
Malang, ManifesT – Rangkaian Acara Jelajah Almamater Universitas Brawijaya (RAJA BRAWIJAYA) telah memasuki hari kedua pada Selasa (11/08/2026) yang bertempat kegiatan di Gedung Auditorium, Samantha Krida, serta GOR Pertamina.
Rangkaian materi dibuka oleh Wakil Rektor I bidang akademik UB yang diwakili oleh Prof. Amin Setyo Leksono, S.Si., M.Si., Ph.D. yang membawakan materi bertajuk “Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi: Kampus Berdampak” Dalam pemaparannya, Prof. Amin menjelaskan struktur jajaran Wakil Rektor I yang membawahi tiga divisi, yaitu Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik, Direktorat Inovasi dan Pengembangan Pendidikan, serta Unit Pelaksana Teknis (UPT). Penataan struktur tersebut disampaikan mengacu pada Peraturan Rektor Universitas Brawijaya Tahun 2025.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Sumber Daya UB, yang diwakili oleh Dr. Mohamad Khoiru Rusydi, S.E., M.Ak., Ak. dengan tema “Pembiayaan Pendidikan dan Digitalisasi Sistem Keuangan”. Terdapat tiga pokok bahasan utama yang disampaikan dalam sesi ini. Pertama, terkait mekanisme Uang Kuliah Tunggal (UKT). Dijelaskan pengertian UKT secara umum, tata cara penetapan kelompok UKT bagi mahasiswa, serta tata cara pembayarannya agar mahasiswa baru memahami alur administrasi keuangan sejak awal perkuliahan.
Kedua, mengenai Sistem Informasi Bantuan Keuangan (SIBAKU) dan bantuan keuangan mahasiswa. Materi ini menjelaskan SIBAKU sebagai layanan satu pintu yang disediakan UB bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan atau keringanan biaya kuliah, sehingga proses pengajuan dapat dilakukan secara terpusat dan lebih mudah diakses.
Ketiga, terkait bantuan kesehatan mahasiswa. Dipaparkan bagaimana mahasiswa dapat mengakses layanan kesehatan melalui Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), Klinik UB, maupun melalui BPJS Kesehatan, sebagai bagian dari jaminan kesehatan yang menyertai status kemahasiswaan di UB.
Selanjutnya disusul dengan pemateri Wakil Rektor III yaitu Dr. Setiawan Noerdajasakti S.H., M.H, mahasiswa baru Universitas Brawijaya yang memaparkan mengenai Pembinaan Kegiatan Kemahasiswaan dan Kewirausahaan Mahasiswa serta menegaskan bahwasanya Universitas Brawijaya akan selalu memfasilitasi cita-cita mahasiswa. Dr. Setiawan juga mengatakan bahwa Universitas Brawijaya siap menjadi wadah dan sarana untuk menumbuhkan soft skill dan hard skill bagi mahasiswa dengan menyarankan para mahasiswa baru untuk memanfaatkan sebaik-baiknya keberadaan fasilitas seperti Lembaga Kemahasiswaan yang telah disediakan. Diantaranya meliputi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Otonom (LO), maupun Lembaga Semi Otonom (LSO).
Penyampaian materi selanjutnya disampaikan langsung oleh Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc. selaku Wakil Rektor IV yang berfokus pada pengenalan konsep baru bahwa kampus Universitas Brawijaya menjadi sebuah living laboratorium, seperti UB Kepanjen yang dibangun dengan konsep Green Core Academic Realm, masterplan dari UB Kepanjen yang didesain dengan Inclusive Campus Environment, dan lainnya.
Penyampaian materi oleh Prof. Andi kali ini menekankan bahwa saat ini kampus tak lagi hanya terbatas pada ruang kelas secara fisik. Konsep kampus bergeser sebagai living laboratorium. UB mendesain kampusnya dengan hati-hati, UB Kepanjen dibangun dengan konsep Green Core Academic Realm, Masterplan UB Kediri yang didesain dengan Inclusive Campus Environment. Prof. Andi menjelaskan Program Prioritas Rektor 2026 yang salah satunya bahwa UB sedang menjalin kerja sama berdampak sebagai portal untuk berkembang dan berkontribusi. 3000 Mitra UB tersebar di seluruh dunia siap berkolaborasi. Selain itu, ada Mahasiswa Membangun Desa (MMD), Kerjasama membangun AI, dan IHCR.
Prof. Andi mengatakan bahwa UB ingin AI dimanfaatkan. Prof. Andi juga menjelaskan 11.000+ mahasiswa berstatus AI ready.
Wakil Rektor V Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., membuka salah satu sesi dengan memaparkan penyelenggaraan penelitian, pengabdian masyarakat, serta peran unit pelaksana teknis (UPT) dan laboratorium di lingkungan UB. Prof. Unti menjelaskan bahwa Bidang Riset dan Inovasi mengoordinasikan lima unit kerja yang berfungsi memfasilitasi riset, pengabdian masyarakat, sekaligus menjamin mutu pelaksanaannya.
