Home Berita Di Balik Rangkaian Pembuka PKKMB FH UB: Dari Komunikasi, Koordinasi, hingga Keabu-abuan

Di Balik Rangkaian Pembuka PKKMB FH UB: Dari Komunikasi, Koordinasi, hingga Keabu-abuan

694
0
SHARE
Situasi mahasiswa baru yang mengikuti rangkaian acara ormawa pada PK2MABA FHUB (Diambil oleh: Diandra Emanuella)

Malang, ManifesT – Hari kedua sekaligus hari penutup rangkaian pembuka PK2MABA FH UB yang dilaksanakan pada Minggu (20/8/2023) berjalan lancar. Setelah sehari sebelumnya mahasiswa baru dibekali materi mengenai orientasi pendidikan (ordik), mahasiswa kembali diberikan materi mengenai organisasi kemahasiswaan (ormawa) di hari kedua. 

Diawali pemaparan materi dari Muhammad Najih, S.H. M.Hum., Ph.D, selaku alumni FH UB yang kini menjabat sebagai Ketua Ombudsman Republik Indonesia, pemaparan materi mengenai ormawa selanjutnya diisi oleh 3 mahasiswa aktif FH UB, diantaranya adalah M. Abdurrahman, Atla Tegar, dan M. Daffa Alfandy yang masing-masing membawakan materi mengenai keorganisasian, keprestasian, dan keprofesian.

Adanya ketiga mahasiswa aktif tersebut menjadi pemateri membuat mahasiswa baru terlihat lebih aktif daripada seminar pada hari sebelumnya, karena merasa dekat dan tidak sungkan untuk bertanya.

Meski terlihat berjalan dengan lancar, panitia dan mahasiswa baru tentu memiliki kesan dan kendala masing-masing dalam pelaksanaan rangkaian PKKMB. Lebih lagi, panitia tahun ini terbilang berbeda dengan tahun-tahun kemarin, sebab terdapat dua panitia yang kini mengatur jalannya PKKMB, yakni panitia mahasiswa dan panitia dosen.

Muhammad Zuhdi, selaku Ketua Panitia PKKMB FH UB 2023 sendiri berpendapat bahwa adanya perbedaan struktur panitia tersebut tidak menjadi sebuah masalah karena adanya pembagian yang diatur secara jelas. Adapun kendala yang dihadapi merupakan komunikasi dan koordinasi yang sempat terganggu akibat adanya liburan dan program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) untuk angkatan 2021 serta singkatnya waktu untuk mempertemukan dua gagasan yang berbeda dari panitia dosen dan panitia mahasiswa.

Adanya hambatan dalam komunikasi dan koordinasi antar panitia ini pun berimbas pada kelabilan serta ‘keabu-abuan’ pengumuman panitia PKKMB yang sempat diunggah namun di-take down kembali pada laman Instagram Badan Eksekutif Mahasiswa FH UB (@bem_fhub)).

“Betul itu di-take down karena kita kan pada saat itu kami selaku panitia inti sedang melaksanakan program MMD, sehingga koordinasi dan komunikasi benar-benar terhambat sekali. Baik dengan dosen, panitia seleksi, Badan Eksekutif Mahasiswa, itu benar-benar terhambat, sedangkan kita dipepet waktu dan juga kepastian yang masih abu-abu. Kita belum ada kepastian saat itu dan dari kemahasiswaan bahkan SK (Surat Keterangan) kita pun lama turunnya karena ada miss komunikasi di sana, sehingga itu yang akhirnya menghambat dan tidak bisa memprioritaskan,” jelas Zuhdi saat diwawancarai Tim ManifesT.

Lebih lanjut mengenai pembagian kelompok PKKMB dan SPV yang terbilang cukup dekat, Zuhdi memaparkan bahwa memang terdapat beberapa kendala dalam pembagian anggota kelompok yang berada di luar kendali panitia.

“Tentu kita tidak ingin menyengaja ya, karena kita pun sebenarnya kesulitan melakukan pembagian (kelompok dan SPV) di H-2 itu. Kendala yang nyata adalah penerimaan maba dan registrasi ulang di tahun ini dibuka sampai 3 gelombang, sehingga kemarin di tanggal 10 (Agustus) itu seharusnya (pendataan) terakhir, tapi masih ada nama-nama yang disetorkan dari pihak Dekanat, gitu. Jadi kita panitia mahasiswa harus revisi lagi, revisi lagi, revisi lagi,” tambahnya.

Mengenai kendala teknis, Rizki Septian selaku Koordinator Divisi Acara memaparkan memang terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan di hari eksekusi seperti overtime dan keterlambatan. Namun ia mengaku bahwa kendala itu sudah diantisipasi dan dipersiapkan sebelumnya, sehingga adanya kendala pada hari H acara dapat teratasi dengan baik dengan dipersiapkannya grey zone untuk mengeliminasi rangkaian-rangkaian yang sekiranya kurang penting. 

“Acara sudah prepare dengan kasus kayak yang overtime, keterlambatan, dan segala macam penambahan yang diluar rangkaian dengan ngasih (memberi) grey zone atau zona abu-abu di rundown-nya supaya bisa dieliminasi,” ungkap Septian.

Di samping adanya kendala-kendala yang dirasakan, Muhammad Teguh Febrian, salah satu mahasiswa baru FH UB angkatan 2023 memiliki pendapat positif mengenai berjalannya rangkaian pembuka PKKMB FH UB 2023. 

Dirinya mengaku bahwa rangkaian pembuka PKKMB FH UB 2023 memiliki mobilitas yang tidak terlalu ribet seperti Raja Brawijaya. Adapun penugasan yang diberikan juga tidak seberat ekspektasi yang ia bayangkan, karena tidak terlalu sulit dan memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakan penugasan.

“(Terkait pelaksanaan PK2MABA FH UB) Menurut saya oke, untuk saya sendiri, mungkin, kalau di rate-nya mungkin 90% (dan sisanya 10% itu tahap penyempurnaan kali. Mungkin dari kakak-kakaknya itu, miskomunikasi itu hal yang wajar ya. Jadi, ada ketidakpuasannya itu cuma 10% lah,” ungkap Teguh saat ditanya mengenai kepuasan mengikuti PKKMB FH UB 2023.

Rangkaian PKKMB sendiri masih akan berlanjut hingga Oktober mendatang. Terdapat 6 Krida Mahasiswa (Krima) yang harus diikuti oleh mahasiswa baru hingga bulan 2 bulan ke depan. Diantaranya terdapat seminar dengan materi mengenai pembinaan karakter dan pengembangan profesi, Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM), pengenalan LO/LSO, dan lalu akan ditutup dengan adanya inagurasi sebagai penutup resmi serta apresiasi peserta rangkaian PKKMB.

(ja, csk, npr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here