Home Cerpen Efek Padamnya Listrik

Efek Padamnya Listrik

1359
0
SHARE

Oleh: Fatika Alegra Dini

            Hari-hari di libur semester akhir tahun, saya hanya berada di rumah tanpa melakukan barang satu hal pun yang menarik. Bangun  tidur, makan, berkutat dengan ponsel atau menonton televisi seharian sambil makan camilan, lalu tidur lagi. Hal- hal itu seakan sudah menjadi rutinitas keramat hari-hari libur seorang saya. Bukannya melakukan sesuatu berguna, tapi malah menambah kadar lemak dalam tubuh. Bila diumpamakan seperti kegiatan pengangguran musiman, ketika sedang ada lowongan pekerjaan, maka bekerja. Jika tidak, ya menganggur seperti anak ayam kehilangan induk. Sampai suatu saat, Ibu memarahi saya karena jarang mandi dan hanya bermalas-malasan saja di kamar, persis seperti wedus katanya. Akhirnya, dengan berusaha keras melangkahkan kaki yang beratnya tiba-tiba setara dengan satu ton batu, saya mulai melakukan beberapa pekerjaan rumah.

            Suatu ketika saya sedang mencuci baju di kamar mandi, saya mendengar Ibu seperti sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Saya tidak dapat memastikan apa yang  Ibu sedang bicarakan dengan orang itu, tetapi Ia terdengar seperti orang “tak waras”, yang sedang berbicara sendiri dengan nada suara berubah-ubah pula. Sesaat terdengar gembira, lalu sedetik kemudian bergumam sendiri. Tak lama kemudian, lengkingan riang Ibu menutup percakapan tersebut. Saya yang penasaran, dengan tangan masih penuh sabun, berlari menuju ruang tengah untuk menanyakan dengan siapa Ibu berbicara di telepon.

              “Abang. Katanya mau pulang ke Batam. Tapi minta jemput ke sana.” Jawab Ibuku.

            Saya tersenyum kegirangan bak orang gila, disusul dengan hentakan pelan di atas lantai. Geraman kecil tertahan diujung bibir, lalu dengan gerakan cepat saya mulai menggerogoti pucuk kuku jari tangan. Apakah ini yang dinamakan, senang, riang, hari yang ku nantikan? Ah, kepada Tuhan yang Maha Mendengarkan segala curahan hati hambanya. Terima kasih. Akhirnya saya bisa keluar dari sarang ini setelah berabad-abad lamanya! Teriak benak saya. Satu alasan besar kenapa saya memutuskan untuk tetap berdiam di rumah sepanjang waktu, sebab kawan-kawan terdekat saya sudah banyak yang pergi ke luar kota atau pulang ke kampung halaman masing-masing sejak awal liburan. Dengan iming-iming cendera mata yang menggiurkan dari mereka,  sayapun dengan tololnya hanya mengangguk dan tersenyum canggung, tanpa mempertimbangkan dampak negatif selanjutnya. Bahwa saya hampir mati bosan.

              Setiap saya mengusulkan berlibur ke luar kota, pasti Ibu selalu menjawab, “Tunggu keputusan Ayah”. Karena saking banyaknya frekuensi  pertanyaan sama yang saya layangkan pada Ibu, Ia sampai mengomeli saya akibat gondok ditanyai terus-terusan. Yah, sayapun juga merasa seram ketika melihat delikan mautnya. Itulah mengapa hingga saat ini, saya hanya berdiam di kamar bak buaya bunting. Lebih-lebih, terkadang ketawa sendiri, menangis, meraung, bahkan marah-marah tak tentu arah, akibat menanggapi opera sabun yang menguras emosi di televisi.

              “Kita jadi ke Surabaya?”

              “Ya, belum tentu,” jawab Ibu. Tanpa aba-aba, senyum saya meluntur. Segala bayangan menyenangkan yang tergambar di kepala hilang seketika. “Ayah kan bisa langsung jemput dari Malang.” Lanjutnya sembari menyapu lantai.

            Saya membeku. Menatap ukiran abstrak pada keramik rumah dengan gamang. Tak lama, isi perut saya sekonyong-konyong naik ke arah kerongkongan, seperti mendesak mulut ini untuk mengeluarkan segala hal yang terasa memuakkan. Ibu yang merasa salah bicara, mendadak  menghentikan kegiatannya lalu menatap saya bimbang.

