Malang, ManifesT – Kamisan (04/06/2026). Komite Aksi Kamisan Malang kembali menggelar aksi di kawasan Kota Malang dengan mengangkat tema “Menuju Krisis: Diam Tertindas atau Bangkit Melawan!”. Dalam aksi tersebut, peserta menyoroti berbagai persoalan ekonomi dan politik yang dinilai menunjukkan tanda-tanda Indonesia sedang bergerak menuju situasi krisis.
Perwakilan Komite Aksi Kamisan Malang, Eka, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih sebagai respons terhadap berbagai kondisi yang terjadi belakangan ini, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, dinamika kebijakan luar negeri, hingga praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dinilai semakin tampak di ruang kekuasaan.
“Kami dari Komite Aksi Kamisan Malang menyoroti situasi yang terjadi di Indonesia yang kami nyatakan sebagai situasi menuju krisis. Banyak sekali kejadian akhir-akhir ini, mulai dari melemahnya rupiah, kebijakan luar negeri yang semakin melemah, hingga bagaimana dinamika di ruang kekuasaan semakin terlihat nyata korupsi, kolusi, dan nepotisme,” ujar Eka dalam wawancara usai aksi.
Menurutnya, kondisi tersebut menempatkan masyarakat pada persimpangan penting. Ia menilai bahwa gerakan sosial perlu terus dibangun sebagai respons terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. “Hanya ada dua pilihan, yaitu bangkit melawan atau mati tertawan,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Eka berharap aksi yang digelar tidak berhenti sebagai kegiatan simbolik semata, melainkan menjadi pemantik bagi gerakan yang lebih luas. Ia menilai Aksi Kamisan merupakan ruang konsolidasi perjuangan yang dapat mendorong keterlibatan lebih banyak elemen masyarakat.
“Hari ini mungkin kita mulai dengan beberapa orang, tidak banyak-banyak. Namun ini adalah pantikan yang harusnya bisa menjadi momentum yang direspons oleh masing-masing insan gerakan. Kalau tidak hari ini kita bergerak, maka tidak ada waktu bagi kita untuk bergerak di kemudian hari,” katanya.
Selain menyoroti kondisi politik, Komite Aksi Kamisan Malang juga menilai krisis ekonomi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil. Menurut Eka, kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah telah memberikan tekanan terhadap sektor usaha rakyat.
Ia mencontohkan keluhan yang disampaikan oleh sejumlah pedagang dan pelaku usaha tahu-tempe yang bergantung pada kedelai impor. Kenaikan harga kedelai disebut telah membuat banyak usaha kecil kesulitan bertahan.
“Harga kedelai impor yang semakin melambung tinggi mengakibatkan banyak pengusaha kecil di sektor kedelai seperti tahu dan tempe gulung tikar. Itu yang mengakibatkan kita ingin terus menyuarakan aspirasi mereka,” ujarnya.
Komite Aksi Kamisan Malang menilai pemerintah belum menunjukkan langkah yang cukup efektif untuk mengatasi persoalan ekonomi yang berkembang saat ini. Karena itu, mereka memandang penting adanya pengawasan publik serta keterlibatan masyarakat dalam mengawal kebijakan negara.
Melalui aksi tersebut, peserta berharap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, baik di bidang ekonomi maupun politik, dapat memperoleh perhatian yang lebih serius dari pemerintah. Aksi Kamisan Malang juga mengajak masyarakat untuk tetap kritis dan aktif menyuarakan aspirasi di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi bangsa.
“Menuju Krisis: Diam Tertindas atau Bangkit Melawan!” menjadi pesan utama yang dibawa dalam aksi kali ini, sekaligus seruan agar masyarakat tidak bersikap pasif terhadap berbagai persoalan yang dinilai semakin berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Penulis: Andi Imam Rafi
Editor: Andi Imam Rafi
Pimpinan Redaksi: Husein Kurnia Hoetomo
















