Home Cerpen Mawar Kuning

Mawar Kuning

561
0
SHARE

“Aku harus bergegas ke kebun.” ucap anak perempuan itu sambil menata makanannya untuk dibawa ke kebun. Kebun teh itu berjarak tidak jauh dari rumahnya. Setiap hari, ia bertugas untuk mengantarkan makan siang pada ibunya. Ia hanya hidup berdua bersama ibunya, ayahnya sudah lama meninggal dunia karena penyakit jantung. Sekarang mereka berdua mencoba untuk bertahan hidup sambil mengandalkan satu sama lain.

“Intan, sudah datang kamu rupanya. Apakah dagangan kue mu tadi laris manis di pasar?” tanya salah satu petani teh yang bernama Pak Agus. 

“Saya bersyukur pak tadi di pasar dagangan saya banyak yang laku. Lumayan bisa membantu penghasilan ibu.” jawab Intan. 

“Mari Pak Agus, saya ingin menemui ibu sebelum makanannya dingin.” Pak Agus mengangguk. Intan menghampiri ibunya yang berada di sisi lain kebun teh. Rupanya ibunya sedang berbincang dengan petani teh yang lain. Samar-samar Intan mendengar pembicaraan ibunya dan petani teh.

“Saya sudah mendengar bu kalau harga beras di pasar naik jadi makin mahal.” ujar salah satu petani teh yang bernama Bu Marni. “Saya khawatir, bagaimana jadinya kalau beras mahal kita nanti makan apa?” lanjutnya. 

Petani teh yang lain mengangguk menyetujui ucapan Bu Marni. Ibu hanya menyimak dengan ekspresi murung. Intan lalu menyapa ibunya dan memberikan makanan untuk makan siang. Sebenarnya Intan sendiri juga sudah mengetahui bahwa harga beras sudah mulai naik. Ia bingung bagaimana cara memberi tahu ibunya. Banyak warga yang mulai khawatir, jika ingin membeli beras yang harganya lebih murah warga harus turun ke sisi gunung dengan perjalanan yang panjang. 

Saat kembali ke rumah, Intan berbagi kekhawatiran dengan ibunya. “Nak, tidak usah khawatir. Kita nanti bisa makan umbi-umbian saja.” ucap ibunya. Intan mencoba tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri bahwa mereka pasti bisa bertahan. Ibu dan Intan hanya hidup sederhana tetapi jika harga beras mulai naik mereka akan kesusahan juga. Sambil terus berpikir tentang permasalahan beras ini, Intan mulai membuat kue untuk dijual di pasar besok.

Keesokan paginya Intan mulai berjualan kue di pasar. Sepanjang malam Intan tidak bisa berhenti khawatir. Saat berhadapan dengan pelanggan, ia juga sempat kehilangan fokus. “Intan, hari ini kamu sepertinya kurang fokus. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Septi. 

“Septi, kamu juga tahu sendiri kalau harga beras sudah naik. Aku khawatir bagaimana nanti kedepannya, bagaimana jika aku tidak bisa membeli beras.” ucap Intan. 

“Aku dengar harga beras naik akibat dari kebijakan dari kepala desa. Dia bersama para juragan beras sepertinya sudah bersekongkol untuk menaikkan harga beras. Hidupku bakal jauh lebih susah, ibuku hanya berjualan buah dan ayahku malah tidak mau bekerja, dia hanya bermalas-malasan di rumah. Padahal aku sudah memarahinya agar segera mencari pekerjaan malah aku yang dimarahi balik.” ucap Septi dengan sedih. 

Intan memandang temannya yang menampilkan sorot mata yang sedih. Keluarga Septi yang bekerja hanya ibunya saja, Septi membantu ibunya berjualan buah sedangkan ayah Septi yang bernama Pak Samsul justru tidak mau bekerja. Intan tidak pernah mengerti alasan mengapa Pak Samsul tidak mau bekerja. Intan memang hanya hidup berdua dengan ibunya tetapi mereka berdua tetap mau bekerja keras untuk menambah penghasilan. Akhirnya mereka hanya bisa menguatkan satu sama lain.

Saat dalam perjalanan pulang dari pasar, Intan berniat untuk mencari udara segar guna menenangkan pikirannya. Setelah menjauhi pasar, Intan mulai menyadari bahwa ia ada di tengah kebun bunga. Intan bingung, ia tidak merasa pernah melihat kebun bunga mawar kuning tetapi disinilah ia berada. Kebun itu termasuk dalam ukuran kecil dan ditengah kebun bunga itu ada beberapa tangkai bunga mawar kuning. Meskipun merasa aneh, Intan pun mendekati bunga mawar kuning yang ada di tengah kebun. Ia berjongkok menghirup aroma bunganya. Lalu Intan berkata “Bunga ini indah sekali.” 

Tanpa sadar Intan mulai menghela napas dan mencurahkan keluh kesahnya. “Sekeras apapun aku mencoba tetapi aku tidak bisa berhenti khawatir tentang naiknya harga beras. Aku hanya takut bagaimana aku dan ibu bisa bertahan. Untuk membeli beras perlu mengeluarkan uang yang besar, itu pun belum untuk membeli kebutuhan yang lainnya, aku juga takut tidak bisa berdagang kue lagi. Semoga besok harga beras bisa kembali normal.” 

