Home Berita Merawat Ingatan, Warga Malang Gelar Malam Renungan Tragedi Kanjuruhan

Merawat Ingatan, Warga Malang Gelar Malam Renungan Tragedi Kanjuruhan

521
0
SHARE
Salah satu peserta aksi membawa poster bertuliskan “Has Ended With 135”. (Foto: Ray)

Malang, ManifesT – Aksi Kamisan dan Keluarga Korban Kanjuruhan kembali berkumpul untuk menggelar aksi simbolis bertajuk “Malam Renungan Perjuangan Mengusut Tuntas Tragedi Kanjuruhan” pada Kamis (13/05). Dalam aksi yang digelar di persimpangan Kayutangan ini, peserta aksi yang berasal dari berbagai kalangan menyalakan lilin, membaca puisi, dan menyampaikan orasi untuk mengingat Tragedi Kanjuruhan yang terjadi hampir 2 tahun silam.

“135 itu bukan hanya sekedar angka. Itu bukanlah jumlah ukt yang naik. 135 itu bukanlah jumlah mahasiswa yang diterima snbt. 135 korban jiwa 500 lebih orang luka-luka, meninggal secara tidak terhormat hanya karena nonton bola. Sampai detik ini, hampir dua tahun berjalan, belum ada kejelasan dari pemerintah. Belum ada keadilan yang diberikan,” ujar salah satu orator. 

Peserta aksi yang hadir juga membacakan ikrar secara bersama-sama untuk menegaskan bahwa mereka akan terus memperjuangkan keadilan untuk korban kanjuruhan, berapapun jumlahnya. 

“Jika ada ratusan orang yang memperjuangkan tragedi Kanjuruhan, maka pastikan kami di antaranya. Jika ada puluhan orang yang memperjuangkan keadilan untuk korban Kanjuruhan, maka pastikan kita di antaranya. Dan jika ada satu orang yang memperjuangkan keadilan, keadilan, untuk korban Kanjuruhan, maka yakinkan, maka pastikan, maka yakinkan dan pastikan, kita adalah orangnya. Hidup korban, jangan diam. Jangan diam, lawan,” ujar peserta aksi secara serentak.

Nuri Hidayat sebagai salah satu perwakilan keluarga korban menuturkan bahwa selama ini, gerakan untuk menuntut keadilan atas korban tragedi kanjuruhan sempat mengalami berbagai hambatan, baik dari dalam maupun luar. Satu diantaranya, yakni adanya perselisihan di antara keluarga korban itu sendiri karena framing berita yang multitafsir dalam memberitakan pengesahan Yayasan Korban Tragedi Kanjuruhan (YKTK).

“Wartawan yang ngeframing dari jauh, di foto aja nggak ada kata-kata, ya otomatis berita ambigu, orang-orang berkesimpulan sendiri sendiri, di keluarga korban pecahlah, dibilang Yayasan itu dibuatkan polisi lah, apa gimana gitu,” jelas Nuri Hidayat. 

Pada saat ini, perselisihan itu telah usai dan keluarga korban kembali kompak untuk memperjuangkan keadilan bagi para korban. Lebih lanjut, menurut Nuri Hidayat, partisipasi dan semangat gerakan yang didukung oleh mahasiswa memberikan dorongan motivasi bagi keluarga korban untuk terus menyuarakan keadilan atas Tragedi Kanjuruhan.

“Dua kali aksi ini yang betul betul menyentuh disini, kamis kemarin, dalam kondisi hujan, adik adik mahasiswa, adik adik pergerakan, supporter itu ikut berjuang gini. Terus hari ini, malam, kalian besok kuliah atau bagaimana, tapi kalian tetap datang ke sini menyuarakan. Setidaknya dengan disuarakan, walaupun dengan setingkat di kampus, informasi di kampus itu sudah mendukung. Selama ini acara acara itu selalu didelete dari berita,” ungkap Nuri Hidayat.

Meskipun dirinya tidak yakin bahwa keadilan dapat tercapai sepenuhnya, Nuri Hidayat menyatakan akan terus memperjuangkan keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan. Dirinya juga menegaskan bahwa aksi-aksi yang selama ini dilakukan bukan untuk mencari muka, melainkan sebagai upaya untuk terus menyuarakan keadilan yang tidak kunjung didapatkan oleh korban Tragedi Kanjuruhan.

“Harapan ke masyarakat Malang, kita orasi, kita demo, kita bikin ini, bukan untuk mencari tampang, bukan untuk mencari muka, bukan untuk mengacaukan suasana, tapi kita untuk merawat ingatan, supaya kita tetap semangat dan tidak lupa untuk mencari keadilan untuk anak-anak kami, itu aja,” tegas Nuri Hidayat.

Penulis: Raynaldy Aulia Mahendra

Editor: Marvella Nursyah Putri

Pimpinan Redaksi: Marvella Nursyah Putri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here