Penulis : Elisya Karina Apriyanti
Awan mulai gelap, aku segera beranjak dari kebun untuk pulang. Sesampainya di
rumah, aku mendengar abah dan emak membicarakan tentang desa sebelah, dan aku tidak
tertarik dengan masalah itu. Biasanya desa sebelah berulah dengan menyebarkan isu bahwa
tanah desa yang kami tinggali terdapat banyak emas. Semenjak perbincangan itulah, banyak
warga desaku yang mencoba untuk menggali tanah. Namun, hasilnya nihil yang ada nyawa
merekalah yang hilang, entah kemana mereka semua yang mencoba mencari emas itu, hilang
seakan-akan di telan bumi begitu saja. Antara percaya dan tidak, aku sebenarnya penasaran
dengan hal yang terjadi di desaku saat ini. Ah yasudahlah, itu bukan urusanku saat ini, aku
memilih untuk memejamkan mata karena sudah terdengar suara burung hantu bertengkar.
Keesokan harinya, lagi dan lagi, emak dan abah menanyakan pendapatku tentang hal
yang sedang terjadi belakangan ini. Aku bingung, diri sendiri pun belum mengerti mengapa
banyak warga desa yang hilang. Akhirnya aku memilih diam dan pamit untuk pergi ke kebun.
Sampai di kebun aku kaget karena melihat adanya pohon beringin yang tumbuh di dekat
tumbuhan yang aku tanam. Aku ingat sekali, jika sebelumnya tidak ada pohon beringin di sini,
dan aku mulai berpikir apa aku salah kebun, ternyata tidak. Aku pun mencoba mendekati
pohon itu dan memastikan apakah benar itu pohon beringin. Ternyata memang benar, sejenak
aku terdiam dan mulai takut akan hal ini. Rasa takut tidak menghalangi rasa penasaranku dan
aku mulai berniat untuk menyelidiki masalah ini.
Sepulang berkebun pun aku langsung mengambil cangkul punya abah di teras rumah.
Tanpa pamitan ke emak dan abah, aku langsung menggali tanah di dekat kebun. Dengan
semangat aku menggali tanah sampai seketika aku merasakan ada yang seperti menarik
tubuhku ke dalam. Aku pun tak sadarkan diri. Membuka mata dengan melihat sekeliling
tempat, aku sangat terkejut karena menyadari bahwa tempat ini bukanlah tempat di mana aku
menggali tanah. Kebingungan entah kemana aku akan pergi, malam itu semakin gelap, hanya
sedikit api yang menjadi penerangan di sini. Rasanya aku pernah melihat keadaan seperti ini
sebelumnya, dan aku sadar ketika melihat rumah-rumah yang menjadikan obor api sebagai
penerangan, seperti latar suasana kerajaan yang ada di layar tancap yang sempat aku tonton di
desa.
Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba suara hentakan kaki
mendekat, aku pun langsung bersembunyi, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku
melihat Pak Parman tetanggaku yang hilang. Aku semakin yakin bahwa ini ada hubungannya
dengan masalah yang terjadi di desa saat ini. Setelah keadaan sepi, aku mulai melanjutkan
perjalanan, pelan-pelan agar langkahku tidak terdengar. Sambil melihat sekeliling, aku juga
melihat tetanggaku yang lain ada di sini, mereka yang hilang seminggu lalu, tetapi wajah
mereka sangat pucat.
Aku semakin bingung, sebenarnya ada di mana aku dan sedang apa mereka semua di
sini. Sesampainya di suatu tempat yang aku yakini itu adalah pusat dari tempat ini, aku
langsung mencari cara untuk masuk. Tetapi sangat sulit bagiku, karena tempat ini dijaga oleh
beberapa orang yang memiliki perawakan seperti prajurit kerajaan. Di sini aku juga tidak
melihat adanya TV dan alat elektronik lainnya. Hal ini membuatku semakin yakin bahwa
tempat ini bukanlah tempat yang ada di zamanku, melainkan sebuah kerajaan yang mungkin
dahulu ada di dekat desaku.
Lalu, aku mengintip dari jendela dan tercengang dengan apa yang aku lihat. Ada
banyak sekali batang emas yang terdapat di dalam tempat itu. Aku juga melihat ada dua orang
yang sedang membicarakan sesuatu, suara mereka terdengar olehku karena dinding ini tidak
setebal yang ada di desaku. Mereka membicarakan tentang waktu eksekusi orang-orang yang
mereka sebutkan, aku mulai khawatir dengan pembicaraan yang aku dengar itu. Firasatku pun
mengarah pada para tetanggaku yang ada di sini, aku bertanya sendiri apakah mereka yang
dimaksud orang itu, apakah mereka yang akan dieksekusi.
Benar saja, aku melihat para prajurit dan dua orang itu mulai mengambil panah dan
gong. Aku tidak bisa diam saja di sini, aku pun memberanikan diri untuk menghentikan
mereka, tetapi aku terkejut ketika mereka tidak menyadari keberadaanku. Aku baru sadar
bahwa diriku tidak terlihat oleh mereka yang ada di tempat ini. Aku mulai panik dan berpikir
bagaimana cara mengeluarkan warga desaku yang ada di sini dan tentunya menyelamatkan
mereka. Namun, aku pun bingung karena diriku saja tidak bisa dilihat oleh mereka. Aku
melihat ada Pak Parman di sana, ternyata Pak Parman bisa menyadari kehadiranku di tempat
ini. Pak Parman pun memberi kode berupa gerakan mata yang artinya aku diharuskan keluar
dari tempat ini. Aku tidak bisa pergi tanpa menyelamatkan semuanya, aku pun langsung
mendekati Pak Parman dan bertanya bagaimana cara keluar dari tempat ini. Beliau
menceritakan bahwa hanya ada satu cara, yaitu mengikuti aliran yang bisa membawa kita ke
pohon beringin.
Ketika aku bertanya pohon beringin yang mana yang beliau maksud, Pak Parman
hanya diam. Lalu aku langsung ingat dengan pohon beringin yang ada di kebunku. Saat itu
juga aku langsung merencanakan cara keluar dari tempat ini. Aku juga langsung meminta
kepada Pak Parman untuk mengumpulkan semua warga desa yang terjebak disini. Pak parman
pun setuju dan langsung mengumpulkan semuanya. Benar saja, mereka semua adalah warga
desaku yang hilang. Dikarenakan mereka semua tidak bisa melihatku, kecuali Pak Parman,
aku meminta Pak Parman untuk mengikutiku dan meminta agar mereka semua dapat
mengikuti langkah Pak Parman dengan cepat. Aku dan mereka semua langsung bergegas ke
tempat awal aku muncul, yaitu tempat penggalian yang menghubungkan tempat itu dengan
kebun.
Namun, ternyata tidak semudah itu, pasukan prajurit mulai mengejar kita semua, dan
kita pun mulai mempercepat langkah. Sampai ditempat berlubang itu, aku meminta Pak
Parman untuk membantuku menggali tanah tersebut dan memang benar inilah cara yang
dimaksud oleh Pak Parman. Akhirnya lubang itu selesai tepat dengan datangnya pasukan itu.
Tiba- tiba prajurit itu dapat melihatku, dan seketika panah itu tepat menusuk jantungku.
Seketika semua gelap dan aku tak sadarkan diri. Ketika membuka mata dan terbangun, aku
pun tersadar bahwa semua itu hanyalah mimpi burukku.














