Home Berita Memperingati 100 Hari Tragedi Kanjuruhan, Koalisi Arek Malang Gelar Festival Solidaritas Kampung...

Memperingati 100 Hari Tragedi Kanjuruhan, Koalisi Arek Malang Gelar Festival Solidaritas Kampung Kota di Mergosono

722
0
SHARE
Pameran foto di kegiatan Festival Solidaritas Kampung Kota di Kelurahan Mergosono, Malang | (Foto: Josephine Aprilia)

Malang, ManifesT — Koalisi Arek Malang menyelenggarakan Festival Solidaritas Kampung Kota di Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang pada Sabtu, 14 Oktober 2022. Kegiatan Festival tersebut dilaksanakan sejak pukul 15.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.

Tujuan diselenggarakannya Festival Solidaritas Kampung Kota ini dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Arek Malang untuk memperingati 100 hari terjadinya Tragedi Kanjuruhan. Festival ini pun dihadiri berbagai elemen masyarakat, seperti warga sekitar, pekerja seni, mahasiswa, hingga Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM). 

Salah satu alasan diselenggarakannya acara ini di Kelurahan Mergosono dikarenakan terdapat 5 (lima) korban warga Mergosono dalam Tragedi Kanjuruhan. Hal itu pun menumbuhkan rasa solidaritas dan kekeluargaan antar warga Mergosono.

“Meskipun bukan keluarga, tapi teman-teman Mergosono sini itu punya perasaan yang sama (atas terjadinya tragedi kanjuruhan),” terang Dila, salah satu Panitia Festival Solidaritas Kampung Kota kepada Tim ManifesT.

Dila juga menambahkan, diadakannya Festival Solidaritas Kampung Kota merupakan cara alternatif untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah sekaligus meminta kejelasan tragedi Kanjuruhan yang merenggut ratusan korban jiwa.

Ada beragam kegiatan dalam acara Festival Solidaritas Kampung Kota ini, seperti pameran seni berupa foto dan kolase oleh para seniman lokal, pertunjukan musik, festival kuliner oleh warga sekitar, lapak solidaritas, mimbar bebas, lomba lato-lato, serta sharing session. Dalam sharing session yang dilaksanakan sejak pukul 20.00 WIB, para narasumber yang mengisi antara lain: Suciwati (aktivis HAM/Istri Munir), Daniel A. Siagian (Direktur LBH Surabaya Pos Malang), Affan (Relawan Medis), dan Pentil (keluarga korban tragedi Kanjuruhan).

Salah satu Seniman yang hadir dalam acara festival, Bagus Setiawan, berpendapat bahwa festival-festival semacam ini merupakan salah satu cara apik dalam mengekspresikan suara dari warga Malang. Menurutnya, dengan acara seperti Festival Solidaritas Kampung Kota ini pengungkapan suara masyarakat dapat berjalan lebih adem dan memberikan nilai edukasi bagi masyarakat.

“Warga Malang harus tambah cerdas dalam menghadapi suatu permasalahan (atas tragedi Kanjuruhan). Nggak harus lewat sing emosi-emosian akhire malah gak karu-karuan. Kalo gini kan kita bisa baca sama adik-adik juga bisa tahu, ‘oh tibak e mas-mas supporter sing kereng-kereng iku ternyata punya jiwa seni juga’. Juga edukatif juga gawe adek-adek e. Jadi gak melulu diuruki anarki kek, gak melulu diuruki opo kek. Ben gak tambah parah lah intine,” ujar Bagus.

(Terjemahan: warga Malang harus tambah cerdas dalam menghadapi suatu permasalahan (atas tragedi Kanjuruhan). Tidak harus lewat (kegiatan) yang emosional (yang) akhirnya menjadi tidak teratur. Kalau (kegiatan) seperti ini kan bisa (di)baca sama adik-adik juga bisa tahu, oh ternyata mas-mas supporter yang galak-galak itu ternyata punya jiwa seni juga. Jadi tidak melulu diajari terlebih dahulu. Biar tidak tambah parah intinya).

Hingga selesainya acara, festival ini berjalan dengan lancar dan semarak. Gerimis yang sempat turun tidak menyurutkan antusiasme warga dan pengunjung untuk terus berdatangan. Pengunjung hadir dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, orang tua, mahasiswa, dan para pengamat serta aktivis HAM. 

“Acara seperti ini menurut saya adalah acara rakyat menggugat, dimana warga itu bisa protes atas situasi ketidakadilan, ini salah satu caranya, perasaan terlukai,  perasaan tidak adil itu dimunculkan dalam sebuah selebrasi bersama, ini bukan sekedar acara hura-hura saja, ini peristiwa mengenang kesedihan dan bermakna menimbulkan semangat kolektif warga untuk tetap semangat dalam menuntut keadilan dan percaya apa yang dilakukan dalam menuntut keadilan itu dapat tercapai,” ucap salah satu pengunjung yang tidak ingin disebutkan namanya saat memberi tanggapan atas penyelenggaraan acara tersebut kepada Tim ManifesT.

Keseluruhan rangkaian Festival Solidaritas Kampung Kota ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat dalam mengekspresikan emosi dan aspirasi yang dikelola melalui karya, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat lebih mudah tersampaikan ke telinga masyarakat dan pemerintah.

“Wujud protes itu harusnya lewat jiwa, selama ini juga bingung nyampeinnya (menyampaikannya) lewat mana. Menurutku yang bisa nyampe (sampai) ke telinga-telinga mereka (masyarakat dan pemerintah) itu bisa lewat karya seni. Nyanyian kek, lukisan kek, mural, seni jalanan, wes masuk kabeh,” tutur Bagus melanjutkan pendapatnya.

“Warga tidak otomatis dapat menuntut haknya mengumpulkan masa dalam solidaritas. Itu bukan hal yang mudah. Dengan ada acara ini dapat menjaga energi kebersamaan dalam rangka memupuk semangat dalam memperjuangkan keadilan, dan hal ini juga dapat menular pada kelompok masyarakat lainnya, tidak hanya di malang tapi juga di Indonesia. Sebab, tragedi ini bukan hanya tragedi sepak bola biasa tapi tragedi nasional dalam masalah pelanggaran HAM,” terang salah satu pengunjung mengungkapkan harapannya dari terselenggaranya acara ini.

Diketahui 5 (lima) Tersangka dalam Tragedi Kanjuruhan akan melaksanakan sidang perdana di Pengadilan Negeri Surabaya pada Senin, 16 Januari 2023. Koalisi Arek Malang beserta Warga Mergosono dalam acara festival ini juga berharap nantinya Tersangka diadili seadil-adilnya sehingga dapat segera menyelesaikan tragedi Kanjuruhan yang hingga kini masih menyisakan banyak masalah.

Reporter : Josephine Aprilia, Nail Dzikra Fata Robbani, Widia Rahmatul Fitri.

Editor: Zakiyyatu Fadzilla.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here