              “Lalu kenapa Ibu riang sekali menjawab telepon dari Abang? Bukannya Ibu senang karena Abang minta dijemput Ibu? Abang kan anak kesayangan Ibu.” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

            Perlahan raut wajah Ibu kembali normal. Tiba-tiba, tangkai sapu yang dipegangnya mendarat di kepala saya cukup keras. Saya meringis seraya menatap Ibu dengan ekspresi horor. Namun, Ibu malah melanjutkan kegiatan menyapu di ruang tamu seakan tanpa beban.

             “Jangan salah sangka. Ibu senang karena Abang bilang sudah membeli barang pesanan Ibu. Lumayan, Ibu tidak perlu keluar duit lagi untuk ongkos kirim kalau belanja di online shop.”

           Ya, inilah Ibu. Barang sale, diskon, dan ongkir gratis layanan Market Place dari Sabang-Merauke, adalah bahagianya yang hakiki.

               “Sudah sana! Lanjutkan cuci bajunya. Ya ampun, itu sabunnya netes-netes di lantai begitu. Bagian itu belum Ibu sapu, Dik!” Omel Ibu.

               “Ibu. Kita bisa pergi berdua saja tanpa merepotkan orang lain, kan?” tanya saya memastikan.

               Lap kuning yang dipegang Ibu untuk bebersih lantai tahu-tahu terlepas dari tangannya. Ia menarik napas dalam, lalu menatap saya dalam.

                “Masalah itu,” jedanya sambil mengambil lap yang tergeletak di lantai. “Kita bicarakan nanti saja, ya. Bagaimanapun, kita masih bagian dari keluarga Ayah. Butuh izin dari Beliau supaya bisa berpergian jauh” tutup Ibu.

                                                                            —–

             Saya baru saja keluar dari kamar mandi ketika Ibu sedang menyiapkan makan malam. Setelah menjemur handuk, saya membantu Ibu meletakkan nasi dan piring di atas meja. Tiba-tiba suara dering telepon rumah memecah keheningan. Ibu sedikit berlari menuju ruang tamu, sementara saya melanjutkan kegiatan Ibu menaruh lauk-pauk ke dalam piring yang sudah disiapkan.

                “Dik, Ayah mau bicara. Ke sini sebentar!” panggil Ibu.

            Tangan saya mendadak berhenti. Sedetik kemudian,  saya tersadar karena suara piring-piring yang sudah terisi lauk saling beradu masih berada di tangan. Saya masih tetap berdiri di atas lantai yang sama tanpa memiliki niat untuk melangkah barang sekalipun. Saya mendengar suara jejak kaki perlahan mendekati dapur, lalu terpaku pada sosok Ibu yang melihat saya dengan wajah khawatir.

               “Setidaknya,” Ibu menghentikan kalimatnya lalu mengelus kepala saya. “Adik tolong jawab salam dari Ayah dulu, ya” bujuknya.

            Saya mengangguk ragu lalu mulai beranjak pelan ke ruang tamu. Mengambil gagang telepon yang masih dalam keadaan telentang dengan tangan bergetar.

“Halo, Assalammu’alaikum. Ini Adik?” tukas Ayah di seberang sana dengan takjub.

               “Wa’alaikumsalam. Ya.”

               “Adik sudah makan?”

               “Belum. Baru mau makan.” Saya merasakan keringat membentuk genangan air di kening, lalu perlahan mengalir ke arah pelipis. Tangan kanan yang sedari awal sudah terkepal kuat, mulai basah dan  memberikan efek getaran yang tak dapat dikendalikan.

               “Oh. Ayah minta maaf ya,  sudah lama tidak memberi kabar kepada Ibu. Masih banyak pekerjaan dan urusan yang harus diselesaikan.” terdengar suara tawa kikuk Ayah. Saya diam ketika mendengar suara lembaran kertas yang dibuka dan gesekan pena yang beradu dengan kertas.

                “Ya, tidak apa-apa.” Saya melirik jam besar yang berdiri kokoh di samping sofa. Sudah pukul 8 malam.  “Sedang lembur?” tanya saya dengan nada pelan.

                “Eh? Iya. Kebetulan sedang ada proyek besar di kantor, jadi ayah sering pulang larut akhir-akhir ini.”

