Malang, ManifesT– Aksi Setia Kawan telah dilaksanakan di Kota Malang pada hari Kamis (11/12) ini, dengan mengangkat tema “Bebaskan Tahanan Politik & Hentikan Represi Negara”.
Selain mengangkat isu-isu pelanggaran HAM di Indonesia pasca-demonstrasi Agustus-September lalu sekaligus menuntut penyelesaiannya, aksi kali ini juga dilakukan guna memperingati Hari HAM Internasional yang jatuh pada sehari sebelumnya di tanggal 10 Desember.
Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi pada aksi kali ini menjelaskan bahwa peringatan Hari HAM Internasional sendiri telah lama dilaksanakan dari tahun ke tahun di Kota Malang, dengan cara yang berbeda-beda dalam menyambutnya. Pada tahun ini, aksi peringatan dilaksanakan oleh Komite Aksi Setia Kawan, yang sendirinya baru dibentuk pada tahun ini.
“Banyak kawan kita yang ditangkap, banyak kawan kita yang menjadi tersangka, kemudian kita membuat aksi ini,” Korlap Aksi menjelaskan.
Melalui orasi yang dibawakannya, Korlap Aksi menyerukan bahwa terdapat sekiranya 1030 tahanan politik dalam aksi demonstrasi Agustus-September lalu, yang mana tahanan-tahanan politik ini masih menunggu dibebaskan.
“Tidak pernah terjadi di Indonesia setelah Reformasi 1998 angka 1000-an lebih ini,” seru Korlap Aksi dalam orasinya.
Selain isu tahanan politik, isu politik terkait bencana alam Sumatra pun tidak lupa untuk ikut dibahas dalam Kamisan kali ini. Berbagai tuntutan kepada negara untuk lebih serius menyikapi bencana yang melanda Sumatra, beserta penolakan terhadap penggundulan hutan Sumatra yang digantikan dengan perkebunan pohon kelapa sawit terus-menerus disampaikan dalam orasi yang dibuka untuk umum.
Aspirasi yang disampaikan oleh peserta aksi pun tidak hanya terbatas sampai di sana. Anak-anak muda dari berbagai pihak turut bersuara dalam aksi ini, baik melalui orasi maupun pembacaan puisi. Perjuangan kelas pekerja, represi negara, nasib wilayah Papua–tidak satu pun luput dari pembahasan. Hal ini sejalan dengan tujuan awal digelarnya aksi ini, di mana pihak komite mengungkap tujuannya untuk menyatukan suara para anak-anak muda.
“Kami sebenarnya ingin menjalin persatuan bagi golongan anak muda yang merasa hidupnya semakin terancam bukan hanya karena kekerasan negara, tapi juga banyak ancaman yang lain,” ungkap Korlap Aksi.
Dilaksanakannya aksi ini dinilai krusial, terutama bagi para anak muda. Sebagaimana menurut pihak Komite Aksi Setia Kawan, pelanggaran HAM dan represi negara selama dan setelah aksi demonstrasi Agustus-September 2025 sebelumnya paling berdampak pada kelompok anak muda.
“Semua anak muda yang kemarin protes ya, bahkan ada yang tidak protes tapi dianggap melakukan provokasi,” tegasnya.
Komite yang melaksanakan Aksi Setia Kawan juga menekankan kebutuhan akan rencana jangka panjang yang tidak hanya melibatkan para pelajar kampus, tetapi juga para warga dalam upaya pembebasan tahanan politik.
“Sebagai kelompok gerakan gitu, ya, kita juga harus mulai memikirkan apa dalam jangka panjang yang bisa kita lakukan, termasuk untuk menarik simpati warga yang lain,” Korlap Aksi Setia Kawan kali ini mengungkapkan.
Di saat yang sama, pihak yang bersangkutan juga mempertegas pendapat mereka bahwa dialog dengan pihak pemerintah tidak akan menghasilkan apa-apa. Menurut Korlap Aksi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang disarankan.
“Kita tau dan sadar mereka selalu berkelit dengan berbagai macam alasan,” sebut pihak Korlap Aksi.
Pihak Korlap Aksi pun menutup rangkaian acara pada hari itu dengan semangat membara perlawanan, dengan terus menyerukan desakan terhadap pembebasan para tahanan politik. Selain itu, pihak yang bersangkutan juga mengungkapkan rasa takjubnya kepada partisipan dalam aksi damai kali ini.
“Agendanya menurut kami ini berjalan yang sangat lancar dan yang terlibat juga banyak. Aksinya juga kreatif, keren, dan banyak orang yang terlibat,” Korlap Aksi menyampaikan.
Penulis: Gery Andriano
Editor: Husein Kurnia Hoetomo
Pimpinan Redaksi: Husein Kurnia Hoetomo
















