Home Berita Malang Memperingati May Day, Hadirkan Musik hingga Tuntutan Kesejahteraan

Malang Memperingati May Day, Hadirkan Musik hingga Tuntutan Kesejahteraan

163
0
SHARE
(Gelombang suara perjuangan Mahasiswa dan Buruh di depan Balai Kota Malang pada hari buruh. Foto: Rausyan)

Malang, ManifesT –  Jumat (01/05/2026). Peringatan Hari Buruh Internasional pada tahun ini telah sekali lagi membawa massa di berbagai daerah untuk turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya, tak terkecuali di Kota Malang.

Kali ini, aksi yang diikuti oleh sekitar 600 mahasiswa dan 200 buruh meramaikan wilayah sekitar Balai Kota Malang, dengan pihak massa menyampaikan berbagai tuntutannya terhadap pemerintah di hadapan publik secara terbuka.

Tahun ini, aksi damai peringatan Hari Buruh Internasional dilaksanakan oleh Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, sebuah aliansi yang dibentuk oleh berbagai kelompok mahasiswa dari berbagai universitas, solidaritas buruh dari sekitar empat perusahaan berbeda, dan para kolektif berbeda yang berada di Malang.

Pembentukan aliansi ini sendiri bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, pihak Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu menilai bahwa terbagi-baginya fokus pada aksi di tahun-tahun sebelumnya membuat upaya mencapai tujuan bersama tidak optimal.

“Kita mengutamakan tujuan kolektif bersama kita, dan kita gabungkan melalui aliansi ini,” ujar perwakilan dari Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu.

Dalam pelaksanaannya pun, peringatan Hari Buruh Internasional pada tahun ini membawakan pembaharuan dibanding sebelumnya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, aksi tahun ini tidak hanya terdiri dari rangkaian long march, unjuk rasa, dan orasi sebagaimana umumnya, tetapi juga penampilan seni musik yang dibawakan oleh para peserta aksi.

Zaky, salah seorang koordinator lapangan pada aksi kali ini, menjelaskan bahwa penampilan seni musik ini adalah hasil kesepakatan aliansi bahwa aksi kali ini bukan hanya berbentuk perjuangan, tetapi juga seremonial.

“Konsep musik kolektif jalanan ini kita adopsi dari May Day-nya di tahun Jakarta tahun lalu,” ujar Zaky ketika ditanya terkait penampilan musik pada peringatan May Day kali ini.

Misdi, salah seorang buruh dari Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia yang ikut menjadi koordinator lapangan pada kesempatan ini, menyampaikan dengan tegas perspektifnya terkait bentuk kebijakan-kebijakan yang diusung pemerintah yang mendorong massa untuk melaksanakan aksi pada Hari Buruh Internasional ini.

“Terkait kesejahteraan, jauh dari kesejahteraan. Karena semakin kesini, semakin berubah ubah undang-undang itu, semakin menjauhkan buruh dari kesejahteraan,” ujar Misdi melalui wawancaranya dengan LPM ManifesT di tengah aksi kali ini.

Tanpa menutup-nutupi, buruh dan mahasiswa pada peringatan tahun ini dengan jelas menyuarakan tuntutannya, salah satunya yaitu menyingkirkan para kelompok elit dari dalam golongan buruh agar tidak berkompromi dengan pemerintah dan membuat nasib kaum buruh semakin melarat.

Ketika ditanya terkait kelompok elit di KSPI dan Partai Buruh yang justru merayakan Hari Buruh Internasional bersama dengan Presiden Prabowo Subianto, para massa aksi tidak sungkan menyatakan pertentangannya terhadap langkah yang diambil KSPI tersebut, Zaky menyebutkan hal tersebut sebagai “pengkhianatan dalam konteks perjuangan serikat buruh Indonesia.”

“Orang-orangnya salah semua, karena mereka tidak pernah berkontribusi dengan buruh,” tambah Misdi, buruh yang menjadi bagian dalam peringatan tahun ini.

Selain dari berbagai tuntutan yang dinyatakan dalam ruang forum publik melalui orasi dan penampilan karya seni, Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu juga membawakan tuntutan yang disusun secara konkret terhadap pemerintah dalam momen Hari Buruh Internasional kali ini. Tuntutan tersebut berisi:

1. Cabut UU Omnibus Law, wujudkan produk hukum ketenagakerjaan yang pro buruh.

2. Wujudkan sistem upah layak nasional yang sesuai dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebagaimana amanat putusan MK No. 168/2023.

3. Hapus sistem outsourcing, kontrak kerja, dan kemitraan.

4. Wujudkan perlindungan nyata hak reproduksi perempuan dengan menjamin hak cuti haid, hamil, dan melahirkan tanpa syarat dan tanpa potongan upah.

5. Wujudkan perlindungan dan pemenuhan hak bagi pekerja disabilitas.

6. Wujudkan pendidikan dan kesehatan gratis yang berkualitas dan demokratis.

7. Kembalikan militer ke barak

8. Bebaskan tahanan politik pada saat aksi-aksi rakyat dan lindungi kebebasan sipil serta hak asasi manusia.

9. Usut tuntas seluruh pelanggaran HAM yang terjadi di Papua dan Indonesia.

10. Hentikan operasi militer di tanah Papua.

11. Hentikan Proyek Strategis Nasional yang merusak ruang hidup rakyat di Papua dan Indonesia.

12. Tutup PT Freeport, BP LNG di Bintuni dan tolak pengembangan Blok Wabu di Papua.

13. Mendorong perdamaian dunia dan menghentikan agresi militer oleh imperialisme Amerika Serikat.

14. Mendorong pemerintah Indonesia untuk keluar dari Board of Peace/BoP dan membatalkan kerja sama dagang dengan imperialisme Amerika Serikat.

Tuntutan yang disampaikan dalam pernyataan sikap pada akhir aksi Hari Buruh Internasional ini sendiri merupakan hasil dari kesepakatan kolektif antara berbagai golongan di masyarakat yang menjadi bagian dari Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, yang disusun untuk dibawakan kepada pemerintah.

Perwakilan dari aliansi menyampaikan, bahwa harapannya adalah membangun momentum persatuan, agar dapat bersatu dan tidak justru terpecah belah.

“Kami menyerukan kepada setiap elemen yang ada di Malang khususnya dan di Indonesia untuk mari kita bersatu, mari kita berhimpun, karena kekuatan rakyat adalah kekuatan yang utama,” tegas perwakilan dari Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu.

Penulis: Gery Andriano

Editor: Andi Imam Rafi

Pimpinan Redaksi: Husein Kurnia Hoetomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here