Home Berita Hujan Lebat, Pagar Makam Desa di Klaten Roboh

Hujan Lebat, Pagar Makam Desa di Klaten Roboh

84
0
SHARE

Manifest, Klaten (04/02/2021)- Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Desa Trasan, Kabupaten Klaten beberapa hari terakhir mengakibatkan robohnya sebuah pagar di salah satu makam di desa tersebut. Pak Munasir, salah satu warga Desa Trasan mengonfirmasi penyebab robohnya pagar pada makam tersebut adalah karena intensitas hujan yang tinggi disertai angin kencang yang terjadi sejak tanggal 3 Januari mulai pukul 12 siang hingga tengah malam, disamping fakta bahwa pagar di makam tersebut memang sudah tua.

“Pada saat dibangun, pagar makam itu tidak menggunakan semen tetapi hanya menggunakan lempung/tanah liat. Jadi, wajar apabila guyuran hujan yang sangat lebat mampu merobohkan pagar makam yang sudah tua itu,” ujar Lestari, salah satu warga di desa setempat. Akibatnya, pagar tembok menjadi kurang kokoh, apalagi ketika diterpa hujan disertai dengan angin yang cukup kencang.

Kerusakan pertama pagar tembok makam di Desa Trasan terjadi pada 28 Jauari 2021 hingga pada tanggal 4 Februari pagar tembok makam tersebut sudah roboh kurang lebih 5m. Robohnya pagar makam ini mengakibatkan banyak genteng cungkup (rumah kubur) yang rusak serta tembok di sekeliling pagar juga mengalami kerusakan hingga condong dan hampir roboh.

Warga Desa Trasan rencananya akan melakukan perbaikan dinding makan secara gotong royong mulai tanggal 12-14 Februari 2021. Pak Munasir, salah satu warga yang diberi tanggung jawab untuk mengurus masalah tersebut mengarahkan agar semua warga tetap mematuhi protokol kesehatan saat memperbaiki pagar tembok makam yang roboh.

Akibat kejadian ini, warga sekitar pemakaman merencanakan beberapa hal untuk memperbaiki tembok dan genteng yang rusak. Menurut narasumber di TKP, yaitu Pak Munasir, pada tanggal 12-14 Februari 2021 akan diselenggarakan kegiatan gotong royong. Gotong royong dilakukan tiga hari karena terdapat pembagian waktu. Alasan mengapa kegiatan gotong royong yang direncanakan ini perlu menggunakan sistem jadwal, antara lain agar protokol kesehatan tetap ditaati. Selain itu perbaikan juga dirasa tidak mungkin akan rampung dalam satu hari.

“Selain itu, menurut kami ini juga sangat efektif agar semuanya bekerja karena jika semua warga langsung terjun memperbaiki pagar termbok tersebut maka sudah dipastikan hanya akan ada beberapa warga saja yang bekerja sedangkan yang lain hanya duduk mengamati,” tambah Pak Munasir. (rfk/myg/ndy/fzh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here