Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi membuat seolah-olah tidak ada lagi batasan yang menghalangi interaksi antar individu di dunia. Hal ini tentu menjadi sebuah perkembangan yang tak terelakkan. Social media tidak lagi dikenal sebagai dunia alternatif untuk berkomunikasi, tetapi seakan-akan sudah menyatu dengan dunia nyata. Konsep batasan yang minim dalam social media memicu munculnya fenomena baru yang disebut sebagai “Parasocial Relationship”. Menurut Peter Suhr (2004), parasocial relationship atau hubungan parasosial adalah hubungan sepihak yang terjalin antara individu dengan figur publik, sehingga individu tersebut merasa memiliki hubungan pribadi dengan figur publik dan terpengaruh olehnya.
Parasocial relationship pertama kali diperkenalkan oleh Richard Wohl dan Donald Horton pada tahun 1956. Awalnya konsep ini diperkenalkan sebagai sebuah pandangan inovatif terhadap media dan komunikasi yang lebih dari sekadar pertukaran informasi linier. Mereka mengembangkan pentingnya hubungan antara pembawa acara radio dan televisi dengan khalayak mereka (Nabi & Oliver, 2009:224). Hal ini kemudian berkembang menjadi interaksi mendalam antara pendengar radio dan pembawa acara radio sehingga terjalin keakraban antar keduanya. Bahkan tidak jarang mereka merasa nyaman dan menceritakan banyak hal, seperti keresahan hingga kehidupan pribadi mereka, seolah-olah mereka mengenal baik karakter fiksi ini. Dari sinilah muncul istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan sepihak antara penggemar dan sebuah tokoh, dimana penggemar merasa memiliki hubungan kuat dengan tokoh tertentu. Lantas bagaimana perkembangan parasocial relationship saat ini?
Saat ini, parasocial relationship sudah menjadi hal yang biasa dan dialami oleh banyak penggemar kepada idolanya. Adanya social media seperti Instagram, X, Snapchat, Line, dan social media lainnya yang digunakan sebagai media promosi oleh selebriti dan tokoh publik tentu mendorong ketertarikan para penggemar. Hal ini juga menambah pola interaksi antar selebriti dan fansnya, terlebih dengan merebaknya fitur subscription, exclusive, dan lain-lain yang membuat para penggemar merasa spesial. Metode komunikasi melalui social media yang terus-menerus ditawarkan oleh para idola kepada penggemarnya ini tentu secara signifikan dapat menciptakan rasa ketertarikan bagi para penggemarnya. Semakin besar tingkat ketertarikan seseorang, tentunya menyebabkan semakin besarnya tingkat pemujaannya terhadap seseorang atau sekelompok selebriti. Hal itu pada akhirnya menjadi dorongan untuk menimbulkan perasaan intim dan dekat yang diimajinasikan oleh penggemar (Darfiyanti & Putra, 2012). Hal ini membuktikan adanya keselarasan antara tingkat ketertarikan dan pemujaan dari penggemar kepada para idolanya yang jika semakin tinggi, akan berpotensi besar menjadi sebuah hubungan yang lebih intim.
Proses terciptanya interaksi parasosial sangat berkaitan erat dengan bagaimana media membentuk identitas seseorang. Layaknya hubungan interpersonal, ada kaitan yang erat dengan intimasi dan rasa ingin untuk menjaga hubungan. Horton dan Wohl menyatakan bahwa interaksi parasosial adalah interaksi yang semu, di mana idola sengaja menggunakan dan mengatur kalimat sedemikian rupa seolah ada keintiman antara selebritas dengan penggemarnya (Hartmann & Goldhoorn, 2011). Selain itu, keberagaman acara yang disiarkan selebriti juga banyak memuat aktivitas dan cerita sehari-hari sehingga membentuk ikatan yang erat antara penggemar dengan idolanya. Namun, kedekatan tersebut sebenarnya tidak setara karena hanya bisa dirasakan oleh penggemar, beda halnya dengan hubungan interpersonal yang terjadi secara tatap muka dan berinteraksi secara langsung, hubungan parasosial ini hanya menimbulkan kedekatan dengan satu pihak yaitu penggemar. Hanya idola mereka yang dapat mengontrol seberapa dekat hubungan yang mereka inginkan.
Lalu bagaimana perkembangan parasocial relationship ini di Indonesia? Sebagai negara dengan penduduk berjumlah 275 juta jiwa, Indonesia menjadi salah satu fanbase selebriti terbesar di dunia, ditambah, dengan budaya fanatisme menyebabkan fenomena ini seolah adalah hal yang biasa, bahkan tidak jarang di social media terjadi perang antar penggemar yang membela idola mereka masing-masing, hal itu tentunya tidak sehat karena hanya akan memicu budaya hujat-menghujat tak berujung di sosial media. Meskipun perang antar fandom tidak bisa langsung diidentifikasi sebagai bentuk hubungan parasosial, tetapi ada beberapa kriteria yang bisa ditentukan yaitu salah satunya adalah tingkat keterlibatan.