           Sedetik, 2 detik, 5 detik, lalu beralih ke menit. Diam menghantam situasi canggung di antara saya dan Ayah. Jarum jam berdetak terus-menerus, menghasilkan suara berirama yang mengisi dimensi tak kasat mata. Dimensi yang sudah lama tak saya sentuh karena sudah usang dan saya kubur dalam-dalam di tempat yang bahkan tidak seorangpun mengetahuinya kecuali Tuhan. Bahkan, saya sendiripun tidak ingin tahu keberadaannya. Tidak sudi untuk mengingatnya.

         Kedua mata terasa memanas. Gejolak kuat dari dalam diri ini sibuk meronta ingin lepas dari kekangan, tapi tertahan oleh rasa egoisme setinggi langit. Ketika saya mulai sulit mengendalikan napas, Beliau berbicara.

             “Ayah–” katanya terputus. Sesaat kemudian, terdengar suara isakan berat yang lambat laun menjadi tangisan. “Ayah minta maaf, Dik. Ayah salah. Salah besar.” Isakan semakin terdengar kuat kala Ayah mencoba berkata dengan suara yang terputus-putus. “Ayah mohon jangan benci ayah. Ayah sayang sama Adik.”

          Saya menggenggam erat gagang telepon, lalu setetes air mata jatuh di pipi kiri saya.

             “Ayah saya pernah berpesan untuk jangan pernah meyesali segala keputusan yang sudah kita tetapkan. Saya dan Abang tidak akan pernah menyesal untuk terus bersama Ibu walaupun Anda tidak bersama kami lagi. Karena itu, Anda tidak perlu menghubungi saya kecuali ada hal yang sangat penting ingin disampaikan. Anda cukup memenuhi segala kebutuhan kami karena itu masih tanggung jawab Anda.” Merupakan kalimat terpanjang yang pernah keluar dari mulut saya terhadap Ayah setelah insiden tiga tahun lalu.

            Gambaran-gambaran kejadian mulai memenuhi pikiran. Telinga saya mendadak tuli, digantikan oleh suara yang melatar belakangi amukan dan jeritan pilu Ibu karena ulah Ayah. Isakan yang sudah sejak tadi saya tahan pada akhirnya lolos juga.

              “Jangan terlalu sering lembur. Anda masih punya istri dan anak kecil di sana. Anak itu masih membutuhkan figur ayah yang baik dari Anda. Assalammu’alaikum.” Tutup saya.

            Saya duduk di atas lantai, memeluk kedua lutut yang sudah mati rasa sejak awal pembicaraan tadi. Membenamkan kepala di atasnya lalu mengeluarkan segala resah dari dalam dada. Saya tahu Ibu mendengarkan percakapan Ayah dan saya dari dapur. Tak beranjak sedikitpun dari sana, memberikan saya waktu sendiri untuk menenangkan diri.

                                                                           —-

             Akhirnya, saya dan Ibu sampai di Surabaya. Tepat setelah kejadian kemarin, tiba-tiba Ibu menyuruh saya berkemas seperlunya untuk persiapan menjemput Abang sekaligus liburan. Saat itu, saya yang sudah menangis berjam-jam, berakhir dengan amukan Ibu yang memaksa saya untuk makan malam. Beliau juga berkata bahwa Ayah sudah memesankan tiket pesawat untuk dua orang dengan penerbangan siang .

              Ketika kami tiba di tempat kos, Abang langsung menyambut Ibu dengan salaman dan membantu mengangkat koper. Begitu pintu kamar dibuka, pemandangan yang ada di dalam sana membuat Ibu terpekik. Sedangkan saya terkesima. Nyatanya keadaan ini jauh lebih parah dari keadaan kamar saya. Buku berserakan di atas tempat tidur, lembaran-lembaran kertas yang tersebar memenuhi ruangan, laptop yang tergeletak di lantai dalam keadaan hidup, serta tumpukan baju berbungkus plastik bening yang enggan disusun oleh empunya ke dalam lemari. Saya terbahak kencang kala Abang tersenyum canggung sambil menatap Ibu takut-takut, yang disusul dengan toyoran pelan di kepala saya.

