Home TAJUK Timor Leste Resmi bergabung ASEAN, Kenapa Baru Sekarang?

Timor Leste Resmi bergabung ASEAN, Kenapa Baru Sekarang?

133
0
SHARE

Setelah penantian panjang selama 14 tahun, Republik Demokratik Timor Leste akhirnya resmi menjadi anggota ke-11 Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Momen bersejarah ini diumumkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, 26 Oktober 2025, menandai ekspansi pertama blok tersebut sejak penerimaan Kamboja pada 1999.

Bagi rakyat Timor Leste, keanggotaan ini adalah “mimpi yang menjadi kenyataan”, kata Perdana Menteri Xanana Gusmao. Namun bagi para pengamat dan analis, pertanyaan penting muncul: Mengapa proses Timor Leste menjadi anggota penuh ASEAN memakan waktu begitu lama?

Proses Panjang Menuju Keanggotaan

Timor Leste mulai mengajukan permohonan keanggotaan sejak 2011, hanya sembilan tahun setelah restorasi kemerdekaannya dari Indonesia pada 2002. Ramos-Horta selaku presiden Timor Leste periode 2007-2012 mengatakan bahwa tekad Timor Leste sudah mantap  untuk menjadi anggota ASEAN. Namun dia menyadari perjalanan menjadi anggota “bukannya tanpa rintangan”, ia juga menyinggung soal “kurangnya sumber daya manusia” dan infrastruktur di negaranya. 

Meskipun begitu, dukungan regional, terutama dari Indonesia dan Malaysia, sudah kuat sejak awal. sayangnya, antusiasme tersebut tidak merata di kalangan anggota ASEAN lainnya. Selama lebih dari satu dekade, aplikasi Dili tertahan oleh berbagai pertimbangan—utamanya dari negara-negara anggota yang lebih maju secara ekonomi seperti Singapura.

Faktor terbesar di balik penundaan adalah kesenjangan pembangunan. ASEAN bukan hanya komunitas politik, tetapi juga kawasan ekonomi yang terintegrasi dan kompetitif. Dengan PDB per kapita yang masih jauh di bawah rata-rata ASEAN, ekonomi Timor Leste sangat bergantung pada pendapatan dari sektor minyak dan gas yang semakin menipis. Tingkat kemiskinan, pengangguran, serta minimnya infrastruktur membuat beberapa anggota khawatir Timor Leste akan lebih menjadi “beban” ketimbang kontributor. Mereka meragukan kapasitas Dili untuk memenuhi komitmen keuangan, menghadiri ribuan pertemuan tahunan ASEAN, dan menjalankan berbagai program kewajiban anggota.

Selain masalah ekonomi, kapasitas birokrasi dan sumber daya manusia juga jadi pertimbangan yang tak bisa dikesampingkan. Untuk terlibat secara penuh, Timor Leste harus memperkuat aparatur sipilnya yang relatif kecil agar mampu menangani negosiasi teknis, menerapkan ribuan standar regional (mayoritas berbahasa Inggris), serta membuka kedutaan besar di semua negara anggota, hal ini tertuang sebagai syarat administratif untuk menjadi anggota ASEAN

Aspek Politik, Keamanan, dan Prinsip “ASEAN Way”

Dari sisi politik, kekhawatiran lain muncul karena prinsip utama “ASEAN Way” yang berbasis pada non-intervensi dan konsensus. Timor Leste yang dikenal demokratis dan lantang dinilai dapat memperumit proses konsensus, apalagi di tengah dinamika isu Myanmar dan konflik Laut Cina Selatan. Perbedaan pendekatan pada isu demokrasi dan HAM berpotensi menjadi tantangan tersendiri.

Dari segi keamanan, status Timor Leste sebagai negara muda dengan institusi yang berkembang juga menimbulkan kekhawatiran rentan terhadap pengaruh eksternal atau menjadi celah baru bagi kejahatan lintas negara seperti perdagangan manusia dan pencucian uang.

Titik Balik dan Persiapan Akhir

Titik balik terjadi saat KTT ASEAN di Phnom Penh, November 2022, saat para pemimpin ASEAN secara prinsip menyetujui keanggotaan Timor Leste dengan syarat Dili memenuhi Road Map komprehensif yang telah disiapkan ASEAN. Road Map ini mencakup kesiapan di bawah tiga pilar utama: Politik-Keamanan (APSC), Ekonomi (AEC), dan Sosial-Budaya (ASCC).

Selama tiga tahun terakhir, Timor Leste giat melakukan reformasi mulai dari menyesuaikan peraturan nasional, memperkuat pelatihan bahasa Inggris untuk diplomat, dan meningkatkan infrastruktur. Dukungan dari Indonesia dan Malaysia turut mempercepat proses persuasi ke anggota lain yang sebelumnya skeptis.

Dampak bergabungnya Timor Leste ke ASEAN

Bagi ASEAN, penerimaan ini menegaskan inklusivitas dan tekadnya untuk menyatukan seluruh negara Asia Tenggara. Blok ini kini lengkap, membuka peluang baru untuk memperkuat solidaritas dan pertumbuhan kawasan.

Bagi Timor Leste, 26 Oktober 2025 adanya Keanggotaan ini menjadi pintu akses ke pasar ASEAN dengan volume dagang senilai USD 3,8 triliun, peluang investasi, dan saluran diplomasi multilateral. Namun, pekerjaan rumah besar menanti: mempercepat reformasi internal dan memastikan kesiapan untuk tidak hanya menjadi anggota, tetapi juga menjadi bagian aktif dan kontributif dalam keluarga besar ASEAN.

Penulis: Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here