Home Uncategorized Puisi : Kisah Temaram

Puisi : Kisah Temaram

427
0
SHARE

oleh Yoseph Madeliano Tua Gabe

Tak ada yang tau apa usulnya

Begitupun asalnya

Mungkin hanya pemahat

Juga Pasangannya yang mengerti

Lain sisi,

Waktu tak lagi Hari, Melainkan Malam

Tak lagi terang, Melainkan temaram.

Sekelebat memori terusik

Melihat asmara pasangan itu.

Terang atau Temaram

Tak penting bagi mereka.

Yang hati dan tangannya

Sudah disatukan, selamanya ?

Atau mungkin sampai tubuh mereka terhempas hancur ?

Sekelebat yang menghampiri berganti.

Berganti menjadi seluruh memori yang pernah menusuk.

Bukan pertama hal ini terjadi

Melainkan berpuluh kali.

Tetapi ada yang berbeda

Rasa dan kenangan.

Tak lagi pedih dan nyeri serta amarah

Melainkan bersyukur dan hampa serta senyuman.

Mungkin muncul beberapa wajah

Wajah yang sempat mengisi kisah perjalanan.

Tak perlu ditutupi

Hampir semua yang muncul sudah pergi atau akan pergi entah kemana.

Sempat ingin hati marah kepada yang di atas

Layaknya dahulu

Tersadar, harusnya syukur dan sebatas ejekkan bersahaja yang yang dilantangkan ke atas saat ini.

Memang mengacu pada umur dan pribadi.

Umur belum panjang tetapi otak seolah ingin tak lagi berumur.

Memang bodoh, tapi bodoh yang penuh kisah dan pelajaran.

Dosa ? itu bukan urusan manusia, itu urusan hakim atas kehidupan.

Mengapa tidak belajar dari sepasang itu

Yang tak peduli keadaan dan kondisi, tetap berdansa dan menikmati caranya hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here