              Keesokan harinya, kami memutuskan untuk mengunjungi Gunung Bromo dengan mobil sewaan. Karena perjalanan akan dimulai pada malam hari, Ibu mengusulkan untuk mengunjungi rumah teman lamanya di Sidoarjo. Hanya membutuhkan sekitar 1 jam waktu tempuh perjalanan menggunakan kereta api ekonomi lokal. Setelah itu, kami naik taksi ke rumah teman lama Ibu. Saya yang mengantuk sejak di kereta api tadi, memutuskan untuk tidur sejenak, hingga merasakan guncangan pelan dari samping dan mendapati Ibu berkata bahwa kita sudah sampai tujuan. Kami berdiri di depan sebuah rumah bercat krem dengan pagar hitam menjulang yang membatasi teras dan jalan. Ibu menekan bel, tak lama pagar tersebut dibuka oleh seorang wanita setengah baya bertubuh gempal. Saya pikir orang tersebut adalah kawan lama yang pernah Ibu ceritakan. Anehnya, sesaat wanita tersebut tampak tertegun dengan kehadiran kami, terutama saat menatap saya. Kemudian, Ia tersenyum ramah dan mempersilakan kami untuk masuk.

                “Sebentar ya, Bu. Saya  panggil si Mbak dulu di belakang” pamitnya.

           Hipotesis saya mengenai teman lama Ibu mulai berbuah keraguan. Bila wanita tua tersebut kemudian menyeduh tiga cangkir teh untuk kami dan berpamitan seperti halnya tadi, jelaslah Ia merupakan seorang pembantu rumah tangga. Barulah terlintas di benak saya, siapa teman lama Ibu? Apakah Ibu memiliki teman yang umurnya jauh di bawahnya?

            Saya meminum teh panas itu pelan-pelan, sambil memikirkan segala kemungkinan yang relevan. Saya memperhatikan keadaan sekitar. Ruang tamu yang berukuran cukup besar ini tampak tidak asing, bahkan ada sebuah jam besar yang berdiri kokoh di samping sofa, yang letaknya persis seperti di rumah. Menelusuri lebih detail merupakan gagasan yang sangat tolol. Dari atas meja konsul yang ditutupi oleh badan sofa, ada diri saya di sana. Terbingkai estetik oleh figura kayu berukirkan mawar, indah tapi menyakitkan. Waktu itu, saya tersenyum jumawa setelah berhasil melukis lautan di atas kanvas selama dua hari penuh. Salah satu karya terbaik saya. Berbanding terbalik dengan tampilan fisik yang awut-awutan, ekspresi saya mirip orang menang lotre 100 juta.

            Kedua mata saya terpejam erat, kala suara lembut seorang perempuan menarik saya kembali ke dunia nyata. Saya hendak meletakkan cangkir teh yang sudah kosong ke atas meja, saat penglihatan saya berfokus pada  perempuan muda yang terbelalak kaget melihat kehadiran kami.

               “Mbak Erin–” ucapnya terputus seperti menahan napas panjang. Air mukanya yang pias tidak meninggalkan kesan buruk sama sekali pada wajah cantiknya. Sampai di situ, pandangan perempuan tersebut beralih ke Abang,  lalu netranya menangkap kehadiran saya yang sudah memasang tampang dingin sejak awal.  Ia menatap saya dengan takut-takut lalu bertanya, “A-Asia. Kamu di sini juga?”.

            Satu kata untuk menggambarkan situasi ini, memualkan. Ingin sekali rasanya saya mengambil langkah seribu untuk keluar dari neraka ini. Diam. Hanya diam yang mampu saya lakukan saat ini. Saya melihat Ibu dengan gusar, memohon pertolongan. Tapi Ia malah membalas saya dengan tatapan penuh harapan. Dan saya murka. Tumpukan spekulasi bak benang kusut yang tergumpal di pikiran saya mulai menemui jalan keluarnya. Saya hendak bangkit dari tempat duduk ketika Abang menggenggam kuat tangan kanan saya. Dilanda panik, sayapun berteriak kesetanan. Ketika tubuh dan air mata tidak sejalan dengan logika, maka semuanya terjadi di luar kendali.

             “Lepas! Saya muak. Saya muak dengan kalian, tahu?!” teriak saya tak karuan. Saya melihat Abang yang ikutan panik berdiri sambil menahan saya dengan kedua tangannya. Kejadian tiga tahun lalu tiba-tiba tergambar jelas bagai proyektor yang jaraknya hanya satu kedipan mata. Gambar demi gambar bergantian naik turun seperti kaset rusak. Kenangan bersama Ayah menerjang tubuh saya dan berakhir dengan meninggalkan lubang besar yang tak bisa disembuhkan.

