Home Cerpen Semangat Mehmed Tiada Habisnya

Semangat Mehmed Tiada Habisnya

408
0
SHARE

Mehmed bekerja di perusahaan konstruksi. Mehmed tinggal bersama kedua saudara perempuannya, Elmira dan Fatma. Kedua orang tua Mehmed telah meninggal setahun yang lalu. Elmira duduk di bangku kelas 7 SMP, sedangkan Fatma duduk di bangku kelas 10 SMA. 

Setelah lulus dari sekolah kejuruan bidang konstruksi, Mehmed memutuskan bekerja di perusahaan konstruksi untuk meringankan beban orang tuanya. Dia tidak ingin menyusahkan orang tuanya, hingga akhirnya orang tuanya menyetujui keinginan Mehmed tersebut. 

Cita-cita mulia Mehmed membuat kedua adiknya kagum dan bangga. Kedua adiknya sangat bersyukur memiliki kakak seperti Mehmed. Mehmed sangat disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Setiap pagi Mehmed selalu bangun jam 5 pagi dan membangunkan adik-adiknya. Tak lupa dia selalu menyiapkan sarapan pagi untuk adik-adiknya dengan roti gandum plus segelas susu.

Mehmed juga seorang pekerja keras dan gigih. Dia bekerja mulai jam 7 pagi hingga jam 5 sore, tak jarang dia bekerja hingga jam 10 malam. Tak kenal lelah dan pantang berkeluh kesah. Apa yang dia lakukan ini semata-mata demi kedua adiknya. Mehmed memiliki prinsip bahwa kedisiplinan, kerja keras, kegigihan merupakan kunci menuju kesuksesan.

****

“Fatma, Elmira ayo kalian bangun, ini sudah jam 5 pagi!” seru Mehmed.

Dengan mata yang masih berat dan kondisi kantuk, Fatma berkata “Hoam, iya kak”

“Elmira, bangun, sudah jam 5 pagi!” seru Fatma.

“Masih kantuk kak, udaranya dingin sekali, makanya untuk tidur enak” ujar Elmira.

Dengan suara lantang Mehmed membangunkan Elmira “Bangun! cepat bangun Elmira”

Akhirnya Elmira bangun dari tidurnya saat mendengar Mehmed membangunkannya.

“Kalian berdua cuci muka dan segera mandi, sementara kakak membuatkan kalian sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah” ujar Mehmed.

Kemudian mereka berdua menjawab ”Baik kak”

****

Mehmed, Fatma, dan Elmira selalu berjalan kaki saat mereka menuju ke tempat kerja dan sekolah. Sembari berjalan kaki, mereka berbincang-bincang sejenak.

“Kalian ingat pesan kakak, belajar yang rajin dan giat agar cita-cita kalian tercapai, biar kakak yang bekerja keras untuk kalian, kalian jangan bermalas-malasan”

Fatma dan Elmira kompak berkata “Siap kak, pesan kakak akan kami laksanakan selalu”

Tak lama kemudian, akhirnya Fatma tiba di depan sekolah. Fatma pamit kepada Mehmed dan Elvira untuk masuk kelas.

“Kak Mehmed, Elmira, Fatma mau masuk ke kelas segera, takut nanti terlambat” ujar Fatma.

“Jangan lupa pesan kakak tadi ya, sudah kalau begitu nanti terlambat” ujar Mehmed.

Tak lama kemudian, Elmira tiba di sekolah dan Mehmed yang juga tiba di tempat kerja. 

****

Dengan ketelitian yang sangat tinggi dan standar keselamatan yang selalu dia patuhi, Mehmed tidak gegabah dalam kerja karena dia menganggap kualitas dalam bekerja adalah nomor satu. Tak jarang dia pun membantu rekan-rekan kerjanya yang lain saat mengalami kesulitan dalam bekerja. Sikap yang suka membantu inilah Mehmed mendapat apresiasi dari rekan kerjanya. Tiba-tiba saja material bangunan jatuh dan menimpa kaki Mehmed, akhirnya Mehmed dan berteriak kesakitan.

“Aaaaah, tolong tolong, kakiku tertimpa material bangunan, sakit… sakit…  sekali” jerit Mehmed.

Rekan-rekan kerja beserta mandor Mehmed akhirnya menghampiri Mehmed dan menolongnya

“Kalian tolong singkirkan semua material yang menimpa kaki Mehmed” ujar mandor.

“Ayo bantu angkat materialnya kasihan sekali Mehmed!” ujar rekan-rekan Mehmed.

Setelah semua material disingkirkan, akhirnya Mehmed dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjut, mengingat kaki kanan Mehmed mengalami luka yang sangat serius.

“Kalian segera bawa Mehmed ke rumah sakit pakai mobil saya” ujar mandor.

”Baik bos” ujar rekan-rekan Mehmed.

Setiba di rumah sakit, dokter yang menangani Mehmed mengatakan bahwa kaki kanan Mehmed harus diamputasi, mengingat terjadi infeksi akibat luka yang sangat serius.

“Maaf tuan, kaki kanan Tuan harus segera diamputasi karena infeksi yang sangat serius luka yang membusuk, mau tidak mau jalan satu-satunya adalah amputasi” ujar dokter.

Mehmed berteriak saat mendengar penjelasan dari dokter “Apa? Tidak mungkin kakiku diamputasi. Tidak mungkin, tolong dok, jangan amputasi kakiku, jangan, jangan, aku tidak ingin membuat adik-adikku sedih, aku masih ingin bekerja”

Sang mandor menenangkan Mehmed, dia berkata “Sudahlah Mehmed, kau harus menerima kenyataan ini. Kau harus merelakan semuanya. Walau sangat berat, aku tahu kalau kau masih memiliki tanggungan untuk kedua adikmu. Jangan kau risaukan, biar aku yang mengurusi, untuk segala biaya perawatanmu biar aku yang menanggung semuanya”

“Maaf tuan, anda saya bawa ke ruang operasi sekarang untuk proses amputasi, operasi memakan waktu sekitar 30 menit, di ruang operasi para perawat sudah siap” ujar dokter.

