Home Film Resensi Film “Lovely Man”

Resensi Film “Lovely Man”

3115
0
SHARE

Judul : Lovely Man

Tahun : 2011

Genre : Drama

Durasi : 76 Menit

Sutradara :Teddy Soeriaatmadja

Pemain : Donny Damara, Raihaanun, Yayu A.W, Ari Syarif, Lani Sonda

Sinopsis:

Film Lovely Man menceritakan tentang Cahaya, seorang gadis remaja berusia 15 tahun yang sedang menempuh pendidikan di Pesantren, dengan berpakaian serba tertutup serta kerudung putihnya, ia berupaya mencari ayahnya di Jakarta. Walaupun selalu mendapatkan larangan dari sang ibu, Cahaya memiliki tekad yang kuat untuk bertemu sang ayah. Lantaran ayahnya Cahaya (Donny Damara) telah meninggalkan Cahaya sejak ia berumur empat tahun. Kerinduan yang sudah lama terpendam membuat Cahaya memberanikan diri mencari ayahnya walaupun berbekal uang pas-pasan.Akan tetapi, betapa tercengangnya Cahaya saat tahu bahwa ayah yang ia rindukan merupakan seorang wanita pria (waria). Ayahnya Cahaya, Saipul atau dikenal dengan panggilan Ipuy, bukan hanya seorang waria melainkan juga pekerja seks komersial. Tak jauh berbeda dengan Cahaya, Ipuy juga terkejut dengan kehadiran sang putri  di Jakarta. Malu dengan kondisinya, Ipuy meminta Cahaya untuk pulang. Namun, Cahaya berharap agar sang ayah memberikan kesempatan untuk saling mengenal walupun hanya semalam.Ulasan:Lovely Man merupakan salah satu film yang berani mengangkat tema tabu. Wanita pria (waria) masih menjadi topik yang tabu dan sering dianggap negatif oleh masyarakat. Namun, Teddy Soeriaatmadja patut diapresiasi atas keberaniannya mengangkat tema tersebut. Dengan durasi yang relatif sebentar, film ini bisa memperluas pandangan penonton mengenai kehidupan waria, bagaimana gambaran waria mencari uang nafkah, ada yang melalui keterpaksaan ada pula yang memang menikmati pekerjaannya. Digambarkan pula bagaimana perlakuan masyarakat terhadap waria, mulai dari tatapan sinis hingga perkataan buruk. Dengan mengangkat latar menarik, yaitu satu perjalanan satu malam di tengah ibu kota, dengan tekad yang kuat sang anak berusaha membangun relasi dengan ayahnya. Dalam waktu sebentar itu, potongan-potongan cerita disajikan membuat penonton mengerti bagaimana hubungan ayah dan anak ini dapat kembali membaik. Pertemuan pertama mereka memang tidak baik, Ipuy yang tidak mengharapkan kehadiran Cahaya, berakhir dengan membentak Cahaya dan sempat meninggalkannya. Cahaya juga awalnya sempat seperti tidak menerima kenyataan mengenai keadaan ayahnya. Tapi, Cahaya mencoba berfikir logis dan menerima ayahnya bagaimanapun keadaanya.Dengan kemegahan yang biasa dibayangkan jika kita berfikir mengenai Jakarta. Dalam film ini, kita tidak melihat sisi itu melainkan diperlihatkan sisi gelap kota Jakarta. Bagaikan Jakarta, Cahaya yang merupakan siswi pesantren yang terlihat alim, ternyata melakukan dosa besar layaknya jakarta yang memiliki sisi gelap. Karakter Ipuy yang dianggap negatif ternyata kita dapat melihat hal positif dalam dirinya, ia tidak pernah meninggalkan tanggung jawabnya untuk menafkahi Cahaya dan ibunya di kampung, ia juga masih peduli dengan Cahaya ditandai dengan saran dan pepatah bijak yang dibeberapa kesempatan Ipuy berikan kepada Cahaya.Kualitas akting sang aktor dan aktris, Donny Damara dan Raihaanun berhasil membawakan karakter Ipuy dan Cahaya dengan sempurna dan layak diberi pujian. Tak kaget, berkat perannya sebagai waria di film ini, Donny Damara berhasil menjadi Best Actor di ajang Asian Film Awards 2011. Selain itu, Donny Damara dan Raihaanun berhasil menjadi Best Actor dan Best Actress di Indonesian Movie Awards 2012.Penutup:Film ini sangat cocok untuk mendapatkan pandangan mengenai hal baru yang tidak bisa kita dapatkan sendiri. Dengan sinematografi, scoring musik dan akting yang disajikan dengan bagus, film ini bisa menjadi pilihan yang sempurna untuk ditonton disaat senggang. Sayangnya film ini mengandung beberapa adegan yang tak pantas ditonton anak-anak. Oleh karena itu, bijaklah ketika menonton film ini. 

Oleh: Reva Ananda Taufik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here