Ketika menggemari seorang tokoh, tentu sangat wajar jika tingkat keterlibatan kita terbatas pada mengagumi, mengikuti akun sosial media, atau membeli merchandise. Akan tetapi dalam konteks hubungan parasosial, kita merasa mengenal idola kita secara pribadi, intens, dan intim, padahal kita belum bertemu sama sekali. Selain itu ada rasa memiliki yang mendorong kita untuk sangat melindungi atau bahkan cemburu hingga obsesif dengan idola kita. Hal ini tentu hanya masuk akal jika dilandasi oleh rasa kepemilikan para penggemar sehingga tidak ingin idolanya diganggu oleh siapapun dan menjadi defensif.
Di satu sisi, hal ini menjadi tidak sehat karena perasaan timbal balik yang dialami oleh fans hanya bersifat semu. Apalagi di beberapa kasus, tidak sedikit penggemar yang memandang idol-nya sebagai objek yang harus mencintainya dan melakukan apapun yang ia inginkan. Mereka merasa ada kedekatan yang intim yang mereka alami ketika idola mereka membagikan momen kesehariannya. Interaksi yang dilakukan secara berkala antara idol dan fansnya menyebabkan hilangnya segala batasan-batasan yang ada. Hal ini yang kemudian membuat mereka semakin terjebak dalam hubungan satu sisi tersebut, bahkan menjadi dinormalisasi ketika seorang penggemar mendapat tekanan dari fandom untuk memiliki satu hubungan dengan karakter atau tokoh publik yang mereka sukai.
Di sisi lain, tidak sedikit pula penggemar yang terbantu oleh adanya hubungan parasosial ini. Banyak dari mereka menjadi lebih semangat dalam menjalani hidup dan tidak merasa sendiri dengan adanya kehadiran idola yang menghiasi hidup mereka. Bahkan sering dijumpai para idola didukung para penggemarnya melakukan aksi campaign yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar, seperti gerakan sosial menjaga lingkungan dan pola hidup sehat. Contohnya adalah kasus fanbase idola K-Pop terkenal — BTS yang menanam 8.735 pohon bakau di Desa Bedono, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk perayaan ulang tahun idol mereka yaitu Jimin BTS, dimana Jimin dikenal sebagai sosok yang cinta lingkungan. Kasus-kasus seperti ini tentunya juga dilandasi oleh rasa memiliki para penggemar dan mereka yang ingin pasangan parasosialnya senang dengan tindakan yang mereka lakukan.
Pada akhirnya, dampak dari parasocial relationship memang memiliki pro dan kontra tersendiri. Oleh karena itu, kita harus bisa menjaga batasan dalam mengagumi atau menyukai suatu hal. Parasocial di satu sisi jelas dapat menimbulkan banyak masalah—khususnya masalah mental. Tak bisa dipungkiri hubungan ini hanya ada pada satu sisi saja sehingga sosok pasangan parasosial yang bahkan mungkin tidak mengetahui jika kita hidup dan ada untuknya. Tapi di sisi lain, banyak pula yang mendapat manfaat dari hubungan parasosial ini seperti adanya perasaan dukungan sosial, hingga semangat menjalani hidup. Hal ini dapat dirasakan khususnya bagi orang orang yang secara lingkungan sosial memiliki banyak masalah sehingga ia membutuhkan sosok yang memberikannya dukungan (support system) serta memberikan hiburan. Tidak hanya itu, dengan banyaknya penggemar, idola dapat memberikan pengaruh yang baik mulai dari social campaign hingga berbagai nasihat yang dengan senang hati akan diikuti penggemarnya. Hal tersebut tentu ada baiknya jika dalam kadar atau batasan yang baik.
Oleh: Satria Hidayatullah (Manifestor 2023)
Daftar Pustaka:
Jennifer Litner Ph.D, LMFT, CST. “Parasocial-relationship”
https://www.medicalnewstoday.com/articles/parasocial-relationships. Diakses pada 21 April 2024
Zafina, Nadzira, dan Annapurna Sinha. “ Celebrity-fan Relationship: Studying Taylor Swift and Indonesian Swifties’ Parasocial Relationships on Social Media”
https://www.tandfonline.com/doi/epdf/10.1080/01296612.2024.2304422?needAccess=true. Diakses pada 21 April 2024
Kumparan “Parasocial Relationship: Hubungan Satu Sisi Dengan Idola”
https://kumparan.com/zidna-ilma-nafia/parasocial-relationship-hubungan-satu-sisi-dengan-idola-1yBGFsh13tn. Diakses pada 22 April 2024
Focus mental wellness “What Are Parasocial Relationhip? The Pros and Cons of One-sides Affection”
https://focusmw.com/parasocial-relationships/. Diakses pada 26 April 2024
Ratnaning Asih “Jimin BTS Ultah, Army Indonesia Tanam Ribuan Pohon Bakau di Demak Jawa Tengah” https://www.liputan6.com/showbiz/read/4374150/jimin-bts-ultah-army-indonesia-tanam-ribuan-pohon-bakau-di-demak-jawa-tengah?page=2. Diakses pada 26 April 2024

















