Malang, ManifesT- Senin (23/07), menjadi penanda dimulainya program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) 2025 bagi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB). Bertempat di Gedung B FH UB, para mahasiswa diberangkatkan serentak untuk menjalani rangkaian pengabdian yang akan berlangsung selama satu bulan penuh. Keberangkatan ini disambut dengan berbagai tanggapan dari kalangan mahasiswa yang mengikuti program PKM tersebut.
Mendekati waktu pemberangkatan, LPM ManifesT berkesempatan mewawancarai beberapa mahasiswa FH UB yang mengikuti PKM untuk mengetahui persiapan mereka. Terungkap bahwa Husein Kurnia, selaku Koordinator Dusun dan rekan-rekannya yang berasal dari kelompok 17 PKM FH UB ketika ditanya mengenai persiapan PKM,
“Alhamdulillah di kelompok 17 masih matang ya jadi sekarang tinggal aman, tinggal berangkat aja gitu persiapan orang-orangnya juga alhamdulillah udah lancar gak ada hambatan, gak kayak kelompok lain mungkin masih kesulitan dapat rumah gitu sih”, ujar Husein.
Lebih lanjut, LPM ManifesT juga menanyakan kesan dan perasaan mereka menjelang sebulan penuh dalam menjalani PKM. Beragam respon pun muncul,
“Kesannya jujur agak takut ya karena mungkin sebulan kita di sana mungkin pesannya semoga ya kita saling solid sih dan akrab ya karena kan kita baru pertama kali kenal sama orang-orang ini tidak ada saat ini,” ujar Silmi salah seorang anggota kelompok 17.
Senada dengan itu, Fara, temannya juga menambahkan adanya sejumlah kekhawatiran seperti program kerja dan kondisi desa, tetapi kelompoknya hingga saat ini mampu berkomunikasi dan berkoordinasi.
“Memang agak khawatir ya terkait dengan keadaan disana sekaligus nanti apakah proker-prokernya itu bisa berjalan dengan baik untuk sejauh ini kelompok kami bisa berkoordinasi dan berkomunikasi dengan baik jadi untuk sejauh ini masih oke dan alhamdulillah baik.” terangnya.
Selain itu, Erika juga mengungkapkan, “Kesannya pastinya khawatir dan mencoba khawatirnya tuh akan adaptasinya bersama masyarakat yang ada di sana dengan culture yang berbeda karena kita mostly dari luar juga dari luar Malang gitu jadi agak khawatir tapi pesannya semoga kita bisa beradaptasi dengan baik juga dengan masyarakat dan membawa program kerja ini semoga bisa punya output yang konkret lah untuk masyarakat,” kata Erika.
Sementara itu, Husein menyoroti kesan pesan kesiapan timnya, “Kesan-pesan ku adalah dari persiapan ini untungnya dari kelompok itu juga sangat-sangat bagus untuk cekatannya gitu dalam hal komunikasi, persiapan, dan hal segala macam sehingga alhamdulillah untuk persiapan sendiri matang hari ini kita tinggal menunggu bagaimana situasi dan kondisi yang ada di lapangan untuk mengeksekusi semua persiapan itu mungkin pesannya untuk semua PKM pun juga dari panitia untuk tetap selalu menjaga komunikasi itu untuk supaya program PKM ini betul-betul sukses dan lancar sehingga tidak ada hambatan sama sekali.”
LPM ManifesT juga berkesempatan mewawancarai Davi selaku peserta PKM dari Kelompok 22. Ia mengungkapkan bahwa menanti-nanti kerja sama sesama nggota kelompoknya dalam menjalankan PKM ini.
“Kalau dari aku perasaannya senang, bahagia, karena kita nantikan di sana sama-sama teman-teman bekerja sama, saling menjaga antara sesama teman dalam satu kelompok,” jelas Davi yang kelompoknya akan mengabdi di Dusun Wonosari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari.
Dengan semangat dan persiapan yang telah dilakukan, para mahasiswa FH UB siap menghadapi tantangan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui program PKM 2025.
Di tengah persiapan keberangkatan mahasiswa untuk PKM FH UB 2025, LPM ManifesT juga berkesempatan mewawancarai Triya Indra Rahmawan S.H., M.H., Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat di BPPM Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dalam wawancara ini, Triya menjelaskan mekanisme pemberangkatan mahasiswa serta memberikan pesan-pesan penting bagi para peserta selama 30 hari pengabdian.
“Ada 470 mahasiswa yang mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat tahun 2025, yang mana kemudian dari 470 itu ada yang nanti naik motor. Karena nanti ada kebutuhan motor ketika di lapangan. Itu kami batasi 3 motor untuk dapat digunakan di lapang. Jadi pada waktu pemberangkatan pagi ini, ada teman-teman kelompok yang kemudian berangkat menggunakan motor. Kalau berboncengan itu ada 6 orang, kalau tidak berguncang ada 3. Untuk yang lainnya, itu kemudian menggunakan bus secara serentak,” terang Triya
Mengenai sistem pengantaran, Pak Triya menuturkan bahwa PKM kali ini dilaksanakan di 13 desa yang terbagi menjadi 31 dusun, dimana peserta nantinya akan diantar ke desa masing-masing.
“Jadi ada 13 desa, 31 dusun Karena kemudian masih dalam lingkup satu desa dan kita menggunakan bus, nanti mahasiswa itu tiap kelompok akan diturunkan di desanya masing-masing. Jadi untuk ke dusunnya nanti teman-teman yang sudah membawa motor itu yang akan menjemput,” tutur Triya
Triya juga berpesan kepada mahasiswa selama 30 hari ke depan untuk menjaga kesehatan dan juga etika sosial.
“Yang paling penting itu jaga diri baik-baik gitu ya. Dari kesehatan, kemudian etika sosial dan seterusnya. Yang penting jaga diri baik-baik. Pulangnya sehat, berangkatnya sehat, pulangnya juga sehat. Jadi bisa kemudian kita katakan bahwa PKM bisa kemudian terlaksana, bisa berhasil. Ketika kemudian yang berangkat itu sama seperti yang pulang.” Tutupnya.
Penulis : Muhammad Riyan Ramadhani
Editor : Zuchaira Pratiwi Tahir
Pimpinan Redaksi : Raynaldy Aulia Mahendra
















