Home Cerpen HUNT THE STALKER

HUNT THE STALKER

952
0
SHARE

Oleh: Olivia Falla Rosalina 

Semburat ungu bercampur oranye sore itu menemani tubuh perempuan kecil nan  berkulit putih yang sedang kelelahan karena dilanda rapat hingga sore hari. Berkali kali  ia menepuk-nepuk kecil bahunya yang terselimuti almamater warna biru gelap  kebanggaannya. Jihan Zhafira adalah seorang salah satu staff dari Kementrian Dalam  Negeri BEM FK di kampusnya yang sekarang sedang bertengger duduk dengan manis  di ruangan BEM. Jihan memijit pelipis di sekitar matanya karena merasa pusing dengan  beberapa tumpukan berkas pengajuan reward prestasi mahasiswa yang harus segera  dilaporkan ke akademik. Ia bergegas memasukkan beberapa berkas yg belum selesai ia  cross check hari ini ke dalam tasnya dan memilih melanjutkan di kosnya. 

” Sudah selesai Ji? ” tanya laki laki yang sedikit lebih tinggi darinya ” Belum. Gue cross check di kos saja. ” jawab Jihan 

” Mau gue antar pulang? ” tanyanya kembali.  

” Tidak. Tidak usah. Terimakasih atas tawarannya Zidane ” jawab Jihan kepada Zidane  Ramadhan teman laki-laki seperjuangannya. 

Jihan dan Zidane mulai berteman saat keduanya masuk Kementrian Dalam Negeri di  BEM FK. Namun, diantara mereka berdua benar benar tidak ada rasa. Bagi Jihan, Zidane  merupakan laki-laki bertanggungjawab yang baik hati. Namun, Zidane sangat ramah  bintang lima kepada semua perempuan. Itu sebabnya, Jihan tak akan menaruh hati  pada Zidane. Itulah yang membuat pertemanan mereka awet hingga saat ini, tentu saja  karena tidak ada rasa diantara keduanya. Zidane laki laki yang famous dan gampang  berbaur. Sedangkan Jihan, ia lebih memilih berada di lingkup kecil asalkan nyaman.  Bagusnya, mereka berdua memiliki selera musik yang sama yaitu KPop. 

*** 

Kamar tidur dengan dominan cat putih dengan beberapa pajangan lukisan senja serta  Mimow, kucing peliharaan Jihan yang sedang tertidur pulas di kasurnya. 

Jihan kembali sibuk berkutat dengan berkas pengajuan reward yang belum sempat ia  cross check tadi sore. Satu per satu ia selesaikan agar besok bisa diajukan ke akademik  dan dana reward akan segera cair ke mahasiswa. Jihan terkadang merasa lelah dengan  drama program kerja di Kementriannya yang berawal dari satu atau lebih mahasiswa  yang salah dalam memasukkan data pengajuan reward dan laporan laporan serta  kritikan masuk jika pencairan dana sangat lambat. 

Ia menyeruput minuman boba dengan perpaduan rasa red velvet kesukaannya.  Pikirannya jauh menerawang tentang masa depannya yang bisa dibilang overthinking 

seperti; bagaimana ia skripsi kelak? Apakah sidangnya lancar? Siapa saja yang datang  ke wisudanya? Bagaimana ia bisa lolos melamar kerja? Siapa yang akan menikah  dengannya? 

Duk… 

Ia memukul kepalanya sendiri. Mengapa ia belakangan ini sangat gampang  overthinking. Ahhh, mungkin karena terlalu lelah akan kuliah dan organisasinya.  

Segera setelah ia menyelesaikan berkas berkas pengajuan reward, ia mengecek jadwal  kuliah untuk besok. Jihan tipe mahasiswa yang menerapkan ” Semakin cepat selesai  mengerjakan tugas. Semakin ada waktu untuk rebahan ” ya begitulah ia. Tugas untuk  kuliah besok sudah selesai ia kerjakan jauh-jauh hari. Ia menyiapkan beberapa buku  dan catatan untuk ia masukkan ke tas. 

Cnting!!!! Cntingggg!!!! 

Jihan segera mengecek notifikasi apa yang berbunyi di laptopnya. Ia mengecek email  kementrian dalam negeri dan benar saja ada beberapa notifikasi bertengger disana  membuat kepala Jihan sedikit pening. 

Mata Jihan membulat ketika mendapat notifikasi pengisian google form dari program  kerjanya yang bertajuk rumahpendengar.fk. Pasalnya program kerja tersebut sudah  sekitar 2 tahun dipublikasikan namun tidak ada satu mahasiswa pun yang mengisi  formulir pengaduan. Program kerja rumahpendegar.fk ini memiliki tujuan konsultasi  transparan apabila mahasiswa mempunyai masalah yang tidak dapat diceritakan dan  ingin mendapat bantuan kampus dengan cara ditangani oleh beberapa staff kementrian  dalam negeri BEM serta dosen. Namun, apabila masalahnya mengenai kesehatan mental  maka akan langsung diarahkan ke psikolog. 

Jihan mengerjapkan matanya meyakinkan email tersebut benar benar respon formulir  dari program kerjanya. Jantungnya berdegup kencang karena tentu saja formulir  tersebut berisi pengaduan masalah seorang mahasiswa yang akan ditangani. Jihan dan  Clara merupakan penanggung jawab dari program kerja tersebut. Segera Jihan  mengabari Clara apabila ada notifikasi berupa respon formulir dari rumahpendegar.fk.  Jihan belum berani membukanya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja belajar putih nan  dingin itu. Segera ia mengambil ponselnya untuk menenangkan diri dengan update story  WhatsApp dengan gambar seberapa banyak notifikasi email yang ia dapatkan dalam  program kerjanya yang membuat ia suntuk. 

