Home Uncategorized Kunang-Kunang Hutan Belantara

Kunang-Kunang Hutan Belantara

303
0
SHARE

Oleh : Bethree Crystala Fortuna Sutrisno (2021)

Hutan rimba amat gelap gulita. Tiada lampu jalanan bahkan seberkas cahaya. Itulah pandangan manusia sekitar, hanya menengok luaran tanpa pembuktian. Banyak dari kita yang hidupnya bergantung pada orang lain. Kita terkadang tidak sadar, bahwa sebenarnya tempat kembali terbaik setelah Tuhan adalah diri kita sendiri. Kita terlalu menyalahkan orang lain atas kegagalan kita, terkadang terlalu mengagung-agungkan orang lain atas keberhasilan kita. Nyatanya, sekali lagi, faktor utama yang memengaruhi hidup kita taklain dan takbukan adalah diri sendiri.

Pandemi mengajarkan kita untuk terus bertahan. Bertahan dari ributnya dunia, bertahan dari dampak buruk yang entah kapan kita terima, bertahan dari keuntungan yang bisa saja menjadi bom bagi insan lainnya. Pandemi membuat kita bertanya-tanya, pada siapa harus memohon, pada siapa harus bergantung. Berharap pahlawan berkuda benar- benar datang, bukan hanya sebuah patung.

Selama ini, dunia mainstream menganggap aparat kesehatan sebagai pahlawan. Semua manusia pasti setuju dengan hal itu. Namun, apakah kita tidak sadar? Bahwa sebelum bertemu dengan dokter dan perawat, kita tentunya berjuang dengan hidup kita sendiri. Kita yang menjadi penentu, memilih menahan diri untuk secara nyata tidak berinteraksi, menahan diri untuk menggunakan masker sehari-hari, serta menahan diri untuk tekun mencuci tangan, atau hidup bebas berkeliaran tanpa aturan.

Berbagai kebijakan pemerintah yang diberikan merupakan kunci perlindungan diri. Mirisnya, banyak dari kita yang memilih menolak dan percaya bahwa corona hanya sekedar tipu-daya, pengalih isu dan kontroversi. Dampaknya, justru kita yang bisa saja terisolasi. Kondisi ini diperparah dengan merosotnya ekonomi. Banyak keluarga yang merasa sulit mencukupi kebutuhan sehari-hari. Memang benar, pemerintah ikut andil untuk menyejahterakan rakyatnya, tetapi apa kita hanya memilih teriak meminta belas kasih dan mengatungkan tangan sepanjang hari?

Lebih dari 144 ribu nyawa melayang. Mereka berharap sehat untuk pulang, tetapi naas justru dunia fana yang teregang. Dokter dan perawat hanya sebagai tangan kanan ketika masyarakat sudah terlambat. Terlambat menyadari bahwa mereka terpapar covid dan perlu pertolongan cepat. Namun, siapa yang tahu bahwa fasilitas terganggu? Sebagian segera mengunjungi rumah sakit meskipun takada ruang kosong tersisa lagi. Sebagian lainnya miris menolak dirawat dan tanpa sadar menyebarkan sakit.

Pertanyaannya tetap sama, siapa pahlawan nyata di era pandemi ini? Dan jawabannya adalah diri kita sendiri. Kita laksana kunang-kunang di hutan belantara, dianggap takbercahaya, padahal memberi manfaat takterduga. Kita terlalu melihat bulan purnama sebagai penerang dalam gelap gulita. Nyatanya, bulan hanya menerangi langit, bukan jalanan hutan belantara.

Tidak hanya di masa pandemi, tetapi di setiap kondisi. Hanya diri kitalah yang mampu membangkitkan kebahagiaan di tengah keterpurukan, saat takada teman dan keluarga yang menunjukan kepedulian. Terlalu berharap pada manusia lain, hanya mampu menggerutu pada Tuhan. Hidup adalah pilihan. Memilih menjadi pahlawan bagi diri sendiri atau parasit bagi orang lain.

Daripada kita ributkan masalah bantuan sosial yang telah menjadi garam di lautan, bukankah lebih baik kita berusaha bangkit untuk kehidupan? Pandemi ini semua orang ditimpa kesulitan. Namun, pandemi juga menjadi ladang bagi mereka yang mampu mengambil kesempatan di tengah kesempitan. Alangkah lebih baik, kita membantu orang lain saat kita punya kelebihan, serta tetap sadar diri jangan hanya berharap dikasihani dan merasa paling tersakiti oleh dampak pandemi. Apresiasi diri bagi kita yang telah berhasil bertahan hingga detik ini. Sebaik-baik pahlawan kemanusiaan di era pandemi adalah mereka yang mau berbagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here