ManifesT, Malang, (Jumat, 9/4/2022) – Pada bulan Ramadhan tahun ini, Pemerintah Kota Malang resmi mengizinkan pembukaan stan makanan dan minuman (takjil) di sepanjang Jalan Soekarno Hatta sebagai spot ngabuburit. Pembukaan stan yang dimulai sejak awal bulan Ramadhan (3/4/2022) hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri (4/5/2022) ini hanya diperkenankan dilakukan di tepi jalan dengan maksud agar arus lalu lintas kendaraan bermotor tetap dapat berjalan lancar. Pembukaan stan makanan dan minuman (takjil) selama bulan Ramadhan menjadi salah satu tradisi yang hampir setiap tahun selalu dilakukan di Kota Malang, dan Jalan Soekarno Hatta menjadi salah satu daerah andalan yang dipilih untuk pembukaan spot ngabuburit ini. “Untuk tahun ini, pembukaan stan takjil di sini tetap memperhatikan surat edaran dari Walikota, penjual tetap berjualan di tepi jalan, tidak boleh masuk ke bahu jalan karena tetap yang diutamakan sekarang adalah arus lalu lintas harus berjalan lancar dan warga yang melintas tidak ada hambatan walaupun padat,” jelas Inspektur Dua Polisi (Ipda) Saiful. Selain itu, Ipda Saiful pun menambahkan bahwa lahan parkir bagi para pengunjung juga tidak diperkenankan menggunakan bahu Jalan Soekarno Hatta. Dari pantauan Tim Liputan ManifesT, memang benar terlihat kerapian dalam penataan parkir untuk mobil dan motor di area parkir yang telah diatur oleh aparat kepolisian. Di sepanjang median jalan depan Taman Krida Budaya pun dipasangi road barrier untuk mencegah penggunaan median jalan sebagai lahan parkir.Namun mengenai pemberlakuan kebijakan pembukaan stan yang hanya diperkenankan dilakukan di tepi jalan untuk meminimalisir kemacetan, tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan maksud Pemerintah Kota Malang. Hal ini terjadi karena ruang tepi jalan yang hanya cukup untuk pembukaan stan sehingga para pengunjung tetap harus menggunakan bahu jalan untuk melintasi serta membeli makanan dan minuman yang disediakan di stan tersebut. Menanggapi hal tersebut Ipda Saiful menyarankan untuk stan makanan dan minuman baik saat bulan Ramadhan maupun pada hari-hari biasa dipindahkan ke dalam Taman Krida Budaya. Menurutnya, hal ini akan membawa pengaruh signifikan terhadap penanggulangan kemacetan serta menjadikan kegiatan jual-beli nampak lebih rapi sehingga dapat menghasilkan omzet yang lebih tinggi terhadap para pedagang.Selanjutnya, para pedagang pun memberikan tanggapan mengenai pelaksanaan pembukaan stan makanan dan minuman (takjil) sebagai spot ngabuburit di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta. “Penjualan takjil tahun ini bisa dikatakan stabil dan cukup ramai, berbeda dengan tahun sebelumnya saat covid masih naik, hanya paguyuban saja yang boleh berjualan, akhirnya tahun ini kami baru boleh berjualan lagi,” ujar salah satu pedagang takjil. Tanggapan lain mengenai perubahan omzet pun disampaikan oleh salah satu pedagang ronde yang tidak hanya membuka stan-nya di saat bulan Ramadhan tetapi juga saat hari-hari biasa. “Untuk perubahan omzet dari hari biasa dibandingkan saat Ramadhan tidak ada perubahan besar, sama seperti hari biasanya, saya berjualan di sini memang dari sore sampai malam, sehingga perubahan mengenai omzet pun tidak terlalu signifikan,” ungkapnya. Lebih jauh, pembukaan stan sebagai spot ngabuburit tentu tidak terlepas dari gelombang pandemi Covid-19 yang belum usai. Dari pantauan tim liputan ManifesT, tak jarang ditemui para pengujung yang tidak menghiraukan protokol kesehatan yang seharusnya diterapkan. “Itu tentunya di luar kendali kami, kami tetap memberikan edukasi, namun satu dua pengunjung masih lalai hal itu kembali ke diri sendiri juga,” tanggap Ipda Saiful. Pembukaan stan makanan dan minuman (takjil) sebagai salah satu tradisi di bulan Ramadhan ini memang sulit untuk dilewatkan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat agar kegiatan ini tetap dapat dilakukan tanpa menimbulkan dampak negatif bagi pihak lain seperti halnya kemacetan dan penyebaran virus Covid-19 yang mewabah dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan.Penulis : Nadhira Aulia, Anindya Yustika, dan Muhammad ZuhdiEditor: Tazkiya Lidya AlamriPimpinan Redaksi: Trian Marfiansyah
















