Malang, ManifesT-Hari kedua Rangkaian Acara Jelajah Almamater Universitas Brawijaya (RAJA Brawijaya) dilaksanakan pada Selasa (13/08). Selama pelaksanaan, aksesibilitas lingkungan kampus tidak dibatasi untuk mahasiswa, akademisi, dan siapa saja yang ingin memasuki lingkungan kampus. Seringkali ditemui mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas, bercengkrama, dan sekedar bersantai di setiap area kampus. Kebanyakan dari mahasiswa yang berada di kampus, menuju ke Creative Land UB pada saat jam makan. Beberapa juga memang bersinggah di Creative Land UB untuk melakukan aktivitasnya disana.
Creative Land UB merupakan Badan Usaha Non Akademik (BUNA) Universitas Brawijaya. Layaknya kantin pada umumnya, Creative Land menyediakan tempat bagi depot, UMKM, atau warung untuk menjual makanan dan minumannya. Variasi makanan dan minuman yang disediakan sangat beragam. Mulai dari makanan nusantara seperti soto, rawon, sate, dan ayam bakar hingga makanan luar seperti ricebowl, omurice, dan lain sebagainya. Namun, sayangnya cukup banyak tenant dan depot Creative Land yang tutup ketika pelaksanaan Raja Brawijaya. Rupanya dari pihak kampus sudah menginformasikan bahwa akan dilaksanakan rangkaian Raja Brawijaya 2024 kepada pedagang disana.
Di sisi lain, pedagang yang memilih untuk tetap berjualan pada saat rangkaian Raja Brawijaya beranggapan bahwa depotnya akan menjadi sasaran warga kampus pada saat jam makan. Namun, terjadi hal yang tidak terpikirkan sebelumnya yang membuat pedagang Creative Land sedikit kaget. Pada saat jam makan yang kebetulan banyak sekali orang yang membeli dagangan di setiap depot, terjadi sterilisasi area Creative Land lantai 1 dan 2 dikarenakan wilayahnya akan digunakan sebagai akses mobilisasi Mahasiswa Baru menuju Masjid Raden Patah untuk menunaikan Shalat.
Berdasarkan informasi yang didapat dari beberapa pedagang disana, sterilisasi area Creative Land merupakan pertama kali dari keberlangsungan Raja Brawijaya setiap tahunnya. Sehingga perlu ditanyakan, mengapa tahun ini sterilisasi area dilaksanakan? Informasi kedua juga didapatkan dari salah satu pedagang Creative Land lantai 1 yang menyarankan agar pihak kampus memberitahukan terlebih dahulu apabila terdapat sterilisasi area.
“Seharusnya pihak kampus memberitahukan kepada kami terlebih dahulu sebagai penjual apabila memang akan ada sterilisasi area saat jam makan supaya kami bisa mengantisipasi,” ujar Ibu Firda. Hal ini menunjukkan bahwa memang tidak ada himbauan dari kampus kepada para pedagang perihal sterilisasi area di jam makan.
Selain mengenai kurangnya informasi perihal sterilisasi area, terdapat beberapa kekhawatiran yang dialami oleh pedagang Creative Land saat berjualan di rangkaian Raja Brawijaya. Kekhawatiran tersebut adalah pendapatan yang dihasilkan menurun karena kurangnya pembeli apabila dibandingkan dengan masa aktif perkuliahan.
Tidak hanya pedagang Creative Land saja yang mengalami hal serupa. Beberapa pedagang kaki lima di sekitar UB juga merasakan hal yang sama. Beberapa pedagang kaki lima yang sehari-hari berkeliling di dalam UB, pada saat Raja Brawijaya berlangsung lebih memilih untuk menunggu pembeli di luar gerbang. Tentu saja dengan harapan agar mahasiswa baru lebih mudah untuk membeli dagangannya. Namun, kenyataan tidak berjalan demikian. Berdasarkan informasi yang didapat dari salah satu pedagang kaki lima, pendapatan yang didapatkan selama masa ospek justru menurun.
“Saya sudah berjualan bakpao selama 4 tahun dan saya memang bisa merasakan pendapatan saya lebih banyak pada saat masa aktif perkuliahan. Kalau sedang ospek begini, dagangan saya hanya dilewati,” terang Bapak Agus.
Merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pedagang UMKM yang harus menghadapi situasi ini. Menjadi hal yang perlu dievaluasi juga terkait inisiatif kampus supaya memberikan informasi terlebih dahulu kepada pedagang sebelum melakukan sterilisasi area sehingga pedagang dapat mengantisipasi penjualan dagangannya. Hal-hal kecil seperti itu seringkali diremehkan. Namun, menjadi hal yang penting bagi para penjual.
Penulis: Kirana Cahya Qolbi
Editor: Raynaldy Aulia Mahendra
Pimpinan Redaksi: Marvella Nursyah Putri