             “Anda tahu? Sejak tiga tahun lalu saya mengetahui Anda berstatus sebagai istri baru Ayah, saya menyadari bahwa semua itu akan menjadi akhir dari hidup saya.” Ucap saya pelan dan penuh penekanan.

             “Sejak  tiga tahun lalu saya diam. Ibu saya diam. Abang bahkan sempat tertinggal satu semester demi menemani perawatan mental saya di rumah sakit. Saya mengalami kesulitan tidur akibat terus-terusan mendengar tangisan Ibu tiap malam selama satu bulan!”  Saya menahan rasa sesak di dada yang sudah tidak bisa dipendam. Orang-orang di sekitar saya hanya diam, memandang saya dengan tatapan tak terbaca.

              “Selama tiga tahun ini, saya renungkan dalam-dalam. Mengapa harus saya orang yang membuka pintu rumah pada saat itu? Mengapa kalian datang di saat kami merayakan ulang tahun Ibu? Ah, ya. Lebih tepatnya mengapa kalian harus datang dengan membawa bayi dan mengatakan bahwa itu anak kalian?! Kenap–” kalimat saya terputus. Kejadian tersebut berulang kali menyerang pikiran saya saat ini. Kaset rusak sialan. Kepala saya mau pecah, tapi tawa saya menggelegar di seluruh ruangan.

               Saya menutup wajah dengan kedua telapak tangan yang bergetar, mengambil napas panjang. “Mengapa saya yang harus dekat dengan Ayah? Mengapa selama tiga tahun ini saya tetap diam, sementara saya jelas kehilangan salah satu orang yang paling berharga di hidup saya?”

          Meyakinkan diri untuk menjalani kehidupan yang baik itu sulit. Memulai kehidupan baru  jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Berbicara tentang berjalan di luar batas lingkaran dari siklus kehidupan, semua orang tahu itu beresiko. Tetapi, harus diakui bahwa kita membutuhkannya. Karena resiko timbul dari segala keputusan yang berasal dari diri kita sendiri dan berakhir untuk kita sendiri. Resiko itu dihadapi, bukan dihindari. Dengan itu, kita bisa mengukur diri apakah kita layak menjadi seorang manusia atau tidak. Orang yang berhasil menghadapi resiko adalah orang yang bertahan. Sedangkan orang yang menghadapi resiko tapi gagal, sudah cukup membuktikan bahwa ia bukan pengecut. Dan setidaknya, saya bisa membuktikan bahwa saya layak disebut manusia. Bukan pengecut!

           Sudah lama batin ini tertekan. Sudah lama pula tubuh ini berkeinginan kuat untuk memberontak. Dan lebih lama lagi pikiran ini telah merencanakan berbagai hal busuk yang cukup membuat saya menjadi seekor monster tak berakal. Tapi ingatan saya selalu kembali pada masa itu, masa dimana seseorang menasihati saya bahwa segala keputusan yang telah kita buat, jangan pernah sekalipun untuk disesali. Oleh sebab itu, saya bangkit. Bangkit menjadi pribadi yang baru. Menjalani dunia baru yang jauh berbeda dari asalnya.

          Saya sadar kalau sedang mengamuk saat ini. Saya juga tahu, segala sesuatu yang dihadapi dengan kepala panas tidak akan berjalan dengan baik. Kendati demikian, penyesalan ini semakin menjadi, begitu mengetahui betapa tidak bergunanya hidup saya bagi siapapun. Mati-matian saya menahan hasrat untuk mencabuti rambut dan mencakar-cakar pergelangan tangan yang sangat gatal sejak tadi, tapi  ditepis kuat oleh Abang. Ia sigap, seakan mengetahui jalan pikiran saya.

          “Assalammu’alaikum. Loh, Ma, ada tam–” ucap seseorang terbata.

            Maka, berdirilah Beliau di sana. Seseorang yang menjadi aktor utama sekaligus pencipta lingkaran setan ini. Matanya melebar. Jelas sekali menggambarkan keterkejutannya. Tiap detik terus beranjak, namun Ayah tetap bergeming sembari menatap saya lamat.