Prof. Unti menegaskan bahwa mahasiswa berkesempatan untuk terlibat langsung dalam penelitian dosen, salah satunya melalui program Mahasiswa Membangun Desa (MMD). Selain itu, mahasiswa yang memiliki minat merintis usaha rintisan (start up) juga dapat memperoleh fasilitas dari kampus. Prof. Unti turut menyinggung keberadaan UB Forest yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian maupun rekreasi seperti hiking, serta Laboratorium UB Riset Terpadu sebagai sarana penunjang penelitian mahasiswa dan dosen.
Sesi berikutnya diisi oleh Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., yang memaparkan materi seputar penyelenggaraan operasional UB, program Green Campus, serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan (K3L). Dalam pemaparannya turut dijelaskan peran sejumlah divisi, yakni Divisi Hukum, Divisi Sarana dan Prasarana Pendukung (DSPP), Divisi Tata Usaha dan Kerumahtanggaan (DTUK), Divisi K3L, serta UPT Green Campus.
Lebih lanjut, Dr. Tri menerangkan bahwa Green Campus memiliki wewenang untuk mendorong penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability) di lingkungan kampus, sebagai upaya meningkatkan reputasi UB di kancah internasional. Sementara itu, DTUK bertanggung jawab mengomandoi urusan keamanan dan ketertiban kampus yang berjaga secara siaga selama 24 jam.
Materi selanjutnya bertajuk “Masa Depan Pendidikan: Berkolaborasi dengan Kecerdasan Artifisial” disampaikan oleh Kristiyanto, S.H., M.P.P., Customer Success Manager Google Indonesia. Sebelum masuk ke materi, beliau turut membagikan latar belakang perjalanan akademiknya di UB, mulai dari penerima beasiswa Bidikmisi, keterlibatannya dalam kompetisi internasional, konferensi regional, hingga meraih predikat Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) kedua UB pada 2016. Beliau juga pernah mengikuti Harvard National Model United Nations.
Dalam pemaparannya, Kristiyanto memotivasi mahasiswa baru untuk menanamkan mindset memiliki visi selama menempuh perkuliahan. Beliau menekankan agar mahasiswa tidak menjadikan keterbatasan ekonomi maupun latar belakang keluarga sebagai penghalang untuk melangkah, sebab tujuan yang jelas akan membawa pada kesuksesan. Sebagai penutup, beliau mengajak mahasiswa untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi keahlian yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan artifisial, serta mendorong mahasiswa untuk memperluas jejaring tidak hanya di lingkup sesama fakultas.
Sesi berikutnya mengangkat tema “Generasi Unggul untuk Indonesia Emas 2045: Membangun Daya Saing melalui Inovasi dan Ketahanan Energi” menghadirkan Arya Dwi Paramitha, S.IP., M.M., bersama Muhammad Roby Hervindo, Manager Corporate PT Pertamina, Para pembicara menyoroti bahwa generasi muda maupun generasi tua memiliki niat yang sama untuk mendorong perubahan dan inovasi, sebab setiap inovasi berangkat dari keinginan memperbaiki keadaan. Rasa ingin tahu dan kebiasaan bertanya disebut sebagai pangkal lahirnya inovasi. Mereka juga mengkritisi pola pikir yang masih menempatkan masyarakat sekadar sebagai pasar, bukan sebagai inovator. Salah satu contoh konkret yang dipaparkan adalah program Desa Energi Berdikari, yang memanfaatkan potensi energi bersih seperti tenaga surya (PLTS), biogas, dan gas metana di berbagai wilayah sebagai upaya membangun ketahanan energi dari tingkat akar rumput.
Usai ishoma, Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur menyampaikan materi pencegahan penyalahgunaan narkoba, pemateri memberikan tiga tips utama agar mahasiswa terhindar dari jerat narkoba, yang pertama pemateri menghimbau mahasiswa agar dapat meningkatkan ketahanan diri melalui kemampuan regulasi diri untuk mengendalikan emosi, perilaku, dan mengelola stress, kedua mahasiswa diimbau agar mampu bersikap asertif yakni mampu mengatakan “tidak” secara tegas apabila ditawari narkotika, dan yang terakhir mahasiswa diberikan pemahaman tentang kemampuan menjangkau bantuan, yaitu berani mencari bantuan yang solutif dan terbuka untuk reaching out saat menghadapi masalah
Selanjutnya mahasiswa baru mendapat materi terkait layanan konseling pencegahan kekerasan seksual, perundungan, dan layanan kesehatan disampaikan oleh Ari Pratiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Ia memperkenalkan jajaran konselor, psikolog, konsultan hukum, psikiater, hingga perawat jiwa yang tersedia di Layanan Konseling UB, yang berlokasi di Gedung Rektorat lantai 1. Mahasiswa yang mengalami perundungan diimbau untuk segera menghubungi layanan tersebut. Layanan Konseling UB menyediakan sejumlah bentuk pendampingan, di antaranya layanan konseling tatap muka, pelatihan psikoedukasi, dan konsultasi serta pendampingan.
