Home Berita FACT Senada BEM FH UB Angkat Sound Horeg hingga Karya AI

FACT Senada BEM FH UB Angkat Sound Horeg hingga Karya AI

149
0
SHARE
Selain mengangkat isu-isu budaya, FACT 2025 juga menampilkan pojok kreasi yang dapat diikuti oleh pengunjung (Foto: Gery)

Malang, ManifesT– Kementerian Seni Budaya (Senada) BEM RDM FH UB resmi membuka pameran kesenian dengan nama Festival of Arts and Culture (FACT) pada Jumat (31/10). Tema yang diangkat pada pameran kali ini merupakan “Rupa Rasa Nusantara”, dengan konten pameran yang berasal dari berbagai sumber, mulai dari karya tulis produksi Kementerian Senada yang diambil dari tulisan-tulisan InformARTion, hingga karya seni lukis para mahasiswa.

InformARTion sendiri merupakan sebuah program kerja edukasi secara digital yang digagas oleh Kementerian Senada untuk periode kepengurusan saat ini. Mengusung bentuk informatif seperti halnya majalah dinding, InformARTion bertujuan untuk mengedukasi mahasiswa FH UB mengenai isu-isu kesenian yang marak terjadi saat ini. Selain itu, InformARTion juga memberikan edukasi mengenai budaya-budaya yang ada di Nusantara.

“InformARTion yang ada di panel-panel ini merupakan recap dari mading digital kita selama satu periode ke belakang, yang kita kemas lagi dengan cover dan juga hard file. Jadi sehingga orang bisa melihat langsung apabila sedang menuju ke kampus gitu,” jelas Reynard Rafael Demas Purba selaku ketua pelaksana Festival of Arts and Culture.

FACT dapat ditemui di Ballroom Munir, Gedung B, Fakultas Hukum. Saat masuk, pengunjung akan disuguhi berbagai panel yang didirikan mengelilingi pameran. Isi mading yang ditampilkan pun beragam, mulai dari isu-isu budaya sound horeg, isu politis seperti represi aparat terhadap ekspresi kesenian, hingga isu mengenai karya seni dari Artificial Intelligence (AI). Isu-isu tersebut diangkat untuk meningkatkan awareness mahasiswa tentang topik-topik budaya.

“Lebih tepatnya sebenarnya pengenalan budaya juga sih, kayak awareness kita tentang beberapa budaya, yang sekiranya sudah mungkin bisa dibaca ya, ada beberapa berita ataupun isu nggak cuma selamanya terkait dengan copyright, ataupun terkait dengan bermasalah dengan hukum, namun melainkan juga pengenalan-pengenalan budaya baru,” terang Rey.

Selain itu, terdapat juga pameran karya seni lukis yang ditempatkan di tengah pameran. Karya-karya seni lukis ini sendiri masing-masing dibuat oleh mahasiswi FH UGM angkatan 2022 dan mahasiswa FH UB angkatan 2023. 

Selain pameran karya seni, Kementerian Senada juga menyediakan pojok kreasi kepada para pengunjung untuk mengekspresikan kreativitas artistik mereka melalui melukis secara bebas. Di pojok itu juga disediakan berbagai permainan tradisional yang dapat dimainkan oleh para pengunjung, seperti congklak dan gasing.

Tentu saja, di balik jalannya FACT ini pun terdapat tantangan-tantangan tersendiri yang mesti dihadapi oleh Kementerian Senada.

“Selama Festival of Art and Culture ini, yang sebenarnya sulit untuk kita paling untuk kurasi lukisan aja. Karena ada beberapa submitter yang sekiranya, ‘maaf lukisannya karyaku digital,’ sedangkan kami mencari karya seni rupa lukis [fisik],” ungkap Reynard.

Reynard juga menambahkan bahwa pengajuan karya lukis untuk FACT tidak dibatasi untuk mahasiswa/i FH UB saja, tetapi dapat dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswi dari universitas manapun. Hal ini dibuktikan lewat dipajangnya karya seni lukis oleh Ratu, seorang mahasiswi dari FH UGM pada pameran FACT kali ini.

Selain itu, terdapat juga keterlambatan penyelenggaraan acara, di mana pameran yang direncanakan untuk dibuka mulai tanggal 30 Oktober ini baru dibuka untuk umum pada keesokan harinya.

Terlepas dari tantangan dan kendala tersebut, pameran seni Festival of Arts and Culture pada akhirnya dapat berjalan dengan lancar. Melalui program ini, diharapkan Kementerian Senada dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa/i dan memberikan edukasi yang berguna seputar kesenian, agar dapat membantu dalam membangun awareness mahasiswa/i, terutama mahasiswa/i FH UB, seputar isu-isu kesenian.

Penulis: Chellina Latasha Benjaminsz, Gery Andriano

Editor: Zuchaira Pratiwi Tahir

Pimpinan Redaksi: Raynaldy Aulia Mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here