Malang, ManifesT – Rangkaian Acara Jelajah Almamater Universitas Brawijaya (RAJA BRAWIJAYA) telah memasuki hari ketiga sekaligus penutup dari rangkaian acara pada Rabu (12/08/2026) yang bertempat kegiatan di Gedung Auditorium, Samantha Krida, serta GOR Pertamina.
Materi pertama mengangkat topik “Etika Bermedia Sosial dan Personal Branding” yang disampaikan oleh Dr. Ika Rahma Susilawati, M.Psi., Psikolog. Dalam pemaparannya, Dr. Ika menekankan bahwa aktivitas di media sosial tidak hanya menjadi sarana untuk membagikan cerita, tetapi turut membentuk citra diri dan meninggalkan jejak digital yang dapat mempengaruhi seseorang dalam jangka panjang. Mahasiswa baru pun diingatkan untuk lebih bijak dalam menggunakan berbagai platform digital dan mulai membangun personal branding yang positif sejak memasuki dunia perkuliahan.
Dr. Ika turut menjelaskan bahwa setiap platform media sosial dapat merepresentasikan sisi yang berbeda dari seseorang. Instagram, TikTok, X, YouTube hingga LinkedIn dapat dimanfaatkan secara positif untuk menunjukkan minat, pemikiran, kompetensi, maupun portofolio profesional. Karena jejak digital juga berpotensi menjadi salah satu hal yang diperhatikan ketika memasuki dunia kerja, mahasiswa didorong untuk tidak mengunggah sesuatu secara impulsif serta mempertimbangkan kebenaran, kebermanfaatan, inspirasi, dan etika dari konten yang akan dibagikan.
Pembekalan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan Layanan Sistem Informasi Universitas Brawijaya oleh Dr. Ir. Raden Arief Setyawan, M.T., selaku Direktur Direktorat Teknologi Informasi (DTI). Dalam sesi tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan dengan berbagai fasilitas teknologi informasi yang dapat dimanfaatkan selama menjalani perkuliahan, mulai dari akun dan surat elektronik institusi, jaringan internet kampus, eduroam, Virtual Private Network (VPN), hingga berbagai perangkat lunak dan layanan digital yang dapat diakses menggunakan akun Universitas Brawijaya.
Selain pemanfaatan fasilitas, Dr. Raden turut menekankan pentingnya keamanan akun digital. Mahasiswa diingatkan untuk tidak memberikan username maupun password kepada pihak lain serta mengaktifkan sistem autentikasi tambahan untuk meningkatkan keamanan akun. Penggunaan fasilitas digital kampus juga harus tetap memperhatikan etika dan ketentuan yang berlaku, termasuk dalam penyimpanan data maupun penggunaan perangkat lunak melalui jaringan Universitas Brawijaya.
Materi berikutnya membahas Inovasi dan Pengembangan Akademik yang disampaikan oleh Ir. Ishardita Pambudi Tama, S.T., M.T., Ph.D., ASEAN Eng., selaku Direktur Direktorat Inovasi dan Pengembangan Pendidikan (DIPP), bersama Aulia Nur Mustaqiman, Ph.D., dari Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik (DALA). Keduanya mengenalkan kepada mahasiswa baru mengenai sistem pembelajaran di perguruan tinggi yang berbeda dengan pembelajaran di jenjang sekolah sebelumnya. Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah Outcome-Based Education (OBE) dan Student-Centered Learning (SCL), yang menempatkan capaian pembelajaran serta keaktifan mahasiswa sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
Mahasiswa juga diberikan pemahaman mengenai sistem Satuan Kredit Semester (SKS), penyusunan rencana studi, serta berbagai inovasi pembelajaran yang tersedia di Universitas Brawijaya. Sejumlah fasilitas pembelajaran, mulai dari Learning Management System, materi berbasis digital hingga kesempatan mengikuti kegiatan pembelajaran di luar kampus dan luar negeri, diperkenalkan sebagai sarana yang dapat dimanfaatkan mahasiswa dalam mengembangkan kapasitas akademiknya.
