Oleh: Olivia Falla Rosalina
Semburat ungu bercampur oranye sore itu menemani tubuh perempuan kecil nan berkulit putih yang sedang kelelahan karena dilanda rapat hingga sore hari. Berkali kali ia menepuk-nepuk kecil bahunya yang terselimuti almamater warna biru gelap kebanggaannya. Jihan Zhafira adalah seorang salah satu staff dari Kementrian Dalam Negeri BEM FK di kampusnya yang sekarang sedang bertengger duduk dengan manis di ruangan BEM. Jihan memijit pelipis di sekitar matanya karena merasa pusing dengan beberapa tumpukan berkas pengajuan reward prestasi mahasiswa yang harus segera dilaporkan ke akademik. Ia bergegas memasukkan beberapa berkas yg belum selesai ia cross check hari ini ke dalam tasnya dan memilih melanjutkan di kosnya.
” Sudah selesai Ji? ” tanya laki laki yang sedikit lebih tinggi darinya ” Belum. Gue cross check di kos saja. ” jawab Jihan
” Mau gue antar pulang? ” tanyanya kembali.
” Tidak. Tidak usah. Terimakasih atas tawarannya Zidane ” jawab Jihan kepada Zidane Ramadhan teman laki-laki seperjuangannya.
Jihan dan Zidane mulai berteman saat keduanya masuk Kementrian Dalam Negeri di BEM FK. Namun, diantara mereka berdua benar benar tidak ada rasa. Bagi Jihan, Zidane merupakan laki-laki bertanggungjawab yang baik hati. Namun, Zidane sangat ramah bintang lima kepada semua perempuan. Itu sebabnya, Jihan tak akan menaruh hati pada Zidane. Itulah yang membuat pertemanan mereka awet hingga saat ini, tentu saja karena tidak ada rasa diantara keduanya. Zidane laki laki yang famous dan gampang berbaur. Sedangkan Jihan, ia lebih memilih berada di lingkup kecil asalkan nyaman. Bagusnya, mereka berdua memiliki selera musik yang sama yaitu KPop.
***
Kamar tidur dengan dominan cat putih dengan beberapa pajangan lukisan senja serta Mimow, kucing peliharaan Jihan yang sedang tertidur pulas di kasurnya.
Jihan kembali sibuk berkutat dengan berkas pengajuan reward yang belum sempat ia cross check tadi sore. Satu per satu ia selesaikan agar besok bisa diajukan ke akademik dan dana reward akan segera cair ke mahasiswa. Jihan terkadang merasa lelah dengan drama program kerja di Kementriannya yang berawal dari satu atau lebih mahasiswa yang salah dalam memasukkan data pengajuan reward dan laporan laporan serta kritikan masuk jika pencairan dana sangat lambat.
Ia menyeruput minuman boba dengan perpaduan rasa red velvet kesukaannya. Pikirannya jauh menerawang tentang masa depannya yang bisa dibilang overthinking
seperti; bagaimana ia skripsi kelak? Apakah sidangnya lancar? Siapa saja yang datang ke wisudanya? Bagaimana ia bisa lolos melamar kerja? Siapa yang akan menikah dengannya?
Duk…
Ia memukul kepalanya sendiri. Mengapa ia belakangan ini sangat gampang overthinking. Ahhh, mungkin karena terlalu lelah akan kuliah dan organisasinya.
Segera setelah ia menyelesaikan berkas berkas pengajuan reward, ia mengecek jadwal kuliah untuk besok. Jihan tipe mahasiswa yang menerapkan ” Semakin cepat selesai mengerjakan tugas. Semakin ada waktu untuk rebahan ” ya begitulah ia. Tugas untuk kuliah besok sudah selesai ia kerjakan jauh-jauh hari. Ia menyiapkan beberapa buku dan catatan untuk ia masukkan ke tas.
Cnting!!!! Cntingggg!!!!
Jihan segera mengecek notifikasi apa yang berbunyi di laptopnya. Ia mengecek email kementrian dalam negeri dan benar saja ada beberapa notifikasi bertengger disana membuat kepala Jihan sedikit pening.
Mata Jihan membulat ketika mendapat notifikasi pengisian google form dari program kerjanya yang bertajuk rumahpendengar.fk. Pasalnya program kerja tersebut sudah sekitar 2 tahun dipublikasikan namun tidak ada satu mahasiswa pun yang mengisi formulir pengaduan. Program kerja rumahpendegar.fk ini memiliki tujuan konsultasi transparan apabila mahasiswa mempunyai masalah yang tidak dapat diceritakan dan ingin mendapat bantuan kampus dengan cara ditangani oleh beberapa staff kementrian dalam negeri BEM serta dosen. Namun, apabila masalahnya mengenai kesehatan mental maka akan langsung diarahkan ke psikolog.
Jihan mengerjapkan matanya meyakinkan email tersebut benar benar respon formulir dari program kerjanya. Jantungnya berdegup kencang karena tentu saja formulir tersebut berisi pengaduan masalah seorang mahasiswa yang akan ditangani. Jihan dan Clara merupakan penanggung jawab dari program kerja tersebut. Segera Jihan mengabari Clara apabila ada notifikasi berupa respon formulir dari rumahpendegar.fk. Jihan belum berani membukanya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja belajar putih nan dingin itu. Segera ia mengambil ponselnya untuk menenangkan diri dengan update story WhatsApp dengan gambar seberapa banyak notifikasi email yang ia dapatkan dalam program kerjanya yang membuat ia suntuk.