Sesi penutup diisi dengan talkshow bertema layanan kesehatan di Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) dan Klinik UB, yang dibawakan oleh dr. Viera Wardhani, M.Kes. dr. Viera menjelaskan bahwa RSUB tidak hanya berfungsi memberikan layanan kesehatan bagi civitas akademika, tetapi juga aktif memberikan pelatihan kepada mahasiswa terkait layanan kesehatan.
Menanggapi pertanyaan mengenai perspektif institusi kesehatan terhadap fenomena self-diagnose dan sikap skeptis terhadap saran dokter, dr. Viera menyampaikan bahwa mencari tahu kondisi kesehatan secara mandiri sejatinya merupakan hal yang baik, namun hasil penelusuran tersebut tetap perlu dikonsultasikan kepada tenaga ahli untuk diagnosis dan verifikasi lebih lanjut. Terkait sikap skeptis, menjelaskan bahwa setiap dokter memiliki pendekatan berbeda kepada pasien, namun seluruhnya telah melalui proses sertifikasi dan ujian nasional, sehingga kredibilitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Lebih lanjut, dr. Viera turut menghimbau mahasiswa untuk selalu mencari sumber informasi kesehatan yang dapat dipercaya.
Di tengah padatnya rangkaian pemberian materi, suasana venue turut diramaikan oleh penampilan dari Brawijaya Star. Penampilan dibuka dengan sajian seni tari yang dibawakan secara energik, menghadirkan gerak-gerak khas yang memukau perhatian mahasiswa baru yang memenuhi ruangan. Usai penampilan tari, giliran penampilan musik yang mengambil alih panggung, menambah semarak suasana venue. Rangkaian penampilan ini menjadi jeda hiburan yang mencairkan suasana setelah mahasiswa baru menyimak sesi demi sesi materi sejak pagi, sekaligus menjadi ajang unjuk bakat mahasiswa UB di bidang seni pertunjukan.
Di sela kepulangan mahasiswa, sejumlah mahasiswa baru turut memberikan kesan mereka mengikuti Raja Brawijaya hari kedua. Secara umum, mereka mengaku antusias dengan materi-materi yang disampaikan narasumber, bahkan menyebutnya sangat berbobot dan menginspirasi. Salah satu mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan mengungkapkan kekagumannya pada tata panggung acara.
“Keren banget, saya baru lihat penampilan di panggung tadi, Megah panggungnya, minusnya panas aja. Kalau harapan untuk kuliah dapat relasi lebih besar sih, lebih banyak relasi, lebih banyak teman, dan tadi sempat disinggung buat ambil ke luar negeri, targetnya seperti itu,” tuturnya.
Sementara mahasiswa dari Fakultas Bio-industri Pertanian dan Kehutanan menyoroti sesi berbagi pengalaman dari alumni UB sebagai momen paling berkesan baginya. Meski demikian, cuaca panas dan jadwal yang padat dari pagi hingga sore membuat sebagian dari mereka mengaku kelelahan.
Terkait harapan ke semasa perkuliahan, para mahasiswa baru ini kompak menyampaikan keinginan untuk memperluas relasi dan pertemanan lintas fakultas maupun daerah selama menempuh perkuliahan di UB, dengan sejumlah diantaranya menargetkan program pertukaran ke luar negeri.
“Saya berharap saya bisa tumbuh dan berkembang di sini, bisa mengembangkan berbagai potensi saya di sini, memperbanyak relasi, dan semoga nilai IPK saya tinggi dan bisa bekerja saat langsung nanti setelah wisuda,” ujar salah satu dari ketiga mahasiswa baru ketika diwawancarai oleh tim LPM ManifesT secara antusias.
Beberapa yang lain juga mengiyakan dan berharap dapat lulus tepat waktu, bahkan dengan predikat cumlaude, serta mendapatkan lingkungan belajar dan tenaga pendidik yang mendukung.
Rangkaian Raja Brawijaya hari kedua ini menunjukkan bagaimana Universitas Brawijaya berupaya memadukan pembekalan akademik, kelembagaan, hingga isu kesehatan dan sosial dengan momen-momen personal bagi mahasiswa baru untuk saling mengenal dan membangun relasi. Di balik padatnya jadwal, teriknya cuaca, dan sela-sela penugasan, tak dipungkiri bahwa antusiasme serta harapan besar dari para mahasiswa baru terhadap perjalanan akademiknya di UB tetap terlihat menonjol. Hal seperti inilah yang menjadi modal keberangkatan yang akan mereka bawa memasuki dunia perkuliahan mendatang.
Penulis: Dhaifina Khansa Asshahwa Islam, dan Rafiful Kautsar Ritonga
Editor: Andi Imam Rafi
Pimpinan Redaksi: Husein Kurnia Hoetomo