Wawasan mahasiswa baru kemudian diperluas melalui materi “International Reputation” yang disampaikan oleh Hendrix Yulis Setyawan, S.TP., M.Si., Ph.D., selaku Kepala UPT Global Partnership and Reputation (GPR) atau International Office. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan posisi Universitas Brawijaya dalam berbagai pemeringkatan internasional sekaligus upaya kampus dalam memperkuat reputasi dan jejaring global. Beliau juga mengenalkan beragam kesempatan internasional yang dapat diikuti mahasiswa selama masa perkuliahan.
Kesempatan tersebut antara lain mencakup program mobilitas mahasiswa, pertukaran pelajar, kerjasama dengan perguruan tinggi mitra di berbagai negara, hingga program double degree. Melalui pemaparan tersebut, mahasiswa baru didorong untuk tidak hanya berorientasi pada kegiatan akademik di dalam kampus, tetapi turut memanfaatkan berbagai kesempatan internasional yang tersedia sebagai bagian dari pengembangan kompetensi dan pengalaman selama menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya.
Rangkaian berikutnya beralih pada pengenalan lembaga kemahasiswaan, diawali dengan Eksekutif Mahasiswa (EM) Universitas Brawijaya oleh jajaran Eksekutif Mahasiswa. Dalam sesi tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan dengan fungsi lembaga eksekutif mahasiswa sekaligus perannya dalam dinamika kehidupan kampus. Jajaran EM turut menyinggung peran historis gerakan mahasiswa dalam mengawal berbagai persoalan sosial dan demokrasi serta mengajak mahasiswa baru untuk memiliki kepedulian terhadap kondisi di sekitarnya.
Setelah pengenalan EM, giliran jajaran Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Brawijaya memperkenalkan lembaga legislatif mahasiswa di tingkat universitas. Dalam pemaparannya, DPM menjelaskan sejumlah fungsi yang dijalankan, mulai dari fungsi legislasi, pengawasan, penganggaran, advokasi, hingga hubungan dengan mahasiswa. Pengenalan tersebut sekaligus memberikan gambaran kepada mahasiswa baru mengenai mekanisme representasi dan penyampaian aspirasi dalam kehidupan kemahasiswaan di Universitas Brawijaya.
Usai Ishoma, Materi krusial selanjutnya terkait “Kode Etik Mahasiswa Universitas Brawijaya” disampaikan secara lugas oleh Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., M.S., selaku Ketua Senat Akademik Universitas Brawijaya. Dalam pemaparannya, Prof. Nuhfil menegaskan bahwa kode etik merupakan penjabaran dari norma, nilai, dan standar perilaku yang wajib menjadi acuan mahasiswa dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya selama menempuh pendidikan di kampus.
“Apa gunanya menjadi orang pintar kalau dia tidak bermoral, tidak jujur, suka bohong, suka korupsi. Itulah (mengapa kode etik) menjadi sangat penting,” tegas Prof. Nuhfil.
Dalam pemaparannya, Prof. Nuhfil juga secara tegas menyinggung norma kehidupan kampus terkait orientasi seksual. Secara spesifik disebutkan bahwa siapa saja mahasiswa yang terdeteksi melaksanakan atau menyebarkan kampanye promosi LGBTQ+ akan dikategorikan sebagai tindakan pelanggaran berat. Sanksi yang dijatuhkan untuk pelanggaran berat ini berujung pada sanksi pemecatan atau pemberhentian statusnya sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya.
Selanjutnya disusul dengan pemateri dari jajaran pimpinan Divisi Informasi dan Kehumasan (DIK) Universitas Brawijaya, salah satunya yaitu Dr. Dra. Leli Indah Mindarti, M.Si. selaku Kepala Divisi Informasi dan Kehumasan. Dalam pemaparannya, Dr. Leli menyoroti prestasi Universitas Brawijaya yang sukses mempertahankan predikat sebagai “Kampus Informatif” dari Komisi Informasi Pusat (KIP) selama tujuh kali berturut-turut. Beliau menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki hak akses keterbukaan informasi publik yang difasilitasi penuh melalui Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) UB. Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk berkontribusi aktif menjaga citra positif kampus dengan bergabung menjadi Student Employee magang di bidang kehumasan, maupun berpartisipasi sebagai Duta Keterbukaan Informasi Publik dan Insan Humas.