Cntingggg!!! Notif pesan masuk dari seseorang yang Jihan harap adalah respon dari  Clara agar ia segera dapat menyelesaikan permasalahannya. Jihan segera meraih 

handphone miliknya dan membuka room chat. Disana bertengger nama seorang laki laki yang belakangan ini merepotkan hatinya. 

Gentala 

Banyak banget. Ga pening lo? 

Jihan 

Pening lah. Gila ya lo bilang gue gak pening. Udah mau meledak ni kepala gue 

Gentala 

Wkwkwk. Semangat ya Ji. 

Jihan hanya membaca pesan dari Genta dan tidak meresponnya lagi. Semakin ia  merespon maka hatinya akan semakin dipenuhi Genta. Jihan tidak suka seperti itu.  Biarlah hanya ia yang mengetahui rasanya pada Genta. Bersikap sewajarnya layaknya  teman agar tidak mengganggu Genta. Terkadang bagi Jihan, Genta mengirimkan sinyal  sinyal perhatian yang sulit dimengerti. Jihan pernah ingin membalas perhatian itu.  Namun, ketika Jihan membalasnya justru Genta seperti acuh padanya. Entahlah. 

1 jam lamanya Jihan menunggu balasan dari Clara. Namun, Clara tak kunjung menjawab  pesan pentingnya padahal Jihan sudah spam chat ke Clara. Jihan memberanikan diri  untuk membaca respon formulir pengaduan dari rumahpendegar.fk. Jihan menelan  ludah dan membaca respon formulir itu perlahan 

Aku seperti ingin gila. Ada beberapa orang memfotoku dengan sudut pandang tidak baik  yang menampilkan beberapa bagian tubuhku dan di post di beberapa website. Beberapa  orang juga melempari rumahku dengan batu dan juga surat berdarah. Ada juga yang  berusa mengambil alih akun sosial mediaku. Mereka juga tau privasi privasi ku. Aku  takut. Aku gemetar. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku sudah menutup semua  akun sosial media ku. Aku malu dan merasa ingin mati apabila banyak orang tau fotoku  disebar seperti itu. Tolong bantu aku. Aku mohon! 

P.A  

2020 

Jurusan kebidanan 

FK 

Suhu tangan Jihan langsung berada pada angka rendah karena tangannya menjadi  terasa dingin setelah membaca email tersebut. Jihan berusaha bersikap tenang.  

P.A? Siapa P.A?

Jika dia berada di jurusan kebidanan Jihan tidak terlalu mengenal karena ia berada di  jurusan Keperawatan. Sedangkan Zidane berada di jurusan Kedokteran. Clara! Iya, dia  berada di jurusan Kebidanan. Pasti ia tahu siapa P.A. 

Jihan menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia berusaha istirahat dari hiruk pikuk dunia.  Angin malam itu menusuk tulang Jihan. Tubuhnya yang lelah membawanya ke alam  mimpi. 

*** 

BEM FK 

Indra penglihatan Jihan sudah tak asing lagi melihat tulisan bertengger di atas sebuah  ruang bercat putih itu. Ia segera membuka pintu ruangan tersebut setelah mengajukan  beberapa berkas pengajuan reward ke akademik. 

Ada Clara dan Zidane yang tak pernah absen di ruangan tersebut. Jihan segera menjitak  dahi Clara. 

“Kemana saja? Apa gak lihat gue ngirimin lo pesan?” Kata Jihan pada Clara “Oh ya? Hehehe maaf Jihan, gue kemarin sedang dimabuk tugas” jawab Clara polos “Hhhh baiklah. Ayo berdiskusi sebentar” kata Jihan 

“Gue gapapa nih disini?” tanya Zidane 

“Gapapa. Tumben Lo nanya segala. Biasanya juga langsung nimbrung” semprot Jihan “Hahahaha yaelah galak amat lo Ji.” Kata Zidane 

Jihan membuka laptopnya dengan segera ia membuka email respon tadi malam yang  membuatnya pusing. Mata Clara dan Zidane membulat bersamaan. 

“Gila. Setelah sekian lama. Ada juga mahasiswa yang curhat ke rumahpendengar.fk”  kata Zidane 

“P.A?” gumam Clara dengan menjentikkan jari jarinya di meja 

“P.A is Prisilia Aprhodite?! Mahasiswi jurusan kebidanan angkatan 2020 yang terkenal  karena kecantikannya dan ia juga merupakan selebgram yang di endorse beberapa  merk. ” Kata Clara 

” Prisil?! ” Jawab Zidane dan Jihan kompak 

” Menurut gue dia sih. Secara apa apa sama dia di post ” kata Clara ” Yeee kan dia seleb Clar. Jelas aja kalo apa apa di post ” jawab Jihan enteng ” Ga gitu Ji. Memposting sesuatu yang berlebihan seperti kita sedang dimana, keadaan  kita sakit atau bukan, kita ngapain aja, apa rencana kita itu bisa berdampak besar loh  bagi seseorang. Bisa saja orang lain berniat jahat ke kita ” jawab Zidane rasional

Ini dia, sosok dari diri Zidane yang Jihan suka sebagai teman. Zidane sangat rasional  dan mampu memimpin dengan baik.  

” Baik, kalau memang benar Prisil kita akan ajak ketemu dia. Seperti biasa basecamp  kita adalah kontrakan Zidane yang jauh dari jangkauan orang dekat. Gue akan  memproses pengajuan bantuan ke kampus. Clara, lo andil dalam mendekati Prisil karena  secara dia teman jurusan Lo” kata Jihan tegas 

“Oke” jawab Zidane dan Clara dengan manggut-manggut. 