Cntingggg!!! Notif pesan masuk dari seseorang yang Jihan harap adalah respon dari Clara agar ia segera dapat menyelesaikan permasalahannya. Jihan segera meraih
handphone miliknya dan membuka room chat. Disana bertengger nama seorang laki laki yang belakangan ini merepotkan hatinya.
Gentala
Banyak banget. Ga pening lo?
Jihan
Pening lah. Gila ya lo bilang gue gak pening. Udah mau meledak ni kepala gue
Gentala
Wkwkwk. Semangat ya Ji.
Jihan hanya membaca pesan dari Genta dan tidak meresponnya lagi. Semakin ia merespon maka hatinya akan semakin dipenuhi Genta. Jihan tidak suka seperti itu. Biarlah hanya ia yang mengetahui rasanya pada Genta. Bersikap sewajarnya layaknya teman agar tidak mengganggu Genta. Terkadang bagi Jihan, Genta mengirimkan sinyal sinyal perhatian yang sulit dimengerti. Jihan pernah ingin membalas perhatian itu. Namun, ketika Jihan membalasnya justru Genta seperti acuh padanya. Entahlah.
1 jam lamanya Jihan menunggu balasan dari Clara. Namun, Clara tak kunjung menjawab pesan pentingnya padahal Jihan sudah spam chat ke Clara. Jihan memberanikan diri untuk membaca respon formulir pengaduan dari rumahpendegar.fk. Jihan menelan ludah dan membaca respon formulir itu perlahan
Aku seperti ingin gila. Ada beberapa orang memfotoku dengan sudut pandang tidak baik yang menampilkan beberapa bagian tubuhku dan di post di beberapa website. Beberapa orang juga melempari rumahku dengan batu dan juga surat berdarah. Ada juga yang berusa mengambil alih akun sosial mediaku. Mereka juga tau privasi privasi ku. Aku takut. Aku gemetar. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku sudah menutup semua akun sosial media ku. Aku malu dan merasa ingin mati apabila banyak orang tau fotoku disebar seperti itu. Tolong bantu aku. Aku mohon!
P.A
2020
Jurusan kebidanan
FK
Suhu tangan Jihan langsung berada pada angka rendah karena tangannya menjadi terasa dingin setelah membaca email tersebut. Jihan berusaha bersikap tenang.
P.A? Siapa P.A?
Jika dia berada di jurusan kebidanan Jihan tidak terlalu mengenal karena ia berada di jurusan Keperawatan. Sedangkan Zidane berada di jurusan Kedokteran. Clara! Iya, dia berada di jurusan Kebidanan. Pasti ia tahu siapa P.A.
Jihan menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia berusaha istirahat dari hiruk pikuk dunia. Angin malam itu menusuk tulang Jihan. Tubuhnya yang lelah membawanya ke alam mimpi.
***
BEM FK
Indra penglihatan Jihan sudah tak asing lagi melihat tulisan bertengger di atas sebuah ruang bercat putih itu. Ia segera membuka pintu ruangan tersebut setelah mengajukan beberapa berkas pengajuan reward ke akademik.
Ada Clara dan Zidane yang tak pernah absen di ruangan tersebut. Jihan segera menjitak dahi Clara.
“Kemana saja? Apa gak lihat gue ngirimin lo pesan?” Kata Jihan pada Clara “Oh ya? Hehehe maaf Jihan, gue kemarin sedang dimabuk tugas” jawab Clara polos “Hhhh baiklah. Ayo berdiskusi sebentar” kata Jihan
“Gue gapapa nih disini?” tanya Zidane
“Gapapa. Tumben Lo nanya segala. Biasanya juga langsung nimbrung” semprot Jihan “Hahahaha yaelah galak amat lo Ji.” Kata Zidane
Jihan membuka laptopnya dengan segera ia membuka email respon tadi malam yang membuatnya pusing. Mata Clara dan Zidane membulat bersamaan.
“Gila. Setelah sekian lama. Ada juga mahasiswa yang curhat ke rumahpendengar.fk” kata Zidane
“P.A?” gumam Clara dengan menjentikkan jari jarinya di meja
“P.A is Prisilia Aprhodite?! Mahasiswi jurusan kebidanan angkatan 2020 yang terkenal karena kecantikannya dan ia juga merupakan selebgram yang di endorse beberapa merk. ” Kata Clara
” Prisil?! ” Jawab Zidane dan Jihan kompak
” Menurut gue dia sih. Secara apa apa sama dia di post ” kata Clara ” Yeee kan dia seleb Clar. Jelas aja kalo apa apa di post ” jawab Jihan enteng ” Ga gitu Ji. Memposting sesuatu yang berlebihan seperti kita sedang dimana, keadaan kita sakit atau bukan, kita ngapain aja, apa rencana kita itu bisa berdampak besar loh bagi seseorang. Bisa saja orang lain berniat jahat ke kita ” jawab Zidane rasional
Ini dia, sosok dari diri Zidane yang Jihan suka sebagai teman. Zidane sangat rasional dan mampu memimpin dengan baik.
” Baik, kalau memang benar Prisil kita akan ajak ketemu dia. Seperti biasa basecamp kita adalah kontrakan Zidane yang jauh dari jangkauan orang dekat. Gue akan memproses pengajuan bantuan ke kampus. Clara, lo andil dalam mendekati Prisil karena secara dia teman jurusan Lo” kata Jihan tegas
“Oke” jawab Zidane dan Clara dengan manggut-manggut.