          “Bang, lepasin tangan saya! Saya mau pulang ke Batam.” Titah saya mutlak.

           Tak disangka, Ayah berjalan mendekat. Ia coba menggapai tangan kiri saya yang masih dalam cengkraman Abang. Refleks, saya menghempaskan tangan Beliau tanpa berkata apapun.

            “Asia, Ayah minta ma–“

            “Jangan sekali-kali Anda memanggil nama saya! Anda tidak berhak melakukan itu!!” pekik saya di depannya.

            “Dik, tolong dengarkan penjelasan Ayah du-“

            “Apa?! Apa yang ingin Anda jelaskan lagi? Menjelaskan bahwa Anda menyesal karena telah meninggalkan Ibu atau menyesal sudah membuang kami?” tantang saya.

            “Asia, Ayah–” kata-katanya terhenti ketika saya berteriak dan memberontak.

            “Sudah saya bilang jangan sebut nama saya!!”

         Saya mulai menendang ke segala arah, bersikeras melepaskan pegangan Abang yang semakin  kuat. Keadaan tambah runyam. Tiba-tiba, sensasi dingin menjalar di sekujur tulang punggung saya yang menghantam lantai. Saya menoleh ke arah langit-langit, merasakan kantuk yang perlahan menyerang. Teriakan, tangisan, dan gumaman, beradu menjadi satu. Membentuk alunan melodi yang khas, seakan merayu saya  menuju alam bawah sadar.

                                                                         —-

              “Aaaaaaaaarrrrrrrggghhhh!”

           Suara teriakan menggelegar terdengar dari sebuah rumah yang gelap. Tampaknya bukan hanya listrik dari rumah tersebut saja yang padam, tapi seluruh perumahan terkena imbasnya akibat mati lampu. Seorang wanita paruh baya yang mengenakan daster berlari tertatih-tatih ke arah kamar anak gadisnya dengan panik.

               “Kenapa?! Ada apa?!” tanyanya ketika membuka pintu dengan kekuatan bak wanita super. Wanita tersebut mengarahkan senter ke segala penjuru kamar dengan sapu sebagai senjata utama. Terlihatlah seorang gadis berperawakan tinggi dengan rambut yang seperti tidak diurus selama sepuluh tahun. Ia menangis histeris di atas tempat tidur dengan menekan wajahnya dalam-dalam ke bantal.

                “Ibu bagaimana ini?!” Adunya dengan napas satu dua. Niat hendak menghirup udara dalam-dalam, apalah daya terhalangi oleh ingus yang memenuhi hidung.

                “Apanya yang bagaimana?” balas wanita itu sembari berjalan mendekati kasur.

                “Mati lampu, Bu. Bagaimana ini jadinya?” rengek gadis itu semakin menjadi-jadi.

                “Ya kan, cuma mati lampu. Apanya yang bagaimana, sih?!” Sembur wanita tersebut sebab tak sabar melihat tingkah anak gadisnya yang kekanakan.

                “Saya tidak bisa melanjutkan nonton drama tadi. Padahal sedikit lagi mencapai penutupan! Saya harus tahu bagaimana kelanjutan permasalahan Anak dan Ayah ini. Apa mereka hidup bahagia bersama setelahnya? Atau melanjutkan kehidupan mereka masing-masing? Ah, kalau begitu tidak berakhir bahagia, dong!” Racaunya panjang lebar sambil sesekali mengusap bekas air mata akibat  efek berlebihan menonton drama.

           Wanita yang dipanggil ibu itu langsung menatap anak gadisnya nanar. Usahanya yang berlarian khawatir terbuang sia-sia kala Beliau menemukan anaknya berteriak frustasi, sebab tak bisa melanjutkan kisah drama pelik itu perkara listrik padam. Tanpa pikir panjang, wanita itu mengangkat tangkai sapu, berniat memberi pelajaran kepada sang anak. Belum sempat tangkai itu menghantam objeknya, gadis itu berteriak minta ampun. Ketika perhatian wanita tersebut teralihkan, dengan sigap anak itu berlari keluar kamar dengan kecepatan tinggi bak macan tutul.