*** 

Sementara itu, Prisilia sedang siaran langsung di gedung kuliahnya karena konsep hari  ini adalah bercerita mengenai kehidupan kuliahnya. Ia sudah berganti outfit dari kemeja  dan celana kain menjadi dress mini namun anggun.  

” Haii guyss…jadi sekarang gue lagi di gedung kuliah FK jurusan kebidanan. Nih bisa  kalian lihat disini ada lab anatomi. Disini ada ruang BEM. Disini ada kantin. Disini ada  library. Jadi kita juga ada kantin disini guys. Disini kita bakal dapat potongan kalo gunain  KTM. Nih bentar ya gue ambil dari dompet gue dulu. Makanan disini enak enak loh guys.  Yuk mari cicipin. Nahh karena sudah dicicipin jangan lupa beli dan mampir ya. Sekian  dulu ya guys, tetap semangat dengan hari ini, bye sem…. ” Ucapan Prisil berhenti ketika  ia mendengar suara 

Ckrikk…ckrikkk… seperti tangkapan foto dari sebuah kamera ataupun ponsel. Prisil  segera mematikan live nya dan juga mengambil jaket untuk menutupi badannya.  Badannya gemetar mengingat bahwa banyak sekali foto tidak baik yang menyangkut  dirinya tersebar ke website dengan pelanggan yang banyak. 

Banyak para fansnya justru membuat ia takut karena ingin dekat dengannya dengan  cara tak wajar.  

Perusahaan keluarganya juga sering didatangi oleh orang asing dan mencuri beberapa  barang. Rumah Prisil juga sudah tak aman karena dua hari yang lalu jendela rumahnya  dilempar batu oleh seseorang tak dikenal. 

Yah, itu risiko dari public figure. Banyak yang mencintai, banyak juga yang membenci.

***

Secangkir teh panas disuguhkan oleh Zidane di ruang tamu kontrakannya. Malam itu,  Zidane, Jihan, Clara, dan Prisil mengadakan rapat dan konsultasi mengenai  permasalahan Prisil. 

Jihan sudah mendapat persetujuan oleh Mentri dan Wamentri Kementrian Dalam Negeri  BEM FK serta akademik untuk membantu Prisil. Bahkan, akademik memfasilitasi Jihan,  Zidane serta Clara untuk masuk ke ruang apapun dengan acara pemeriksaan penting  apabila diperlukan. Namun, hanya satu ruang kesenian yang sudah lama tak terpakai  karena konon ada satu anak laki laki bunuh diri disana. Ruangan itu benar benar dikunci  dan tidak ada seorangpun yang berani kesana. 

Setelah berkenalan, Prisil menceritakan semuanya dan beberapa dicatat oleh Jihan dan  Clara.  

” Jadi gimana Sil? Kita punya free akses ke ruang manapun kalo lo mau kita melakukan  pemeriksaan. Gabakal ada yang tau kalo ini kasus Lo. Kita akan berdalih mengadakan  pemeriksaan dengan tujuan pemeriksaan rutin anti narkoba dan rokok disekitar FK.  Tenang aja, ini sudah disetujui akademik” jelas Jihan 

” Apa gamasalah? Gue takut banget asli. Gue nginep disini ya. Takut pulang ke rumah ”  kata Prisil 

Zidane melirik Jihan menandakan ia tak setuju. Karena Zidane tinggal sendirian di  kontrakan ini. 

” Zidane please ” kata Prisil memohon 

” Oke. Asal Jihan juga nginep sini ” kata Zidane 

” What?! ” Jawab Jihan 

” Iyain aja deh Ji. Zidane tinggal sendiri. Prisil juga cewek mana cantik. Takutnya ntar  yang nggak nggak gimana ” jawab Clara 

” Gila Lo pada. Gue terus tumbalnya ” jawab Jihan yang dibalas kekehan Zidane dan  Clara 

Prisilia Aprhodite dengan nama panggil Sisil atau Prisil sangat cantik, pantas saja Zidane  menumbalkan Jihan untuk tinggal bersama karena takut terjadi yang tidak-tidak. Jihan  paham betul bahwa mereka sudah dewasa. Setidaknya Jihan percaya Zidane tak akan  melewati batas seperti itu walaupun ia punya pacar. 

Hari semakin malam. Clara sudah mengantarkan baju-baju Jihan yang akan dipakai Prisil  dan Jihan sendiri. Setelah itu Clara bergegas pamit pulang.  

22.00 WIB

Mata Jihan benar benar tidak bisa bekerja sama. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya berkutat  pada kasus Prisil yang belum pernah ia tangani. Prisil menyetujui adanya pemeriksaan  di asrama. Itu berarti tugasnya semakin berat juga. Jihan menggosok mukanya hingga  ujung rambut lurusnya perlahan. Ia meraih handphone dan scroll website dimana privasi  Prisil telah dilanggar. Tidak ada update hari ini dari website tersebut karena Prisil  disembunyikan di kontrakan Zidane bersama Jihan. 

Cntingggg!! 

Sebuah notifikasi masuk 

Gentala 

Ji, masih online aja Lo 

Jihan 

Emang masalah buat lo kalo gue masih online jam segini? 

Gentala 

Chat sama siapa lo sampe malem gini? 

Jihan 

Ya jelas gue lagi chat sama lo Gentala. 

Gentala 

Wkwkwkkw. Lo di kontrakan kak Zidane? 

Jihan 

Gausah pake kak. Zidane sama Lo sebenernya satu angkatan. Kok Lo tau? Zidane  bocor ya? 