***
Sementara itu, Prisilia sedang siaran langsung di gedung kuliahnya karena konsep hari ini adalah bercerita mengenai kehidupan kuliahnya. Ia sudah berganti outfit dari kemeja dan celana kain menjadi dress mini namun anggun.
” Haii guyss…jadi sekarang gue lagi di gedung kuliah FK jurusan kebidanan. Nih bisa kalian lihat disini ada lab anatomi. Disini ada ruang BEM. Disini ada kantin. Disini ada library. Jadi kita juga ada kantin disini guys. Disini kita bakal dapat potongan kalo gunain KTM. Nih bentar ya gue ambil dari dompet gue dulu. Makanan disini enak enak loh guys. Yuk mari cicipin. Nahh karena sudah dicicipin jangan lupa beli dan mampir ya. Sekian dulu ya guys, tetap semangat dengan hari ini, bye sem…. ” Ucapan Prisil berhenti ketika ia mendengar suara
Ckrikk…ckrikkk… seperti tangkapan foto dari sebuah kamera ataupun ponsel. Prisil segera mematikan live nya dan juga mengambil jaket untuk menutupi badannya. Badannya gemetar mengingat bahwa banyak sekali foto tidak baik yang menyangkut dirinya tersebar ke website dengan pelanggan yang banyak.
Banyak para fansnya justru membuat ia takut karena ingin dekat dengannya dengan cara tak wajar.
Perusahaan keluarganya juga sering didatangi oleh orang asing dan mencuri beberapa barang. Rumah Prisil juga sudah tak aman karena dua hari yang lalu jendela rumahnya dilempar batu oleh seseorang tak dikenal.
Yah, itu risiko dari public figure. Banyak yang mencintai, banyak juga yang membenci.
***
Secangkir teh panas disuguhkan oleh Zidane di ruang tamu kontrakannya. Malam itu, Zidane, Jihan, Clara, dan Prisil mengadakan rapat dan konsultasi mengenai permasalahan Prisil.
Jihan sudah mendapat persetujuan oleh Mentri dan Wamentri Kementrian Dalam Negeri BEM FK serta akademik untuk membantu Prisil. Bahkan, akademik memfasilitasi Jihan, Zidane serta Clara untuk masuk ke ruang apapun dengan acara pemeriksaan penting apabila diperlukan. Namun, hanya satu ruang kesenian yang sudah lama tak terpakai karena konon ada satu anak laki laki bunuh diri disana. Ruangan itu benar benar dikunci dan tidak ada seorangpun yang berani kesana.
Setelah berkenalan, Prisil menceritakan semuanya dan beberapa dicatat oleh Jihan dan Clara.
” Jadi gimana Sil? Kita punya free akses ke ruang manapun kalo lo mau kita melakukan pemeriksaan. Gabakal ada yang tau kalo ini kasus Lo. Kita akan berdalih mengadakan pemeriksaan dengan tujuan pemeriksaan rutin anti narkoba dan rokok disekitar FK. Tenang aja, ini sudah disetujui akademik” jelas Jihan
” Apa gamasalah? Gue takut banget asli. Gue nginep disini ya. Takut pulang ke rumah ” kata Prisil
Zidane melirik Jihan menandakan ia tak setuju. Karena Zidane tinggal sendirian di kontrakan ini.
” Zidane please ” kata Prisil memohon
” Oke. Asal Jihan juga nginep sini ” kata Zidane
” What?! ” Jawab Jihan
” Iyain aja deh Ji. Zidane tinggal sendiri. Prisil juga cewek mana cantik. Takutnya ntar yang nggak nggak gimana ” jawab Clara
” Gila Lo pada. Gue terus tumbalnya ” jawab Jihan yang dibalas kekehan Zidane dan Clara
Prisilia Aprhodite dengan nama panggil Sisil atau Prisil sangat cantik, pantas saja Zidane menumbalkan Jihan untuk tinggal bersama karena takut terjadi yang tidak-tidak. Jihan paham betul bahwa mereka sudah dewasa. Setidaknya Jihan percaya Zidane tak akan melewati batas seperti itu walaupun ia punya pacar.
Hari semakin malam. Clara sudah mengantarkan baju-baju Jihan yang akan dipakai Prisil dan Jihan sendiri. Setelah itu Clara bergegas pamit pulang.
22.00 WIB
Mata Jihan benar benar tidak bisa bekerja sama. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya berkutat pada kasus Prisil yang belum pernah ia tangani. Prisil menyetujui adanya pemeriksaan di asrama. Itu berarti tugasnya semakin berat juga. Jihan menggosok mukanya hingga ujung rambut lurusnya perlahan. Ia meraih handphone dan scroll website dimana privasi Prisil telah dilanggar. Tidak ada update hari ini dari website tersebut karena Prisil disembunyikan di kontrakan Zidane bersama Jihan.
Cntingggg!!
Sebuah notifikasi masuk
Gentala
Ji, masih online aja Lo
Jihan
Emang masalah buat lo kalo gue masih online jam segini?
Gentala
Chat sama siapa lo sampe malem gini?
Jihan
Ya jelas gue lagi chat sama lo Gentala.
Gentala
Wkwkwkkw. Lo di kontrakan kak Zidane?
Jihan
Gausah pake kak. Zidane sama Lo sebenernya satu angkatan. Kok Lo tau? Zidane bocor ya?
