Oleh Fira Mutiara Adistianingrum
Di awal tahun 2020, dunia dihebohkan dengan berita mengenai virus yang dapat menyebabkan kematian. Awalnya, masyarakat Indonesia tidak terlalu khawatir dengan berita tersebut, karena menurut mereka masyarakat Indonesia sudah biasa memakan makanan yang tidak higenis. Contoh tersebut dapat dilihat pada adanya peribahasa belum lima menit atau dapat diartikan baru jatuh sehingga masih bersih dan masih dapat dimakan. Namun, akhirnya keyakinan tersebut dapat dipatahkan, karena sebuah berita di awal Maret tahun 2020 yang menyebutkan bahwa terdapat 2 orang yang terindikasi positif Covid-19 yang merupakan kasus pertama kali di Indonesia. Sejak saat itu, angka Covid-19 di Indonesia mulai meningkat.
Rumah sakit makin kewalahan dan para tenaga kesehatan juga mengalami beban kerja dan tekanan yang berat. Makin banyak pasien membutuhkan perawatan, sementara tenaga kesehatan tidak bertambah signifikan. Di sinilah para pahlawan garda terdepan Covid-19 bertaruh nyawa untuk kesembuhan masyarakat Indonesia. Setiap harinya, selalu terdengar kabar mengenai tenaga medis yang gugur, mulai dari perawat hingga dokter. Oleh karena itu pemerintah juga harus memprioritaskan kesehatan para nakes tidak hanya kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental para tenaga kesehatan. Jadi sebaiknya pusat penangganan Covid-19 memiliki program khusus untuk menjaga kesehatan mental para tenaga Kesehatan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan penilaian, pelatihan, konsultasi kesehatan secara berkala bagi para tenaga kesehatan dengan gratis, karena penyakit fisik ataupun mental akan berpengaruh bagi keberhasilan Indonesia dari pandemi ini. Mereka berjuang tak kenal lelah, 24 jam mengenakan pakaian APD dan masker berlapis agar tetap dapat bertahan untuk keluarga dan masyarakat Indonesia. Namun, sayangnya masih banyak orang yang kurang peduli dengan perjuangan para tenaga medis. pada saat itu, masih banyak sekali masyarakat yang malas mencuci tangan dan enggan menggunakan masker saat bepergian. Mereka kurang menyadari bahwa hal yang mereka lakukan dapat meningkatkan angka Covid-19 di Indonesia.
Seharusnya, masyarakat dan pemerintah memiliki empati lebih kepada para tenaga kesehatan yang telah berjuang demi kebebasan Indonesia dari pandemi Covid-19. Empati tersebut dapat dilakukan masyarakat, salah satunya dengan cara tetap menjaga kebersihan, tidak berpergian jika tidak mendesak dan tetap melakukan protokol kesehatan yang telah dianjurkan pemerintah. Selain itu, peran pemerintah juga penting dalam memberikan perlindungan kepada tenaga kesehatan dan dokter dari kemungkinan paparan Covid-19. Perlindungan tersebut dapat dilakukan dengan cara menyediakan APD serta masker yang sesuai dengan standar kualitas yang telah terjamin. Lalu, pemerintah juga perlu memperhatikan jam kerja para tenaga kesehatan, jangan sampai mereka bekerja melebihi jam kerja yang seharusnya karena akan membuat para nakes kelelahan sehingga para nakes akan mudah terjangkit penyakit.
namun pemerintah telah mengupayakan agar angka Covid-19 segera turun dengan berbagai upaya, contoh besarnya yaitu pemberian vaksin secara gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia, dengan fokus utama tenaga kesehatan. Namun tidak hanya dengan vaksinasi wabah virus corona dapat hilang, juga tidak hanya dengan upaya kesehatan namun juga harus melalui peran pemerintah dan masyarakat. Kita semua seharusnya mengapresiasi pengorbanan tenaga kesehatan dan tidak ada ruginya jika menganggap mereka sebagai pahlawan, perlu adanya apresiasi salah satunya dengan memberi intensif gaji bagi para tenaga kesehatan serta santunan kematian bagi nakes yang gugur akibat terjangkit Covid-19,karena tidak mudah bagi para tenaga kesehatan untuk berada di garda terdepan apalagi bertaruh dengan nyawa untuk menghadapi virus ini.