Gentala 

Wkwkwk bukan. Gue tadi liat lo Ji, kan kontrakan gue juga deket sama kontrakan  Zidane.  

Jihan 

Oh gitu 

Gentala 

Iya gitu. Tidur Ji. Udah malam. Sorry ganggu lo terus. 

Jihan menghempaskan ponselnya. Kupu-kupu sedang terbang di perutnya. Gila. Gentala  Hafuza teman seangkatan SMAnya yang sekarang menjadi adik tingkat Jihan karena  Genta merupakan seorang gap year. Genta berada di jurusan Kedokteran sama seperti 

Zidane. Genta yang cuek tapi perhatian, Genta yang selalu bersemangat organisasi,  Genta yang tak pernah bermain main dengan kuliahnya, Genta yang bersikap dewasa  padanya. Itu semua mampu membuat hati Jihan porak poranda setelah sekian lama  membeku. 

Jihan melirik Prisil yang tertidur lelap disampingnya. Ia memutuskan melangkah ke  ruang tamu. Ia dapati Zidane disana juga belum bisa tidur. 

” Ji, lo yakin? Lo tau kan risikonya. ” Kata Zidane 

” Ya gimana dan. Gue juga berusaha profesional. ” Kata Jihan 

Jihan dan Zidane merencanakan pemeriksaan besok hingga Jihan tertidur dengan posisi  duduk disamping Zidane. Zidane yang tahu itu tersenyum simpul. Segera Zidane  berpindah ke teras kontrakannya. Ia tidak mau melakukan hal yang tidak-tidak pada  Jihan. Zidane sangat menghargai Jihan. 

*** 

Zidane, Clara dan Jihan sudah siap memakai pakaian lengkap serba hitam agar tidak  dikenali oleh yang lain ketika pemeriksaan. Jika mereka tahu identitas Zidane, Clara dan  Jihan maka mereka bertiga yang akan menjadi target berikutnya. 

Prisil masih disembunyikan di kontrakan Zidane. Jihan meminta bantuan Genta karena  Genta tergabung dalam Kementrian Aksi dan Propaganda jadi minimal dia tahu apa yang  harus dilakukan jika situasi genting terjadi. 

Asrama putri Jurusan Kebidanan pun diperiksa dengan alasan anti narkoba dan rokok.  Karena Kebidanan adalah asrama khusus putri maka Zidane berhak menunggu diluar  ruangan. Clara sempat menemukan suatu chip yang dicurigai namun nihil isinya  hanyalah foto foto kertas skripsi. Jihan juga tidak menemukan apapun. Jihan sempat  curiga karena ada satu anak yang membuntutinya ketika ia melakukan pemeriksaan. Ia  berdalih jika handphonenya ketinggalan. Namun, Jihan masih curiga karena dia  merupakan anak geng yang berlawanan dengan geng Prisil atas informasi Clara. 

Berlanjut ke asrama Keperawatan dimana beberapa mahasiswa ada yang berjenis  kelamin laki-laki dengan dominan mahasiswa perempuan. Zidane bertugas memeriksa  asrama laki-laki dan Clara bertugas memeriksa asrama perempuan. Sedangkan, Jihan ia  mengobrak-abrik ruangan lain seperti ruangan himpunan keperawatan, ruangan dosen,  lab dan lain lain. 

Lagi-lagi nihil. Tidak ada yang dicurigai. Terakhir adalah asrama jurusan kedokteran.  Clara, Zidane, dan Jihan segera memasuki asrama kedokteran. Satu persatu dengan  teliti mereka periksa apakah ada hal aneh dan mengganjal.  

Kamar 403  

Arthur Andreswara  

Jihan dan Clara memeriksa kamar tersebut. Ya, Arthur adalah ketua geng dari geng  yang berselisih dengan geng Zidane. Terpampang jelas bahwa banyak barang bagus  bertengger di kamarnya. Wajar saja, ia anak dari konglomerat di sekitar kampus.  

Manik mata Jihan menangkap sebuah lemari tua yang antik. Ia banyak sekali  menemukan buku-buku seperti novel bergenre psycho.  

Drttttt….drtttt…. 

Handphone Jihan bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya. Ia  menggunakan mode getar ataupun senyap saat bertugas seperti ini. Layar tersebut  bertuliskan 

Gentala is Calling…. 

Jihan mengisyaratkan pada Clara untuk berjaga agar tidak ada seorangpun yang  mengetahui pembicaraannya dengan Genta. Jihan segera mengangkat telfon itu. 

” Halo Ta, ada apa? ” Tanya Jihan 

” Ji, lo sama yang lain ntar jangan pada balik ke kontrakan Zidane. Gawat banget. Tadi  ada yang kesini mecahin kaca kontrakan Zidane. Ada beberapa anak geng motor juga.  Keknya mereka ngincer si Prisil deh. Kayaknya gerakan Lo sama yang lain bener bener  udah kecium pelaku ” jelas Gentala 

” Lo sekarang dimana? Lo aman kan? Prisil juga kan? ” Tanya Jihan panik ” Gue aman. Lo juga hati hati disana. Nanti gue shareloc lokasi kita. ” Jelas Gentala ” Kok bisa Lo sama Prisil ketahuan kalo lagi di kontrakan Zidane? ” Tanya Jihan ” Nanti gue ceritain Ji. Lo hati hati ya. Sampe ketemu nanti ” Ucap Genta yang langsung  mematikan sambungan teleponnya. 

