
Malang, ManifesT-Usai berjalan selama dua pekan, rangkaian Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) mencapai puncaknya pada Rabu (20/11). Pesta demokrasi yang diikuti oleh seluruh mahasiswa sarjana di Universitas Brawijaya itu diselenggarakan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM), serta anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Brawijaya (DPM UB).
Berdasarkan perhitungan suara yang diumumkan pada Rabu sore, Pemira 2024 dimenangkan oleh paslon Presiden dan Wakil Presiden EM nomor urut 1, yakni Azka Rasyad Alfatdi dan Muhammad Ghifari Aulia. Keduanya memperoleh suara sebesar 7.295 dari 14.875 suara masuk atau kurang lebih 49,04% dari total suara masuk.
Dengan angka tersebut, Azka-Ghifari mengungguli dua paslon lainnya, yakni pasangan calon nomor urut 3 yang memperoleh 5.042 suara dan pasangan calon nomor urut 2 yang memperoleh 1.464 suara.
Menanggapi perolehan suara tersebut, Azka berterimakasih kepada seluruh mahasiswa yang memilih dirinya.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak, sekali lagi untuk kemenangan yang kemudian saya peroleh dengan Mas Aghif, bukan semata-mata untuk kita berdua, tapi kita harus merangkul, no one left behind,” ujar Azka dalam wawancara doorstop yang dilakukan LPM ManifesT.
Lebih lanjut, dirinya memastikan terlaksananya rekonsiliasi di antara berbagai unsur untuk kemudian membentuk kabinet yang kolaboratif.
“Iya, kalau untuk terkait rekonsiliasi seperti ini. Pada dasarnya apa yang kami bawa di dalam janji-janji politik ini, kami sangat menekankan bahwa kami harus mengoptimalisasikan seluruh elemen yang ada di Universitas Brawijaya. Begitu juga dengan teman-teman yang tidak lolos dalam Pemira ini,” tegas Azka.
Di samping Presiden EM, Pemira kali ini juga memilih anggota DPM UB yang berasal dari 18 daerah pemilihan (Dapil). Meski demikian, sebagian besar anggota DPM UB terpilih secara “aklamasi” karena banyak di antaranya hanya diikuti oleh 1 hingga 2 calon, sedangkan masing-masing dapil memang terdiri atas maksimal dua anggota dewan. Hanya calon dari dapil FISIP, FIB, dan FILKOM saja yang benar-benar memperebutkan dua kursi anggota DPM karena ketiga dapil tersebut masing-masing diikuti oleh 3 calon anggota DPM.
Dari Fakultas Hukum sendiri, Mohammad Irfan Maulana dan Sultan Isjad Ubaidillah terpilih sebagai anggota DPM UB, dimana Irfan memperoleh 707 suara, sedangkan Sultan memperoleh 623 suara.
Salah satu perbedaan yang cukup mencolok pada pelaksanaan Pemira pada tahun ini ialah penggunaan sistem Tempat Pemungutan Suara atau TPS. Menurut person in charge Pemira 2024, yakni Muktiono, S.H., M.Phil., penggunaan sistem TPS dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kecurangan maupun kesalahan dalam proses e-Voting. Untuk memberikan pengamanan lebih lanjut, panitia pengawas disebar di setiap TPS.
“Tentunya hari ini panwas sudah bergerak di masing-masing TPS. Karna menang TPS nya offline, dan juga kami akan memastikan tidak ada hal-hal yang kemungkinan bisa menjadi lewat dari kami,” ujar Ketua Komisi Pemilihan Mahasiswa Muhammad Ikhsan Akbar.
Ikhsan berharap Pemira kali ini dapat menjadi bukti nyata komitmen Universitas Brawijaya sebagai Green Campus yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Ia juga mengajak semua pihak, termasuk pers, untuk terus mendukung transparansi dan partisipasi aktif mahasiswa dalam mewujudkan demokrasi yang lebih baik di lingkungan kampus.
Penulis: Raynaldy Aulia Mahendra dan Zuchaira Pratiwi Tahir
Editor: Raynaldy Aulia Mahendra
Pimpinan Redaksi: Marvella Nursyah Putri















