Malang, ManifesT – Dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD), Aliansi Perempuan dan Rakyat Melawan menginisiasi aksi demonstrasi yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap kesetaraan gender serta hak-hak perempuan pada Sabtu (8/3). Aksi ini diawali dengan longmarch dari Alun-Alun Kota Malang menuju Kayutangan. Dalam aksi ini, para peserta menyuarakan berbagai tuntutan, termasuk kesetaraan gender di ruang publik.
Salah satu perwakilan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang juga tergabung dalam koalisi aksi, Mukaffi, menyampaikan alasan di balik partisipasi mereka dalam aksi tersebut.
“Kalo untuk demonstrasi kali ini, yang membuat motivasi ialah karena kita melihat bagaimana perempuan ini selalu di nomor duakan dalam peradaban. Padahal, dalam kenyataannya perempuan lah yang melahirkan peradaban. Kenapa perempuan harus dinomorduakan, tidak disetarakan?” tegas Mukaffi.
Mukaffi juga menyoroti tingginya angka kekerasan seksual yang tidak mendapatkan penanganan serius dari pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Banyak sekali pelanggaran kasus pelecehan seksual terhadap perempuan itu tidak pernah ditangani dengan baik. Bahkan instansi kepolisian sekalipun yang ada di beberapa jurnal yang pernah saya baca itu ada ribuan kasus pelecehan seksual yang ada di Indonesia yang sampai sekarang tidak dijalani. Hal ini menjadi indikator bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian Inilah yang menjadi tolok ukur kita, bagaimana seharusnya pemerintah saat ini harus lebih memperhatikan perempuan,” ujar Mukaffi.
Selain itu, Mukaffi juga menekankan pentingnya membangun kesadaran publik mengenai peran perempuan dalam masyarakat serta perlunya mengikis budaya patriarki yang masih menghambat perempuan.
“Kalo untuk dari aksi ini, terutama kita ingin membangun kesadaran publik terlebih dahulu. Bagaimana publik ini mampu melihat dari sekian banyaknya massa aksi bisa dilihat. Kebanyakan banyak diinisiasi dari laki-laki. Berarti kesadaran terhadap perempuan masih kurang, nah inilah yang ingin kami dorong supaya budaya patriarki yang selama ini menjadi kekangan-kekangan terhadap perempuan yang akan kita kikis. Karena jujur, sangat tidak manusiawi bagi perempuan untuk selalu ada dirumah. Karena perempuan yang melahirkan peradaban, tentunya juga perempuan wajib dimasukkan ke dalam struktur kemasyarakatan. Kalo perempuan selalu dinomorduakan, mau sampai kapan? Jadi mungkin kalo dari ini, kawan-kawan yang hadir di aksi ini mempunyai kesadaran,”terang Mukaffi.
Isu-isu yang dibahas tidak hanya terbatas pada peringatan International Women’s Day. terdapat sebanyak 27 tuntutan yang disampaikan, di antaranya sebagai berikut:
1. Ciptakan ruang aman dan inklusif untuk semua gender.
2. Sahkan UU PRT;
3. Naikkan UMR Buruh Perempuan;
4. Berikan cuti haid, hamil dan melahirkan;
5. Kuota 50% untuk perempuan di semua pejabat publik;
6. Kontrol dan #UsutTuntas tragedi kanjuruhan;
7. Berikan keadilan untuk korban perempuan dan anak dalam tragedi kanjuruhan;
8. Aborsi aman untuk korban Kekerasan Seksual;
9. Menuntut komitmen institusi pendidikan dalam mengusut kasus KS dalam ranah pendidikan;
10. Tunaikan hak perempuan dan anak dalam pengungsian dari dampak Agraria;
11. Berikan hak tanah, fasilitas pendidikan & kesehatan bagi masyarakat pengungsian Ex Timor timur;
12. Mewujudkan pendidikan gratis, ilmiah & bervisi kerakyatan;
13. Berikan kesehatan gratis;
14. Stop perampasan tanah adat & sahkan UU masyarakat adat;
15. Hentikan penggusuran terhadap masyarakat Barabaraya, Pakel, Padang Halaban, Jemboran, dan Naghale;
16. Hentikan keterlibatan lembaga agama dalam Eksploitasi alam;
17. Sahkan UU perampasan aset bagi para koruptor;
18. Tolak Program makan bergizi gratis ditanah papua;
19. Tolak transmigrasi di tanah papua;
20. Tarik militer organik dan non-organik dari tanah papua;
21. Tutup seluruh perusahaan di tanah papua;
22. Tolak Daerah otonomi baru di tanah papua;
23. Berikan hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa west papua;
24. Tolak makan bergizi gratis sebagai program prioritas dan berikan lapangan pekerjaan yang layak bagi masyarakat;
25. Tolak & Hentikan PSN;
26. Tarik militer dari ranah-ranah sipil;
27. Tolak revisi UU TNI.
Orasi dilanjutkan dengan harapan dari Marwasabu selaku salah seorang pihak dari AMP.
“Mungkin dari kami akan mengajak kaum perempuan yang belum sadar sampai saat ini. Terus kita lihat kebanyakan yang aksi demonstrasi kali ini kebanyakan laki-laki. Jadi kami mendorong dengan aksi ini untuk mengumpulkan massa khususnya perempuan. Bahwa pada saat ini, kita mengalami ketertindasan. Makanya dari aksi ini mudah-mudahan lebih banyak lagi kaum perempuan yang sadar akan ketertindasan saat ini,” terang Marwasabu.
Penulis : Muhammad Riyan Ramadhani
Editor : Zuchaira Pratiwi Tahir
Pimpinan Redaksi : Raynaldy Aulia Mahendra
















