Home Berita Harga Kedelai Impor Melambung, Produsen Tempe dan Tahu di Kota Malang Meradang

Harga Kedelai Impor Melambung, Produsen Tempe dan Tahu di Kota Malang Meradang

534
0
SHARE
Sumber: Dokumentasi Pribadi

ManifesT, Malang, (Selasa, 22/2/2022) – Melambungnya harga kedelai impor beberapa waktu belakangan ini menjadi masalah berskala nasional yang dirasakan oleh para produsen tempe dan tahu di berbagai daerah, termasuk di daerah Malang. Harga kedelai impor yang sebelumnya masih cenderung terjangkau dengan rentang harga Rp7.000/kg hingga Rp8.500/kg, pada awal Januari 2022 mulai merangkak naik hingga mencapai Rp11.000/kg. Kenaikan harga kedelai impor ini berimbas pada kemerosotan produksi dan penurunan keuntungan oleh produsen tempe dan tahu.

Pemilihan bahan baku kedelai impor bukan tanpa alasan, selain lebih murah dan pasokannya yang selalu tersedia, kedelai impor memiliki kualitas yang lebih baik untuk bahan baku produksi tempe dan tahu. Berbanding terbalik dengan kedelai lokal yang kurang dari segi kualitas dan juga kurang mengakomodir permintaan pasokan kedelai dalam negeri. Oleh karena itu, naiknya harga kedelai impor mendapat banyak atensi karena perannnya yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang tergolong tinggi.

Ningsih, Produsen Tahu di Kabupaten Malang, mengatakan bahwa naiknya bahan baku kedelai impor turut berdampak pada kenaikan tahu di pasaran. “Kalau dari kami yang pusat permintaanya di daerah Kabupaten Malang dan sekitarnya, harga tahu di pasaran jelas ikut naik, yang sebelumnya harga tahu Rp2.000/kotak, sekarang bisa sampai Rp4.000/kotak,” jelas Ningsih.

Pabrik Tahu yang berlokasi di Dusun Ketangi, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang ini juga mengalami penurunan kuota produksi, imbas dari kenaikan harga bahan baku kedelai impor yang dipasok dari daerah Pasuruan. Menurut penjelasan Ningsih, sebelum kenaikan harga kedelai biasanya dibutuhkan 80 ton kedelai untuk setiap produksi dan cadangannya, tetapi untuk sekarang jumlah ini mengalami penurunan hingga 60 ton kedelai. Ia juga menambahkan bahwa selain imbas dari kenaikan harga bahan baku kedelai, pandemi juga menjadi faktor lain yang kemudian mengakibatkan penurunan produksi tahu. Lebih lanjut, Ningsih mengamini bahwa mulai terjadi penurunan keuntungan, terlebih apabila dibandingkan dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan. “Kapasitas produksi turun, otomatis penghasilan turun juga,” pungkasnya.

Kenaikan harga bahan baku kedelai ini mendorong para produsen tempe dan tahu untuk secara pintar menyiasati keadaan yang ada. “Kalau dari kami sendiri untuk menyiasati produksi tahu supaya tetap jalan, satu-satunya pilihan cuma mengurangi kuota produksi saja. Berbeda dengan pabrik-pabrik tahu lain yang sampai mengurangi ukuran dari tahu. Kalau kami ikut mengurangi ukurannya (tahu), takutnya malah konsumen kami jadi menjauh,” tutur Ningsih.

Menanggapi kenaikan harga bahan baku kedelai ini, para produsen tempe dan tahu berharap agar pemerintah dapat memberikan solusi yang tepat dan menormalkan kembali harga kedelai seperti sedia kala atau setidak-tidaknya memberikan subsidi sebagai solusi jangka pendek. Para produsen tempe dan tahu sangat keberatan dengan adanya kenaikan harga bahan baku kedelai yang terlampau tinggi, mengingat banyak masyarakat yang menggantungkan kebutuhan ekonominya dari kegiatan ini.

Penulis: Elisya Karina, Muhammad Fauzil Adhim

Editor: Tazkiya Lidya Alamri

Pimpinan Redaksi: Trian Marfiansyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here