ManifesT, Malang, (Sabtu, 16/04/2022) – Forum Studi Agama Islam (FORSA) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menyelenggarakan kajian Semarak Bulan Suci Ramadhan 1443 Hijriyah. Dalam acara ini, FORSA mengusung tema “Gapai Rahmat dan Maghfiroh di Syahrul Ramadhan” dalam rangka pembinaan mental kebangsaan, pendidikan norma, etika, dan karakter. FORSA memfasilitasi acara ini melalui media offline (Masjid Al-Adl FH UB) dan online (Aplikasi Zoom Meeting) dengan menghadirkan Ust. Anas Fauzi (Kepala KUA Kec. Lowokwaru dan Pendiri/Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rozzaq Jabung Kab. Malang) sebagai pemateri.
Acara ini diawali dengan sambutan dari Ketua FORSA, Silva Hasanah Agustin dan sambutan Wakil Dekan III, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H. Dalam kesempatannya, Silva Hasanah Agustin memanjatkan syukur atas terselenggaranya acara ini dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Quran sebagai pedoman umat muslim. Dr. Setiawan Noerdajasakti selaku perwakilan pimpinan fakultas menyampaikan bahwa acara ini merupakan kegiatan perdana yang diadakan di masjid Al-Adl FH UB secara hybrid (offline dan online) sejak adanya pandemi COVID-19.
Dalam penyampaian materi “Gapai Rahmat dan Maghfiroh di Syahrul Ramadhan”, Ust. Anas Fauzi menyampaikan 2 pokok bahasan yakni kiat-kiat menggapai rahmat Allah Swt dan hal-hal yang menjadikan tidak turunnya rahmat Allah Swt.
Dalam rangka menggapai rahmat Allah Swt, terdapat 2 hal yang perlu diperhatikan:
- Memasukkan iman kepada Allah Swt ke dalam hati dengan lafadz Allah Swt.
Untuk mengetahui apakah lafadz Allah Swt sudah masuk ke dalam hati manusia, Ust. Anas Fauzi menjelaskan dengan dibuktikkan ketika seseorang terkejut, maka akan mengucapkan lafadz Allah Swt. Hal tersebut dapat dilakukan apabila telah terbiasa melalui bacaan Al-Quran dan dzikir kepada Allah.
- Bermanfaat kepada orang lain dan menghilangkan penderitaan orang lain.
Ust. Anas Fauzi mencontohkan dengan sebuah perumpamaan seekor semut yang berada di air gelas minuman yang membutuhkan pertolongan, maka semut dapat dikatakan sebagai manusia dan air dalam gelas adalah luasnya lautan Allah Swt. Maka apabila melihat makhluk-makhluk Allah Swt yang berada dalam penderitaan, sudah seharusnya membantu dan memberikannya pertolongan.
Kemudian, terdapat 2 hal juga yang menjadikan rahmat Allah Swt tidak turun, antara lain:
- Syirik kepada Allah Swt.
Dalam hal ini berarti mempercayai selain Allah atau mempersekutukan Allah Swt. Surah Al-Luqman ayat 13 telah memberikan penjelasan yang mengingatkan untuk tidak mempersekutukan Allah Swt yang merupakan kezaliman yang besar.
- Berkata buruk terhadap orang lain dan merasa dirinya paling benar.
Seburuk-buruknya manusia, pasti ada kebaikan dalam dirinya, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, Ust. Anas Fauzi mengajak untuk menghilangkan perilaku seperti ini, bisa saja orang yang selama ini dianggap buruk oleh manusia lainnya, ternyata dianggap baik oleh Allah Swt.
Sebagai penutup, Ust. Anas Fauzi mengingatkan kembali akan pentingnya bulan suci Ramadhan sebagai momentum bangkitnya umat manusia dari situasi pandemi COVID-19. Beliau menambahkan bahwa bulan suci Ramadhan tidak hanya terdiri dari rahmat, tetapi juga ampunan dan dijauhkannya dari api neraka. Ketiga komponen ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, untuk dapat jauh dari api neraka harus mendapatkan ampunan, untuk mendapatkan ampunan harus mendapatkan rahmat Allah Swt. Dalam usaha mendapatkan rahmat Allah dilakukan dengan mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi larangannya, dalam konteks bulan ramdhan maka menghindarkan dari segala hal yang membatalkan puasa yakni hawa nafsu.
Penulis: Berliana Dewi Fortuna, Elisya Karina, Gabriel Nathanael, Muhammad Fauzil Adhim
Editor: Tazkiya Lidya Alamri
Pimpinan Redaksi: Trian Marfiansyah
