Gentala
Wkwkwk bukan. Gue tadi liat lo Ji, kan kontrakan gue juga deket sama kontrakan Zidane.
Jihan
Oh gitu
Gentala
Iya gitu. Tidur Ji. Udah malam. Sorry ganggu lo terus.
Jihan menghempaskan ponselnya. Kupu-kupu sedang terbang di perutnya. Gila. Gentala Hafuza teman seangkatan SMAnya yang sekarang menjadi adik tingkat Jihan karena Genta merupakan seorang gap year. Genta berada di jurusan Kedokteran sama seperti
Zidane. Genta yang cuek tapi perhatian, Genta yang selalu bersemangat organisasi, Genta yang tak pernah bermain main dengan kuliahnya, Genta yang bersikap dewasa padanya. Itu semua mampu membuat hati Jihan porak poranda setelah sekian lama membeku.
Jihan melirik Prisil yang tertidur lelap disampingnya. Ia memutuskan melangkah ke ruang tamu. Ia dapati Zidane disana juga belum bisa tidur.
” Ji, lo yakin? Lo tau kan risikonya. ” Kata Zidane
” Ya gimana dan. Gue juga berusaha profesional. ” Kata Jihan
Jihan dan Zidane merencanakan pemeriksaan besok hingga Jihan tertidur dengan posisi duduk disamping Zidane. Zidane yang tahu itu tersenyum simpul. Segera Zidane berpindah ke teras kontrakannya. Ia tidak mau melakukan hal yang tidak-tidak pada Jihan. Zidane sangat menghargai Jihan.
***
Zidane, Clara dan Jihan sudah siap memakai pakaian lengkap serba hitam agar tidak dikenali oleh yang lain ketika pemeriksaan. Jika mereka tahu identitas Zidane, Clara dan Jihan maka mereka bertiga yang akan menjadi target berikutnya.
Prisil masih disembunyikan di kontrakan Zidane. Jihan meminta bantuan Genta karena Genta tergabung dalam Kementrian Aksi dan Propaganda jadi minimal dia tahu apa yang harus dilakukan jika situasi genting terjadi.
Asrama putri Jurusan Kebidanan pun diperiksa dengan alasan anti narkoba dan rokok. Karena Kebidanan adalah asrama khusus putri maka Zidane berhak menunggu diluar ruangan. Clara sempat menemukan suatu chip yang dicurigai namun nihil isinya hanyalah foto foto kertas skripsi. Jihan juga tidak menemukan apapun. Jihan sempat curiga karena ada satu anak yang membuntutinya ketika ia melakukan pemeriksaan. Ia berdalih jika handphonenya ketinggalan. Namun, Jihan masih curiga karena dia merupakan anak geng yang berlawanan dengan geng Prisil atas informasi Clara.
Berlanjut ke asrama Keperawatan dimana beberapa mahasiswa ada yang berjenis kelamin laki-laki dengan dominan mahasiswa perempuan. Zidane bertugas memeriksa asrama laki-laki dan Clara bertugas memeriksa asrama perempuan. Sedangkan, Jihan ia mengobrak-abrik ruangan lain seperti ruangan himpunan keperawatan, ruangan dosen, lab dan lain lain.
Lagi-lagi nihil. Tidak ada yang dicurigai. Terakhir adalah asrama jurusan kedokteran. Clara, Zidane, dan Jihan segera memasuki asrama kedokteran. Satu persatu dengan teliti mereka periksa apakah ada hal aneh dan mengganjal.
Kamar 403
Arthur Andreswara
Jihan dan Clara memeriksa kamar tersebut. Ya, Arthur adalah ketua geng dari geng yang berselisih dengan geng Zidane. Terpampang jelas bahwa banyak barang bagus bertengger di kamarnya. Wajar saja, ia anak dari konglomerat di sekitar kampus.
Manik mata Jihan menangkap sebuah lemari tua yang antik. Ia banyak sekali menemukan buku-buku seperti novel bergenre psycho.
Drttttt….drtttt….
Handphone Jihan bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya. Ia menggunakan mode getar ataupun senyap saat bertugas seperti ini. Layar tersebut bertuliskan
Gentala is Calling….
Jihan mengisyaratkan pada Clara untuk berjaga agar tidak ada seorangpun yang mengetahui pembicaraannya dengan Genta. Jihan segera mengangkat telfon itu.
” Halo Ta, ada apa? ” Tanya Jihan
” Ji, lo sama yang lain ntar jangan pada balik ke kontrakan Zidane. Gawat banget. Tadi ada yang kesini mecahin kaca kontrakan Zidane. Ada beberapa anak geng motor juga. Keknya mereka ngincer si Prisil deh. Kayaknya gerakan Lo sama yang lain bener bener udah kecium pelaku ” jelas Gentala
” Lo sekarang dimana? Lo aman kan? Prisil juga kan? ” Tanya Jihan panik ” Gue aman. Lo juga hati hati disana. Nanti gue shareloc lokasi kita. ” Jelas Gentala ” Kok bisa Lo sama Prisil ketahuan kalo lagi di kontrakan Zidane? ” Tanya Jihan ” Nanti gue ceritain Ji. Lo hati hati ya. Sampe ketemu nanti ” Ucap Genta yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tuhan, jantung Jihan berdegup kencang. Bagaimana jika Gentala ikut terseret bersama? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Gentala? Memang sedari awal harusnya jangan melibatkan orang lain di luar Clara dan Zidane. Tapi Genta, Jihan sangat percaya padanya. Gentala Hafuza, ia yakin sekali pada lelaki itu.
