Home Berita Debat Panas Berujung Kericuhan Menghiasi November Ceria FH UB

Debat Panas Berujung Kericuhan Menghiasi November Ceria FH UB

667
0
SHARE
Keramaian Penonton Debat Terbuka Pemilwa FH UB 2024 (Foto: Azka)

Malang, ManifesT-November Ceria merupakan istilah yang digunakan untuk agenda tahunan baik di lingkup fakultas maupun universitas. Sejatinya November Ceria merupakan agenda pesta demokrasi mahasiswa yang selalu diadakan tiap tahunnya. Dalam lingkup fakultas, pesta demokrasi mahasiswa lebih dikenal sebagai Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa).

Tahun ini, kontestasi Pemilwa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya sendiri diikuti oleh 15 calon Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan 3 pasangan calon (paslon) Presiden-Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Pada Senin (18/11) telah diselenggarakan debat terbuka yang merupakan salah satu agenda dalam rangkaian Pemilwa oleh panitia Komisi Pemilihan Mahasiswa FH UB 2024 (KPM FH UB 2024). Agenda debat terbuka tersebut terbagi menjadi dua acara, yaitu debat para calon DPM dan debat para calon Presiden-Wakil Presiden BEM. 

Debat terbuka dimulai dengan debat para calon DPM FH UB pada pukul 12.30 WIB di Teras Gedung B FH UB. Sesi debat diawali dengan pemaparan visi misi oleh masing-masing calon DPM FH UB. 

Pemaparan visi misi dilaksanakan secara berurutan yang dimulai dari calon DPM FH UB nomor urut 1 hingga nomor urut 15. Pemaparan visi misi masing-masing calon berlangsung dengan kondusif tanpa intervensi berlebihan oleh pendukung masing-masing.

Berikutnya dilanjut dengan pemaparan pertanyaan oleh Panelis debat, yaitu Bapak Resa Yuniarsa Hasan, S.H., M.H. dan Ibu Anindita Purnama, S.H., M.H. Seluruh calon memiliki durasi untuk menjawab pertanyaan panelis selama maksimal 3 menit. 

Di mulai oleh pertanyaan para panelis dengan masing-masing panelis memberikan 2 sampai 3 pertanyaan.  Panelis pertama Bapak Resa Hasan, S.H., M.H. memberikan pertanyaan mengenai prioritas masing-masing calon, hal yang dapat dilihat dari DPM sebelumnya, dan pembentukan produk hukum yang mencerminkan mahasiswa FH UB. 

Selanjutnya panelis kedua Ibu Anindita Purnama, S.H., M.H. juga turut memberikan 2 pertanyaan.

“Pertanyaan pertama adalah bagaimana pemaknaan peran DPM dalam menciptakan demokrasi kampus yang sehat? Yang kedua, apabila nanti terjadi konflik yang memiliki kepentingan suara mayoritas mahasiswa dan disandingkan dengan prinsip moral dan juga hukum, maka peran apa yang akan para calon ambil?” ujar Ibu Anindita Purnama, S.H., M.H.

Setelah pertanyaan dibacakan, maka calon yang siap untuk menjawab dipersilahkan untuk mengangkat tangan serta menyampaikan gagasan terkait pertanyaan yang telah diberikan.

Acara dilanjutkan dengan debat terbuka oleh para calon. Pada sesi ini acara berlangsung sangat intens. Hal ini dikarenakan para calon saling mempertanyakan gagasan kepada sesama calon. 

Salah satu pertanyaan dilontarkan oleh calon DPM FH UB nomor urut 13 Faunia Edla Aditia di tengah-tengah situasi yang kian memanas. 

“Saya ingin bertanya kepada calon DPM FH UB nomor urut 15 Yoananda Putri, dalam visi dan misi, anda mengusung akan menopang kesetaraan dan keadilan kepada perempuan. Pertanyaan saya, apakah Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini memang masih belum terjamin kesetaraannya? Apakah inklusivitasnya masih kurang?” Ucap Faunia

Rangkaian debat antar calon DPM FH UB diakhiri dengan penyampaian kalimat penutup selama maksimal 1 menit. Acara debat para calon dewan berakhir pada pukul 15.30 WIB dengan kondisi mendung disertai gemuruh dukungan dari masing-masing calon yang masih terus digaungkan.