Tuhan, jantung Jihan berdegup kencang. Bagaimana jika Gentala ikut terseret bersama?  Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Gentala? Memang sedari awal harusnya jangan  melibatkan orang lain di luar Clara dan Zidane. Tapi Genta, Jihan sangat percaya  padanya. Gentala Hafuza, ia yakin sekali pada lelaki itu.

Clara menanyakan keadaan pada Jihan. Jihan membalasnya dengan kode ada yang tidak  beres disini. Clara dan Jihan bergegas keluar. Tangan Jihan tidak sengaja menjatuhkan  satu buku di lemari tua. Spontan lemari itu berbalik mengungkap suatu ruang rahasia.  Jihan dan Clara melongo. Jihan segera memanggil Zidane untuk memimpin mereka.  Mereka mengacak-acak ruangan tersebut. Melihat sekeliling, banyak sekali cctv  terpasang. Papan hitam dengan beberapa gambar bangunan pun menempel. Tapi Jihan  menemukan satu foto tubuh perempuan yang mirip dengan yang di-posting di website  yang disampaikan oleh Prisil. 

” Dan, Clar sini deh. Ini bukannya….” Kata Jihan terpotong 

” Emang biadab ni orang. Selalu aja cari gara gara ” kata Zidane 

” Gila sih. Parah. Tapi kita belum Nemu bukti kuat selain ini. Zidane, Lo tau markas  mereka? ” Tanya Clara 

” Nope. Markas mereka tersembunyi. Entah dimana. ” Jelas Zidane 

Clara, Jihan dan Zidane bergegas keluar asrama Kedokteran. Clara sempat menangkap  siluet seorang perempuan berparas cantik masuk ke kamar Arthur. Entah, mungkin  pacar Arthur batin Clara. Tapi biarkan saja. 

*** 

Jihan segera bergegas menuju tempat dimana Gentala dan Prisil berada. Ia berdoa  semoga mereka berdua baik baik saja. Jihan sampai di rumah elite dengan penjagaan  ketat milik Hafuza Group. Iya, disana Gentala sudah menunggunya. Langkah Jihan  berhenti, ah syukurlah. Gentanya baik baik saja. 

Zidane dan Clara menyusul. Mereka segera memeriksa Prisil yang gemetar dan masih  sesegukan. 

” Ji, Lo gapapa? ” Tanya Gentala pada Jihan 

” Lo sendiri? Gimana sih bisa kek tadi? Kenapa bocor? ” Tanya Jihan balik ” Kalo ditanya itu dijawab Ji. Bukan nanya balik. ” Jawab Genta 

” Gue gapapa Ta. Lo bisa liat gue disini berdiri di depan Lo. ” Jelas Jihan ” Wkwkwk. Iya iya. Hhh tadi Prisil upload story di sosial medianya. Dia ngevideo kalo  dia lagi masak dan dia keceplosan bilang kalo dia lagi dikontrakkan kak Zidane. Para  pengikut di sosmednya langsung pada gempar. Alhasil kayak tadi ” jelas Gentala ” Lo bilang udh ngegembok akun Lo? Sil, kan kita udah bilang jangan main sosmed dulu.  Kita tau Lo selebgram. Tapi Lo ngebahayain nyawa Lo sama nyawa kita tau gak?! ” Clara  memanas. Jihan bisa melihat dada Clara naik turun menahan amarah ” Clar udah ngapa. ” Tarik Zidane agar Clara tidak emosi 

” Sorry gue kayak mau gila kalau tanpa sosmed. Jadi gue tadi niat live sebentar tapi  keceplosan karena ada yang komen ” jelas Prisil

” Yaudah yaudah. Penting disini aman. Thank’s Ta. Sorry ngrepotin ” jelas Zidane ” Santai. Aman aman ” jawab Genta 

Malam semakin larut, Prisil yang mentalnya kembali terguncang sekarang sudah tertidur.  Tapi Jihan, Genta, Zidane dan Clara masih menyusun rencana untuk besok. 

Jihan menyodorkan hasil rekamannya mengenai kamar Arthur yang ia curigai.  Terpampang foto foto Prisil yang tidak pantas disebarluaskan ke sosmed. Clara  menyodorkan rekaman cctv dimana saat mereka bertiga keluar dr asrama ada seorang  perempuan memasuki kamar Arthur dengan gerak gerik aneh. Sedangkan Zidane, ia  berhasil membongkar sesuatu. 

Di papan ruang rahasia milik Arthur ada foto Prisil, kode map yang setelah Zidane cari  tahu merupakan kode perusahaan keluarga Prisil dan juga rumah Prisil, Zidane juga  menemukan berkas berkas dimana KTP dan Paspor serta cerita masa lalu Prisil tersusun  rapi di kamar Arthur. Kebanyakan berkasnya merupakan tangkapan layar dari story  sosial media Prisil. Banyak dari story Prisil di simpan olehnya lalu dia mengulik informasi  pribadi dari Prisil.  

Gentala bertugas menyusun rencana aksi untuk melanjutkan penyelidikan. Genta sangat  mahir karena ia berada di bidang ini. Ada satu tempat yang dicurigai Genta karena  tempat tersebut tak terendus oleh siapapun. Ya, ruang kesenian yang terkenal angker.  Bisa saja itu adalah markas dari Arthur dan gengnya. 

Jihan dan Clara mengecek website yang mengunggah foto foto dan informasi pribadi  Prisil untuk konsumsi publik. Mengapa ada orang gila seperti mereka? Kebanyakan  adalah fans Prisil yang berusaha mendekati Prisil dengan cara yang salah. Ya begitulah  nasib public figure. Keliatannya bergelimang harta tapi ternyata kehidupan pribadinya  tidak aman. 

