakai.
“Kalau menurut aku sendiri di lingkungan Universitas Brawijaya tentunya di sini udah nerapin banget buat Green Campus, terbukti dari pemisahan sampah dan juga recycle untuk dari barang-barang yang sudah tidak terpakai,” ujar Alya.
Hal serupa disampaikan Abel, yang juga berasal dari Appate 62 Brawijaya. Menurutnya, upaya tersebut terlihat dari pemilahan sampah serta penyediaan wadah untuk mengumpulkan sampah yang kemudian dapat diolah kembali.
“Untuk lingkungan universitas sendiri pastinya udah sangat mengusahakan untuk adanya Green Campus. Kayak yang tadi, pemilahan sampah ataupun ada wadah-wadah kayak kita ngumpulin sampah buat nanti diolah lagi,” kata Abel.
Sementara itu, William dari UKM MUN Club memberikan pandangan berbeda. Ia menilai penerapan Green Campus dalam pelaksanaan Open House belum sepenuhnya diterapkan.
“In my personal opinion mungkin ya, kayaknya nggak sebaik itu deh. Mungkin kayak, ya kayak kita lihat aja belum semuanya terpraktik secara benar, kayak lihat aja sampahnya masih berserakan dan lain-lain gitu,” ujar William.
William tetap menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme mahasiswa baru yang mengunjungi tenant MUN Club. Menurutnya, mahasiswa baru banyak bertanya mengenai program-program yang ditawarkan UKM tersebut.
“Overall aku excited sih. Soalnya kayak aku suka banget jaga stand di sini, even though kayak ya panas sih, cuman aku senang soalnya mahasiswa-mahasiswa barunya ini pada excited banget ke sini kayak banyak yang nanya-nanya,” katanya.
Selain persoalan green campus, ManifesT juga menanyakan ketentuan penggunaan media cetak seperti banner dan flyer kepada sejumlah tenant. Chesta, mahasiswa yang ditemui ManifesT, mengatakan terdapat ketentuan bagi setiap stand mengenai bentuk dan muatan yang harus dicantumkan.
“Setahuku kemarin ada, dan emang setiap stand itu kan ada ketentuannya harus kayak gimana, terus memuat apa aja,” ujar Chesta.
Alya mengatakan dari informasi yang diketahuinya tidak terdapat aturan khusus secara tertulis mengenai penggunaan media cetak. Ia menyebut kebersihan tenant juga dijaga berdasarkan kesadaran mahasiswa.
“Kalau untuk peraturan tertulis sendiri, kalau dari informasinya yang ada itu dari kami tidak ada aturan terkhususnya. Tapi karena kita juga di sini sebagai mahasiswa yang harus peduli terhadap lingkungan, jadi dari kesadaran masing-masing aja sih untuk memisahkan dan juga jaga kebersihan dari tenant dari OH,” kata Alya.
William mengatakan hal serupa terkait media cetak di tenant MUN Club. Menurutnya, penggunaan media tersebut tidak dipermasalahkan. Ia juga mengatakan panitia sempat meminta tenant melakukan dekorasi.
Penerapan Green Campus sendiri menjadi salah satu hal yang disebut dalam Surat Edaran Universitas Brawijaya Nomor 03112/DST/UN10/B/TU/2026 tentang Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Program Diploma dan Sarjana. Dalam surat edaran tersebut, penugasan mahasiswa baru diarahkan untuk mendukung pencapaian implementasi Green Campus melalui kampanye reduksi penggunaan material berbahan plastik, paperless, pengelolaan sampah yang baik, dan program Green Campus lainnya.
Dalam pelaksanaan Open House yang berlangsung pada 29–30 Agustus 2026, penugasan pengumpulan stempel juga mengalami perubahan. Ketua Pelaksana RAJA BRAWIJAYA 2026, Daffa, mengatakan penugasan tersebut tidak lagi diberikan pada Day 2 setelah panitia melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Day 1.
Menurut Daffa, penugasan awalnya mengharuskan mahasiswa baru mengumpulkan empat stempel. Setelah terjadi penumpukan di sejumlah titik pada Day 1, jumlah tersebut dikurangi menjadi satu stempel. Setelah dilakukan evaluasi, panitia kemudian memutuskan untuk meniadakan penugasan tersebut pada Day 2.
“Karena emang tujuan penugasannya kan awalnya memang untuk agar Maba tidak pulang duluan dan mereka bisa keliling UKM lebih merata, dan itu juga atas persetujuan dengan panitia dosen juga. Tapi akhirnya kita evaluasi bersama, itu ternyata tidak efektif jadi di Day 2 kita hilangkan,” ujar Daffa.
| Penulis | : | Andi Imam Rafi |
| Reporter | : | Tia Risky Ravelina, Kathrine Ardya Binar Sapphira |
| Editor | : | Andi Imam Rafi |
| Pimpinan Redaksi | : | Husein Kurnia Hoetomo |
