Acara selanjutnya berupa debat oleh para calon Presiden dan Wakil Presiden BEM FH UB yang dimulai pada pukul 15.50 WIB. Debat ini diikuti oleh para calon presiden dan wakil presiden, yaitu paslon nomor urut 1 Gaudensio Mulagabe Pardosi dan  Muhammad Rafi Permadi, paslon nomor urut 2 Muhammad Zaky Ibrahim dan Josephine Aprilia L serta paslon nomor urut 3 yaitu Muhammad Azhar Shiroth Mustaqim dan Quinto Halomoan Simbolon. 

Debat diawali dengan setiap paslon memberikan opening statement dan memaparkan visi serta misinya. Sembari memaparkan opening statement, para paslon juga meneriakkan jargon mereka masing-masing dan disambut meriah oleh para pendukungnya. 

Dalam sesi ini, para pendukung paslon sempat ricuh tidak kondusif. Pasalnya kerusuhan tersebut dipicu akan intervensi pendukung nomor urut 1 yang berteriak bahwa waktu telah habis kepada orasi paslon nomor urut 2. Aksi tersebut menyebabkan pendukung nomor urut 2 merasa tidak terima karena dianggap tidak adil. Panitia KPM sampai harus turun tangan ke area penonton untuk menenangkan dan meminta agar para pendukung tetap kondusif.

Setelah itu berlanjut ke acara sesi tanya jawab oleh Panelis debat, yaitu panelis pertama Bapak Muhammad Najih Vargholy, S.H., M.H. dan panelis kedua Bapak Muhammad Akbar Nursasmita, S.H., M.H. Dalam sesi tersebut, masing-masing paslon diberikan waktu menjawab selama maksimal 5 menit. 

Panelis pertama memberikan pertanyaan mengenai aksi sosial dan peran mahasiswa di dalamnya. Panelis pertama juga bertanya mengenai strategi yang akan diciptakan paslon untuk mewujudkan sistem kerja profesional dan menghindari konflik kepentingan internal BEM.

Kemudian dilanjut dengan pertanyaan panelis kedua, yaitu pandangan paslon mengenai oposisi dan bagaimana konsolidasi pasca segregasi pemilwa. Selain itu, panelis kedua juga memberikan pertanyaan mengenai evaluasi kinerja para pasangan calon dan apa yang akan dilakukan kedepannya. Setiap pasangan calon memberikan jawaban dan inovasi yang beragam.

Lalu acara dilanjutkan dengan debat antar pasangan calon dengan mosi kepentingan BEM FH UB harus mengutamakan sinergi antara Lembaga Otonom (LO) maupun Lembaga Semi Otonom (LSO) di bawah komando BEM FH UB untuk mencapai tujuan bersama meskipun hal ini dapat mengorbankan kepentingan masing-masing LO maupun LSO. 

Mosi tersebut kemudian dijawab oleh masing-masing paslon secara berurutan. Paslon nomor urut 1 menyatakan bahwa BEM FH UB dengan LO LSO setara dengan membawa Bab 10 TAB MUM Tahun 2016, paslon nomor urut 2 membawakan pengembagan sinergitas dan pengembangan kolaboratif dengan para lembaga otonom lain, dan paslon nomor urut 3 yang mengusung rekonstruksi kolaboratif dengan LO dan LSO.

Setelah masing-masing paslon memberikan jawabanya, dimulailah sesi pengkritisan. Sesi ini menjadi sesi paling intens dan panas untuk masing-masing paslon maupun pendukungnya. Dalam sesi ini pula para pendukung paslon kembali ricuh tidak kondusif. Bahkan terdengar kata-kata kasar yang dilontarkan oleh salah seorang pendukung paslon dan langsung mendapat teguran dari moderator debat.  

Setelah sesi pengkritisan berakhir, dilanjutkan dengan penyampaian closing statement. Para paslon memberikan closing statement yang dihiasi dengan jargon mereka. Para pendukung masing-masing paslon juga sangat antusias dengan itu. Tingginya antusiasme para pendukung sempat membuat kondisi kembali memanas. Rangkaian acara debat terbuka calon Presiden dan Wakil Presiden BEM FH UB baru selesai pada pukul 17.30 WIB.

Walaupun debat terbuka telah selesai, para pendukung tetap ramai dan memenuhi depan teras Gedung B FH UB sembari meneriakkan jargon paslon yang mereka dukung. Hingga akhirnya dibubarkan oleh panitia KPM dan juga panitia dosen.

Penulis: Abiy Haidar Hakim, Muhammad Ikhlasul Amal S. dan Naufal Itsnain Amirulazka

Editor: Raynaldy Aulia Mahendra

Pimpinan Redaksi: Marvella Nursyah Putri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here