Home Berita MMD UB 2024 Resmi Berjalan, Peserta Keluhkan Pendanaan

MMD UB 2024 Resmi Berjalan, Peserta Keluhkan Pendanaan

605
0
SHARE

Malang, ManifesT – Universitas Brawijaya memberangkatkan mahasiswa yang tergabung dalam program pengabdian masyarakat Mahasiswa Membangun Desa 2024 (MMD 2024) pada Senin (01/07). Program MMD 2024 yang mengusung tajuk “Mahasiswa Berkarya, Desa Berdaya” ini akan dilaksanakan selama 1 bulan, terhitung sejak 1 Juli 2024 hingga 1 Agustus 2024. Dalam program ini, mahasiswa akan melakukan pengabdian di berbagai desa yang tersebar di Jawa Timur.

Program MMD 2024 diikuti oleh 962 mahasiswa yang terbagi dalam 70 kelompok. 70 kelompok ini tersebar di lima kabupaten yakni Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Blitar. Mahasiswa didampingi oleh 35 Dosen Pendamping Lapangan (DPL). 

Mahasiswa nantinya akan melaksanakan program masing-masing yang telah disesuaikan dengan 18 Sustainable Development Goals (SDGs). Sebagaimana diketahui, SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan 17 tujuan atau goals yang telah ditentukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam rangka mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan manusia.

Program MMD 2024 sendiri mendapatkan antusiasme yang tinggi dari mahasiswa. Azza Arif Cahyanti misalnya. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UB (FISIP UB)  yang melaksanakan MMD di Kabupaten Banyuwangi itu sempat merasa kaget dengan penempatannya di ujung timur Pulau Jawa. Meskipun demikian, dirinya menyampaikan jika sejauh ini kelompoknya telah melakukan berbagai persiapan, di antaranya memastikan kepastian program kerja bagi setiap anggota kelompok sesuai dengan ketentuan.

Adapun pengalaman lain dirasakan oleh MSA. Dirinya merasa senang dengan pelaksanaan MMD Universitas pada tahun ini. Alasannya, melalui MMD yang diselenggarakan oleh Universitas, dirinya dapat bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru dari berbagai fakultas. Meski demikian, dirinya juga sempat merasa kebingungan karena informasi yang simpang siur.

“Perasaannya pasti cukup senang ya karena mendapat relasi yang baru, dimana dalam MMD universitas ini menggabungkan dari beberapa fakultas, dan hal tersebut menjadikan saya pribadi dapat bertemu orang baru. Kedua, itu menjadi suatu kebingungan karena dalam proses MMD 2024 ini masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, entah dari segi informasi maupun dari hal-hal yang mendukung tapi itu itu belum bisa dilaksanakan secara keseluruhan,” ungkap MSA.

Namun, pelaksanaan program MMD kali ini juga tak lepas dari berbagai kritikan dan evaluasi. Evaluasi yang cukup mencolok berkaitan dengan keterbatasan pendanaan bagi peserta MMD 2024. Diketahui pada tahun ini Universitas hanya memberikan dana bantuan sebesar satu juta Rupiah. Sedangkan dana yang dibutuhkan, baik untuk menyelenggarakan program kerja maupun untuk biaya sehari-hari sangat besar. Hal ini pun menjadi salah satu hambatan bagi peserta MMD, khususnya yang ditempatkan jauh dari Kota Malang.

“Hambatan yang saya alami itu sendiri adalah dari segi biaya karena sangat terbatas. Apalagi dengan kondisi dimana lokasi kami sangat jauh, untuk survei saja sudah habis banyak. Kami juga hanya punya satu motor karena keterbatasan dana dalam pengirimannya,” keluh Azza.

Hal serupa juga dialami oleh kelompok MSA (inisial), menurutnya, dana bantuan sebesar Satu juta rupiah yang diberikan oleh kampus untuk setiap kelompok tidak cukup, apalagi dengan adanya beberapa dosen yang mendorong mahasiswa peserta MMD 2024 untuk menghasilkan produk nyata.

“Estimasi saja satu juta dibagi empat belas orang, itu pun kurang dari seratus ribu. Sedangkan, kalo misal kita lihat sendiri atau kita itung-itungan tiap proker itu bisa menggunakan Rp110.000,00 sampai Rp150.000,00, bahkan lebih, dan hal tersebut belum bisa membackup program kerja yang kita laksanakan. Sedangkan di sisi lain ada dosen yang menganjurkan kita untuk menciptakan produk atau tidak berbentuk sosialisasi saja,” terang MSA.

Azza berharap agar pelaksanaan MMD UB ke depannya dipersiapkan dengan matang sebab membawa nama baik dari Universitas Brawijaya itu sendiri.

“Harapan kedepannya agar persiapan sebelum MMD dapat dilakukan dengan baik karena ini mengirim mahasiswa UB ke desa-desa juga (berarti) sama dengan membawa nama UB, maka saya berharap semuanya lebih persiapan dan bisa lebih baik lagi,” tegas Azza. 

“Harapannya dari pelaksanaan lancar ya, dari kerja sama tim, dari kerja sama antara kelompok MMD dengan masyarakat itu dapat berjalan dengan baik, dimana tidak adanya kesalahpahaman,  dan dari kampus sendiri semoga juga lebih baik kedepannya untuk mendukung kegiatan MMD karena sebenarnya tiang utama dari pelaksanaan MMD ini adalah dari hubungan kampus sendiri, kalau semisal dari kampus itu semisal masih pasif, ya kegiatan MMD pun akan pasif juga,” lanjut MSA.

Penulis: Raynaldy Aulia Mahendra

Editor: Marvella Nursyah Putri

Pimpinan Redaksi: Marvella Nursyah Putri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here