Clara menanyakan keadaan pada Jihan. Jihan membalasnya dengan kode ada yang tidak beres disini. Clara dan Jihan bergegas keluar. Tangan Jihan tidak sengaja menjatuhkan satu buku di lemari tua. Spontan lemari itu berbalik mengungkap suatu ruang rahasia. Jihan dan Clara melongo. Jihan segera memanggil Zidane untuk memimpin mereka. Mereka mengacak-acak ruangan tersebut. Melihat sekeliling, banyak sekali cctv terpasang. Papan hitam dengan beberapa gambar bangunan pun menempel. Tapi Jihan menemukan satu foto tubuh perempuan yang mirip dengan yang di-posting di website yang disampaikan oleh Prisil.
” Dan, Clar sini deh. Ini bukannya….” Kata Jihan terpotong
” Emang biadab ni orang. Selalu aja cari gara gara ” kata Zidane
” Gila sih. Parah. Tapi kita belum Nemu bukti kuat selain ini. Zidane, Lo tau markas mereka? ” Tanya Clara
” Nope. Markas mereka tersembunyi. Entah dimana. ” Jelas Zidane
Clara, Jihan dan Zidane bergegas keluar asrama Kedokteran. Clara sempat menangkap siluet seorang perempuan berparas cantik masuk ke kamar Arthur. Entah, mungkin pacar Arthur batin Clara. Tapi biarkan saja.
***
Jihan segera bergegas menuju tempat dimana Gentala dan Prisil berada. Ia berdoa semoga mereka berdua baik baik saja. Jihan sampai di rumah elite dengan penjagaan ketat milik Hafuza Group. Iya, disana Gentala sudah menunggunya. Langkah Jihan berhenti, ah syukurlah. Gentanya baik baik saja.
Zidane dan Clara menyusul. Mereka segera memeriksa Prisil yang gemetar dan masih sesegukan.
” Ji, Lo gapapa? ” Tanya Gentala pada Jihan
” Lo sendiri? Gimana sih bisa kek tadi? Kenapa bocor? ” Tanya Jihan balik ” Kalo ditanya itu dijawab Ji. Bukan nanya balik. ” Jawab Genta
” Gue gapapa Ta. Lo bisa liat gue disini berdiri di depan Lo. ” Jelas Jihan ” Wkwkwk. Iya iya. Hhh tadi Prisil upload story di sosial medianya. Dia ngevideo kalo dia lagi masak dan dia keceplosan bilang kalo dia lagi dikontrakkan kak Zidane. Para pengikut di sosmednya langsung pada gempar. Alhasil kayak tadi ” jelas Gentala ” Lo bilang udh ngegembok akun Lo? Sil, kan kita udah bilang jangan main sosmed dulu. Kita tau Lo selebgram. Tapi Lo ngebahayain nyawa Lo sama nyawa kita tau gak?! ” Clara memanas. Jihan bisa melihat dada Clara naik turun menahan amarah ” Clar udah ngapa. ” Tarik Zidane agar Clara tidak emosi
” Sorry gue kayak mau gila kalau tanpa sosmed. Jadi gue tadi niat live sebentar tapi keceplosan karena ada yang komen ” jelas Prisil
” Yaudah yaudah. Penting disini aman. Thank’s Ta. Sorry ngrepotin ” jelas Zidane ” Santai. Aman aman ” jawab Genta
Malam semakin larut, Prisil yang mentalnya kembali terguncang sekarang sudah tertidur. Tapi Jihan, Genta, Zidane dan Clara masih menyusun rencana untuk besok.
Jihan menyodorkan hasil rekamannya mengenai kamar Arthur yang ia curigai. Terpampang foto foto Prisil yang tidak pantas disebarluaskan ke sosmed. Clara menyodorkan rekaman cctv dimana saat mereka bertiga keluar dr asrama ada seorang perempuan memasuki kamar Arthur dengan gerak gerik aneh. Sedangkan Zidane, ia berhasil membongkar sesuatu.
Di papan ruang rahasia milik Arthur ada foto Prisil, kode map yang setelah Zidane cari tahu merupakan kode perusahaan keluarga Prisil dan juga rumah Prisil, Zidane juga menemukan berkas berkas dimana KTP dan Paspor serta cerita masa lalu Prisil tersusun rapi di kamar Arthur. Kebanyakan berkasnya merupakan tangkapan layar dari story sosial media Prisil. Banyak dari story Prisil di simpan olehnya lalu dia mengulik informasi pribadi dari Prisil.
Gentala bertugas menyusun rencana aksi untuk melanjutkan penyelidikan. Genta sangat mahir karena ia berada di bidang ini. Ada satu tempat yang dicurigai Genta karena tempat tersebut tak terendus oleh siapapun. Ya, ruang kesenian yang terkenal angker. Bisa saja itu adalah markas dari Arthur dan gengnya.
Jihan dan Clara mengecek website yang mengunggah foto foto dan informasi pribadi Prisil untuk konsumsi publik. Mengapa ada orang gila seperti mereka? Kebanyakan adalah fans Prisil yang berusaha mendekati Prisil dengan cara yang salah. Ya begitulah nasib public figure. Keliatannya bergelimang harta tapi ternyata kehidupan pribadinya tidak aman.