Kontrakan Zidane yang menjadi tempat Prisilia Aprhodite di sembunyikan Di update 7 jam yang lalu. 

” Mampus dan. Kontrakan Lo terkenal nih ” tegas Jihan 

” Palalu Ji. Gue mau out aja lah dari situ ” jawab Zidane enteng. 

Setelah itu semua sibuk berkutat dengan masing-masing pikiran mereka. Sampai petang  berganti fajar. 

***

Mentari pagi itu bisa digambarkan sedang tersenyum hangat kepada para penduduk  bumi. Ia tak tahu bahwa hiruk pikuk di bumi sangat mematikan, kebisingan suara diotak  yang berdentum melawan kesadaran mental pun bisa menjadi masalah. Prisil dan Clara  bersama menuju gedung kebidanan. Sedangkan Jihan diantar Genta untuk sampai ke  gedung Keperawatan. Zidane juga mengikuti Genta untuk mengantar Jihan.  

Saat Clara berjalan di koridor ia harus berpisah dengan Prisil karena berbeda kelas.  Namun belum ada setengah jam, Prisil kembali membuat ulah dengan sosmednya. Prisil  yang sangat menyukai tantangan akhirnya memfoto bermacam macam kartu debit dan  ATM nya ke sosial media karena tak mau kalah pamer kekayaan dengan Freya Angelina  teman sekelasnya yang selalu bersinggungan dengannya. 

Tak lupa Prisil juga sudah melakukan live lagi dengan teman temannya. Jihan pun  menonton livenya tidak ada gerak gerik aneh sekalipun. Namun, saat Jihan mengecek  website yang melanggar privasi Prisil disana sudah tertera saldo ATM Prisil yang telah  diambil. Bahkan Prisil belum menyadarinya jika ATM dan Kartu Debitnya terkena  scammer. Bodoh memang. Tapi itulah Prisil. Tak pikir panjang hanya saja dia tak mau  kalah. 

Clara pasti sudah bersungut-sungut jika mengetahui kejadian ini. Jihan cepat cepat  berlari ke gedung Kebidanan disusul Genta dan Zidane. Benar saja, Clara sudah marah  tak tertahankan disana. Jihan, Zidane dan Genta hanya bisa diam memperhatikan dari  kejauhan karena identitas mereka tak boleh terbongkar. Clara pasti tahu batasan pikir  Jihan. 

Setelahnya Prisil menyadari bahwa kartu ATM dan kartu Debitnya ludes. Tak sepeserpun  saldo terpampang disana. Ia lemas, jatuh, terpuruk dan menangis. Hingga titik  tertingginya adalah dia pingsan dan tidak sadarkan diri. Genta membawanya ke UKS  bersama Jihan.  

Hingga Prisil siuman, ia meminta maaf karena tak pikir panjang akibat ulahnya. Ia  meminta maaf telah merepotkan Clara dan yang lain. Prisil berjanji ini yang terakhir  kalinya ia ceroboh dalam menggunakan sosmed. Tapi dia tetap memohon untuk  menemukan pelaku yang mengoperasikan website tersebut. 

*** 

Proses pemeriksaan terus berlanjut. Malam nanti kita akan bongkar apa saja yang ada  di ruang kesenian angker tersebut. Clara dan Zidane bertugas masuk ke ruang kesenian.  Sedangkan Jihan dan Genta memantau dari cctv apabila terdapat bahaya mendekat  kearah dua teman mereka. Clara dan Zidane ada di balik tangga koridor. Sedangkan  Jihan dan Genta ada di ruang siaran FK memantau cctv. 

Malam itu, Arthur benar benar datang ke FK. Padahal jam sudah menunjukkan pukul  21.00 WIB dimana seharusnya FK sudah kondisi steril tak ada satu mahasiswa pun yang  datang karena FK mempunyai jam malam yaitu jam 20.00 WIB. Tak ada gerak-gerik  mencurigakan dari Arthur hingga ia sampai di lantai ke 7 gedung FK dimana Clara dan  Zidane menunggu dibalik tangga dan ruang kesenian yang angker juga berada disana. 

Jihan segera mengetikkan pesan ke ponselnya yang ditujukan ke Zidane agar waspada  karena Arthur dekat dengan posisinya sekarang. Clara yang mengetahui hal itu  mendadak bergidik ngeri. Namun, Zidane langsung meyakinkan Clara bahwa semuanya  akan baik-baik saja. 

Arthur sampai di depan ruang kesenian. Ia menengok ke kanan dan ke kiri memastikan  bahwa tidak ada orang selain dirinya. Jihan dan Gentala yang ada di ruang siaran  memantau cctv pun menangkap gelagat aneh dari Arthur. Begitupun Zidane dan Clara  yang berada di balik tangga. Arthur segera mengeluarkan kunci gembok dari sakunya  dan membuka pintu ruang kesenian. Jihan, Zidane, Clara dan Gentala membelalak.  Pasalnya meskipun mereka mendapat free akses masuk kemanapun karena kasus ini,  dosen tetap tidak mengizinkan mereka untuk memasuki ruang kesenian angker itu.  

Gentala dan Jihan sempat memasang cctv kecil di pintu ruang kesenian. Begitu pintu  terbuka semuanya begitu jelas. Tidak ada ruang kesenian angker, tidak ada hantu  disana, tidak ada yang selama ini ditakuti oleh mahasiswa dan dosen. Ruang kesenian  itu benar benar disulap seperti bar kecil dengan segudang lampu pernak perniknya.  Gentala benar, ruang kesenian itu basecamp dari geng Arthur. Jihan melihat sesuatu  dari matanya, beberapa laptop versi terbaru dan juga ada banyak cctv dimanapun yang  memantau ruang gerak Prisil seperti rumah, perusahaan papa Prisil, gedung Kebidanan,  dan terakhir adalah Kontrakan Zidane yang telah dikosongkan.  