Intan menghela napas lalu berdiri untuk segera pulang ke rumah dan mencoba menenangkan diri. Betapa terkejutnya ia melihat bunga mawar kuning itu tiba-tiba menjadi berkilauan. Ia hanya bisa berdiri diam tidak berani menyentuh bunga itu, tanpa sadar Intan langsung berlari pergi. Intan tidak mengetahui bahwa ada yang menyaksikan aksinya. 

Keesokan harinya betapa kagetnya Intan mengetahui bahwa harga beras tiba-tiba kembali secara normal. Bagaimana bisa permintaannya terkabul dalam sekejap. Intan tersadar apakah ini berhubungan dengan bunga mawar kuning yang berkilauan itu. Septi pun tidak habis pikir tentang apa yang terjadi. “Kemarin aku menemukan beberapa mawar kuning, aku berharap agar harga beras kembali normal, mawar kuning itu berkilauan tetapi aku lari karena takut. Sekarang harga beras kembali jadi normal lagi keinginanku terkabul.” ucap Intan.

“Ah yang benar saja, mana mungkin karena bunga mawar kuning harga beras jadi normal. Tidak lama lagi kan ada pemilihan kepala desa pasti ini salah satu strategi agar kepala desa bisa terpilih lagi.” Walaupun memang tidak terdengar meyakinkan, Intan masih terus berpikir apakah ini berkaitan dengan keajaiban bunga mawar kuning. Setelah berjualan di pasar, Intan kembali ke kebun bunga mawar kuning tetapi ajaibnya bunga mawar kuning itu sudah tidak ada seakan sudah tercabut dari akarnya. Apakah ada yang mencuri bunga mawar kuning ini? Intan mulai berpikir bahwa tidak mungkin bunga mawar kuning bisa mengabulkan permintaan. 

Singkat cerita, tibalah hari pendaftaran calon kepala desa. Warga desa dikejutkan dengan pencalonan Pak Samsul karena warga desa tahu bahwa Pak Samsul adalah seorang pengangguran. Setelah pencalonan, Pak Samsul semangat berkampanye. Pak Samsul mulai membacakan visi dan misi untuk memperbaiki kebijakan desa. Pencoblosan kepala desa sudah dilakukan, warga desa menyaksikan perhitungan suara dengan antusias. Betapa kagetnya mereka mengetahui bahwa Pak Samsul mendapatkan suara terbanyak. Warga desa tahu Pak Samsul tidak mempunyai koneksi yang bisa membuatnya meraih suara terbanyak. Intan pun kebingungan, ia tidak bertemu Septi semenjak pencalonan Pak Samsul jadi ia tidak bisa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah Pak Samsul berbuat curang? Akhirnya mau tidak mau warga desa harus menerima kemenangan Pak Samsul. 

Setelah menjadi kepala desa, Pak Samsul tidak mengubah keadaan desa menjadi lebih baik. Pak Samsul menikmati seluruh fasilitas yang diberikan negara tapi ia tidak bekerja dengan benar. Harga beras mulai naik, fasilitas desa yang rusak justru diabaikan, mengabaikan aspirasi dan keluhan warga. Pak Samsul dengan sombong menikmati kekuasaan sebagai kepala desa. Sampai suatu hari ada laporan pada Badan Pengawas Keuangan (BPK) bahwa ada indikasi tindakan korupsi di desa ini. 

Kabar mulai menyebar, seluruh warga desa mulai berasumsi yang melakukan tindakan korupsi tidak lain tidak bukan adalah Pak Samsul. Asumsi itu terbukti benar, 3 hari setelah kabar beredar Pak Samsul mulai dijadikan tersangka tindak pidana korupsi. Ternyata yang melaporkan adalah para perangkat desa yang mulai curiga adanya perbedaan dana desa yang berasal dari pemerintah dan dana desa yang sampai di perangkat desa. 

Setelah Pak Samsul diperiksa oleh BPK, Intan mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Septi. “Septi apa yang terjadi? Apakah kamu baik-baik saja?” Intan pun bertanya.

“Seharusnya tidak seperti ini. Dulu ayah pulang membawa bunga mawar kuning karena ia ingin menjualnya lalu aku memberitahu ceritamu tentang bunga mawar kuning. Setelah itu ayah jadi bersemangat dan besar kepala. Ayah berkata bahwa ia menginginkan kekuasaan jadi ia menginginkan posisi kepala desa, ia juga mengatakan kalau bunga mawar kuning ini benar-benar bisa mengabulkan permintaan dan benar saja semenjak ayahku membuat harapan di depan bunga mawar kuning, bunga itu berkilauan, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Setelah itu, ayahku memenangkan pemilihan kepala desa. Jujur aku sendiri juga tidak percaya tetapi ternyata benar adanya. Bunga mawar kuning itu yang mengabulkan harapan ayahku seperti dia mengabulkan harapanmu Intan. Menurutmu apa yang harus kulakukan dengan bunga mawar kuning itu?” Septi akhirnya mengungkap kebenaran yang sulit dipercaya.

“Bagaimana kalau kamu bakar saja bunga mawar kuning itu? Kalau warga tahu mengenai bunga yang bisa mengabulkan harapan, desa ini bisa kacau balau.” Intan mencoba memberikan saran. 

Septi tidak berpikir lama, ia langsung pulang ke rumah dan membakar bunga mawar kuning itu. Keserakahan manusia memang tidak ada habisnya, mereka akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika menginginkan sesuatu raihlah dengan jujur terlepas dari apapun hasilnya karena perjuangan itu patut dibanggakan.

Oleh: Inez Harris (Mahasiswi FH UB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here