Home Berita Mahasiswa Pertanian UB Dorong Regenerasi Petani Muda Lewat Talkshow Ketahanan Pangan

Mahasiswa Pertanian UB Dorong Regenerasi Petani Muda Lewat Talkshow Ketahanan Pangan

150
0
SHARE
Talkshow Dialogista diadakan di Gedung Sentral 1.1 Fakultas Pertanian UB. (Foto: Ira)

Malang, ManifesT – Kementerian Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) menggelar talkshow bertajuk “Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan Nasional”, Jumat (07/11). Kegiatan ini menjadi wadah refleksi sekaligus ajakan bagi generasi muda untuk berperan aktif dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.

Theodoric Valentino Hartanto, selaku Ketua Pelaksana, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan PT. Pupuk Indonesia dan dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Tani serta Sumpah Pemuda.

“Kami ingin mengangkat kembali semangat pemuda dalam menjaga kedaulatan pangan, sekaligus menunjukkan bahwa Fakultas Pertanian UB dipercaya sebagai mitra strategis oleh berbagai pihak,” ujarnya.

Acara yang dikemas dalam program Dialogista tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Dr. Mochamad Syamsulhadi, S.P., M.P. yang merupakan seorang Akademisi Fakultas Pertanian, Heru Sutomo seorang praktisi pertanian, serta I Nyoman Sugidana seorang mahasiswa program magister yang juga anak petani.

Dalam pemaparannya, Dr. Syamsulhadi menyoroti besarnya anggaran ketahanan pangan nasional yang mencapai Rp139,4 triliun pada tahun 2025, naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2020. Namun, ia menilai peningkatan anggaran tersebut belum berbanding lurus dengan kenaikan produktivitas pangan nasional.

“Anggaran naik dua kali lipat, tapi produktivitasnya stagnan. Artinya, ada yang salah dari cara kita mengelola kebijakan pangan,” tegas Syamsulhadi.

Ia juga menyoroti lemahnya implementasi bantuan pertanian yang belum berbasis kebutuhan nyata petani. Menurutnya, kebijakan seperti pengadaan alat dan mesin pertanian sering tidak efektif karena tidak diiringi peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani.

Sementara itu, Heru Sutomo mengajak mahasiswa untuk mulai melihat sektor pertanian sebagai bidang masa depan. Ia menekankan bahwa pembangunan SDM jauh lebih penting daripada proyek infrastruktur semata.

“Pemerintah sering memilih program yang cepat terlihat hasilnya, padahal membangun SDM butuh waktu. Justru di situ peran generasi muda bagaimana menjadi pelaku yang inovatif,” ujar Heru.

Heru juga membagi kategori petani di Indonesia menjadi tiga, yakni petani pembelajar, petani perintis, dan petani pengikut. Ia berharap generasi muda dapat menjadi petani pembelajar dan perintis agar pertanian Indonesia tak lagi stagnan.

Sementara itu, I Nyoman Sugidana, menyoroti masalah alih fungsi lahan dan sulitnya akses pupuk bersubsidi. Ia menilai masalah regenerasi petani bukan sekadar karena anak muda enggan kotor, tetapi karena tidak adanya kepastian penghasilan.

“Banyak anak muda yang mau jadi petani, tapi mereka butuh jaminan harga dan kesejahteraan. Kalau hasil tani dibeli dengan harga layak, pasti lebih banyak yang mau turun ke sawah,” jelas I Nyoman Sugidana.

Penulis: Ira Tahir

Editor: Raynaldy Aulia Mahendra

Pimpinan Redaksi: Raynaldy Aulia Mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here