Penyampaian materi selanjutnya disampaikan langsung oleh Deputi Bisnis PT Pegadaian Area Malang, Marcelino J. Manginsihi, dengan tajuk edukasi “Cerdas Finansial: Anti Judi Online (Judol), Anti Pinjol Ilegal, dan Penipuan Digital”. Pemateri memberikan peringatan keras terkait bahaya laten Judi Online (Judol) dan Pinjaman Online (Pinjol) ilegal yang kerap menjerat anak muda. Marcelino menegaskan prinsip fundamental bahwa tidak ada satu pun orang yang menjadi kaya karena berjudi. Ia memaparkan pola jebakan judi online yang sengaja dirancang untuk memainkan emosi pengguna hingga akhirnya berujung pada tumpukan hutang dan pinjol yang dapat menghancurkan masa depan perkuliahan.
Sesi berikutnya diisi oleh Bapak Nur Fajriansyah, Beliau tercatat pernah menduduki posisi sebagai salah satu Direktur BUMN termuda di usianya yang menginjak 29-30 tahun. Menyikapi fenomena Generasi Z saat ini, Nur Fajriansyah berpesan agar mahasiswa baru tidak mudah menyerah dan tidak menjadikan latar belakang status sosial keluarga sebagai batasan untuk maju. Pemaparan ditutup dengan pesan reflektif yang diiringi lagu “Sarjana Muda”, sebagai pengingat agar mahasiswa senantiasa membekali diri dengan keahlian kompetitif sejak semester awal agar kelak lulus menjadi sarjana yang mandiri dan tidak mengecewakan orang tua.
Di sela kepulangan mahasiswa, berbagai kesan dan evaluasi mulai bermunculan dari para peserta Raja Brawijaya 2026. Hal tersebut diungkapkan oleh F, salah satu mahasiswa baru dari Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTEM) saat ditemui di sela-sela kepulangan. Ia mengaku sangat menikmati seluruh rangkaian kegiatan Rabraw yang dinilainya terus menyajikan keseruan di setiap sesinya.
“Kesannya keren, mantap, dan enggak boring sih. Jadi tetap bisa seru-seru terus, kayak gitu,” tuturnya secara antusias.
Di sisi lain, momen penyambutan mahasiswa baru oleh berbagai elemen Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (Ormek) juga meninggalkan kesan tersendiri.
“Rusuh, tapi sangat menyambut,” tambahnya.
Sementara, Mahasiswa baru lainnya yakni “L”, mahasiswa baru angkatan 2026, mengungkapkan rasa antusiasmenya setelah tiga hari mengikuti serangkaian kegiatan Raja Brawijaya.
“Aku tuh sebenarnya udah ngikutin Rabraw dari tahun-tahun sebelumnya, dan menurut aku emang Rabraw serunya itu enggak bakalan pernah luntur. Di tahun ini aku bisa ngerasain juga dan ternyata vibes-nya benar-benar asyik dan hype banget,” ungkapnya.
Lebih lanjut, momentum penyambutan mahasiswa baru yang dilakukan oleh berbagai elemen Ormek juga tidak luput dari apresiasinya.
“Asyik banget sih, seru banget. Aku berharap adik-adik di tahun-tahun setelah aku bisa ngerasain hal yang sama, dan berharap hype serta vibes-nya bisa lebih membakar lagi untuk maba-maba selanjutnya,” pungkasnya.
Antusiasme serupa turut disampaikan oleh “R” dan “S”, mahasiswa baru yang mengikuti rangkaian RAJA Brawijaya 2026. Setelah dua hari sebelumnya menjalani sebagian besar rangkaian secara daring, R mengaku pengalaman mengikuti kegiatan secara langsung pada hari ketiga memberikan kesan yang jauh berbeda.
“Pastinya sih seru banget ya, Kak. Apalagi kita hari pertama sama hari kedua itu kan full online. Terus di hari pertama kita enggak di laprek gitu. Jadinya kayak cuma lihat layar doang. Nah, waktu di day 3 ini kayak, ‘Wah, ternyata seseru itu,’ gitu,” ungkap R.
Senada dengan R, S menilai hari ketiga menjadi salah satu bagian yang paling berkesan selama rangkaian RAJA Brawijaya. Menurutnya, interaksi bersama panitia yang semula membuat peserta tegang justru berubah menjadi momen penuh keseruan.
