Sumber: Dokumentasi Tim ManifesT
ManifesT, Kamis, (25/8/2022) – Setelah melewati masa pandemi Covid-19 yang mewajibkan seluruh kegiatan mahasiswa dilaksanakan secara daring, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) kembali menggelar diskusi publik bertajuk “Teras Marjinal: Diskusi Peran Mahasiswa dalam Menjawab Krisis Global” secara luring.
Acara ini diselenggarakan pada Kamis (25/8) dan bertempat di pelataran Gedung B Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dalam acara kali ini, diskusi dipimpin oleh tiga pemateri dengan berbagai perspektif akan tema yang diangkat.
Adapun tiga pemateri dalam diskusi ini yaitu, Rafly Rayhan Al Khajri selaku Presiden BEM FH UB, Serta Rifco Foseptin dan Evan Ray selaku Perwakilan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (DPM FH UB)
Lebih lanjut, kegiatan ini diprakarsai oleh para mahasiswa yang memiliki kesadaran akan pentingnya implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam hal ini, BEM berperan dalam mengadakan program kerja yang dapat meningkatkan kembali taraf intelektual mahasiswa.
Hal ini dinilai sebagai suatu yang relevan mengingat kultur mahasiswa saat ini perlahan hilang akibat pandemi Covid-19, khususnya mengenai salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Saat ini, mahasiswa dinilai cenderung memiliki orientasi yang bersifat transaksional, terlebih kebijakan pemerintah dianggap melanggengkan sifat individualistik. Evan Ray, Perwakilan DPM FH UB, menyatakan bahwa akan dilakukan tindakan lanjutan pasca-diskusi ini pada saat rangkaian acara September Hitam nantinya.
Selanjutnya, Tim Liputan ManifesT pun melakukan wawancara dengan peserta diskusi publik kali ini. “Seru sih kak, soalnya ada pendapat-pendapat yang berbeda, dapat sisi pro dan kontranya,” ungkap Fadel, Mahasiswa Baru Angkatan 2022 sekaligus salah satu Peserta Diskusi.
Diskusi perdana yang dilakukan pada era new normal ini diharapkan mampu menjadi ruang akademis yang tidak dibatasi untuk para mahasiswa. Kegiatan ini menjadi awal kembalinya iklim diskusi secara luring.
Selain itu, pun diharapkan mahasiswa bisa lebih memperluas pandangan dan memperdalam ilmunya lagi, tetapi tetap ingat akan perannya sebagai agent of change, serta border dari masyarakat—bukan hanya penyambung lidah rakyat, melainkan juga sebagai pengabdi pada masyarakat.
“Salah satu langkah kedepan saya adalah terus berpartisipasi aktif bersama teman-teman FH UB untuk memaksimalkan peran menjadi mahasiswa sebagai agent of change, insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat.” ucap M. Abdurrahman Al-Habsyi, salah satu Peserta Diskusi dari Angkatan 2020.
Penulis: Luhtitisari Lituhayu, Jibril Lanang
Editor: Tazkiya Lidya Alamri
Pimpinan Redaksi: Trian Marfiansyah
