Mehmed dibawa ke menuju ruang operasi oleh dokter beserta perawat.

****

Fatma dan Elmira tampak cemas tatkala menunggu kedatangan Mehmed pulang ke rumah. Waktu telah menunjukkan jam 10 malam, akan tetapi Mehmed masih belum kunjung pulang juga.

“Kak Fatma, Kak Mehmed jam segini kok masih belum pulang?” ujar Elmira.

“Sebentar lagi mungkin Kak Mehmed pulang ke rumah” ujar Fatma.

“Aduh, aku kok jadi cemas begini, Kak Mehmed belum pulang juga” ujar Elmira.

“Ya sabar saja, kamu tak perlu merisaukan Kak Mehmed”  ujar Fatma.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah Mehmed dan Mehmed dalam kondisi kaki diperban, dia dibopong keluar dari mobil oleh sang mandor dengan dibantu kursi roda. Elmira membuka pintu rumah untuk menyambut kedatangan Mehmed.

Fatma dan Elmira memanggil Mehmed ”Kak Mehmed!”

“Ada apa dengan Kak Mehmed? Kok Kak Mehmed duduk di kursi roda?” tanya Fatma.

Dengan dibantu kursi roda, Mehmed beserta sang mandor mendekati mereka berdua.

“Kalian berdua harus bisa menerima kenyataan, tadi siang kakakmu mengalami kecelakaan dan kaki kanannya terpaksa diamputasi” ujar sang mandor.

Mereka berdua sontak kaget dan menangis tersedu-sedu “Kak Mehmed kita jadi sedih, Kak Mehmed tidak bisa kerja lagi”

Sembari menangis, Mehmed berkata “Adik-adikku, kalian tidak usah bersedih. Ini sudah menjadi takdir yang harus diterima, kita saling mendukung untuk bangkit bersama, kita tidak usah saling menyalahkan siapa-siapa, mau tidak mau kakak harus menerima kenyataan ini walau berat sekali rasanya”

”Kalau kakak sudah tidak bekerja, lantas bagaimana dengan biaya sekolah dan biaya makan sehari-hari?” ujar Fatma.

”Iya kak, kalau Kak Mehmed tidak bekerja, bagaimana kelanjutan sekolah kami berdua?” ujar Elmira.

”Sudahlah, kalian semua tidak perlu bersedih, ini saya berikan pesangon kepada Mehmed untuk menyambung hidup kalian bertiga. Saya harap pesangon yang saya berikan bisa digunakan sebaik mungkin” ujar sang mandor.

”Terima kasih banyak bos atas bantuannya” ujar Mehmed.

”Terima kasih banyak paman atas bantuannya” ujar Fatma.

”Sama-sama, kalian berdua harus rajin belajar, jangan sekali-kali mengecewakan kakakmu, buatlah kakakmu bangga dengan prestasi kalian berdua, ya sudah saya mau pamit pulang, mengingat waktu sudah larut malam” ujar sang mandor.

Dengan kondisi keterbatasan di kursi roda, Mehmed mencari ide untuk menyambung hidup dia dan adik-adiknya. Dia memiliki ide untuk menjual lukisan. Dengan modal usaha yang didapat dari pesangon, dia mulai merintis usaha jualan lukisan. Keahlian melukis sudah dimiliki sejak Mehmed duduk di bangku sekolah dasar. Keahlian melukis dia salurkan lewat usaha berjualan lukisan. 

Mulai dari lukisan abstrak, pemandangan, hewan, dan manusia dijual. Dia menjual hasil karyanya di pusat kerajinan dekat rumahnya. Banyak pengunjung pusat kerajinan yang terpikat dengan hasil karyanya. Mehmed berjualan lukisan dibantu dengan Elmira dan Fatma seusai mereka berdua pulang sekolah hingga malam hari. Tak jarang mereka berdua membantu Mehmed berjualan lukisan pada hari libur.

“Syukurlah, hari ini kita mendapatkan untung yang banyak. Asalkan kita mau bekerja keras, tekun, dan ulet pasti bisa mendapatkan yang kita inginkan” ujar Mehmed.

“Iya kak, lumayan untuk menghidupi kita bertiga dari hasil jualan lukisan” ujar Fatma.

“Kakak punya keahlian melukis saat masih sekolah dasar dan tidak ada salahnya keahlian kakak bisa digunakan untuk menghasilkan uang” ujar Mehmed.

“Syukurlah kak, banyak pengunjung yang tertarik dengan lukisan kakak. Dengan begitu dagangan kita laris manis” ujar Elmira.

“Ya, benar sekali, kakak beri pesan kepada kalian semua agar selalu rajin belajar dan jangan membuat kakak kecewa. Ingat kalian jangan bermalas-malasan, kalian harus disiplin dalam segala kehidupan, sebab disiplin adalah pangkal sukses” ujar Mehmed.

Mereka berdua kompak menjawab ”Baik kak”

Biodata Penulis

Rico Andreano Fahreza lahir di Bontang, 15 September 1994. Penulis merupakan lulusan Sarjana Teknik Industri Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 2020. Penulis saat ini aktif menulis berbagai cerpen, cerita misteri, dan puisi. Beberapa antologi puisi kegiatan menulis bersama telah penulis hasilkan, seperti Dalam Lipatan Sajadah dan Ramadhan dan Rindu. Penulis memiliki hobi menonton televisi, membaca buku, dan mendengarkan musik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here