“Day 3 seru banget sih. Kakak panitianya tadinya kayak awalnya membentak-bentak, ternyata itu cuma prank. Awalnya kita sampai kayak mau nangis, dan ternyata itu cuma prank dan seru-seruan banget. Kakak panitianya seru banget. Day 3 benar-benar berkesan bagi kita,” tutur S.
Ketika ditanya mengenai evaluasi terhadap keseluruhan rangkaian kegiatan, keduanya mengaku tidak memiliki catatan khusus. R menilai pelaksanaan RAJA Brawijaya telah berlangsung dengan baik, sementara S menyebut keseluruhan kegiatan telah dikemas secara lengkap.
“Kalau dari kita sih udah keren banget sih, Kak,” ujar R.
“Udah keren banget, udah komplit semua. Iya, udah sempurna,” tambah S.
Momen penyambutan selepas berakhirnya rangkaian kegiatan turut menjadi pengalaman tersendiri bagi keduanya. R mengaku momen tersebut membuat dirinya semakin menyadari bahwa kini ia telah resmi memasuki kehidupan sebagai mahasiswa.
“Kayak enggak nyangka gitu sih, Kak. Kayak gimana ya? Udah jadi mahasiswa gitu,” ungkapnya.
Sementara itu, S mengaku terkejut sekaligus senang ketika mendapatkan bunga mawar dalam momentum penyambutan mahasiswa baru.
“Enggak nyangka aja, habis ospek capek-capek dapat mawar,” ucap S.
Kesan positif terhadap keseluruhan rangkaian RAJA Brawijaya juga disampaikan oleh Kendalisti, yang akrab disapa “Z”, mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Brawijaya angkatan 2026. Ia menilai rangkaian kegiatan sejak hari pertama hingga hari ketiga tidak hanya menyenangkan, tetapi turut memberikan berbagai wawasan baru bagi mahasiswa baru.
“Jadi kesan pesan aku dari day 1, day 2, ataupun day 3 itu sebenarnya super duper fun and super insightful, karena dari pemateri-pemateri juga memberikan banyak sekali insight yang ngebuat kita tuh para maba jadi bisa berkarakter lebih baik lagi kedepannya,” ujar Z.
Selain materi yang disampaikan, interaksi antara mahasiswa baru dengan panitia serta berbagai kegiatan yang diselenggarakan turut menjadi hal yang menurutnya mampu meningkatkan semangat peserta dalam mengawali kehidupan perkuliahan.
“Dan juga para interaksi dari panitia ataupun dari kegiatan-kegiatan atau semacam acara itu sangat membuat kita tuh lebih semangat lagi untuk kedepannya, gitu sih kalau dari aku,” lanjutnya.
Terkait berbagai bentuk ketegasan panitia selama kegiatan berlangsung, Z mengaku tidak mempermasalahkannya. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari peran panitia dalam rangkaian kegiatan sekaligus dapat dimaknai sebagai salah satu proses pembentukan karakter mahasiswa baru.
“Kalau secara pribadi kan dari panitianya emang, mungkin itu emang job-nya mereka buat melakukan hal seperti itu. Tapi menurut aku dari pribadi, aku enggak masalah. Karena itu emang membentuk, supaya membentuk karakter kita lebih baik lagi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Z mengaku terkejut dengan penyambutan yang diterimanya ketika keluar dari area kegiatan pada hari terakhir. Menurutnya, momentum tersebut menjadi penutup yang berbeda dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya dan memberikan kesan tersendiri pada akhir rangkaian RAJA Brawijaya 2026.
“Waktu aku keluar terus ada acara sambut maba, super surprised ya, karena sebelumnya aku belum pernah, kalau keluar dari gerbang dari day 1 tuh enggak pernah disambut kayak gini. Ternyata pas closing, pas penutupan itu tuh ada sambutan kayak gini. Nah, keren banget sih menurut aku,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Riyan Ramadhani dan Shahzada Fathanandi Aziz
Editor: Andi Imam Rafi
Pimpinan Redaksi: Husein Kurnia Hoetomo
