“Gila. Mereka stalk Prisil sejauh itu. Ini Prisil ngapain aja mereka tau dong?!” Tutur Jihan “Kayaknya ada sesuatu antara Prisil dan Arthur yang tidak semua orang tau Ji ” jawab  Genta 

Jihan segera menelfon keamanan, beberapa dosen penanggung jawab yang sudah siaga  sedaritadi, beberapa anak kementrian dalam negeri yang turut serta membantu  pergerakannya, beberapa anak kementrian aksi dan propaganda untuk melancarkan  aksi mereka serta korban Arthur yaitu Prisil.  

Segera mereka semua masuk ke ruang kesenian yang sudah disulap menjadi bar kecil.  Arthur tampak gelagapan karena tempat tongkrongannya telah diendus oleh beberapa  pihak. Prisilia datang dan maju satu langkah di depan semua orang sembari menatap  Arthur.

” Ada masalah apa Lo sama gue? Kenapa Lo bersikap layaknya stalker di hidup gue? ”  Tanya Prisil 

” HAHAHAHAHHAA ” gelak tawa Arthur menggelegar membuat semua orang bingung ” Prisilia Aprhodite, nona kecil sekaligus pewaris tunggal Aprhodite Group. Apa Lo gak  ingat siapa gue? ” Tanya Arthur 

Prisilia mengernyit. Ia merasa tak pernah mengganggu Arthur selama ini. Bahkan ia  tidak tau siapa Arthur itu. 

” 10 tahun yang lalu. Aprhodite Group ngehancurin Andrenata Group. Perusahaan papa  Lo nipu perusahaan bokap gue dengan mempublikasikan data data perusahaan dan  keluarga gue setelah itu mereka jual untuk menghancurkan perusahaan papa gue.  Karena identitas keluarga gue semuanya terungkap, mau gak mau gue sama keluarga  gue ganti nama jadi Andreswara. Hidup gue kelimpungan gara gara perusahaan Lo nipu  dan nyebarin data pribadi keluarga gue buat dijual. Perusahaan papa Lo menuliskan  artikel yang merendahkan martabat keluarga gue. Sekarang gantian, gue yang ngejual  data pribadi Lo ke fans fans Lo yang terobsesi sama Lo. Tiap jam upload dimana Lo  berada, Lo ngapain aja, pas lagi buka dompet semua kartu kartu penting Lo keliatan di  video live Lo. Itu justru memudahkan gue buat buka privasi Lo. Impas kan? ” Jelas  Arthur 

” Lo tega ya. Gue gatau apa apa dulu. Gue masih kecil bego! ” Kata Prisil ” Gue gamau tau. Gue cuma mau balas dendam. Nikmati kehidupan privasi Lo yang  udah gaada harganya. Fans fans yang terobsesi sama Lo bahkan mereka juga sama  gilanya sama Lo. ” Jelas Arthur 

” Lo yang gila! ” Jelas Prisil 

Setelah kejadian tersebut Arthur dan gengnya benar benar di skorsing. Arthur pun  pindah ke kampus luar negeri agar dapat melanjutkan kuliahnya. Prisil sekarang  mengerti risiko yang ia punya jika menjadi famous dan selebriti. Pengalamannya  mengenai sosial media memanglah buruk. Namun, sekarang ia mengerti bagaimana  etika privasi ketika kita mempunyai sosial media. Keluarganya yang melemparkan harsh  word ke keluarga Arthur, menuliskan artikel yang merendahkan keluarga Arthur, bahkan  menyebarkan data pribadi keluarga Arthur untuk dijual sekarang karmanya sudah benar  benar terbayar.  

Malam itu, Prisil, Jihan, Zidane, Gentala dan Clara kembali ke perumahan elite milik  Gentala. Bulan purnama itu jahat. Mengapa ia menunjukkan sinarnya saat hiruk pikuk  dan ketidakadilan dunia sangat kelimpungan? 

Clara sudah tertidur di kamar atas. Sedangkan Zidane juga sudah tertidur di kamar  bawah. Tersisa Jihan yang hanya memelototi laptopnya mengerjakan laporan kasus hari  ini yang terselesaikan.  

” Ji, bisa gak dilanjut besok? Udah malam ” tutur Gentala 

” Ta, kenapa ya banyak orang jahat? ” Tanya balik Jihan 

” Kebiasaan deh kalo ditanya pasti nanya balik. Ji, dunia ini perlu keseimbangan. Ada  yang namanya kebaikan dan kejahatan. Ada yang namanya kekurangan dan kelebihan.  Itu sudah keseimbangan alam. Kita gak bisa maksa orang berbuat baik jika bukan  kemauan dari diri orang itu sendiri. Tugas kita hanya mengingatkan orang lain. ” Jelas  Gentala pada Jihan yang dibalas anggukan olehnya. 

Ini dia Gentala yang ia suka. Gentala yang ia kagumi. Dewasa nan tegas. Bahkan  kebahagiaan Gentala adalah prioritas utama seorang Jihan.  

Jihan mengerjakan laporan kasus yang terselesaikan hari ini hingga pagi dini hari pukul  3.00 WIB. Jihan tak menyadari bahwa Gentala tertidur disampingnya. Manik matanya  menangkap Gentala yang sedang tertidur dan Jihan tersenyum simpul. 

” Ta, bahagia terus ya. Gaboleh ada satupun yang ngelukain lo ” tutur Jihan pelan lalu  Jihan mengambil selimut dari kamar atas untuk dipakaikan ke Genta. Jihan kembali ke  kamar atas untuk tidur bersama Clara. 