Kontrakan Zidane yang menjadi tempat Prisilia Aprhodite di sembunyikan Di update 7 jam yang lalu.
” Mampus dan. Kontrakan Lo terkenal nih ” tegas Jihan
” Palalu Ji. Gue mau out aja lah dari situ ” jawab Zidane enteng.
Setelah itu semua sibuk berkutat dengan masing-masing pikiran mereka. Sampai petang berganti fajar.
***
Mentari pagi itu bisa digambarkan sedang tersenyum hangat kepada para penduduk bumi. Ia tak tahu bahwa hiruk pikuk di bumi sangat mematikan, kebisingan suara diotak yang berdentum melawan kesadaran mental pun bisa menjadi masalah. Prisil dan Clara bersama menuju gedung kebidanan. Sedangkan Jihan diantar Genta untuk sampai ke gedung Keperawatan. Zidane juga mengikuti Genta untuk mengantar Jihan.
Saat Clara berjalan di koridor ia harus berpisah dengan Prisil karena berbeda kelas. Namun belum ada setengah jam, Prisil kembali membuat ulah dengan sosmednya. Prisil yang sangat menyukai tantangan akhirnya memfoto bermacam macam kartu debit dan ATM nya ke sosial media karena tak mau kalah pamer kekayaan dengan Freya Angelina teman sekelasnya yang selalu bersinggungan dengannya.
Tak lupa Prisil juga sudah melakukan live lagi dengan teman temannya. Jihan pun menonton livenya tidak ada gerak gerik aneh sekalipun. Namun, saat Jihan mengecek website yang melanggar privasi Prisil disana sudah tertera saldo ATM Prisil yang telah diambil. Bahkan Prisil belum menyadarinya jika ATM dan Kartu Debitnya terkena scammer. Bodoh memang. Tapi itulah Prisil. Tak pikir panjang hanya saja dia tak mau kalah.
Clara pasti sudah bersungut-sungut jika mengetahui kejadian ini. Jihan cepat cepat berlari ke gedung Kebidanan disusul Genta dan Zidane. Benar saja, Clara sudah marah tak tertahankan disana. Jihan, Zidane dan Genta hanya bisa diam memperhatikan dari kejauhan karena identitas mereka tak boleh terbongkar. Clara pasti tahu batasan pikir Jihan.
Setelahnya Prisil menyadari bahwa kartu ATM dan kartu Debitnya ludes. Tak sepeserpun saldo terpampang disana. Ia lemas, jatuh, terpuruk dan menangis. Hingga titik tertingginya adalah dia pingsan dan tidak sadarkan diri. Genta membawanya ke UKS bersama Jihan.
Hingga Prisil siuman, ia meminta maaf karena tak pikir panjang akibat ulahnya. Ia meminta maaf telah merepotkan Clara dan yang lain. Prisil berjanji ini yang terakhir kalinya ia ceroboh dalam menggunakan sosmed. Tapi dia tetap memohon untuk menemukan pelaku yang mengoperasikan website tersebut.
***
Proses pemeriksaan terus berlanjut. Malam nanti kita akan bongkar apa saja yang ada di ruang kesenian angker tersebut. Clara dan Zidane bertugas masuk ke ruang kesenian. Sedangkan Jihan dan Genta memantau dari cctv apabila terdapat bahaya mendekat kearah dua teman mereka. Clara dan Zidane ada di balik tangga koridor. Sedangkan Jihan dan Genta ada di ruang siaran FK memantau cctv.
Malam itu, Arthur benar benar datang ke FK. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB dimana seharusnya FK sudah kondisi steril tak ada satu mahasiswa pun yang datang karena FK mempunyai jam malam yaitu jam 20.00 WIB. Tak ada gerak-gerik mencurigakan dari Arthur hingga ia sampai di lantai ke 7 gedung FK dimana Clara dan Zidane menunggu dibalik tangga dan ruang kesenian yang angker juga berada disana.
Jihan segera mengetikkan pesan ke ponselnya yang ditujukan ke Zidane agar waspada karena Arthur dekat dengan posisinya sekarang. Clara yang mengetahui hal itu mendadak bergidik ngeri. Namun, Zidane langsung meyakinkan Clara bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Arthur sampai di depan ruang kesenian. Ia menengok ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa tidak ada orang selain dirinya. Jihan dan Gentala yang ada di ruang siaran memantau cctv pun menangkap gelagat aneh dari Arthur. Begitupun Zidane dan Clara yang berada di balik tangga. Arthur segera mengeluarkan kunci gembok dari sakunya dan membuka pintu ruang kesenian. Jihan, Zidane, Clara dan Gentala membelalak. Pasalnya meskipun mereka mendapat free akses masuk kemanapun karena kasus ini, dosen tetap tidak mengizinkan mereka untuk memasuki ruang kesenian angker itu.
Gentala dan Jihan sempat memasang cctv kecil di pintu ruang kesenian. Begitu pintu terbuka semuanya begitu jelas. Tidak ada ruang kesenian angker, tidak ada hantu disana, tidak ada yang selama ini ditakuti oleh mahasiswa dan dosen. Ruang kesenian itu benar benar disulap seperti bar kecil dengan segudang lampu pernak perniknya. Gentala benar, ruang kesenian itu basecamp dari geng Arthur. Jihan melihat sesuatu dari matanya, beberapa laptop versi terbaru dan juga ada banyak cctv dimanapun yang memantau ruang gerak Prisil seperti rumah, perusahaan papa Prisil, gedung Kebidanan, dan terakhir adalah Kontrakan Zidane yang telah dikosongkan.
