Home Tokoh Rohana Kudus, Wartawati Pertama di Indonesia

Rohana Kudus, Wartawati Pertama di Indonesia

464
0
SHARE

Rohana Kudus, dilahirkan dengan nama Siti Ruhana, pada tanggal 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, pedalaman Sumatra Barat, Hindia Belanda. Ia adalah wartawan perempuan pertama di Indonesia. Ayahnya, Mohammad Rasjad Maharadja Soetan adalah kepala jaksa Karesidenan Jambi dan kemudian di Medan. Rohana merupakan saudara tiri Sutan Sjahrir dan sepupu Agus Salim, intelektual dan politisi penting dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Ia juga bibi dari penyair Indonesia, Chairil Anwar. 

Meski tidak mengenyam pendidikan formal, Rohana sangat cerdas. Ia sering belajar dengan ayahnya yang selalu mengajarinya membaca dan studi bahasa, serta selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. Ketika ayahnya ditugaskan di Alahan Panjang, Sumatera Barat, ia belajar membaca dan menulis dalam aksara Jawi dan Latin serta keterampilan rumah tangga seperti membuat renda bersama tetangganya. Disana ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa. Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang diajarkan. Di umur yang masih muda, ia sudah bisa menulis, membaca, dan berbahasa Belanda. Rohana kembali ke Koto Gadang setelah kematian ibunya, Kiam, pada tahun 1987. Sejak itu, ia semakin tertarik untuk mengajar gadis-gadis di sana untuk belajar kerajinan tangan dan membaca Al-Qur’an, meski pada saat itu ia masih anak-anak. 

Pada tahun 1908, pada usia 24 tahun, Rohana menikah dengan Abdoel Koeddoes yang merupakan seorang notaris. Abdoel sangat mendukung upaya istrinya dalam mendidik perempuan. 3 tahun sebelumnya, pada tahun 1905, Rohana mendirikan sekolah artisanal di Koto Gadang. Pada tahun 1911, Rohana mendirikan suatu perkumpulan pendidikan perempuan yang lebih terorganisir, bernama Kerajinan Amai Setia. Sekolah ini terletak di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Sekolah Kerajinan Amai Setia secara khusus bertujuan untuk mengajarkan keterampilan baik itu di dalam maupun di luar tugas rumah tangga biasa, serta membaca tulisan Jawi dan Latin. Tentunya banyak tantangan yang ia hadapi dari berbagai sumber yang menentang perubahan dan kemajuan perempuan. Jatuh bangun Rohana memperjuangkan nasib kaum perempuan yang penuh dengan benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang. Fitnahan tak kunjung berhenti menyerangnya. Namun, hal tersebut justru membuatnya tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya. Rohana tetap bertahan hingga pada akhirnya ia berhasil merekrut sekitar enam puluh siswa. 

Sekolah Kerajinan Amai Setia mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda pada 1915. Sekolah ini kemudian juga menjadi pusat pengrajin untuk bekerja sama dengan pemerintah Belanda dalam penjualan karya mereka di kota-kota besar dan luar negeri. Banyak petinggi Belanda yang kagum atas kemampuan Rohana. Tak hanya berbagai kerajinan, Rohana juga menulis puisi dan artikel. Tutur kata serta wawasannya setara dengan orang yang berpendidikan tinggi. Ia menjadi topik pembicaraan di Belanda dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatra Barat.

Tahun 1912, Rohana mengirim surat kepada Soetan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, mengusulkan untuk memulai sebuah surat kabar yang berorientasi perempuan. Kegiatan pendidikan Rohana telah didengar oleh Maharadja. Maka dari itu, pada tanggal 10 Juli 1912, terbitan pertama Soenting Melajoe, sebuah surat kabar berbahasa Melayu diluncurkan. Rohana menjadi pemimpin redaksi, dibantu oleh putri Soetan Maharadja dan Zoebaidah Ratna Djoewita. Surat kabar tersebut bertujuan untuk meningkatkan tingkat pendidikan perempuan Indonesia. Utamanya karena masih sedikit dari mereka yang bisa membaca bahasa Belanda dan materi pendidikan modern yang tersedia dalam bahasa Melayu (Indonesia) relative sedikit. Soenting Melajoe terbit tiga kali dalam seminggu. Surat kabar tersebut membahas isu-isu sosial seperti tradisionalisme, poligami, perceraian, dan pendidikan anak perempuan. Penerbitan surat kabar ini mengilhami penciptaan lebih banyak masyarakat pendidikan seperti yang telah diciptakan Rohana pada tahun 1911. Dengan ini, Soenting Melajoe tercatat dalam sejarah sebagai surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur, dan penulisnya adalah perempuan. 

Kisah Rohana di Sekolah Kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama. Tahun 1916, seorang murid yang telah ia didik menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Rohana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi. Setelah beberapa kali persidangan tuduhan pada Rohana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, namun ia menolak dengan halus karena ia berniat pindah ke Bukittinggi. 

Rohana mendirikan sekolah di Bukittinggi dengan nama “Roehana School”. Muridnya cukup banyak dari berbagai daerah. Rohana sudah cukup populer dengan hasil karyanya yang bermutu dan jabatannya sebagai pemimpin redaksi Soenting Melajoe. Eksistensinya tidak diragukan lagi. Di Bukittinggi, Rohana kerap memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir dengan menggunakan mesin jahit singer. Dengan jiwa bisnisnya, ia juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri. Rohana adalah perempuan non tionghoa pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit singer. Seiring berjalannya waktu, Rohana juga mendapat tawaran mengajar di sekolah Dharma Putra.

Sepanjang hidupnya, Rohana menghabiskan waktu dengan belajar dan mengajar. Paradigma masyarakat Koto Gadang terhadap pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding bahwa perempuan tidak perlu menandingi laki-laki perlahan diubah. Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan oleh Rohana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki, namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Sebagai perempuan sejati, tentunya butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan. Maka dari itu, sangat penting adanya pendidikan untuk perempuan.

Rohana Kudus meninggal di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1972. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak. Pada tahun 1974, pemerintah daerah Sumatera Barat memberikan penghargaan kepadanya sebagai Wartawati Pertama. Tak hanya itu, pada tahun 1987, ia juga mendapatkan penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia dan Bintang Jasa Utama tahun 2007. Sejak 7 November 2019, pemerintah Indonesia mendeklarasikan Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 120/TK/2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here