Oleh: Ken Swastyastu PinasthikaEsok mari bertemu di balai ituAkan aku ceritakan perihal anak petaniYang matanya tak ragu menatap mentariLalu kita undang bara kata dalam nyanyian perjuanganBerkumpul menjadi satuSaling menguatkanBiar pintu itu dibuka lebar-lebar kawanAgar doa cepat mengudaraMenelisik satu persatu lewat kisi-kisi jendelaHingga tidak ada lagiLangkah yang dipaksa hentiDan harap yang dipaksa matiTeruslah menengadah kawanDi tengah derap kaki yang menuju setiap rumahTrauma jadi sahabat ibu menyiapkan sarapanLuka bapak pun masih menolak untuk dibersihkanKarena di tanah kamiMasih ada iman dalam harmonisasi elegiMasih ada amin yang meringkukkan diri