                                                                        —-

           Gadis itu berdiri di pinggir lereng gunung yang dibatasi oleh pagar beton. Ia menutup matanya, merasakan semilir angin segar nan dingin yang menerpa wajah. Membayangkan kembali momen sang Surya yang berangkat ke arah singgasananya. Warna merah dan jingga yang sungguh memberikan ketenangan bagi jiwa. Ah, nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan! serunya dalam hati.

          Bila dipikir-pikir lagi, tayangan drama yang gadis itu tonton kemarin mengingatkannya mengenai rencana keluarga tersebut untuk mengunjungi Gunung Bromo. Alangkah sayangnya Ia tidak bisa melihat kelanjutan cerita tersebut.

          Banyak hal yang masih membuatnya penasaran. Kalau ditanya mengenai sebab-musabab dari drama itu, semakin banyak lagi pertanyaan yang bercokol di dalam kepalanya. Misalnya saja, apa yang menyebabkan si Ayah lebih memilih perempuan muda tersebut dari pada keluarganya? Mengapa si tokoh utama mengamuk bak kesetanan? Mencabuti rambut? Mencakar pergelangan tangannya sendiri? Kan, sakit. Apa sih yang si Ibu pikirkan ketika membawa anaknya ke rumah sang Ayah dan istri mudanya? Bagaimana kelanjutan dari kisah hidup mereka? Atau bahkan, sebenarnya apa tujuan penulis membuat kisah tak berbobot ini?!

           “Maunya kamu bagaimana?” tanya seorang laki-laki yang entah dari mana datangnya berdiri tepat di samping perempuan itu.

           “Ya, berakhir bahagia, lah!” Tukas perempuan itu berapi-api. Namun sesaat kemudian, Ia tersadar dari khayalannya. Lalu, melihat cepat ke arah samping kiri dan berjingkat kaget. Ia menutup mulutnya dengan sangat-sangat dramatis.

           “Kok Anda bisa tahu?!”

           “Apanya yang tahu?” balas lelaki itu santai sambil meminum kopi hangatnya.

           “Hal yang sedang saya pikirkan,” jawabnya tanpa mengubah raut wajah horornya. “Anda cenayang gunung, ya?” tanyanya setengah berbisik.

         Sesaat lelaki itu tampak terkejut, kemudian Ia tertawa geli untuk menormalkan ekspresinya.

           “Bisa dibilang begitu. Di sini juga banyak loh yang berprofesi sebagai cenayang Gunung Bromo. Akhir-akhir ini pekerjaan itu populer karena menghasilkan uang yang cukup banyak” jelas lelaki itu dengan nada serius.

           “Eh, sumpah? Wah bisa dicoba tuh” ucap perempuan itu ikut antusias.

           “Boleh, kok. Buktinya saja semua orang di sini sudah ikutan, bahkan orang tuamu juga.” Tunjuk lelaki tersebut ke segala arah.

         Yang perempuan itu lihat adalah ekspresi setiap orang bervariasi, menuju pada satu titik yaitu dirinya sendiri. Ada yang menatapnya aneh, ada yang melihatnya sambil menahan tawa, dan ada pula yang pias menahan malu. Wah, apakah benar mereka cenayang gunung?

         Wanita paruh baya yang dipanggilnya “ibu” itu perlahan berjalan mendekatinya dengan mata melotot tajam. Seketika ia merasakan nyeri luar biasa di bahunya. Ya, inilah yang namanya pukulan maut ibu. Sakit. Ia berteriak kesal, tapi tetap tidak diperdulikan oleh sang empu tangan. Ibu melemparkan senyuman kikuk kepada laki-laki muda yang berdiri di samping gadis itu.

           “Ibu kan sudah bilang, jangan terlalu sering menonton drama. Kenapa harus pakai teriak-teriak segala, sih?” Ibunya hanya menggeleng-geleng pelan sebelum kembali ke tempat duduknya.

          “Masa, sih?” tanyanya kepada diri sendiri seraya mengusap bahunya.

          “Jadi ini efek berlebihan nonton drama, ya” simpul lelaki itu.

       Perempuan itu hanya tersenyum masam mendengar sindiran retoris tersebut.

          “Omong-omong,” lelaki itu berhenti sejenak untuk membuang gelas karton bekas kopi yang Ia minum. “Kopi saya sudah tandas. Mau kopi lagi?” tanyanya dengan senyum yang luar biasa manis.

–TAMAT–


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here