” Semoga bahagia juga Ji. ” Tutur Gentala samar-samar. 

*** 

Webinar Etika Ruang Privasi ketika Bersosial Media 

Narasumber: Prisilia Aprhodite 

Spanduk besar itu mengapa semua peserta webinar yang datang di ruang serbaguna  FK. Ramai sekali peserta yang datang untuk menyimak penjelasan dan materi yang  diberikan Prisil. 

Jihan datang bersama Clara serta Genta dan Zidane tentunya. Tak disangka, korban  ternyata bisa menjadi narasumber sebuah webinar berdasarkan pengalamannya. 

Prisil benar-benar sudah berubah lebih baik. Kini tak semuanya ia posting di sosial  medianya. Hanya urusan kerja saja yang ia pamerkan ke publik. Ia pindah rumah dan  hanya beberapa orang yang tahu. Dia menjadi pribadi yang ramah dan baik bukan lagi  Prisilia yang tak mau mengalah seperti dulu, bukan lagi Prisilia yang tak memikirkan  konsekuensi untuk kedepannya.

Gentala, Jihan, Zidane dan Clara berada di backstage atas undangan Prisil. Prisil  mengapa mereka dan menghadiahkan mereka sebuah jam tangan untuk masing  masing.  

Jihan memilih yang warna coklat begitu juga Gentala. Sedangkan Clara dan Zidane  memilih yang warna hitam.  

” Guys, thank you ya. Tanpa kalian, gue gabakal sadar apa yang salah dari diri gue.  Sukses terus buat kalian ” seru Prisil 

” Sukses juga sil ” jawab Jihan 

” Ntar kalo bisa undangan kita ke webinar Lo free pass semua ya ” jawab Zidane konyol Sedangkan Clara dan Genta sama sama tersenyum simpul. 

*** 

” Ta, Prisil cantik ya? ” Tanya Jihan pada Genta 

” Semua cewe kan cantik Ji. Lo juga. ” Jawab Gentala enteng 

Semburat merah muncul dari pipi Jihan. Ia memalingkan mukanya agar Genta tak  mengetahuinya. Tapi terlambat, Genta tahu semua itu dan dia tersenyum. 

Gentala, untuk saat ini mari kita berteman saja. Sewajarnya saja meskipun aku sangat  menyukaimu. Namun, aku belum bisa menjanjikan apapun sebagai perempuan yang  masih berbenah diri. 

Jihan, saat ini kita begini saja. Aku sudah cukup senang. Maaf belum bisa mengikatmu  dalam suatu hubungan. Karena aku belum bisa menjanjikan kebahagian. Aku tidak mau  hanya sekedar menjanjikanmu kebahagiaan semu yang berakhir mendung di pelupuk  matamu. Jihan Zhafira, aku mencintaimu selalu. 

Mereka berdua bergumam dalam hati seperti itu. Namun tak sanggup mengungkapkan  satu sama lain. 

” Ta, ke kontrakan Zidane yang baru yuk. Clara juga ada disana. ” Usul Jihan ” Oke. Ntar pulang bareng gue ya Ji ” jawab Genta 

” Oke kapten ” jawab Jihan sumringah 

*** 

Pesta dirumah Zidane dengan dihadiri dosen, petugas keamanan FK dan juga beberapa  anak BEM FK digelar dengan cukup sederhana.

Jihan melihat Clara yang tersenyum manis pada Zidane. Yah, dia harap Clara  menemukan seseorang sebagai penyemangat. Zidane pun begitu, Jihan harap ia tidak  hanya bermain main dengan perempuan. Semoga ia segera mendapatkan bidadarinya. 

Lamunan Jihan terbuyarkan ketika Genta menyodorkan es krim coklat ke arah Jihan. 

” Nih Ji ” kata Genta 

” Thank’s Ta ” jawab Jihan 

Zaman memang sudah berubah menjadi modern dan serba canggih. Namun, benar kata  seorang ahli yang Jihan lupa namanya ” Kalau kita tidak pintar dalam memainkan sosial  media. Maka, sosial media akan mempermainkan kita. ”  

Privasi di zaman sekarang seperti tak ada harganya. Orang orang berlomba dalam  menunjukkan ini dan itu ke khalayak umum yang bisa saja menjadi bumerang bagi  mereka. Itulah pentingnya menanamkan etika privasi dalam bersosial media. Jangan  menggunakan kata kata kasar yang ditujukan pada seseorang. Jangan terlalu  mengungkap privasi ke khalayak umum. Jangan menggunakan sosial media untuk  keperluan merugikan ataupun berbuat jahat kepada orang lain. 

*** 

11 September 2021 

Jihan’s diary 

Prisilia semoga kau mengerti sekarang. Hiduplah dengan baik. Jaga privasimu walaupun  kau selebriti. 

Zidane terimakasih, kau teman yang baik. Semoga sukses untuk kedepannya. Aku yakin  kau akan menjadi kepala keluarga yang baik kelak. 

Clara, semoga hidupmu dipenuhi keberkahan. Kau baik, periang, lucu dan selalu  menemaniku disaat suka dan duka. Terimakasih. 

Terakhir Gentala, bahagialah selalu! Apapun itu aku sangat yakin padamu. Terimakasih  Genta. 

Setelah menulis buku diary miliknya, Jihan memutuskan untuk menghempaskan  tubuhnya ke kasur yang sangat ia cintai. Purnama sedang menunjukkan eksistensinya  kala itu. Jihanpun terlelap menuju pulau mimpinya yang bahagia.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here