Home OPINI PEMALAS YANG SELINGKUH

PEMALAS YANG SELINGKUH

358
0
SHARE

Oleh : Akmal Kavin

Hubungan asmara yang lempeng-lempeng saja tapi mampu bertahan lama sering diidentifikasi sebagai hubungan sehat atau healthy relationship menurut tolak ukur kolektif masa kini. Banyak warganet mengamini indikator tersebut karena berarti mereka telah menghabiskan hidup untuk selamanya berkolaborasi, berdiskusi, bahkan kadang bermusuhan kepada orang yang sama.

Bersamaan dengan itu, diskursus internet kemudian menemukan silogisme baru; pasangan adalah teman ngobrol, ngobrol sampai seumur hidup, carilah pasangan yang mau diajak ngobrol tentang apapun sampai kapanpun, karena kehidupan setelah menikah adalah hidup penuh obrolan. Dipikir-pikir, iya juga. Bayangkan menikahi seseorang yang tidak berkenan yapping dengan kita setelah seharian mengadu nasib. Atau mungkin lebih buruk, dapat pasangan yang selalu berkata kasar, padahal kita sendiri mungkin sudah lelah duluan. Berat menjalani hari lewat krisis komunikasi. Rakyat Indonesia mungkin sudah cukup cerdas menentukan “teman ngobrol” yang satu frekuensi, terbukti lewat indeks kebahagiaan keluarga Indonesia yang ada di angka 71,86% menurut Indeks Pembangunan Keluarga di tahun 2024. Angka yang relatif aman, walau kebahagiaan sebenarnya tidak bisa diterjemahkan secara numerik.

Lucu ternyata, kita justru inkompeten saat menentukan pasangan bersama, teman ngobrol seluruh elemen rakyat yang wajib mendengarkan lebih banyak dibanding bicara monolognya yang populis dan berbusa-busa itu. Padahal “pasangan” yang satu ini bersifat periodik, tapi tindakannya bisa mempengaruhi “seumur hidup” banyak orang lain. Dari cara kita menyapa saja, beliau-beliau ini sudah dibedakan oleh sistem dan stigma. Mereka lebih doyan dijuluki “dewan” dibanding “wakil rakyat”, lebih menikmati naik tetot-tetot dibanding berdesakan dengan lapisan konstituennya sendiri di KRL, MRT, atau mungkin bus kota yang mudah. Ngerinya, mereka juga lebih senang duduk flamboyan di restoran berbintang, berselingkuh dengan elit-elit yang mempesona, dibanding menemui kita yang sebetulnya pasangan sah.

Tapi sebentar, orang yang diselingkuhi memang cenderung sering menyalahkan dirinya sendiri, merasa kurang cukup, padahal tukang selingkuh sebenarnya tidak layak mendapatkan keibaan itu. Sebenarnya, kita yang tidak lihai menyeleksi, atau mereka yang tidak pernah introspeksi? Situasi depresif ini membuat sebagian besar kita menangis. Kita diduakan, diremehkan, bahkan dibunuh, secara terang-terangan, selama berbabak-babak. Belum kalau kita melebar pandangan ke pemangku jabat yang lain-lain. Mereka muncul di depan kamera, diserobot wartawan kawakan, dijepret kamera mahal, hanya untuk mengucap sepatah dua yang tidak berbobot, apalagi beretika. Pejabat negara itu pasangan, pelayan, sekaligus karyawan bagi publik. Loyalitas kepada partai tidak akan boleh melampaui kesetiaan pada kita, yang dipaksa mencintai mereka walau habis percaya dikibuli bertubi-tubi, dirampas nyawanya di sana sini.

Ya… kita akhirnya muntab juga, bak seorang istri melabrak habis suaminya di depan mata kepala banyak orang, dan seperti biasa, yang tidak merasa diselingkuhi akan mengintip sinis, membebankan akibat, seolah melepas substansi kemarahan dan protes yang sebenarnya valid.

Aksi meledak serentak, tuntutan berturut-turut, bapak ibu wakil dewan atau apalah namanya itu, justru diajari rakyatnya sendiri bagaimana cara menjalin romantisme demokrasi yang benar, walau mereka sendiri tetap kepala batu dengan cara kolot dan tidak tahu malu.

Ah, sudahlah kerja tidak becus, ambisinya binal, doyan mendua, diminta untuk mengerjakan bare minimum, jawabnya: “Kalau semua dipenuhi tuntutannya, kan repot juga ya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here