“Gila. Mereka stalk Prisil sejauh itu. Ini Prisil ngapain aja mereka tau dong?!” Tutur Jihan “Kayaknya ada sesuatu antara Prisil dan Arthur yang tidak semua orang tau Ji ” jawab Genta
Jihan segera menelfon keamanan, beberapa dosen penanggung jawab yang sudah siaga sedaritadi, beberapa anak kementrian dalam negeri yang turut serta membantu pergerakannya, beberapa anak kementrian aksi dan propaganda untuk melancarkan aksi mereka serta korban Arthur yaitu Prisil.
Segera mereka semua masuk ke ruang kesenian yang sudah disulap menjadi bar kecil. Arthur tampak gelagapan karena tempat tongkrongannya telah diendus oleh beberapa pihak. Prisilia datang dan maju satu langkah di depan semua orang sembari menatap Arthur.
” Ada masalah apa Lo sama gue? Kenapa Lo bersikap layaknya stalker di hidup gue? ” Tanya Prisil
” HAHAHAHAHHAA ” gelak tawa Arthur menggelegar membuat semua orang bingung ” Prisilia Aprhodite, nona kecil sekaligus pewaris tunggal Aprhodite Group. Apa Lo gak ingat siapa gue? ” Tanya Arthur
Prisilia mengernyit. Ia merasa tak pernah mengganggu Arthur selama ini. Bahkan ia tidak tau siapa Arthur itu.
” 10 tahun yang lalu. Aprhodite Group ngehancurin Andrenata Group. Perusahaan papa Lo nipu perusahaan bokap gue dengan mempublikasikan data data perusahaan dan keluarga gue setelah itu mereka jual untuk menghancurkan perusahaan papa gue. Karena identitas keluarga gue semuanya terungkap, mau gak mau gue sama keluarga gue ganti nama jadi Andreswara. Hidup gue kelimpungan gara gara perusahaan Lo nipu dan nyebarin data pribadi keluarga gue buat dijual. Perusahaan papa Lo menuliskan artikel yang merendahkan martabat keluarga gue. Sekarang gantian, gue yang ngejual data pribadi Lo ke fans fans Lo yang terobsesi sama Lo. Tiap jam upload dimana Lo berada, Lo ngapain aja, pas lagi buka dompet semua kartu kartu penting Lo keliatan di video live Lo. Itu justru memudahkan gue buat buka privasi Lo. Impas kan? ” Jelas Arthur
” Lo tega ya. Gue gatau apa apa dulu. Gue masih kecil bego! ” Kata Prisil ” Gue gamau tau. Gue cuma mau balas dendam. Nikmati kehidupan privasi Lo yang udah gaada harganya. Fans fans yang terobsesi sama Lo bahkan mereka juga sama gilanya sama Lo. ” Jelas Arthur
” Lo yang gila! ” Jelas Prisil
Setelah kejadian tersebut Arthur dan gengnya benar benar di skorsing. Arthur pun pindah ke kampus luar negeri agar dapat melanjutkan kuliahnya. Prisil sekarang mengerti risiko yang ia punya jika menjadi famous dan selebriti. Pengalamannya mengenai sosial media memanglah buruk. Namun, sekarang ia mengerti bagaimana etika privasi ketika kita mempunyai sosial media. Keluarganya yang melemparkan harsh word ke keluarga Arthur, menuliskan artikel yang merendahkan keluarga Arthur, bahkan menyebarkan data pribadi keluarga Arthur untuk dijual sekarang karmanya sudah benar benar terbayar.
Malam itu, Prisil, Jihan, Zidane, Gentala dan Clara kembali ke perumahan elite milik Gentala. Bulan purnama itu jahat. Mengapa ia menunjukkan sinarnya saat hiruk pikuk dan ketidakadilan dunia sangat kelimpungan?
Clara sudah tertidur di kamar atas. Sedangkan Zidane juga sudah tertidur di kamar bawah. Tersisa Jihan yang hanya memelototi laptopnya mengerjakan laporan kasus hari ini yang terselesaikan.
” Ji, bisa gak dilanjut besok? Udah malam ” tutur Gentala
” Ta, kenapa ya banyak orang jahat? ” Tanya balik Jihan
” Kebiasaan deh kalo ditanya pasti nanya balik. Ji, dunia ini perlu keseimbangan. Ada yang namanya kebaikan dan kejahatan. Ada yang namanya kekurangan dan kelebihan. Itu sudah keseimbangan alam. Kita gak bisa maksa orang berbuat baik jika bukan kemauan dari diri orang itu sendiri. Tugas kita hanya mengingatkan orang lain. ” Jelas Gentala pada Jihan yang dibalas anggukan olehnya.
Ini dia Gentala yang ia suka. Gentala yang ia kagumi. Dewasa nan tegas. Bahkan kebahagiaan Gentala adalah prioritas utama seorang Jihan.
Jihan mengerjakan laporan kasus yang terselesaikan hari ini hingga pagi dini hari pukul 3.00 WIB. Jihan tak menyadari bahwa Gentala tertidur disampingnya. Manik matanya menangkap Gentala yang sedang tertidur dan Jihan tersenyum simpul.
” Ta, bahagia terus ya. Gaboleh ada satupun yang ngelukain lo ” tutur Jihan pelan lalu Jihan mengambil selimut dari kamar atas untuk dipakaikan ke Genta. Jihan kembali ke kamar atas untuk tidur bersama Clara.
” Semoga bahagia juga Ji. ” Tutur Gentala samar-samar.
***
Webinar Etika Ruang Privasi ketika Bersosial Media
Narasumber: Prisilia Aprhodite
Spanduk besar itu mengapa semua peserta webinar yang datang di ruang serbaguna FK. Ramai sekali peserta yang datang untuk menyimak penjelasan dan materi yang diberikan Prisil.
Jihan datang bersama Clara serta Genta dan Zidane tentunya. Tak disangka, korban ternyata bisa menjadi narasumber sebuah webinar berdasarkan pengalamannya.
Prisil benar-benar sudah berubah lebih baik. Kini tak semuanya ia posting di sosial medianya. Hanya urusan kerja saja yang ia pamerkan ke publik. Ia pindah rumah dan hanya beberapa orang yang tahu. Dia menjadi pribadi yang ramah dan baik bukan lagi Prisilia yang tak mau mengalah seperti dulu, bukan lagi Prisilia yang tak memikirkan konsekuensi untuk kedepannya.
Gentala, Jihan, Zidane dan Clara berada di backstage atas undangan Prisil. Prisil mengapa mereka dan menghadiahkan mereka sebuah jam tangan untuk masing masing.
Jihan memilih yang warna coklat begitu juga Gentala. Sedangkan Clara dan Zidane memilih yang warna hitam.
” Guys, thank you ya. Tanpa kalian, gue gabakal sadar apa yang salah dari diri gue. Sukses terus buat kalian ” seru Prisil
” Sukses juga sil ” jawab Jihan
” Ntar kalo bisa undangan kita ke webinar Lo free pass semua ya ” jawab Zidane konyol Sedangkan Clara dan Genta sama sama tersenyum simpul.
***
” Ta, Prisil cantik ya? ” Tanya Jihan pada Genta
” Semua cewe kan cantik Ji. Lo juga. ” Jawab Gentala enteng
Semburat merah muncul dari pipi Jihan. Ia memalingkan mukanya agar Genta tak mengetahuinya. Tapi terlambat, Genta tahu semua itu dan dia tersenyum.
Gentala, untuk saat ini mari kita berteman saja. Sewajarnya saja meskipun aku sangat menyukaimu. Namun, aku belum bisa menjanjikan apapun sebagai perempuan yang masih berbenah diri.
Jihan, saat ini kita begini saja. Aku sudah cukup senang. Maaf belum bisa mengikatmu dalam suatu hubungan. Karena aku belum bisa menjanjikan kebahagian. Aku tidak mau hanya sekedar menjanjikanmu kebahagiaan semu yang berakhir mendung di pelupuk matamu. Jihan Zhafira, aku mencintaimu selalu.
Mereka berdua bergumam dalam hati seperti itu. Namun tak sanggup mengungkapkan satu sama lain.
” Ta, ke kontrakan Zidane yang baru yuk. Clara juga ada disana. ” Usul Jihan ” Oke. Ntar pulang bareng gue ya Ji ” jawab Genta
” Oke kapten ” jawab Jihan sumringah
***
Pesta dirumah Zidane dengan dihadiri dosen, petugas keamanan FK dan juga beberapa anak BEM FK digelar dengan cukup sederhana.
Jihan melihat Clara yang tersenyum manis pada Zidane. Yah, dia harap Clara menemukan seseorang sebagai penyemangat. Zidane pun begitu, Jihan harap ia tidak hanya bermain main dengan perempuan. Semoga ia segera mendapatkan bidadarinya.
Lamunan Jihan terbuyarkan ketika Genta menyodorkan es krim coklat ke arah Jihan.
” Nih Ji ” kata Genta
” Thank’s Ta ” jawab Jihan
Zaman memang sudah berubah menjadi modern dan serba canggih. Namun, benar kata seorang ahli yang Jihan lupa namanya ” Kalau kita tidak pintar dalam memainkan sosial media. Maka, sosial media akan mempermainkan kita. ”
Privasi di zaman sekarang seperti tak ada harganya. Orang orang berlomba dalam menunjukkan ini dan itu ke khalayak umum yang bisa saja menjadi bumerang bagi mereka. Itulah pentingnya menanamkan etika privasi dalam bersosial media. Jangan menggunakan kata kata kasar yang ditujukan pada seseorang. Jangan terlalu mengungkap privasi ke khalayak umum. Jangan menggunakan sosial media untuk keperluan merugikan ataupun berbuat jahat kepada orang lain.
***
11 September 2021
Jihan’s diary
Prisilia semoga kau mengerti sekarang. Hiduplah dengan baik. Jaga privasimu walaupun kau selebriti.
Zidane terimakasih, kau teman yang baik. Semoga sukses untuk kedepannya. Aku yakin kau akan menjadi kepala keluarga yang baik kelak.
Clara, semoga hidupmu dipenuhi keberkahan. Kau baik, periang, lucu dan selalu menemaniku disaat suka dan duka. Terimakasih.
Terakhir Gentala, bahagialah selalu! Apapun itu aku sangat yakin padamu. Terimakasih Genta.
Setelah menulis buku diary miliknya, Jihan memutuskan untuk menghempaskan tubuhnya ke kasur yang sangat ia cintai. Purnama sedang menunjukkan eksistensinya kala itu. Jihanpun terlelap menuju pulau mimpinya yang bahagia.
***














